Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 111. Kalah Start


__ADS_3

21 +++


Warning


...****************...


"Lepaskan aku, Marco!" teriak Yellow nyaring, ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Marco. Namun, tenaga pria itu lebih kuat darinya.


"Marco, lepaskan tangan Yellow!" seru Lily. Ia tak tega melihat Yellow menangis, selama berteman dengannya. Lily tak pernah melihat Yellow menangis seperti itu, dia amat penasaran. Ada apakah gerangan antara Yellow dan Marco?


Lily mengetahui jika sebelumnya, Marco memang menyukai Yellow. Ia mendapatkan informasi itu dari Marco sendiri. Saat tiba di mansion, sepulang dari pulau antah berantah. Marco selalu bertanya tentang Yellow kepada dirinya.


Hal itu membuat Lily bertanya-tanya.


Kenapa?


Ada apa?


Belum lagi perubahan drastis dari Marco. Lily sangat lah senang sebab pria yang dulunya gemulai, sekarang telah berubah menjadi sosok pria sejati.


Semula Marco enggan berkata jujur mengenai ketertarikannya pada Yellow, namun Lily tak menyerah. Ia memborbardir habis Marco dengan pertanyaan menjebaknya. Akhirnya Marco mengalah, dan mengatakan bahwa ia sangat menyukai Yellow.


Marco yang sudah bucin tingkat dewa, meminta nomor handphone Yellow. Hendak berkenalan dengannya. Dan tanpa di duga Yellow membalas pesan darinya, hingga berujung kencan pertama pada hari itu pula. Yellow langsung mengajaknya ke penthouse miliknya.


Lalu, setelah kencan pertama itu. Marco lebih banyak terdiam.


Lily yakin ada sesuatu yang terjadi di antara mereka?


***


Marco tak mengindahkan perkataan Lily. Ia menyeret tubuh Yellow menjauhi area pelataran acara. Ia membawa Yellow masuk ke dalam labirin. "Ikut aku!" ucapnya, ketika mereka sudah berada di labirin.


"Tidak mau!" Yellow menggerakkan tangannya agar terlepas dari Marco. Ia masih menangis tersedu-sedu, dengan berjalan cepat mengikuti langkah kaki Marco yang lebar itu. "Marco, lepaskan aku!"


Langkah kaki Marco terhenti, dia menarik tubuh Yellow ke dalam pelukkannya. Wanita itu tak melawan sama sekali. Ia masih meneteskan air matanya di dada Marco.


Di ujung sana.


Lily terpaku melihat kepergian Yellow dan Marco yang sudah masuk ke dalam labirin.


Suasana tiba-tiba hening.


Para tamu undangan kebingungan, dan menerka-nerka.


"Maafkan teman ku, ada insiden kecil. Kita lanjutkan saja acaranya!" seru Leon memecah keheningan.


Tamu undangan segera tersadar dan kembali mode biasa saja.


Acara pernikahan tetap berlangsung sampai selesai.


.


.


.


Tepat pukul empat sore, taman belakang kediaman Simon terlihat sepi. Hanya tertinggal jejak-jejak dekorasi yang belum di bersihkan.


Di salah satu ruangan besar.


"Kalian beristirahat dahulu, dear," ucap Elizabet saat melihat Lily hendak duduk bergabung dengan keluarga inti. Ia baru saja selesai membersihkan riasan yang melekat di wajahnya dan telah mengganti pakaiannya.


"Tidak apa-apa, Mom." Lily menjatuhkan bokong tepat di sebelah Leon. Sedari tadi Leon sudah selesai berganti pakaian casualnya. Ia belum membersihkan diri.


"Benar kata besan ku, beristirahat lah nak. Nanti malam kau pasti akan kecapean." Anastasya menimpali, dia duduk di sisi kanan Elizabet.


Lily menautkan alis matanya. "Memangnya kenapa Mom?"


