
Bunyi dengungan di telinga benar-benar melengking.
Kerumunan manusia menutup indera pendengarannya dengan cepat, meringis kesakitan, sebab gendang telinga mereka seakan di obrak-abrik oleh gelombang dari sound system, yang entah sejak kapan berada di dekat mereka.
Sound system supperbass, menghantarkan impuls-impuls melalui udara dan masuk tanpa permisi.
"Arghh telinga ku!"
"Sial, apa-apaan ini?!"
"Damnnnnn!'
Umpat mereka sejenak.
Kata "Berhenti" dari seseorang masih terdengar, ia masih mengucapkan akhiran "i" dengan sangat panjang, sepanjang Jembatan Ponchartain Causeway yang memiliki panjang 38,4 km letaknya di Lousiana Selatan, bersebrangan dengan Los Angeles. Yang di gadang-gadang menjadi salah satu jembatan paralel terpanjang di dunia.
"Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii... Fiuhhhh!"
Ia berhenti tanpa-aba aba.
Kemudian mereka memusatkan perhatian ke asal sumber suara, gerakan mereka terhenti namun tetap pada posisi yang sama.
Ada yang ingin menonjok wajah musuh, namun menggantung di udara.
Ada yang hendak menendang anunya lawan, eh malah salah sasaran ke anu satu kubunya.
Begitu pun dengan Lily dan Leon yang tengah beradu jotos, mengalihkan pandangan mata.
Lexi, Rey, Breslin mematung di tempat, melihat sosok yang mereka kenali berada di ujung sana.
Cahaya lampu helikopter berpindah haluan dan kamera pembawa berita menyoroti siapa yang menjerit barusan, namun terdengar imut.
Tampak dua bocah tengah duduk di atas pundak, dua orang pria berkulit hitam.
Kedua anak perempuan yang bertubuh tembam itu, mengenakan kostum monster inc.
Mereka tersenyum innocent, sembari memegang microphone yang lebih besar dari bibir mungil mereka.
Dua orang pria menggendong, yang memiliki tanda segitiga di wajah itu.
Berparawakan tinggi, dan besar.
Dan bertampang sanggar. Menahan tubuh kedua bocah itu dengan memegang kaki mereka.
Pria-pria tinggi itu, mengedarkan pandangan pada Montero dan Swedish.
Menatap tajam, menyeringai kemudian mencibir
Sekitar dua meter.
Tiga orang pria berkulit hitam berdiri tegap, di atas bak mobil pick up berwarna hitam.
Tiba-tiba, satu orang pria melompat ke bawah, memasukkan kedua tangannya ke saku celana besarnya, berjalan ke depan.
Kaos singlet berwarna merah, bertuliskan "Catch me if you can."
Kalung chains menjuntai di leher. Dan di atas kepalanya, ada headband menghiasi keningnya.
Gaya outfit masa kini.
Seringai licik terpatri di wajahnya.
Hening!
Dari arah sisi kanan jalan, seekor anjing berjenis pomeranian atau bisa di sebut anjing mini pom.
Kaki munggilnya berlari lincah, memasuki ruas jalan raya.
Seketika cahaya lampu menyoroti sosok hewan mungil itu.
"Gukkk... Guk...gukkkk!" suara anjing mengonggong, ia menjulurkan lidah. Kemudian menjatuhkan bokongnya di atas jalan.
Ia mengedarkan pandangan di hadapan Swedish dan Montero, sorot mata anjing itu tajam. Lalu ia memiringkan sedikit kepalanya ke kanan.
Namun di penglihatan orang, ia menampilkan mata binarnya.
"Cute!"
"Oh my God, kenapa ada anjing di sana, lucu sekali!
"Woowww, Mom aku mau anjing itu!"
__ADS_1
Seloroh warga yang menyaksikan tayangan televisi.
**
Suasana Blok Q
Tiba-tiba senyap.
Mereka seperti patung..
Freeze...
Loading sejenak.
Satu detik, dua detik...
"Darla, Lunna," gumam Lily tanpa melepaskan pandangan sembari menarik kerah baju lawannya.
Wanita itu tertegun.
"Lunna," sahut Leon memicingkan mata.
"Keluarrrrrrrrrrrrrr!!!!!" seru Lunna seperti memberikan perintah.
Bentuk Blok Q, adalah persimpangan empat.
Suara derapan langkah kaki terdengar nyaring. Kumpulan pria berkulit putih dan berkulit hitam, masuk dari sisi kanan jalan.
Mereka menyeringai licik. Kilatan mata mereka sangat tajam dan dingin, seakan ingin melahap seseorang. Terpatri tanda segitiga kecil di wajah sanggarnya.
