
**
"Kak, lebih baik kita ke sana?!" ajak Samuel sembari menunjuk televisi.
Samuel gusar. Ia ingin segera ke sana, "Ninety Tower" Menghampiri Mommy dan Daddynya. Membantu mereka. Walaupun dia tahu, pertolongan yang di lakukan mungkin tak akan bisa meredakan pertikaian dua kubu mafia. Akan tetapi ia tidak boleh menyerah sebelum memulai. Begitulah permikiran bocah lelaki yang belum menginjak umur 10 tahun.
Kendrick tak lansung menyahut. Tengah berpikir. Menganalisis keputusan yang harus ia ambil.
Sementara itu Nickolas menatap datar layar persegi di hadapannya.
"Guys, kita harus ke sana, sekarang!" seru Maximus mengusik lamunan Kendrick dan Nickolas. Ia merasa bahwa Leon dan Lily dalam bahaya. Dia harus menolong. Titik. Tak peduli situasi yang di penuhi dengan aparat keamanan di sudut-sudut tempat.
"Iya, kita ke sana yuk! Eyke ngak tenang, setidaknya kita udah berusaha!" Kali ini Marimar yang bersuara. Ia harus mengerahkan kemampuannya sebisa mungkin.
"Tapi bagaimana caranya kita ke sana?" tanya Nickolas sembari menelisik keadaan di sekitar Ninety Tower yang penuh dengan aparat keamanan.
Keempatnya terdiam mendengar pertanyaan Nickolas. Nampak sedang berpikir.
Jarak Ninety Tower dan tempat keberadaan mereka sekarang lumayan jauh.
Mereka harus menyebrangi jembatan agar sampai ke tempat tujuan. Sementara kota Lockdown kemungkinan kendaraan di daratan di larang untuk memasuki ke kawasan pusat kota.
"Kak, bukannya di sini ada dermaga yang tidak jauh dari Ninety Tower ya?" Samuel teringat dengan informasi singkat mengenai seluk beluk Kota Los Angeles.
"Iya ada!" jawab Kendrick seakan mengerti jalan pikiran adiknya. Mereka akan melewati lautan saja. Kalau di daratan tidak akan mungkin.
"Tapi kak, kalau sudah sampai di sana, kita ke Ninety Towernya lewat apa?" Nickolas menimpali, batin si Kembar terkoneksi dengan sangat baik. Namun ia kebingungan. Setelah sampai di dermaga, lewat jalan mana kah yang aman dan terhindar dari penglihatan aparat keamanan.
"Hmmmmmm!" Marimar hanya berdeham saat mendengarkan perbincangan si Kembar. Nampak tengah berpikir.
Si Kembar dan Marimar tanpa sadar terdiam sejenak.
Sedangkan Maximus sedari tadi mengerutkan dahi mendengarkan obrolan si Kembar. Maximus pun memutuskan untuk ikut berpikir sembari menopang dagunya. Walaupun dia tidak tahu apa yang harus di pikirkannya.
Kelimanya asik dalam lamunan masing-masing.
Ting.
Lampu di atas kepala menyala.
"Terowongan!" seru si Kembar dan Marimar seraya menatap satu sama lain.
Mereka tersenyum penuh arti.
"Ha?!" Maximus melongo dengan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
.
.
.
.
Dermaga Hustle.
Deruan speedboat meninggalkan kelima manusia itu di tepian dermaga. Kelimanya menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri menelisik keadaan di sekitar.
"Hei, ke mana kita sekarang ?" tanya Samuel dengan suara kecil seperti orang yang berbisik.
"Kita ke sana!" sahut Nickolas cepat sembari menunjuk tempat yang ia maksud. "Kenapa kau berbisik?" Nickolas mengernyitkan dahi.
"Biar keren seperti di film-film action. Anggap saja kita pasukan penyelamat," jawab Samuel seraya terkekeh pelan.
Kendrick tak menimpali, ia hanya menggelengkan kepala, mendengar penuturan saudara kembarnya.
"Siapa itu?" Maximus memasang gestur tubuh siaganya, saat melihat segerombolan orang di ujung sana lengkap dengan senjata api berdiri tegap seperti sedang menjaga sesuatu yang di tutup dengan terpal.
Cahaya lampu di dermaga kurang terang, sehingga ia kesusahan untuk melihat kumpulan manusia tersebut.
__ADS_1
"Oh my God. Ayo cepat, kita ke sana," ajak Marimar ia bergedik ngeri jika sampai ketahuan orang di ujung sana.
Mereka menyetujui perkataan Marimar. Angin semilir di sekitar dermaga menemani derapan langkah kaki mereka. Akhirnya tak butuh waktu lama si Kembar, Marimar dan Maximus sampai di tempat tujuan dengan selamat tanpa ketahuan orang.
"Kalian sudah siap?" Maximus mengedarkan pandangan pada si Kembar dan Marimar sembari meletakkan benda berat keras berbentuk bulat ke pinggir.
Mereka mengangguk paham.
"Jangan sampai menimbulkan suara yang kuat di bawah," ucapnya pelan, mengingatkan sebab terowongan bawah tanah yang mereka lalui sudah lama tak terpakai. Sehingga bisa saja di sana, ketika mereka membuat bunyi-bunyian ataupun suara yang berlebihan akan menggema dan berisik.
Lagi, lagi mereka mengangguk, meminimalisir suara yang di timbulkan agar tak tertangkap basah, sebab beberapa meter mereka berada ada suara derap langkah kaki mendekat.