Elizabet melirik sekilas ke arah Leon. "Karena Leon nanti malam akan mengempur mu!" serunya bersemangat lalu terkekeh pelan. Anastasya yang berada di sampingnya juga terkekeh. Kedua wanita paruh baya itu memberikan kode morse yang hanya dipahami mereka.


Namun, keduanya lupa jika Lily tentu saja mengerti gestur tubuh Mommy dan besannya itu. Ia menolehkan mata ke samping tubuhnya. Mendekatkan tubuhnya, lalu berbisik. "Aku datang bulan," ucapnya pelan.


Setelah mendengar penuturan istrinya. Leon menarik nafas panjang. "Benarkah?"


Lily mengangguk sedikit.


"Berapa lama?"

__ADS_1


"Hmm, dua minggu."


Lagi, lagi Leon membuang nafas. Ia tak kembali bertanya. Wajahnya seketika tertekuk lesu. Gagal sudah malam pertamanya.


"Ada apa Leon?" tanya Elizabet saat melihat perubahan raut wajah putranya.


"Tidak kenapa-kenapa, Mom," ucap Leon tanpa menatap lawan bicaranya. Ia tengah menatap ke dalam bola mata istrinya. "Hmm, hanya dua minggu kan?" tanyanya pada Lily.


"Iya."


"Dua minggu, apa? Jangan bilang kau datang bulan, nak!" seru Anastasya saat mendengar perkataan Leon. Dia menebak jika putrinya sedang berhalangan sehingga Leon akhirnya lemas dan tak dapat menikmati malam pertamanya.


Lily mengangguk.


"Oh my God!" Elizabet terkejut namun setelah itu terkikik senang saat mengetahui kegundahan anaknya. Anastasya juga ikut tertawa pelan.


"Bersabarlah Leon masih banyak waktu,' ucap Anastasya sembari menepuk perlahan paha Elizabet.


"Banyak waktu apa?" tanya Simon dari arah belakang. Ia baru saja tiba di mansion, satu jam yang lalu ia ada urusan sebentar di perusahaannya.


Lantas keempat manusia itu menoleh ke belakang sekilas.


"Leon tidak sabaran ingin memberikan kita cucu," jelas Elizabet sembari tersenyum kecil. Ia tengah menggoda putra bungsunya itu.


"Really?" Simon tersenyum sembari duduk di sofa berhadapan dengan istri dan besannya.


Kedua wanita paruh baya itu mengangguk sedikit.


Leon menatap datar Daddynya. Ia merasa sebal sendiri jadinya sebab apa yang sudah di tahannya sedari dulu. Tak dapat ia tuntaskan nanti malam.


"Di mana cucu-cucu ku?" tanya Simon tiba-tiba sembari menyambar gelas yang berisi air putih di atas meja.


"Mereka semua sedang tidur di atas, tadi baru saja selesai bermain bersama Hiro," jawab Elizabet cepat.


Tampak Simon mangut-mangut mengerti. Ia bahagia dengan kehadiran si triplet, Darla dan Lunna di kediamannya. Yang super duper bawel dan selalu membuat ia tertawa melihat tingkah mereka.


"Fabio?" Ia meneguk minumannya perlahan.


"Tadi Fabio izin kepada ku untuk pulang ke Indonesia terlebih dahulu. Istrinya sendirian di sana, dia menitipkan pesan untuk mu permohonan maaf, karena tidak memberitahu mu tadi pagi," jelas Anastasya.


Perbincangan di ruang keluarga masih tetap berlanjut hingga menjelang malam. Mereka memutuskan untuk membersihkan diri kemudian lanjut dengan aktivitas makan malamnya.


.


.


.


"Honey, mandi lah dulu."


Leon baru saja masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Lily sedang bermalas-malasan di atas kasur sambil menyantap keripik pedas dan menonton televisi dihadapannya.


"Nanti saja, Honey."


Lily tak bergeming dari posisi semula, ia melonjorkan kakinya lurus ke depan, dan kepalanya bersandar di headboard tempat tidur.


