Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 56. Identity of Two Women


__ADS_3

***


Keesokan harinya, keluarga besar Marques berkumpul memenuhi ruangan tamu di mansion utama. Tampak mereka menikmati kebersamaan dengan bercengkrama ria satu sama lain. Tak hanya keluarga inti saja, namun Marimar turut mengobrol santai. Ya, lelaki gemulai itu sudah selesai dengan aktivitasnya sebagai baby sitter. Si Kembar sudah berpulang sekolah beberapa menit yang lalu.


Si Kembar dan Lunna sekarang tidur siang, di dalam kamarnya. Sementara itu, Lexi dan Maximus sebagai tangan kanan Leon dan Jonathan, sibuk dengan urusan pekerjaan mereka di perusahaan.


Tampak Marimar berselancar ria di sosial medianya. Dia membagikan foto terbarunya tadi malam di instagram. Pria bertubuh lentur itu, tak sengaja membaca berita menarik di laman indozone.id.


"What!" jeritnya tiba-tiba.


"Ada apa, Mar?" tanya Lily mengalihkan pandangannya. Dia sontak terkejut dengan suara Marimar, yang berada tak jauh dari tempat duduknya.


"You coba hidupkan TV!" perintahnya sambil menatap Lily.


"Aku bertanya padamu, Mar. Malah di suruh hidupkan TV." Lily memutar malas kedua bola matanya.


"Justru itu, jawabannya ada di televisi," jelas Marimar.


Lily mengerutkan dahi. "Honey, aku mau ambil remote TV dulu." Dia mengalihkan pandangan pada Leon.


"Biar aku saja," protes Leon yang berada di samping tubuhnya.


"Tidak usah aku saja, ya. Sekaligus, aku olahraga ringan."


Leon tersenyum simpul. "Baiklah." Dia mengecup singkat pipi kekasihnya itu.


"Honey," ucap Lily penuh penekanan, sambil melototkan mata. Untung saja jarak mereka bertiga agak jauh dari keluarga Marques yang lainnya.


Leon terkekeh pelan.


Lily membuang napas perlahan, dia segera beranjak dari tempat duduknya. Wanita berambut panjang itu, berjalan cepat menuju lemari khusus penyimpanan remote control. Kemudian dia mengayunkan kakinya, kembali ke tempat semula.


Leon tak sedikit pun melepaskan pandangan matanya dari pergerakan kekasihnya.


"Honey, bisakah besok saja kita menikah," pinta Leon.


"Leon, menikah itu butuh persiapan. Belum fitting bajunya, cateringnya, lalu...."


"Shfftt, aku tahu serahkan saja semua padaku. Hari ini kita fitting baju." Leon menaruh jari telunjuknya di bibir Lily.


"Bisakah kalian, sejola berhenti memamerkan kemesraan kalian." Marimar berdecak kesal, sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Kau pergi saja sana, dasar pengganggu," ucap Leon pelan, namun kedua matanya menatap tajam.


"Ih, Lily lihat calon suami mu itu. Kejam!" seru Marimar, dia tidak terima.


Lily menghela napas dengan pelan. "Sudah, kalian jangan berdebat."


"Ah, sudahlah eyke mau pergi saja. Eyke akan meninju mu Leon." Marimar menggertak dengan menggepalkan satu tangannya.


"Kenapa kau ingin meninju Leon, enak saja. Dia salah apa?" Lily menatap dingin.


"Tuh kan, kalian pasangan kejam."


Marimar bangkit berdiri dan berlari kecil dengan gaya gemulainya. Dia menghampiri Anastasya yang sedang melihat suaminya, bermain catur bersama Fabio.


"Mengapa manusia alien itu bisa menjadi babby sitter mu, Honey," ucap Leon saat Marimar berlalu pergi.


Lily terkekeh pelan. "Jangan seperti itu, Honey. Dia memaksa Daddy dan Mommy, aku juga tidak tahu mengapa Daddy bisa menyetujui permintaannya itu," jelas Lily singkat.


Leon mangut-mangut.


"Honey, bukankah tadi Marimar menyuruhmu menghidupkan televisi." Leon mengingatkan kekasihnya, saat menyadari benda pipih dan panjang tersebut, berada di genggaman Lily.

__ADS_1


"Oh, ya. Aku hampir saja lupa." Lily segera menekan tombol berwarna merah.


Seketika layar besar dan panjang pun menyala.


Tampak penyiar berita, menjelaskan identitas dua orang wanita yang ditemukan oleh pemuda di tempat pembuangan sampah, beberapa hari yang lalu.


Lily segera memperbesar volume suaranya. Kedua matanya terbelalak saat mendengar, bahwa kedua wanita yang tewas tersebut adalah Rissa Benedicta dan Ardella Gunawan.


Keluarga Marques yang semula sedang asik dengan aktivitasnya menghampiri kedua pasangan tersebut. Mereka juga terkejut.


"Rissa Benedicta, bukankah itu mantan sahabatmu dulu nak?" tanya Anastasya memastikan.


"Iya, Mom," jawab Lily cepat sambil menoleh sekilas pada ibunya.


"Rissa, istri Arnold kan?" Leon menimpali.


Lily menganggukkan kepala.


"Kasihan sekali." Jonathan teringat jika Rissa adalah anak yatim piatu. Dahulu, wanita itu selalu dekat dengan putri sulungnya.