"Ayo," ucap Maximus menuntun si Kembar untuk menapaki tangga yang berada di bawah. Ketiganya menurut dan berhati-hati agar tiba di bawah.
"Mar, ayo cepat," sahut Maximus menyadarkan Marimar sedari tadi dia celingak-celinguk memperhatikan keadaan di sekitar.
Setelah tiba di terowongan bawah tanah.
Kelimanya bersitatap satu sama lain melihat keadaan terowongan.
"Oh my God, ini sih misi bunuh diri," ucap Marimar tanpa sadar. Ia tertegun sejenak.
Kotor.
Kumuh.
Bau.
Tikus lalu lalang di bawah kaki.
Belum lagi lorong di ujung sana gelap gulita.
"Kak, di mana petanya?" tanya Nickolas pada Kendrick.
Kendrick merogoh sweaternya dan mengambil benda yang di maksud oleh Nickolas. Ia membuka kertas besar itu dengan cepat.
Ketiganya membuat lingkaran kecil sembari melihat peta Los Angeles yang mereka beli tadi di toko, sebelum pergi ke dermaga. Mereka sudah menyiapkan keperluan yang akan di butuhkan.
"Kita lurus saja, setelah itu belok ke kiri. Itu rute tercepat dan teraman," ucap Kendrick memberikan saran.
"Baiklah," sahut Nickolas cepat menyetujui penuturan kakaknya.
"Tapi kak, memangnya di sini ngak ada buaya?" Samuel menunjuk rute yang di sarankan Kendrick sebab ia ingat betul jika di bawah tanah tak dapat di pungkiri akan ada binatang liar.
"Ha, kalian bilang apa buaya?" Marimar tersentak. Ia mulai panik dan ketar-ketir. Dia sangat tak menyukai hewan itu.
"Biasanya ada," sahut Maximus datar melihat ketakutan Marimar, detik kemudian dia menyeringai. "Kenapa kau takut ya?" Ia tersenyum sinis.
"Ngak tuh biasa aja," cetus Marimar sembari melipat tangan di dada. Ia menyembunyikan ketakutannya.
"Sudah, tenanglah. Kalaupun ada, kita kecoh," ucap Kendrick, sambil melipat kembali kertas berukuran besar itu dan menaruhnya ke tempat semula.
.
.
.
Menempuh kurang lebih lima belas menit si Kembar, Maximus dan Marimar telah tiba di tempat tujuan.
Tanpa ada hambatan sama sekali.
Marimar menghela napas lega, saat tak melihat keberadaan hewan melata berkaki empat.
Suara di atas memekakan telinga mereka.
Ledakan.
Suara sirine polisi.
__ADS_1
Datang silih berganti.
"Kalian tetap di belakang ku, dan selalu ikuti perintah ku?" ucap Maximus, sebagai lelaki dewasa yang memiliki kemampuan bela diri harus menjaga dan melindungi si Kembar dan satu pria gemulai.
.
.
.
"Hei, apakah bom sudah siap?" tanya seorang pria di atas sana samar-samar.
"Sudah, aku letakkan di dalam gedung Faust yang bersebelahan dengan Ninety Tower!" seru satu orang pria lagi.
"Good. Ingat, begitu mereka mendengar gertakan Mister, langsung lumpuhkan teman-teman mu di tempat. Agar mereka tak dapat masuk."
"Iya," ucapnya.
"Ayo kita ke sana, sepertinya Swedish yang lain kewalahan melawan Montero!"
Tap..tapp... tapppp....tappp..
Skring.
Terdengar suara benda besar yang di geser dari bawah terowongan.
Kelima orang manusia menyembul keluar.
"Kak, kau dengar tadi?" tanya Samuel pada Kendrick yang nampak sedang berpikir.
"Tentu saja!"
"Jadi kita ke mana? Kenapa polisi menaruh bom di sana?" Nickolas mengerutkan dahi sebab ia melihat baju yang di kenakan satu orang pria adalah seragam aparat keamanan. Mata elangnya samar-samar melihat punggung pria yang menghilang di balik dinding tadi.
"Kita ke gedung Faust!" seru Kendrick mengepalkan tangan dengan kencang.
***
Di lain tempat.
"Sekarang serahkan narkoba ku!" perintah Pablo setelah melihat Rey dan Breslin mengambil cepat tubuh dua bocah yang masih di tutup kain di atas kepalanya.
Leon tak bereaksi. Nampak sedang berpikir.
Detik kemudian.
"Montero buka penutup kainnya!" Titahnya tiba-tiba.
Rey menuruti perintah atasannya. Kedua matanya terbelakak.
"Ini bukan Darla dan Lunnaaaaa!!" teriaknya nyaring.
Membuat Lily dan Leon seketika lega namun pula gusar.
"Dimana mereka keparat?!!" tanya Leon cepat.
Pablo tersenyum penuh arti.
Satu detik, dua detik, tiga detik....
"Yellowwwwww!" teriak Lily nyaring sambil menyundulkan kepalanya ke belakang.
Ia membalikkan badan secara cepat, kemudian melayangkan pukulan tepat di dagu Pablo dengan kuat.
"Arghhhhhhhh!" jerit Pablo mengaduh kesakitan.
Dor..dorr...dorr...dorrrr...
Boommmm..
__ADS_1
Dorr...dorrr....dor