Leon menghela nafasnya. Ia tak membuka suara lagi. Leon mengetahui wanita yang sedang menstruasi akan mengalami mood swing, dan akan mengeluarkan taringnya jika di ganggu. Jadi lebih baik dia diam saja. Mood dirinya pun juga tidak baik. Pupus sudah angan-angannya, ingin bercinta di malam pertama.


"Honey, aku mandi dulu." Leon berjalan menuju kamar mandi sembari melirik sekilas istrinya yang seperti mengacuhkan dirinya.


"Iya, mandi lah yang bersih." Lily memasukkan kembali keripik pedasnya itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan lahap.


Kurang lebih lima belas menit, Leon telah selesai membersihkan diri. Ia pun keluar melangkahkan kaki jenjangnya. Tetesan air mengaliri di dada bidang dan perut berototnya itu. Namun, belum sampai menutup pintu kamar mandi. Leon menautkan alis matanya, sebab tak melihat sang istri di atas kasur lagi.


Kemana?


Leon pun celingak-celinguk, berjalan ke sana kemari. Hanya terdengar suara televisi di sudut kamar. Kedua matanya memicing melihat memo kecil tergeletak di atas nakas. Ia pun berjalan cepat dan menyambar kertas berwarna pink kecil itu.


Honey, maaf aku pergi ke kamar Lunna dan Darla. Lunna minta di temani tidur di kamarnya, aku hanya sebentar selesai menidurkan mereka. Aku akan kembali ke kamar. Bersabar lah ya.


Salam sayang dari istri mu, gambar love kecil.


"Penganggu kecil," desisnya setelah membaca pesan singkat itu. Ia mengangkat sudut bibirnya sedikit, walau pun gagal setidaknya ia nanti bisa bercumbu mesra dengan istrinya.


Jika Leon sedang gundah gulana sebab malam pertamanya gagal maning. Maka di lain tempat, pasangan baru yang tengah di mabuk kasmaran, tengah bergulat di atas ranjang.


Terdengar suara-suara wanita yang mendayu di sudut kamar hotel berbintang lima yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari kediaman Simon Andersean.

__ADS_1


Nafas wanita itu terengah-engah, ia memekik nikmat dengan memanggil nama pria yang bergerak di atasnya berkali-kali.


Pasangan itu adalah Marco dan Yellow.


**


Dua hari yang lalu Yellow mengajak Marco ke penthousenya. Yellow pergi ke dapur hendak menyajikan minuman untuknya. Marco menunggu dengan sabar di ruang tamu, dia dikejutkan dengan kedatangan seorang pria bertubuh kekar.


Semula ia mengira pria itu adalah teman atau pun kerabat Yellow, namun ketika berjabat tangan pria itu mengatakan bahwa dirinya adalah tunangan Yellow. Bagai di sambar petir, Marco mematung. Pria itu juga mengatakan bahwa Yellow tengah mengandung anaknya.


Setelah mendengarkan penuturan pria dihadapannya. Marco langsung pergi dari penthouse tanpa memberitahukan Yellow yang masih sibuk di dalam dapur.


Saat Yellow kembali ke ruang tamu, dia terkejut dengan kehadiran pria yang akan dijodohkan Daddy padanya. Dia pun bertanya di mana Marco, dengan entengnya dia mengatakan bahwa Marco pergi keluar.


Yellow tentu saja kebingungan dan menaruh rasa curiga pada pria pilihan Daddynya. Dia pun mengusir pria itu dari rumahnya.


Yellow berusaha menghubungi Marco namun tidak aktif sama sekali. Secara bersamaan pula, Daddynya datang ke penthouse setelah dia mendapatkan informasi dari anak buahnya, jika ada seorang laki-laki asing mengunjungi putri semata wayangnya.


