
Terdengar suara decitan ban di ruas jalanan yang tampak renggang dari lalu lalang kendaraan.
"Leon! Berhati-hati lah!" seru Lily dari belakang.
Pasalnya di depan ada seekor hewan berkaki empat, axis deer atau biasa di sebut Chital oleh penduduk setempat. Chital salah satu hewan endemik khas Hawai, biasanya berkeliaran di hutan hingga di pesisir pantai, yang memang menjadi tempat habitatnya. Chital dikenal dengan hewan yang jinak dan ramah.
Beberapa detik yang lalu, seekor Chital menyembul keluar dari balik pohon. Sontak membuat pengantin baru yang sedang menikmati perjalanan ke suatu tempat tampak terkejut. Beruntung kendaraan yang dikendarai Leon dapat menghindar dengan cepat.
Pria bule itu menghela nafas sejenak. Leon menghentikan moge (motor gede) kemudian melirik ke belakang sekilas. Ia mengangkat sudut bibir sedikit melihat Lily sibuk memandangi chital yang masuk kembali ke dalam hutan.
"Honey," panggil Leon hendak menyadarkan Lily yang enggan mengedipkan mata, melihat pergerakan chital.
"Eh-eh iya Honey," jawab Lily sedikit tergagap.
"Sudah selesai melihatnya?"
"Sudah Honey, hampir saja. Kau selalu saja membuat ku jantungan, berhati-hati lah Honey," desis Lily pelan sambil membuang nafas.
"Maaf, aku akan lebih pelan," ucap Leon seraya menyambar tangan Lily yang bertengker di pinggangnya. Lalu dia mengecup perlahan punggung tangan istrinya.
.
.
.
Kendaraan Leon melesat pelan membelah jalanan, saat di perjalanan ke tempat tujuan tetesan air, mengalir perlahan dari atas langit. Leon pun memutuskan untuk singgah sejenak di suatu tempat, beruntung sekitar beberapa meter, terlihat kedai kecil berada di sisi kiri jalan. Leon segera mengarahkan mogenya mendekati tempat tersebut. Keduanya pun bergegas berjalan dan berdiri di luar kedai, menghadap ke jalan raya. Beberapa orang juga ikut berhenti sejenak, menghindari hujan yang semakin bertambah deras.
"Honey, apakah pakaian mu basah?" tanya Leon sembari menelisik keadaan tubuh Lily. Ia ingin memastikan bahwa istrinya baik-baik saja.
"Tidak, Honey. Justru baju mu yang basah," ucap Lily dengan mengusap perlahan pakaian Leon.
"Hmm, tidak apa-apa, nanti juga kering," ucap Leon sambil melihat Lily yang sibuk sendiri menyeka air di tangan, leher, dan wajahnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit dengan perhatian yang diberikan Lily. Mata elang Leon menangkap pergerakan beberapa pria yang sedang curi-curi pandang pada istrinya.
"Sudah tidak apa-apa." Leon menarik pinggang Lily.
"Honey, kenapa kau selalu mesum," desis Lily pelan mendelikkan mata. Karena ia dapat merasakan sesuatu di bawah sana mulai mengeras.
"Itu semuanya karena ulahmu," ucap Leon menatap lekat.
Dahi Lily berkerut. "Maksudnya? Aku tidak menggoda mu, Honey."
"Lihat pria genit di sebelah sana memperhatikan mu dari tadi." Leon berbisik di daun telinga Lily. Dia sangat tidak suka dengan tatapan mesum dari para lelaki. Membuat hatinya seketika terasa panas.
"Oh my God, mereka mungkin bukan melihat diri ku, bisa saja orang lain kan. Ada-ada saja kau ini." Lily menggelengkan kepala perlahan dengan sikap posesif Leon.
"Tidak ada wanita di sini, selain dirimu," ucap Leon mematahkan perkataan Lily.
Lily segera mengedarkan pandangan di sekitar. Memang benar tidak ada wanita, hampir rata-rata pria dewasa dan pemuda. Lily enggan membalas perkataan Leon. Lebih baik dia diam saja.
"Benar kan?" tanya Leon melihat istrinya tak bersuara.
Lily mengangguk pelan seraya memanyunkan bibirnya.
"Maka dari itu, nanti malam kau harus diberikan hukuman!" Leon menyeringai.
Mendengar perkataan Leon, Lily melebarkan kedua matanya. Tentu saja dia dapat menebak hukuman apa yang di maksud oleh suaminya.
**
Beberapa menit kemudian, hujan telah berhenti. Pengantin baru itu melanjutkan kembali perjalanannya. Tak butuh waktu yang lama, Leon memarkirkan kendaraan roda duanya di suatu tempat.
Semilir angin menerpa dress panjang yang melekat di tubuh Lily, dan menerbangkan rambutnya sehingga sedikit berantakan.
Leon terkikik sejenak, melihat rambut Lily acak-acakan.
__ADS_1
"Bagus ya, rambutku berantakan malah di ketawain," Lily merapikan rambut dengan cepat.
Leon hanya tersenyum simpul menanggapi kekesalan Lily sambil merapikan pula helaian rambut panjangnya.