"Arnold!" jerit Jonathan, Fabio dan Leon bersamaan, saat mendengar bahwa pelaku belum bisa ditemukan. Karena tidak ada, bukti yang kuat.


Kedua wanita dan lelaki setengah gemulai itu, terkesiap mendengar suara mereka.


"Kalian, ini kenapa sih?" Anastasya memukul kecil lengan suaminya.


"Sayang, kau tidak dengar pelaku belum ditemukan. Bisa saja itu Arnold," jelas Jonathan.


"Kita tidak boleh berburuk sangka dengan seseorang, sayang," tutur Anastasya pelan sambil mengelus dada suaminya.


Sementara Leon dan Lily saling pandang satu sama lain, mereka tampak berbicara melalui mata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Butik Gwen.


"Maaf, Honey." Lily tersadar, dia membalikkan tubuhnya ke belakang.


"Apa yang sedang kau lamunkan, cerita lah. Aku akan mendengarkan mu Honey," ucap Leon.


Lily menatap dalam, pria dihadapannya.


"Honey, aku kasihan pada Rissa. Dia anak yatim piatu, pasti tidak ada yang mengurus pemakamannya. Apakah aku boleh, datang ke rumah sakit, dan menguburkannya secara layak. Bagaimanapun dulu dia pernah menjadi bagian dalam hidupku."


Leon tersenyum simpul. "Baiklah, selesai dari butik kita ke rumah sakit."


"Benarkah?"


"Iya, Honey. Tapi ada syaratnya." Leon tersenyum penuh arti.


"Syarat?" Dahi Lily berkerut.


Leon membalas dengan menganggukan kepala sedikit.


"Apa syaratnya?" Lily menerka-nerka, apa permintaan kekasihnya itu.


"Ini." Tunjuk Leon di sebelah pipi kanannya.


Lily mengernyitkan dahi. "Apa? aku tidak mengerti Leon," tanyanya sambil menunjukkan wajah cemberut.


Leon membisikkan sesuatu di daun telinga wanita bermanik warna biru itu. "Cium, Honey, cium," pinta Leon dengan suara pelan.


"Kenapa kau jadi mesum Honey, jangan di sini, banyak orang," ucap Lily sambil memukul kecil dada Leon.

__ADS_1


Leon terkekeh. "Aku tidak peduli, sekarang." Titahnya.


"Leon, jang..."


Pria itu memotong perkataan Lily dengan membungkam dan ******* cepat bibir ranum kekasihnya.


50 detik, dia melepaskan tautan bibirnya.


"Leon, kau membuatku malu!" seru Lily sambil menyembunyikan wajah merahnya di dada Leon.


"Hahaha..." Leon mengeratkan pelukannya.


Sementara itu, beberapa karyawan yang tak sengaja melihat interaksi pasangan mesum yang tidak tahu tempat itu. Memalingkan wajahnya, mereka tersipu malu.


"Maafkan calon menantu ku ya, jeng. Dia tidak tahu tempat," jelas Anastasya sambil bergaya ala-ala ibu sosialita.


"Tenang saja, jeng. Bukankah dulu kau dengan Jonathan lebih parah dari itu," ucap Gwen si pemilik butik, sekaligus teman arisan Anastasya.


Iya, sekarang Lily, Leon dan Anastasya baru saja selesai melakukan fitting baju pengantin.


"Kau ini, Gwen. Aku jadi teringat dengan perlakuan Jo dahulu." Anastasya teringat masa mudanya dulu.


Sekitar, dua puluh lima menit kemudian. Ketiga manusia tersebut pergi ke rumah sakit. Anastasya menyetujui keinginan putri sulungnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, dan suasana di atas pencakar langit mulai berganti menjadi gelap.


Kediaman Marques.


"Kenapa panas sekali, hari ini," ucap Lily pelan saat menyembul keluar dari kamar mandinya. Dia mengusap perlahan rambut panjangnya dengan handuk kecil.


Ekor matanya tak sengaja menangkap, cahaya layar ponselnya bersinar di atas meja rias. Dia berjalan cepat menuju meja. Jari telunjuknya mengusap pelan layar benda mini itu.


Hai kakak ku yang cantik jelita, membahan badai, ucap Belle cepat di sebrang sana.


Ada apa, cepat katakan kau mau apa?


Lily tentu saja sudah tahu, tabiat adiknya akan berubah manja jika menginginkan sesuatu.


Kak, nanti kalau kau sudah punya anak. Namanya Romeo saja, ya.


Kau ini ada-ada saja, memangnya aku yang mengatur anakku akan laki-laki, siapa tahu saja perempuan.


Ihhh, tidak mau tahu. Namanya harus Romeo!


Lily menghembuskan napas dengan pelan.


Iya, jawabnya pasrah. Ada lagi?


Belle terkekeh.


Kenapa kau seperti cenayang kak, aku mau acara pernikahan kakak, agak sore tidak apa-apa kan menunggu Benjamin untuk menyelesaikan pekerjaannya kak.


Hmm, baiklah. Aku akan merubah jadwalnya.


Kau yang terbaik kak, muacchhhhhh.


.


.


.

__ADS_1


Hai, para readers pasti penasaran kan dengan rencana Arnold?


Jangan lupa baca terus perbab ya, biar kalian mengerti setiap teka-teki silang yang berada di setiap chapter.


__ADS_2