
Suara tepukan tangan menggema di kantor bagian Finance. Terlihat dua orang manusia yang berlawan jenis kelamin sedang menarik rambut satu sama lain. Tak ada yang mau mengalah!
Rambut Melisa sudah terlihat acak-acakan seperti singa, beberapa helai rambutnya bertaburan dilantai. Dia berusaha menarik rambut musuhnya dengan sekuat tenaga sehingga membuat tubuh Marimar condong ke depan.
Rasa sakit pada rambut Melisa sudah tak dihiraukan lagi. Ketika Marimar menyebut dirinya pelakor Melisa sangat tak terima. Saat ini yang ada hanya rasa benci didalam hatinya. Bagi Melisa dia bukanlah pelakor, salahkan saja istri Milano yang tak pandai menjaga penampilan untuk suaminya.
"Aku mencintaimu Mel. Kau sangat cantik, beda dengan istriku yang selalu membuatku sakit mata," ucap Milano lelaki buaya buntung kala itu.
Sedangkan Marimar tak merasakan sakit sama sekali, bagaimana tidak potongan rambutnya adalah model cepak. Hanya bagian atas saja yang berambut. Dia juga tak mau kalah menarik kuat rambut Melisa.
Mereka berdua pun akhirnya berputar-putar seperti roller coaster.
Lily yang melihat perkelahian antara Marimar dan Melisa berusaha melerai keduanya. Dia pun berusaha menyusup di antara tubuh mereka. Lily cukup kewalahan karna mereka tak mau sama sekali menyudahi perkelahian. Terpaksa Lily mendorong kuat tubuh Melisa terlebih dahulu alhasil Melisa pun terhuyung ke belakang.
"Stop,!" teriak Milano dengan suara lantang. Dia mendengar keributan didalam ruangan. Milano tampak terkejut saat melihat Melisa dalam keadaan kacau.
Karyawan yang berkerumun melihat Milano datang ke ruangan seketika menghentikan tepukan tangan, mereka menundukkan kepala.
Hening!
Sementara itu, Melisa dan Marimar menatap satu sama lain nafas mereka masih memburu. Penampilan mereka terlihat sangat kacau. Kilatan api masih ada di mata keduanya.
Lily menahan tubuh Marimar agar tak menyerang Melisa lagi. Saat dia mendorong Melisa ekor mata Lily tak sengaja melihat flashdisk terjatuh dari tubuh Melisa. Secepat kilat dia menggeser benda kecil tersebut ke bawah meja kerja Marimar agar tak ada yang melihat.
"Siapa tahu ada petunjuk,!" batin Lily.
"Apa yang kalian lakukan,? Ini kantor bukan tempat berkelahi," tanya Milano memecah keheningan.
Tak ada satupun yang menyahut pertanyaan dari Milano. Melihat raut wajah Milano tak enak di pandang, mereka tak berani sama sekali.
Milano melihat Melisa dan Marimar bergantian, penampilan mereka tak layak disebut dengan pekerja kantoran.
"Kalian berdua ke ruanganku sekarang,!" titah Milano sambil menunjuk.
"Dan kalian semua kembali berkerja,!" ucapnya lagi pada karyawan seraya berlalu pergi.
Melisa tersenyum sinis pada Marimar saat tambatan hatinya sudah berada di ruangan. Terlihat seringai licik di raut wajahnya. Dia beranjak pergi mengikuti langkah kaki Milano.
Lily menatap dalam pada Marimar. Dia menepuk perlahan pundak Marimar.
Marimar menghela napas dengan berat. Dia memberikan kode kepada Lily mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Marimar segera berjalan cepat menuruti perintah atasannya.
__ADS_1
Lily menatap kepergian Marimar dengan raut wajah sendu. Dia berharap Milano bersikap adil pada keduanya.
Lantas Lily segera berjalan pelan ke meja kerja Marimar untuk mengambil benda kecil yang tadi menyita perhatian. Dia melihat keadaan sekitar memastikan dirinya aman dari perhatian rekan kerja yang lain. Perlahan Lily sengaja menjatuhkan bolpoin milik Marimar di bawah meja, dia pun menjulurkan tangan ke bawah meja berusaha mengambil flashdisk tersebut.
"Dapat,!"gumam Lily didalam hati.
Tak lupa juga Lily mengambil bolpoin yang tadi sengaja di jatuhkan, dia segera menyimpan flashdisk tersebut ke dalam tas miliknya.
