Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 06. Anak Hilang (Revisi)


__ADS_3

Masih tahap revisi guys.


Berikan dukungan like, komentar, dan votenya ya.


Salam dari kak Nana.


Selamat membaca.


***


Bugh!


"Awh!" pekik Darla seketika.


Darla yang tidak siap dengan posisi tubuhnya, terhuyung ke belakang hingga membuatnya terjatuh. Kendrick sontak terkejut, dia segera memapahnya dan menelisik tubuh Darla. Matanya berkilat marah, saat melihat lebam dikeningnya yang membekas. Tampak air mata mengalir dikedua pipi bulat Darla.


"Sakit!" Ringis Darla dengan mengusap jejak tangisnya, sembari menatap ke arah Kendrick.


Kendrick memeluk sejenak sepupunya itu dan mengelus perlahan punggungnya. Seketika dia mengalihkan pandangan pada anak perempuan yang berdiri tegap di ambang pintu, sambil menundukkan kepalanya.


"Siapa kau?" teriak Kendrick kepada anak perempuan yang mendorong Darla dengan kuat, dari balik pintu. Napasnya memburu, dia tidak suka seseorang melukai keluarganya walaupun tanpa sengaja.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Kendrick menatap tajam.


Anak perempuan itu tetap tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kendrick. Dia masih menundukkan kepalanya sembari mengusap jejak air matanya yang mengalir deras dipipinya.


"Hikss hiksss hikss." Suara tangisan terdengar lirih.


"Apakah kau tuli?" tanyanya lagi dengan intonasi yang sedikit tinggi. Tangannya tak berhenti mengelus punggung Darla.


Anak perempuan itu, tetap tak menyahut. Dia tak bergeming dari posisi semula. Hanya gerakan jari-jemarinya yang berusaha menghapus air mata. Isakan tangis masih terdengar lirih dari bibir mungil itu.


"Sudah kak Ken angan malah-malah, mungkin dia tidak sengaja," ucap Darla sambil melepaskan pelukan, dia menatap Kendrick. Darla sudah terlihat tenang.


Kendrick tak membalas perkataan Darla. Dia hanya melirik sekilas, setelah itu dia mengalihkan pandangannya kepada anak perempuan dihadapannya.


Kendrick memperhatikan dengan seksama anak yang berada didepannya. Tak jelas bagaimana rupa wajahnya. Anak itu masih saja terus menunduk.


Bocah kecil perempuan itu, mengenakan dress sepanjang selutut berwarna putih yang sudah terlihat kotor. Di bagian sisi kanan dan kiri dress, terlihat warna kecoklatan yang mulai mengeras. Sepatu flat yang berwarna putih memiliki pita kecil, yang berada ditengah, terlihat mulai lusuh.


"Di mana ibumu?" tanya Kendrick datar.


Mendengar pertanyaan dari Kendrick, dengan perlahan bocah itu mengangkat kepalany dan menatap Kendrick.


Kendrick terkejut ketika melihat wajah anak perempuan itu. Terdapat luka lebam yang membiru berada dipipi kanan dan kirinya. Sepasang mata bulat yang berwarna coklat itu terlihat sayup. Di sudut bibir mungilnya terdapat sedikit sayatan kecil, disertai bekas darah yang sudah mengering. Kendrick menebak usia anak dihadapannya, kurang lebih sama seperti Darla.


Sementara itu, Darla memperhatikan anak perempuan dihadapannya dengan begitu intens. Semula dia merasa takut, dia mengira bahwa sosok yang dibalik pintu adalah hantu. Namun rasa takut itu seketika memudar dengan cepat. Darla mengalihkan pandangan ke samping tubuhnya, dia mengerutkan dahi, saat melihat Kendrick tak bersuara.


"Kak Ken!" Darla menepuk pelan bahu Kendrick.


Kendrick pun tersadar dari lamunannya. Dia menoleh sejenak sembari menghela napasnya dengan pelan.


"Apakah kau masih tidak ingin berbicara?" tanya Kendrick.


Anak itu tetap tak menjawab pertanyaan dari Kendrick.


"Jika kau tak ingin berbicara. Ikutlah dengan kami. Kami akan membantu untuk mencarikan ibumu"

__ADS_1


"Ayo, ikutlah dengan kami!" ajak Darla tiba-tiba.


Kendrick menjulurkan tangannya kepada anak perempuan itu. Dia pun menerima uluran tangan Kendrick.


"Kuy!" Darla berkata sambil bergerak cepat, kesamping tubuh anak perempuan itu, dia segera menggandeng tangannya.


"Walaupun dia tak ingin berbicara, setidaknya dia penurut" Batin Kendrick bermonolog.


Mereka pun berjalan beriringan keluar dari area toilet.


.


.


.


Area Security


Seorang satpam Mall sedang melakukan tugasnya. Tangan petugas, tampak sibuk mengutak-atik mouse yang berada di atas meja. Beberapa layar monitor menampilkan lalu-layang pengunjung di Mall. Dua pasang mata itu menelisik sosok anak kecil, yang dicari oleh salah satu pengunjung.


