Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 105. Survival


__ADS_3

"Aunty, Dala lapal!" pinta Darla tiba-tiba seraya menurunkan Hiro dari gendongannya.


Krucukkkk.


Bunyi perutnya menggema keluar.


Mereka yang mendengarkan terkekeh pelan.


Lily menghela nafas sembari melirik Leon.


"Baiklah, sekarang kita duduk membentuk lingkaran!" seru Leon dengan menuntut si Kembar dan Lunna untuk duduk di sampingnya.


Darla kecil berlari ke arah Breslin. Ia duduk di pangkuan Breslin sembari merebahkan kepala di bahu pria itu.


Kini, di tengah pulau, mereka semua duduk bersila membentuk sebuah bulatan besar,


Sedangkan Hiro sedang asik main sendiri dengan pasir, di belakang tubuh mereka.


"Aku berharap kita semua bisa berkerjasama. Sekarang kita sangat jauh dari Kota. Bahkan kemungkinan dua sampai tiga hari lagi, akan datang tim penyelamat. Sekarang keluarkan apa saja yang menempel di tubuh kalian apa pun itu, tanpa terkecuali. Teruntuk kalian juga!" Leon mengedarkan pandangan pada semua manusia di hadapannya. Mata elangnya tak sengaja melihat Darla dan Samuel membawa tas ransel kecil.


Mereka mengangguk paham.


"Kumpulkan di tengah!" perintahnya.


Terpampang tiga buah senapan berlaras pendek, beberapa selongsong peluru, tiga buah pisau kecil, dua buah pemantik kecil, permen lolipop berjumlah sepuluh buah, dua buah senter kecil, tiga buah botol minuman berukuran 350 ml, dan dua buah coklat cunkybar.


Bahkan ada lipstik berwarna pink milik Marimar, tentunya.


Leon menghela nafas sejenak.


"Honey," sapa Lily yang duduk di sebelah kanannya.


Leon menoleh.


"Kita akan mencari persediaan makanan di sana, nanti!" Saran Lily sembari memutar badan ke belakang, menunjuk ke hutan belantara.


Pria itu tersenyum dan mengangguk.


Kemudian dia melihat keadaan sekitar.


"Aku meminta pada Maximus dan Marimar, untuk memanjat pohon kelapa yang berada di sana, ambil secukupnya. Mengerti!" Leon menunjuk pohon kelapa di ujung sana.


Maximus dan Marimar mengangguk paham.


"Breslin dan Lexi cari kayu bakar, masuklah ke dalam hutan di dekat gunung. Bawa lah satu pistol dan satu pisau. Berikan kode jika terjadi sesuatu di dalam sana, dengan menembak satu kali, oke?"


"Siap, King!" sahut mereka serempak.


"Aku juga akan masuk ke dalam hutan mencari air minum dan makanan," ucap Leon.


"Dan kau Honey, ambil beberapa kayu dan helai daun yang besar di sekitar sini saja. Buatlah tenda seadanya, aku yakin kau bisa."


"Iya, Honey. Berhati-hatilah di dalam, serahkan saja pada ku!" sahut Lily semangat.


Seulas senyum muncul di bibir Leon.


"Lunna, Darla dan si Kembar, bantu Mommy dan Aunty ya?" perintah Leon.


"Yes, Daddy. Yes, Uncle," sahut mereka serempak.


Leon bangkit berdiri. Kemudian berjalan ke depan mengambil tiga botol minuman, satu buah pisau dan satu buah senter.


Pisau dan senter, ia selipkan di bajunya dan botol minuman berada di genggaman tangannya.


"Daddy, Ken boleh ikut!" pinta Kendrick sembari mendongak ke atas.


"Baiklah," ucapnya dengan mengelus kepala Kendrick.


"Ayo segera laksanakan tugas masing-masing!!"


"Siappppp!" Suara nyaring terdengar sesaat diiringi kekehan kecil.


.


.


"Ken, pernah pergi ke hutan?" tanya Leon berjalan beriringan dengan Kendrick hendak memasuki hutan.