Jam menunjukkan pukul 4 sore. Sebagian karyawan perusahan Co. Marq, sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Namun tidak bagi Milano dan Melisa mereka masih melakukan aktivitas m***iat di dalam ruangan kantor Manager Finance.
"Jadi kapan kau menceraikan istri jelekmu itu,?" tanya Melisa bergelayut manja di pangkuan kekasih gelapnya itu.
Milano membisikkan sesuatu di telinga Melisa, dia terlihat sangat bahagia.
"Mel, flashdisk yang ku berikan padamu. Kau jaga baik-baik ya,?" Milano menyentuh tengkuk Melisa.
Melisa menganggukkan kepala seraya tersenyum dan memeluk erat Milano, mereka kembali melakukan kegiatan tak senonoh itu.
•
•
"Bye Opa, Oma,!" seru si Kembar saat mobil yang di kemudikan oleh Lily melesat pelan meninggalkan kediaman Marques.
"Begitulah Mom," ucap Nickolas pelan sambil menguap. Matanya sudah terlihat sayu.
Lily mengulum senyum melihat tingkah Nickolas melalui kaca di bagian tengah mobil, sepertinya anak nomor duanya sudah mulai mengantuk.
"Gissel,!" panggil Lily memperhatikan tingkah Gissel di belakang.
"Iya Nyonya," Gissel reflek melihat ke asal sumber suara sedari tadi dia melamun.
"Apa yang kau pikirkan,?" tanya Lily memicingkan mata.
"Tidak ada nyonya,!" jawab Gissel cepat.
Lily tak bertanya lagi, dia fokus menyetir mobil mini itu. Terlihat si Kembar sudah tertidur, sepertinya mereka kelelahan.
Sesampainya di apartment, mau tak mau Lily harus membangunkan ketiga anaknya. Dia menepuk pelan pundak anaknya satu persatu. Tak butuh waktu lama si Kembar pun terbangun. Gissel segera beranjak untuk pulang karena tugasnya sudah selesai, dia pun pamit undur diri.
Lily mengajak si Kembar untuk masuk ke dalam apartment. Nickolas dan Samuel dengan mode malasnya melangkah gontai memasuki lift apartment. Sementara Kendrick bersikap biasa saja.
__ADS_1
Tepat pukul 7 malam, Lily dan si Kembar sedang bercengkrama di ruang keluarga. Terlihat si Kembar menceritakan kegiatan mereka selama berada di sekolah. Terkadang terdengar suara tawa, dari mulut Lily saat mendengar celotehan ketiganya. Tak terasa sudah 1 jam lebih mereka bersenda gurau. Sedari tadi dia memperhatikan Nickolas dan Samuel yang menguap terus menerus. Lily mengajak si Kembar untuk tidur.
Selesai mengantarkan si Kembar untuk beristirahat. Lily langsung masuk ke dalam kamar. Dia mengambil handphone di dalam tas. Tertera 10 panggilan tak terjawab dari Leon di layar handphone.
"Astaga,!" gumam Lily sambil satu tangan menutup mulut.
Lily segera menelpon balik Leon. Panggilan pun segera terhubung.
"Kau melupakan ku honey,!" sungut Leon di sebrang sana.
Lily terkekeh pelan. Saat mendengar perkataan Leon.
"Maaf honey,!" ucap Lily sambil mengulum senyum.
"Bisakah kita menikah sekarang atau besok.!" tampaknya Leon sudah tak sabar.
"Bersabarlah honey, kau juga harus meluluhkan hati anak-anakku," jelas Lily pelan.
"Iya aku tahu itu. Serahkan saja padaku," sahut Leon dengan yakin.
"Honey, terimakasih bunganya,!" ucap Lily tadi siang dia mendapatkan kiriman bunga lagi. Dia mengira bahwa itu dari Leon.
Tak ada sahutan dari sebrang sana.
"Leon," panggil Lily lembut.
"Iya, apakah kau menyukai bunga yang ku berikan honey,?"
"Iya sangat suka. Apapun yang kau berikan semua ku suka. Ternyata kau sangat romantis ya,!" Lily mengulum senyum.
Pembicaraan dua sejoli yang terpisah ruang itu pun mengalir begitu saja. Hingga membuat mereka tanpa sadar tergolek pulas di tempat tidur masing-masing dalam keadaan handphone masih terhubung satu sama lain.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.