
***
"Honey, percayalah. Aku bisa memenangkan hati Daddymu. Jangan sedih," ucap Leon pelan, sembari melepaskan pelukkannya. Lelaki berhidung mancung itu, menatap dalam kekasihnya. Dia mengambil tangan kanan Lily, dan mengecup sekilas punggung tangannya. Tanpa aba-aba, dia menarik tubuh ramping pujaannya dan mengecup singkat, bibir ranum Lily.
"Leon!" pekik Lily sambil mendorong dadanya. Dia sontak terkejut, dengan tindakan Leon. Apakah pria bule ini tidak melihat orang yang berada di dalam ruangan, pikirnya.
Pria bermanik coklat, memundurkan satu langkahnya. Ia malah terkekeh pelan.
"Oh, my God!" seru Anastasya dengan melebarkan kedua matanya. Dia menghembuskan napasnya sejenak dan kembali berjalan ke tempat semula. Wanita paruh baya itu, menghampiri keempat bocah, yang sedang bermain puzzle. Dia tidak ingin menjadi obat nyamuk.
"Leon, kau tidak lihat di sini ada orang!" Lily mendengus kesal sembari melipat kedua tangan di dada. Ia tidak sadar, jika pipinya berubah merah muda.
Leon menghampirinya. "Aku tidak peduli, Honey. Lihat pipi mu. Sudah seperti kepiting rebus lagi. Apa lebih baik aku panggil kepiting saja ya," kelakar Leon.
"Aku bukan kepiting rebus, Leon!" protes Lily, dengan matanya melebar.
"Hei, you sejola sejoli. Ngak usah ribut, eyke lagi pusiang yey." Marimar menimpali sambil meliukkan tubuhnya dengan gemulai seperti ulat bulu, sedari tadi dia memperhatikan tingkah keduanya.
"Diam!!" seru Leon dan Lily bersamaan, sambil menatap tajam ke arah Marco alias Marimar.
Pria gemulai itu, terperangah dan memegang dadanya. "Kalian kejam!" ucapnya sembari berlalu pergi dengan cepat, tanpa memandang ke depan.
BRAK.
Kedelapan sosok manusia yang berada di dalam ruangan, seketika tertawa keras, saat melihat Marimar tanpa sengaja menabrak kaca pembatas, di ruang tengah. Sehingga pria setengah wanita itu mengaduh kesakitan.
Sementara itu, sepasang kekasih yang berdebat kecil mengalihkan pandangan pada sumber suara, mereka mengernyitkan dahi. Karena dua sejoli itu tidak melihat kejadian yang berlangsung tadi.
"Aduh, kening akika. Ini siapa sih yang taruh kaca di sini!" gerutunya sambil mengusap kening kokohnya dengan cepat. Dia bangkit berdiri dan berjalan gemulai ke arah Anastasya berada.
"Tante, lihat ini. Kening akikaaa!" Rengeknya dengan duduk di sofa.
"Kau juga, Marco kenapa tidak melihat ke depan!" seru Anastasya sambil menahan tawanya.
"Marimar tante, Marimar!" protesnya. "Akika tadi lihat kok," ucapnya pelan, dengan memanyunkan bibir.
"Astaga, Mar. Namamu sudah bagus. Mengapa kau ganti menjadi Marimar!" Anastasya menggelengkan kepala perlahan.
Wanita berambut pendek itu, ingat betul dengan penjelasan teman arisannya yaitu Mami Marco. Yang mengatakan bahwa anaknya yang paling bungsu, begitu lentur seperti karet.
Pasalnya dulu ketika dia masih belia, Marco selalu dijadikan korban ketiga kakaknya, ia menjadi boneka percobaan. Mereka mendandani Marco kecil, sebab impian ketiga gadis itu ingin menjadi MUA terkenal. Alhasil, terjadilah perbelokkan kepribadian. Marco lebih menyukai sesuatu yang berbau wanita. Maminya sudah lelah dengan sikap putra bungsunya itu.
**
__ADS_1
Dua puluh lima kemudian, Leon mengajak Lunna dan Lexi untuk segera pulang. Mereka pun pamit undur diri.
"Sudah, jangan sedih Honey," Leon berkata kepada kekasihnya, saat ini mereka berada di ambang pintu.
"Hmm." Wanita itu hanya berdeham, ia tidak mau berpisah dengan Leon. Terpampang kesedihan diwajahnya.
"Aku ada urusan sebentar, jangan sedih Honey," ucapnya sambil mengecup cepat keningnya dan berjalan cepat menuju mobil.
Blush.
***
Cafe Mari Bercinta.
