Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 42. Darah Lebih Kental Daripada Air (tidak semua)


__ADS_3

~


^^^Tahukah kamu kuciumi, disaat kamu terlelap^^^


^^^Tahukah kamu kudekap kamu, saat kamu bermimpi^^^


^^^Tahukah kamu ya cuma kamu, pemilik hatiku^^^


^^^Tahukah kamu hatiku ini adalah hatimu^^^


^^^Tahukah kamu disetiap tidurku, ku kagumi wajahmu^^^


^^^Nanti kau kan tahu, nanti kau dengar bahwa aku begitu^^^


^^^Kamu, kamu adalah surga yang ada^^^


^^^Dalam hidupku, dalam kenyataanku^^^


^^^[Lirik lagu The Rock, Kamu' Kamulah surgaku]^^^


~


Penggalan lirik lagu tersebut bermakna ungkapan seorang ayah tentang perasaan cintanya yang menggebu-gebu kepada buah hatinya. Namun, ternyata tak semua Ayah mencintai dan menyayangi anaknya.


Contohnya adalah Arnold. Dia tak pernah menganggap si Kembar ada. Walaupun didalam tubuh mereka, mengalir darahnya. Hanya karna keegoisan dia semata, seorang anak yang tak tahu menahu dijadikan korban kebengisan Arnold. Dia tak pantas disebut seorang Ayah. Satu kata yang pantas diperuntukkan' untuk Arnold, biadap!


Bugh.


Pukulan itu membuat Arnold memundurkan langkahnya, dia tak siap dengan serangan mendadak tersebut. Ekor matanya langsung bertemu dengan si pelaku. Kedua matanya melotot ke arah Leon, napasnya memburu. Tampak kedua tangan Arnold terkepal.


Leon dengan sigap mensejajarkan tubuh pada Samuel dan mendekapnya. Samuel pun menerima pelukan Leon, dia membenamkan wajahnya di tubuh Leon. Dia mengusap punggung Samuel dengan pelan berusaha meredakan tangisannya.


Secepat kilat, kedua mata Leon menatap dingin Arnold yang berada di depan.


"Kau tak pantas di sebut Ayah, Arnold!" ucap Leon tegas.


"Apa urusanmu. Suruh anak itu jangan mengangguku!" seru Arnold dengan cepat, seraya menunjuk ke arah Samuel yang sedang menangis dipelukkan Leon.


"Dia anakmu," ucap Leon tak mau kalah.


Beberapa pengunjung yang berada di restaurant, tak sengaja menyaksikan peristiwa tersebut, mereka tampak berbisik-bisik. Arnold melihat sekeliling ruangan tersebut, dia tak menyahut perkataan Leon lagi. Hanya terdengar napasnya yang memburu, menahan gejolak amarah.


"Ck!" Arnold berdecak kesal, dia segera berlalu pergi.


Leon menghela napas dengan pelan, dia tak habis pikir dengan sikap Arnold terhadap anaknya.


"Uncle!" panggil Samuel pelan, dia melonggarkan sedikit pelukan.


"Iya," ucap Leon, sambil tangannya tak henti mengelus punggung Samuel.


"Kenapa Daddy benci sama Sam ya?" tanyanya polos, dengan deraian air mata yang tak henti mengalir.


Leon tak segera menyahut pertanyaan dari Samuel, dia terlihat sedang berpikir.


"Uncle!"

__ADS_1


"Daddy mungkin sedang ada masalah, Sam jangan pikirkan ya!" ucap Leon pelan memberikan pengertian, dia tak ingin menanamkan rasa dendam dihati Samuel, bagaimanapun Arnold tetap Ayahnya.


Samuel terdiam, dia tak bertanya lagi. Dia mengeratkan pelukan.


"Uncle, jangan bilang Mommy ya. Kalau Sam nangis." Pintanya dengan muka memelas.


Leon mengerutkan dahi. "Kenapa ?"


Samuel menggelengkan kepala dengan cepat. "Kata kak Ken, ngak boleh nangis. Nanti Mommy sedih," ucap Samuel.


"Baiklah, tapi Sam janji sama Uncle jangan menangis lagi." Leon berusaha memahami kegundahan Samuel.


***


"Sam!" panggil Kendrick, dia mengernyitkan dahi saat melihat adiknya seperti baru saja menangis. Dia semakin bingung mengapa, Samuel menggandeng tangan Leon. Pasalnya dia tahu bahwa adiknya tak mudah akrab pada orang yang baru dikenal.


Samuel tak menyahut, dia duduk dengan pelan di kursi.


"Kau kenapa?" Kendrick penasaran, kedua matanya segera menatap dingin Leon.


"Awas saja lelaki ini menyakiti adikku." Gumam Kendrick dalam hati.


"Aku tak kenapa-kenapa kak."


"Kau jangan bohong padaku, apakah lelaki ini menyakitimu?"


"Tidak!" jawab Samuel cepat, justru Leon membuatnya merasa nyaman. Dia mendapatkan kehangatan dari Leon yang tak pernah dia dapatkan dari ayahnya.


