Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 89. Mine


__ADS_3

***


Wanita bermanik warna biru laut itu reflek berlari cepat ke depan. Dia ingin menghampiri anak kecil yang salah satunya di tembak oleh Pablo.


"Lilyyyyyyyyy!" panggil Leon nyaring saat melihat kekasihnya hendak mendekati Darla dan Lunna di ujung sana. Napasnya tercekat. Dadanya bergemuruh.


"Lunnaaaa!" teriaknya di dalam hati. Satu bocah yang di sinyalir Lunna atau Darla berhenti bergerak.


"Selamatkan anak ku mohon, jangan ambil mereka semuanya dari ku!!"


"Diam di tempat kau!!" teriak Pablo sembari mengarahkan pistol pada Lily.


Lily menghentikan kakinya. Ia mematung. Menatap lurus ke depan. Lidahnya kelu.


Jantungnya berdetak sangat kencang seperti genderang yang mau pecah.


Aliran darah mengalir sangat cepat ke seluruh pembuluh darahnya.


"Lunna! Darla bertahanlah nak! Please God, bantu aku!"


Wanita itu tengah berusaha menahan air matanya agar tak meluruh. Dia tak boleh menunjukkan kelemahannya di depan Pablo.


Swedish dan Montero semakin mengeratkan senapan mereka masing-masing.


Bersiap sedia di tempat menarik pelatuk.


"Jatuhkan senjata mu!" perintah Pablo, menatap lapar pada wanita di hadapannya.


Lily tak mengindahkan perkataan Pablo. Dia menatap dingin dan tajam seakan ingin menembak langsung pria tua itu.


"Honey, turuti perintahnya!" seru Leon dari arah belakang.


Lily masih memegang senapan berlaras pendeknya.


"Honeyyyyy!" panggil kekasihnya lagi. Berusaha menyadarkan Lily dengan situasi yang memanas di sekitar.


Lily tertegun.


"Fineeee! Rodrigo tembak yang satu lagi!"


Pablo menyeringai licik tanpa melepaskan pandangan matanya dari Lily.


Lily segera menjatuhkan pistol berwarna emasnya ke bawah.


"Angkat tangan mu!" Ia menjilati bibirnya itu dengan pancaran matanya yang penuh nafsu.


Wanita itu mengangkat kedua tangannya ke udara.


"Bajingan kau, Pablo!" teriak Leon, melihat sorotan mata Pablo terhadap kekasihnya. Ia mengepalkan tangannya sembari membidik kepala Pablo.


Napasnya memburu.


Sangat memburu.


"Haha! Wanita mu sangat cantik dan menggoda Leon,"cetusnya membuat Leon semakin mengetatkan rahang.


"Kauuuu!! Apa mau mu biadaabbbbbbb!!!!!" jerit Leon. Nampak urat-urat di sekujur lehernya menyembul keluar.


Ia geram.


Namun ia tak boleh gegabah.


Ada banyak nyawa yang akan melayang, jika ia sampai salah langkah.


Pablo terkikik sejenak, berhasil mempermainkan emosi Leon.


"Kalau kau ingin Darla dan Lunna bebas! Serahkan dia pada ku?!" Pablo menunjuk Lily yang sedari tadi melihat Darla dan Lunna dari kejauhan.


"Kauuuuuu!!!!!" seru Leon sembari melebarkan matanya saat mendengar permintaan Pablo.


Ia dilema.


Bingung.


Pilih mana?

__ADS_1


Semuanya berarti baginya.


Ia tak ingin Pablo sedikit pun menyentuh wanitanya.


"Rodrigooooo!" panggil Pablo.


Rodrigo hendak menarik pelatuk pistolnya.


"Stoppppp!" Lily berusaha menghentikan ketegangan yang terjadi.


Rodrigo menunggu aba-aba lagi dari pemimpinnya.


"Rodrigo! Turunkan senjata mu!" perintah Pablo dengan menyeringai licik.


"Baik, aku akan menuruti keinginan mu!" seru Lily sambil menoleh ke belakang sejenak.


Mendengar penuturan kekasihnya. Detak jantung Leon berada di atas kecepatan rata-rata.


"Jangan! Honey, pleaseeee!" pinta Leon memohon. Ia menahan gejolak amarah di dada.


"Good girl! Kemarilah!' Pablo memberikan kode pada Lily untuk mendekat.


"Lilyyyy!!!!!" Leon meneriaki nama kekasihnya yang terdengar bergetar.


Lily mengabaikan panggilan dari sang kekasih, ia berjalan pelan menghampiri Pablo.


"Honeyyy!! Ku mohonnn!" raung Leon.


Dia lemah.


Lily kekuatan dan kelemahannya secara bersamaan.


"Kasihan King!" batin Montero yang melihat pemimpin mereka yang tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya pada seorang wanita.


Montero dapat melihat rasa cinta Leon melalui pancaran matanya kepada wanita di hadapan mereka.