"Pernah, Daddy. Tapi dulu sudah lama sekali," jawabnya sembari memegang satu botol minuman.


"Camping?"


Kendrick mengangguk.


Seketika ayunan langkah kaki terhenti, mereka melihat keadaan di dalam sana. Samar-samar terdengar suara gemercik air. Udara di sekitar sangat lah sejuk, pepohonan pun tampak rindang dan asri. Berbagai suara hewan bersenandung kecil.


"Ken, mendengar suara air tidak?" tanya Leon ingin memastikan.


"Iya, Daddy!" Kendrick melebarkan senyuman.


Kini, putra pertama Lily tak segan-segan menunjukkan raut wajah yang tak pernah ia perlihatkan pada orang lain. Leon senang sebab Kendrick sudah tak menjaga jarak dengan dirinya.


"Ayo, kita ke dalam. Jangan jauh-jauh, oke?"


"Oke."


Keduanya melangkah pelan masuk ke dalam.


Cuit. Cuitt... Cuitt...


Suara burung.


Kurrrrr.... Kurrr.......


Suara burung lagi.


Lalu di iringi suara kodok setelahnya.


Bunyi jangkrik, bunyi hewan yang lainnya.


Sepasang mata itu memindai keadaan di sekitar.


Pohon yang rindang menjulang tinggi ke atas, berjejer sangat rapi di sisi kanan dan kiri.


Lalu ada satu jalan setapak yang berkelok-kelok ke depan, sangat apik seakan sudah di atur sedemikian rupa.


Leon dan Kendrick mengerutkan dahi melihat pemandangan yang tak biasa.


Hutan ini benar-benar menakjubkan!

__ADS_1


Cahaya matahari menerpa ke bawah pohon, udara di dalam bebas tanpa polusi.


Menyejukkan indera penciuman.


Tak ada tanda-tanda jejak hewan liar dan buas.


Seperti beruang, ular, ataupun serigala.


Hanya binatang kecil saja.


Leon amat penasaran, pulau apa ini?


Akan tetapi sekarang ia harus bergegas cepat untuk mencari minuman ataupun makanan.


Daripada menerka-nerka sesuatu yang berkecamuk di pikirannya.


"Ken, ayo. Kita ke arah sana!"


Kendrick mengangguk.


Sekitar beberapa meter.


Suara gemercik air semakin terdengar kuat.


Leon dan Kendrick mempercepat langkah kakinya.


Sekarang ada satu jalan lagi ke bawah sana yang tak terlalu curam. Namun sedikit berlumut.


"Ken, Daddy gendong ya?" Saran Leon agar mereka cepat sampai. Ia tak mau Kendrick terpleset atau pun terluka sebab jalan yang mereka lalui sekarang, agak licin.


Kendrick mengangguk pasrah. Kemudian Leon mengangkat tubuhnya menggunakan satu tangannya.


Leon berhati-hati turun ke bawah.


Kemudian ia berjalan tiga puluh langkah ke depan.


"Wowwww!" seru keduanya melihat air terjun di hadapan mereka.


Kemudian terkekeh pelan, menyadari decak kagum mereka tanpa sadar.


Sesaat pria dewasa dan bocah itu, mengangumi mahakarya Sang Pencipta. Mata mereka enggan berkedip.


Satu kata. "Menakjubkan"


Mereka semakin mendekat.


Air terjun turun sangat deras, menerpa bebatuan kecil yang terdapat di bawah.


Tak terlalu besar luasnya, namun air sangat jernih hingga menampakkan makhluk hidup yang kecil di dalam air.


Ada ikan, kepiting kecil dan lain-lainnya.


"Daddy, kita bisa makan ikan!" ucap Kendrick menatap penuh takjub.


Kedua matanya tak berkedip.


Leon mengangguk, mengulum senyum.


"Sekarang, Kendrick isi botol ini sampai penuh ya, Daddy mau ambil kayu itu untuk menombak!" Ia melirik pada sebuah kayu yang cukup lurus dan kokoh tergeletak lima meter darinya.