Kendrick menghela napas. Dia menyerah, tak ingin berdebat lagi. Dia akan menanyakan nanti, jika mereka hanya berdua saja.


Sementara Leon yang sedari tadi, mendengar obrolan si Kembar, mengulum senyumnya. Dari dulu, dia ingin sekali memiliki anak laki-laki. Siapa sangka, ternyata Tuhan mengabulkan doanya tersebut. Terlebih lagi tiga orang sekaligus, walaupun mereka bukan darah dagingnya. Dia tak mempedulikan hal itu.


10 menit kemudian.


Leon dan si Kembar, sudah selesai dengan aktivitasnya. Terdengar getaran dari ponsel Leon, dia segera mengangkat benda pipih tersebut. Senyuman terukir di wajah tampan Leon, saat melihat panggilan dari kekasih hatinya.


"Hallo, Honey,"sapa Leon.


"Kau sedang apa bersama si Kembar?" tanya Lily di sebrang sana.


"Kami baru saja selesai makan. Honey, bolehkah aku membawa mereka ke mansion?"


"Tentu saja boleh. Akupun akan pulang malam, Honey."


"Baiklah, kabari aku jika kau sudah pulang."


"Iya, Honey. Te amo Mi amor, "ucap Lily dengan cepat, dia segera mematikan sambungan dengan sepihak.


Leon terdiam, dia berusaha mengingat perkataan Lily barusan. Apakah dia tidak salah dengar Lily mengucapkan Te amo Mi amor, sudut bibirnya pun terangkat sedikit.


Si Kembar sedari tadi, mendengarkan obrolan Leon. Mereka hanya bisa menerka-nerka.


Leon segera mengalihkan padangan pada si Kembar, dia mengajak mereka untuk ikut bersamanya ke mansion, semula mereka menolak. Namun, Leon mengatakan bahwa ibunya yang menyuruh mereka untuk bermain disana dulu, karena dia sedang banyak perkerjaan. Mereka pun mau tak mau menuruti. Keempat orang tersebut segera meninggalkan restaurant.


Tak butuh waktu lama, mereka pun segera tiba di mansion utama milik Leon. Mereka berdecak takjub pada mansion tersebut.

__ADS_1


"Wow, keren Uncle!" seru Samuel dengan mata binarnya.


Leon tersenyum melihat tingkah Samuel, lain dengan kedua saudaranya. Mereka hanya diam, tak memberi tanggapan. Akan tetapi, pancaran mata mereka mengisyaratkan akan kekaguman pada mansion tersebut.


"Daddy!" panggil Lunna saat melihat Leon di ambang pintu.


Lunna berlari dengan sangat lincah sambil merentangkan kedua tangannya. Dia mengernyitkan dahi, melihat kehadiran sosok yang dia kenal.


***


Prangggg.


"Breslinnnnnnnn!" panggil Arnold dengan suara lantang.


Breslin yang mendengar panggilan tersebut, segera masuk ke dalam ruang kerja Arnold. Kedua matanya melihat seisi ruangan yang sangat berantakan.


Dia tak terkejut, sudah biasa bagi dirinya melihat pemandangan seperti ini, dia tak habis pikir dengan Arnold. Mengapa selalu saja melampiaskan kemarahan pada barang mahal, dia tak bisa memahami pola pikir orang kaya. Kalau bukan karna balas budi orangtuanya, mungkin dia sudah angkat kaki dari istana ini.


Kedua tungkai kaki Breslin dengan pelan menghampiri Arnold yang sedang membelakanginya. Dia menghela napasnya sejenak.


"Tuan," sapa Breslin pelan.


Arnold memutar tubuhnya dengan cepat, satu tangannya langsung mencekik leher Breslin dengan sangat erat. Sorot matanya tajam, napasnya memburu. Entah apa yang membuatnya begitu sangat marah.


Breslin terkejut dengan serangan Arnold, napasnya tercekat. Kedua tangannya meronta-ronta untuk minta dilepaskan. Wajah Breslin sudah mulai memerah.


Seketika, Arnold melepaskan tangannya. Dia menyeringai licik pada sosok tangan kanannya itu.


Breslin mundur beberapa langkah, dia terbatuk-batuk.


"Sial!" Batin Breslin sambil mengusap lehernya yang terasa sakit.


"Mengapa, kau selalu saja lalai dalam menjalankan tugasmu, ha?!" Bentak Arnold.


Breslin tak menyahut pertanyaan Arnold, dia diam membisu. Dia sudah terbiasa, sama seperti beberapa hari yang lalu saat Arnold menampar dan meludahnya.


√ Lihat Chapter 08. Bagian seorang pria menampar dan meludah itu adalah Arnold.


***


Fyi, Te amo Mi amor [bahasa Spanyol] artinya aku cinta kamu, sayangku.


Maafkan author updatenya tengah malam, dikarenakan bulan ini jadwal kerja author sangat padat. Jadi baliknya selalu malam, dan yang pasti author buat ceritanya cepat kilat.


••


Jangan lupa tekan like, dan masukkan favorit.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2