Aura hitam menyembul keluar ke sekujur tubuh.
Semua mata beralih ke sebelah kanan jalan.
Gleg!
"Gangsta paradise!" sahut seseorang namun dalam hati.
Kemudian terdengar lagi langkah kaki dari sebelah kiri.
Lalu, Montero dan Swedish yang berada di tengah jalan mengalihkan pandangan ke sisi kiri.
Masih tak bergeming dari posisi semula.
Menatap remeh.
"Cihhh!" Seorang pria berdecih, di antaranya.
Deg.
Swedish ketar-ketir.
Montero mengernyitkan dahi.
Aparat keamanan dan warga setempat melongo.
"Bukankah itu Gangsta Paradise?" tanya wartawan pada co-pilot di atas sana.
Co- pilot mengangguk.
"Wow, ini gila. Bukankah mereka sudah lama tak muncul? Siapa yang menggerakkan mereka?"
Co-pilot mengangkat bahunya. Namun ia menatap penuh kagum pada sekelompok pria bertato segitiga itu.
Gangsta paradise, salah satu kelompok yang paling di takuti, di Amerika Serikat.
Sepak terjang, mereka dalam dunia bawah tanah maupun dunia atas benar- benar menarik perhatian aparat keamanan dan warga beberapa tahun silam.
Mereka melindungi, membantu, mengayomi warga setempat.
Dengan cara mereka sendiri.
Tampang mereka saja yang sanggar namun hati sungguh mulia.
Setiap tahun, mendonasikan uang kepada Yayasan, Sekolah, Universitas, bahkan Rumah Sakit sekali pun.
Akan melawan jika ada yang mengusik mereka.
Akan tetapi, beberapa tahun lalu, mereka hilang bagai di telan bumi.
Desas-desus mengatakan sang pemimpin vakum. Tak tahu pasti apa penyebabnya, terlebih lagi mereka tak pernah tahu, wajah ketua Gangsta Paradise.
__ADS_1
Para warga tentu saja, sedih sebab tindak kejahatan semakin merajalela.
Malam ini, mereka muncul kembali.
Seperti superhero.
"Serangggggggggggggggg!!!!" teriak Darla nyaring dari atas pundak pria itu.
Gangsta Paradise berlari cepat ke arena tempur.
Bughhhhh.
Bughh....
Bugh...
Mereka kembali berkelahi.
Menyerang satu sama lain.
Montero di pimpin Leon.
Dan Swedish House Mafia di pimpin Pablo.
Sedangkan,
Gangsta Paradise di pimpin oleh dua bocah kecil, Darla dan Lunna.
Perkelahian semakin memanas.
.
.
.
"M, Lunna mau tulunnnnn!" pinta Lunna pada Mozzy, pria yang di dudukinya di pundak.
Pria itu melirik ke atas sejenak, kemudian tanpa menjawab segera mengambil tubuh bocah itu perlahan. Dan meletakkannya ke bawah.
"Belat tidak?" Lunna merapikan topi kostumnya.
"Tidak, Queen!" Pria itu mengulas senyum. "Sekarang Lunna dan Darla ke sana ya! Jangan kemana-mana!" perintah Mozzy sembari menunjuk ke arah toko yang tampak aman baginya.
Lunna mengangguk paham. "Belhati-hatilah, M!" serunya, berlari cepat mengajak Darla yang sedari tadi sudah turun dari tubuh pria satunya.
Pria itu melengkungkan bibir membentuk senyuman.
"Come on, M. Kita bermain sejenak!" Pria bertubuh tambun, temannya, menggerak-gerak leher, meregangkan otot-ototnya yang kebas akibat beban tubuh Darla.
Mozzy mengangguk, dan menyeringai.
"Hirooooooo!!" panggil Mozzy, kemudian bersiul.
"Gukk..gukkkk..gukk..gukk!" Anjing jenis mini pom yang di sinyalir bernama Hiro berlari gesit dan lincah pada si pemanggil.
Ia berhenti tepat di hadapan Mozzy, duduk tanpa di suruh.
"Jaga Darla dan Lunna, pergi ke sana! Mengerti?"
Hiro menyalak, mengerti dengan titah dari tuannya. Ia beranjak dan berlari secepat kilat menuju tempat keberadaan dua bocah tadi.
Mozzy memperhatikan Hiro, Darla dan Lunna dari kejauhan.
Aman.
Keduanya pun menganyunkan kaki, membaur bersama yang lain.
.
.
.
"Leonnn!!! Di mana Pablo?" tanya Lily yang tengah berusaha melepaskan cekikkan dari pria bertubuh tinggi dan besar darinya.
.
.
.
__ADS_1
.