"Daddy pandai menombak?" tanyanya penasaran.


Leon tak menyahut, lantas ia segera menurunkan Kendrick perlahan dan memberikan dua botol minuman, yang sedari tadi bertengker di tangan kirinya kepada bocah lelaki itu.


Leon terkikik. "Ken, lihat saja ya. Menurut Kendrick lihai atau tidak!" serunya agak keras sebab suara air terjun menyamarkan suaranya.


"Baiklah!"


.


.


.


Di ujung sana.


Lima meter dari bibir laut.


"Hei, kau bisa memanjat tidak?!" Maximus mendongakkan kepalanya ke atas, ia jengah sebab dari beberapa menit yang lalu Marimar tak kunjung sampai ke atas.


Ia masih bertengker di tengah pohon.


Seperti siput saja.


"Tentu saja, akika bisa!" ucap pria gemulai itu tanpa melihat ke bawah. Marimar menatap ke arah laut, ia tengah menahan tubuhnya. Kedua tangannya melingkar sempurna di pohon itu.


"Kalau bisa. Bisakah kau lebih cepat ha!? Aku haus bodohhhh?!"


"Kau pikir aku ini monyet, cepat memanjat!" Marimar tak terima. Menurutnya dia sudah mode cepat.


Hanya saja Maximus yang tak sabaran, pikirnya.


Maximus mendengus kesal mendengar penuturan pria gemulai itu.


Baik, sudah cukup!


Ia melepas sepatu, dan jasnya.


Melempar asal.


Kemudian ia menyingsingkan kemejanya hingga ke lengan dan melipat celana kainnya ke atas lutut.


Ia pun mulai memanjat mengejar Marimar.


"Kau naik ke atas bodoh!!?" sahutnya.


"Kenapa kau ikut memanjat?" Marimar menoleh ke bawah sekilas, ia tentu saja mode gesit mengangkat kakinya.


"Itu gara-gara kau lambat, bodoh!" Mereka saling mengejar seperti berlomba naik panjat pinang.


"Ihh you ini menyebalkan!" Marimar berdecak sebal.


Dugh..


"Woii, pan_tat mu! Naik woiiii!!"


Kepala Maximus menyentuh bo_kong Marimar.


"Tangan akika sakit, sabarrrrrr!!!!" Marimar naik pitam sebab tangannya terasa kebas.

__ADS_1


Maximus malah menyundul-nyundul bo_kongnya dengan keras seraya menyuruhnya cepat naik ke atas.


"Ayo, cepat naik ke atas. Aku haus!"


"Youuu, Maximus. Stopppp! Pan_tat ku bukan gendang bodohhh!!"


Namun Maximus malah semakin menyundulkan kepalanya ke atas.


"Rasakan ini!" Marimar mengeluarkan gas beracun dengan kekuatan berskala besar sembari tersenyum smirk.


"Marcooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo!!!"


"Hahahahahaa!" Marimar tertawa kemenangan.


Sangking keasikan tertawa, tangannya terlepas dan jatuh ke bawah menimpa tubuh Maximus.


Bugh.


Bunyi dentuman terdengar nyaring.


.


.


Di sisi lain.


Empat meter dari hutan belantara, di bawah sebuah pohon yang rantingnya melebar dan daunnya lebat serta besar.


"Hahaha!" Nickolas dan Samuel tertawa keras seraya menatap kedepan. Melihat aksi perkelahian antara Maximus dan Marimar. Saat ini dua pria itu saling mencekik satu sama lain.


Saudara kembar itu sampai memegang perutnya masing- masing hingga merosot ke bawah.


"Astaga, meleka kenapa Mommy?" Lunna sedang asik menaruh daun besar di atas pasir, sebagai alas mereka untuk tidur, nantinya.


"Mommy, tidak tahu Lunna," ucap Lily terkekeh pelan namun perkelahian mereka sangat lah lucu sebab seperti anjing dan tikus.