"Kau sangat cantik!" ucap Pablo saat Lily berada di dekatnya. Kemudian dia membalikkan badan wanita itu menghadap Leon. "Lihatlah Leon! Aku menyentuh wanita mu! Emm wangiiiiii!" Pablo menghirup aroma rambut Lily dari belakang. Ia mengendus leher jenjangnya.


Lily mengepalkan kedua tangannya. Kedua matanya terpejam. Ia tak mau melihat ekspresi wajah kekasihnya saat ia di jamah oleh musuh Leon.


Ia ingin menghancurkan musuh segera.


Lagi, lagi akal sehatnya.


Berusaha menekan egonya.


Dia berusaha menahan emosin yang bisa saja meledak seperti bom waktu.


Pablo terkekeh.


"Buka matamu, dear!" Titah Pablo kepada Lily yang sedari tadi masih menutup kelopak matanya. "Aku bilang buka!" ucapnya sambil mencengkram dagu Lily dari belakang.


Lily mengelak dengan menangkis tangan Pablo.


"Kau berani dengan ku haaa!!" Pablo murka sebab Lily enggan menuruti perkataannya. "Kau mau mereka mati ha?!"


Lily mengigit bibir bawahnya. Kemudian membuka kelopak matanya perlahan.


Kedua netranya langsung bertabrakan dengan Leon.


Mereka menatap satu sama lain.


"Honey, come back please!"


"Aku baik-baik saja Honey!"


Batin keduanya bersamaan.


"Lepaskan Darla dan Lunna!" ucap Lily tiba-tiba tanpa menatap lawan bicara.


"Hmmmm!" Pablo hanya berdeham, ia tengah asik menggesekkan badannya pada Lily.


"Menjijikkan!"


Rasanya Lily ingin mandi kembang tujuh rupa. Ketika Pablo menyentuh dan menempelkan benda tumpulnya di bawah sana.

__ADS_1


"Pablooooooo! Turuti kemauan kekasih kuuuuuuuuu!!!" raung Leon. Kedua matanya berkilat.


Merah menyala.


Seperti kobaran api.


"Hahahaha, baiklah! Rodrigo lepaskan mereka!" perintah Pablo sembari melepaskan ikatan rambut Lily.


Rodrigo menuruti perintah atasannya. Kemudian mengangkat tubuh bocah yang di tembak tadi. Ia menyuruh salah satu Swedish untuk membawa satu bocahnya lagi.


"Kau sangat cantik, dear!" seloroh Pablo. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Lily yang memabukkan.


Yang membakar jiwa.


Keinginan nakalnya menari-nari di benaknya.


Lily jijik dengan tubuhnya. Ia terdiam tak menanggapi apa saja yang di katakan pria tua itu.


Ia menundukkan kepala.


Tak berani menatap kekasihnya di depan sana.


.


.


.


Di lain tempat.


"Aduhhhhh, celana eyke kesempitan cyin!!!" cetus Marimar sembari menarik kain yang tercetak di ************.


"Siapa yang suruh kau! Membeli celana itu ha!"Maximus jengah dengan tingkah Marimar sedari tadi.


Bagaimana tidak mereka menghabiskan satu jam hanya untuk berbelanja satu celana panjang. Dan Marimar malah mengatakan sempit.


Yang benar saja.


Rasanya Maximus ingin membenamkan Marimar ke selokan.


Atau bila perlu mengirimnya ke segitiga bermuda.


"Ih, ini juga gara-gara you main asal ambil aja. Kan eyke belum cobain," protes Marimar sembari mengerucutkan bibir dengan tajam.


'What?!"


"Sudah-sudah kalian ini diam?!" Lerai Kendrick agar mereka tak kembali berdebat.


Keduanya terdiam dan memalingkan muka.


"Kak?" Nickolas menepuk pundak Kendrick.


"Ada apa?" tanya Kendrick sambil menoleh.


"Itu bukannya Mommy dan Daddy?" ucap Nickolas dengan menunjuk ke layar televisi yang berada di etalase toko.


Saat ini kelima manusia berbeda generasi itu berada di depan toko pakaian hendak menuju parkiran mobil.


Terpampang siaran langsung dari benda persegi panjang.


"Oh my God!" cetus Samuel, Maximus dan Marimar bersamaan sembari menutup mulutnya.


Kendrick menajamkan penglihatannya menganalisis kejadian di layar besar itu.


Deg.


"Tidak mungkin!"


Dadanya gemuruh, perasaan tidak nyaman merasuki relung hatinya.


"Aduhhh, jangan bilang itu Darla atau Lunna!" Marimar terlihat panik. Ia menggerakkan badan ke kanan dan ke kiri. Seketika air mata mengalir di pipinya.


"Tenanglah, Mar!" Kendrick berusaha menenangkan Marimar yang seperti cacing kremi. Walaupun sebenarnya ia juga cemas. Akan tetapi ia harus bersikap tenang.


.

__ADS_1


Maxim


__ADS_2