Di tempat lain, seorang pria bertubuh kekar sedang menghirup benda pipih yang mengandung nikotin. Dia duduk tenang, menatap lurus ke depan. Wajah rupawannya sudah mulai dihiasi garis keriput. Dia melirik sekilas pada jam yang bertengker di tangan kanannya. Pria paruh baya itu, mengambil gelas yang berada di atas meja, dan menyesap minuman jusnya hingga tandas.
Tap..tap.
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Dia menolehkan kedua matanya pada sumber suara. Ia tersenyum simpul, saat melihat pria bermanik warna coklat menghampirinya.
"Duduklah!" perintahnya dengan pelan.
Pria itu membalas perkataannya dengan menganggukkan kepala sedikit, sambil mendudukkan bokongnya di bangku.
Kedua pria berbeda generasi tersebut, duduk berhadapan.
"Maafkan aku, putrimu masih menahanku dari tadi," jelasnya singkat sambil menatap lawan bicaranya.
Pria paruh baya itu, malah terkekeh pelan.
"Putriku itu jika sudah menyayangi seseorang, ia akan bucin."
Pria muda itu membalas dengan senyuman sumringah, jika mengingat tingkah kekasihnya itu.
"Bagaimana aktingku tadi, keren tidak?" tanya Jonathan, sambil menaikan sebelah alis matanya, ia membayangkan kejadian beberapa menit yang lalu. Hampir saja dia tertawa saat melihat ekspresi putrinya.
"Sangat keren, mungkin Uncle akan mendapatkan piala oscar," kelakar Leon sambil tersenyum simpul.
"Apakah kau sangat mencintai putriku?" Lelaki paruh baya itu, bertanya dengan raut wajah serius.
"Sangat!" jawab Leon, singkat dan padat. Ia amat minim bicara pada lawan bicaranya. Namun jika bersama Lily, dia tidak pernah bosan untuk mengajaknya berdebat.
Jonathan menghembuskan napas perlahan, kembali dia menghirup rokok dan membuang perlahan asap itu. Kemudian dia mematikan benda mini tersebut.
__ADS_1
"Kau tahu Leon, dulu ada lelaki yang mengucap hal yang serupa, seperti dirimu. Tapi, dia mengkhianati anakku!" seru Jonathan dengan sorot mata dingin, saat teringat pria yang menghancurkan kebahagiaan putrinya.
"Satu hal yang harus kau tahu, aku tidak akan segan menghabisimu jika menyakiti Lily."
Jonathan memperingati pria dihadapannya, semula dia masih bimbang dengan keputusannya. Mengingat Leon adalah anak dari rival bisnisnya dahulu.
Namun Fabio, sahabat sekaligus tangan kanannya, menasehatinya agar tak berburuk sangka dan tidak boleh terlalu berpikiran negatif. Dia mengatakan biarlah Lily menentukan pilihannya sendiri. Karena Fabio yakin sekali, Lily yang dahulu sudah berubah menjadi wanita tangguh dan kuat.
"Aku tidak akan menyakiti putri anda, tenang saja. Bahkan jika ada orang mau menyakiti wanitaku, akan ku habisi!"
Leon berkata tegas, dia akan membuktikannya kelak dengan tindakannya. Ia pun mengetahui kebimbangan calon mertuanya itu.
"Jangan risaukan tentang Daddyku, akan ku urus secepatnya, Uncle." Pria muda itu menatap lekat, lawan bicaranya.
"Baiklah, sekarang kau telepon orangtua mu itu!" perintah Jonathan, dia ingin memastikan sendiri. Bagaimana reaksi Simon, saat mengetahui dia akan berbesan dengan rivalnya.
Leon membalas dengan menganggukan kepala. Dia segera menuruti perkataan Jonathan. Namun sambungan telepon tersebut, tidak aktif. Dia menghela napas dengan kasar.
"Sepertinya Daddy mu sangat sibuk," ucap Jonathan pelan namun tajam.
"Maaf!" Leon membalas cepat, dengan raut wajah datarnya.
Jonathan menyeringai. "Selesaikan urusanmu secepatnya, aku tidak mau, Lily tersakiti oleh orang sekitarmu!"
Pria muda dan berparas rupawan itu, tidak membalas perkataan Jonathan. Dia tampak berpikir.
"Bagaimana kau sudah siapkan rencanamu?" tanya Jonathan.
"Tentu saja, sudah!" Sudut bibirnya terangkat.
"Baguslah, jangan sampai gagal!"
"Tiga hari lagi, aku akan tetap berakting," ucap Jonathan dengan senyum sumringah. "Mulai dari sekarang, panggil aku Daddy!" Dia bangkit berdiri.
"Baik, Dad." Mulut Leon melengkung membentuk senyuman.
"Aku pergi," pungkas Jonathan, sembari menepuk pundak Leon perlahan.
.
.
.
__ADS_1
.
.