Ia baru saja selesai meletakkan daun besar di atas penyanga kayu, yang dijadikannya atap sebagai tempat berlindung dari teriknya matahari.


"Semoga saja, nanti malam, tidak ada hujan!" Batin Lily penuh harap.


"Darla, kenapa kau tidak membantu kami?" tanya Lunna sambil melipat tangan, sebab Darla malah asik memakan permen lolipop.


"Kan, sudah selesai! Aku lapar tahu, tidak ada tenaga. Lihat tubuh ku ini kurus sekali!"


Ia menyentuh tangan, lengan, pipi dan kakinya yang malah berisi. Alias tembam.


"Ha?!" Lunna melongo kemudian menepuk keningnya.


Ia membuang nafas.


Kemudian melirik Hiro yang sedang duduk di sisi kanan Darla.


Bulu-bulunya beterbangan di terpa angin, sepertinya Hiro tengah menikmati suasana di sekitarnya. Ia menjulurkan lidahnya dan menatap ke depan lautan.


"Mom, kami boleh tidak ke tempat mereka berdua." Nickolas meminta izin sebab Maximus dan Marimar terlihat kelelahan berkelahi.


Mereka malah duduk saling membelakangi dengan nafasnya yang terengah-engah, di dekat pohon kelapa.


"Boleh," ucap Lily mengulum senyum. "Jangan lama-lama ya."


"Siap, Mommy. Kami juga mau memanjat biar lebih cepat, mereka itu sangat lambat!" Samuel menimpali.


"Memangnya kalian bisa memanjat?" Lily menaikan sebelah alis matanya.


"Bisa, donk!" seru keduanya serempak, terpampang raut wajah sombongnya.


Lily menggelengkan kepala seraya tersenyum simpul.


.


.


.


Di sisi kanan.


Beberapa meter dari gunung.


"Kau mendengar suara Maximus tidak?" tanya Breslin sembari mengikis bambu kecil di tangannya.


"Iya, aku mendengarnya!" Lexi terkekeh pelan seraya melemparkan kayu ke tanah. "Apa lagi ulah mereka?" ucapnya.


Breslin mengedikkan bahu, tersenyum simpul dan meniup serat-serat di kedua ujung bambu itu.


"Selesai!" celetuknya.


"Kau sedang membuat apa?" tanya Lexi penasaran, ia mengusap keringat di dahinya.


"Sumpit untuk memanah burung!"


Lexi menaikan sebelah alis mata. "Lalu? Kau isi bambu itu dengan apa?"


"Tenang saja, sudah aku siapkan!"


Ia mengeluarkan lima buah kayu yang sangat kecil dan tajam dari saku celana.


Di ujung kayu ada tali rafia berwarna hijau yang sudah di serat-seratnya. Di bagian tengah terdapat benang hitam, di lilitkannya, sebagai penghubung antara kayu dan tali.


"Wow, dari mana kau mendapatkan benang dan tali rafia? Dan bagaimana bisa kau membuatnya?" Lexi penasaran melihat benda yang familiar namun terlihat keren di matanya.


"Aku tadi mengobrak-abrik tas Darla, menemukan benang dan tali rafia, kalau untuk membuat, sewaktu kecil aku sudah sering bermain di hutan bersama saudara tiri ku, menangkap burung!"


Lexi mengerutkan dahi. "Saudara tiri?"


"Tidak usah, kau pikirkan, ayo ada burung di situ," ucapnya sembari memberikan kode pada Lexi agar tak berisik.


.


.


.


Los Angeles.


"Ini tidak mungkin!! Mereka pasti berada di pulau mistis yang susah di temukan itu!!" teriak Yellow frustrasi ketika melihat posisi terakhir pesawat jatuh.


"Gawat!" Yellow mengigit ujung jari jempol.


"Ada apa?!" tanya Rey kebingungan, melihat Yellow yang berjalan maju mundur di dalam ruangan seperti setrikaan.

__ADS_1


.


.


__ADS_2