Setelah itu, dia segera menyambar tangan Lily. "Ayo, kita ke sana!" Ajak Leon sembari mengayunkan tungkai kakinya.
Lily mengangguk sedikit.
"Honey, ini di mana?" tanya Lily penasaran sebab keduanya sekarang berjalan kaki melalui jalan setapak yang lurus ke depan. Di sisi kanan dan ke kiri terdapat hutan belantara yang tampak rindang dan asri. Sinar matahari membuat suasana terasa indah, belum lagi udara di sekitar menyejukkan indera penciumannya,
"Nanti, pasti akan tahu, Honey. Sebentar lagi kita akan sampai," jawab Leon menoleh ke samping.
Lagi, lagi Lily mengganggukkan kepala.
Keduanya berjalan pelan sambil berpegangan tangan.
**
"Leonnn, ini sangat lah indah!" seru Lily sambil merentangkan tangan menikmati angin yang berhembus di sekitar pesisir pantai. Ia memandang takjub ke depan sana melihat pantai yang terbentang luas.
"Indah, bukan?" tanya Leon sambil memeluk Lily dari belakang sembari menaruh dagunya di bahu Lily.
"Iya sangat indah, aku suka sekali!" Kedua mata Lily terlihat berbinar. "Wah itu ada pelangi!" Lily menunjuk pelangi yang terpampang di ujung sana.
"Iya Honey, cantik!" Leon hanya melirik sekilas pelangi itu, sedari tadi dia melihat wajah istrinya. Leon enggan mengedipkan mata, ia tidak bosan memandangi Lily. Baginya istrinya adalah wanita tercantik di dunia.
"Wow, coba lihat itu Honey, bentuk pelanginya benar-benar sempurna!"
"Iya sempurna dan cantik!" Leon mengecup sekilas pipi Lily lalu mengendus-endus ceruk lehernya.
"Leon, geli!" Lily menggeliat merasakan sensasi geli di lehernya.
Leon segera memutar badan istrinya sekarang keduanya saling berhadapan dan bersitatap satu sama lain.
"Terimakasih karena sudah hadir di dalam hidup ku, kau adalah pelangi untuk ku, Honey," ucap Leon sambil menangkup pipi istrinya.
"Justru aku yang seharusnya mengatakan hal itu. Kau adalah pelangi untuk ku, Leon. Kau menemaniku dan menguatkan ku di saat aku kehilangan orang ku cintai. Terimakasih atas semuanya." Tanpa terasa air mata Lily menetes.
Lily tak membalas sahutan suaminya, ia pun tak akan bisa membayangkan jika Leon pergi darinya.
Keduanya hanyut dalam kebersamaan, saling diam namun saling menyelami pancaran matanya, berbicara melalui mata ke mata.
Hening.
Hanya terdengar hembusan angin di sekitar menemani mereka berdua.
Tanpa aba-aba Leon segera melabuhkan kecupan di bibir ranum istrinya. Ia memeluk Lily begitu erat sambil mengeksplor bibirnya.
Lily pun membalas sentuhan Leon, ia mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
Kedua mata pasangan suami istri itu menutup sempurna menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan satu sama lain.
Ciuman yang pelan dan lembut.
Desiran hangat menjalar di sekujur tubuh keduanya.
.
.
.
Drrttt.
Terdengar getaran dari balik tas kecil Lily.
Perlahan Leon membuka matanya, lalu melepaskan lil_itan lidahnya, dadanya naik-turun. Begitu pula dengan istrinya. Lalu Leon menempelkan keningnya pada kening Lily.
__ADS_1
'"Honey," ucap Leon mengulum senyum. "Buka matamu."
Lily membuka pelan kelopak matanya. Ia tersenyum simpul.
"Nanti kita lanjut di resort," ucap Leon menggoda Lily.
Lily tersipu malu. "Leon!"
Leon terkekeh pelan melihat rona merah di pipi istrinya.
"Honey, sepertinya ada yang menelpon mu."
"Benarkah?"
Leon mengangguk.
Lily segera membuka tas kecilnya dan menyambar gawainya. Dia mengerutkan melihat kontak nama di layar handphonenya.
"Siapa?" tanya Leon.
"Daddy Yellow, aku angkat dulu." Lily mengusap tombol hijau.
Lagi, lagi Leon membalas perkataan Lily dengan mengangguk.
"Hallo, uncle. Ada apa?"
"Hallo, Lily. Maaf mengganggu waktu senggang mu, uncle boleh bertanya sesuatu?"
"Oh tidak apa-apa uncle, boleh. Silahkan."
"Hmm, Yellow di mana?"
Lily mengerutkan dahi.
"Tuan sudah ketemu!" Samar-samar terdengar suara seorang pria di ujung sana.
"Tidak jadi."
Tut.
Panggilan dimatikan cepat oleh Daddy Yellow.
Lily tertegun dan bertanya-bertanya.
"Ada apa Honey?" Leon melihat raut wajah istrinya yang kebingungan.
.
.
.
Di lain tempat.
Bugh
Bugh..
"Si_al, ku bunuh kau!!!!"
"Jangan Daddyy! Pleaseeeee!!" teriak Yellow sambil terisak.
Dor.
"Marcooooooooo!!!!!!"
.
__ADS_1
.
.