Di salah satu monitor terlihat dua anak kecil sedang berjalan bergandengan tangan memasuki area toilet, yang memang jarang dikunjungi oleh pengunjung di Mall.


"Ketemu" Batin petugas, dia pun segera keluar dari ruangan, hendak menemui si pengunjung yang melaporkan anaknya yang hilang.




Lily berusaha menenangkan Belle yang dari tadi terlihat gusar. Dia mengusap punggungnya dengan pelan, agar Belle merasa lebih tenang. Lily percaya dan yakin sekali bahwa Kendrick anak yang cerdas. Dia berharap Kendrick dan Darla dapat segera ditemukan dan dalam keadaan baik-baik saja.


Anastasya merasa heran mengapa kedua anak itu kelihatan tidak panik, ataupun gelisah.


"Nick, Sam!" panggil Anastasya.


"Yes, Oma," jawab mereka cepat, tanpa menatap lawan bicaranya, mereka sedang fokus melihat es krim yang dimakannya.


"Apakah kalian tidak merasa khawatir Kendrick hilang?"


Mendengar pertanyaan itu, Nickolas dan Samuel saling pandang satu sama lain. Entah apa yang sedang mereka pikirkan.


"Tidak! Aku yakin Kak Ken sebentar lagi akan ketemu. Dia tidak hilang Oma," jawab Nickolas, sambil menganggukkan kepala.


"Yapss benar untuk apa khawatir. Lebih baik kita makan es krim!" seru Samuel seraya mengangkat es krim ke udara.


Anastasya yang mendengarkan jawaban mereka, menepuk keningnya dengan cepat, seraya membuang napas perlahan.





"Permisi, mbak."


"Iya pak."


"Di pantauan CCTV mereka terlihat sedang berjalan ke arah toilet yang di dekat salon Markicop. Pengunjung memang jarang pergi ke area toilet itu. Sepertinya mereka dari tadi belum keluar dari toilet. Ayo! Kita segera ke sana saja," ajak petugas itu.

__ADS_1


" Baik pak, terimakasih!" ucap Lily cepat.


Mendengar perkataan petugas mereka pun tersenyum. Mereka segera berjalan cepat mengikuti langkah kaki petugas. Beberapa pengunjung yang melihat segerombolan orang bersama petugas security tampak heran. Mereka hanya bisa bertanya didalam hati.


.


.


.


"Kendrick, Darla!" panggil Lily dan Belle sambil melangkah cepat, ke arah sosok yang mereka cari tadi.


Langkah kaki ketiga anak kecil itu pun terhenti, saat mendengar suara panggilan yang tidak asing. Satu anak perempuan yang mengenakan dress berwarna putih, memundurkan langkah kakinya perlahan.


Lily dan Belle segera memeluk kedua buah hatinya. Mereka mengecup pipi keduanya dan menelisik tubuh Kendrick dan Darla.


Belle terkejut saat melihat bekas luka di kening Darla.


"Darla, kenapa keningnya nak?" Belle bertanya, dia mulai cemas.


"Tadi Dala jatuh gala-gala dia dolong, Mom," jawab Darla sambil menunjuk ke arah bocah kecil yang berada di belakang mereka.


"Di dorong?"


"Tidak sengaja kok Mom," jawab Darla cepat dengan mengedipkan mata bulatnya.


Belle menghela napas dengan pelan dan kembali memeluk Darla.


Lily menangkap sosok, yang begitu asing dimatanya, dia mengerutkan dahi. Saat melihat anak perempuan itu tidak bersuara, dan terdiam seperti patung. Dia melihat penampilan anak tersebut sangatlah miris, pakaian yang dikenakan pun begitu kotor dan lusuh. Anak itu masih menundukkan kepalanya. Lily mengalihkan pandangan pada Kendrick, mencari sebuah jawaban.


Kendrick yang mengetahui ibunya sedang kebingungan, segera membisikkan sesuatu ditelinga Lily. Raut wajah Lily seketika berubah.


Lily melepaskan pelukan dari tubuh Kendrick, kemudian dia bangkit berdiri dan berjalan pelan, ke arah anak perempuan itu berada. Dia segera mensejajarkan tubuhnya.


"Nak, siapa namamu?" tanya Lily sambil mengusap kepalanya.


"Lalunna," ucap anak itu dengan pelan, posisi kepalanya tak sedikitpun bergeming.


"Nama yang sangat bagus. Dimana ibumu nak?"


Mendengar kata ibu, anak itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Lily. Lily sontak terkejut, saat melihat wajah anak itu.


Seketika anak itu, membenamkan wajahnya di tubuh Lily. Lily pun memeluk dan mengusap kepala Lunna dengan pelan.


"Ibuu hiksss hikss hikss hiksss." Anak itu kembali menangis.


Keluarga Marques yang berada disitu, hanya bisa membatin didalam hati. Beberapa pengunjung yang lalu lalang di sekitaran berhenti sejenak, memusatkan perhatian kepada seorang anak yang berpelukan dengan seorang wanita. Mereka tenggelam dengan pikirannya masing-masing.


5 menit pun berlalu.


Kerumunan pengunjung mulai padat. Petugas security berusaha membubarkan kerumunan agar tak memenuhi tempat.




__ADS_1


__ADS_2