Ia sangat berang, putrinya selalu saja membangkang. Daddy Yellow selalu menjaga putrinya, bahkan ia tidak mau laki-laki merusak putrinya. Ia pun menaruh beberapa pengawal bayangan di dekat putrinya, namun Yellow selalu saja bisa lepas dari pengawasannya.


Yellow tak pernah menjalini hubungan dengan lawan jenisnya. Dari remaja hingga beranjak dewasa. Yellow yang merasa di kekang dan lelah dengan semua keposesifan Daddynya.


Akhirnya bersikap liar dengan menyewa gigolo di luar sana. Dia meminta kepuasan dari mereka tanpa berhubungan intim. Selama ini Yellow selalu bermain aman, dia hanya meminta para gigolo menci_umnya dan memuaskan hasratnya dengan jari-jemari mereka.


Hingga pada hari itu, ia bertemu Marco, pria aneh yang berhasil membuat jantungnya berdegup kencang. Sentuhan pertama tangan Marco dapat mendesirkan hatinya yang gersang itu. Tatapan tulus yang diberikan Marco padanya, yang membuatnya bagai di mabuk kepayang. Ia teramat senang, saat Marco menghubunginya dan mengajaknya berkencan.


Namun rasa bahagia itu seketika sirna, sebab pria yang akan dijodohkan Daddynya mengacaukan kencan pertamanya. Di tambah lagi kedatangan dengan Daddynya memperumit semuanya. Handphone Yellow di sita paksa dan dia di kurung di bawah tanah. Hingga hari ini, dia berhasil melarikan diri dari anak buah Daddynya. Ia pergi ke mansion orangtua Lily, hendak menemui Marco.


Untuk membuktikan kesalahpahaman yang telah terjadi, Yellow menyerahkan mahkotanya kepada Marco malam ini, tepat di malam pengantin sahabatnya, Lily.


**


Terdapat bercak berwarna merah di sprei berwara putih itu.


"Marco.... pleasee..a..h..." Racau Yellow dengan mengigit bibir bawahnya.


Sudah berapa ronde yang dilakukan dua insan yang sedang di mabuk asmara itu.


Marco menh ujaninya kecu_pan berkali-kali di tubuh Yellow. Punggungnya bergerak naik-turun diikuti suara mendayu yang penuh nikmat keluar dari bibir Yellow.


Wanita yang berhasil memporak-porandakan hatinya. Peluh keringat membasahi tubuh keduanya. Dinginnya ruangan AC tak dapat meredakan membaranya api cinta di antara mereka.


Marco berganti posisi, ia menaruh kedua kaki Yellow dipundaknya. Suara Yellow melengking nikmat. Marco bersemangat mengh entak-hent akkan tubuhnya.


"Aku mencintaimu," desis Marco tersenyum tipis.


"Aku.... Hmmf."


Belum sempat Yellow melanjutkan perkataannya, Marco membungkam bibirnya dengan sebuah ci um an hangat. Suara keca ap an ke *a pan terdengar.


Tiba-tiba tubuh Yellow melengkung ke atas, pelepasan yang entah ke berapa kalinya. "A h**h...!"


Diikuti Marco yang menggeram penuh nikmat. Tanpa melepaskan tubuhnya. Keduanya bergetar hebat.


Pria itu ambruk di dalam pelukan Yellow. Dada keduanya naik turun.


Hening sejenak.


Yellow mengusap lembut kepala Marco. "Bagaimana kalau aku hamil?" tanyanya pelan saat teringat kekasihnya menabur benih di dalam tubuhnya.


"Aku akan menikahi mu minggu depan," tutur Marco meredakan kecemasan Yellow.


"Tapi Daddy ku-"


"Shfft, aku akan menghadapinya, tenanglah. Terima kasih karena telah menjaganya," ucap Marco sembari mengangkat kepalanya. Ia menatap lekat Yellow. "Aku tak menyangka, aku lah yang pertama bagimu. Sekarang kau adalah milik ku, hanya milik ku."


"You're mine too, aku cinta kamu," ucap Yellow menatap tulus.


Marco tersenyum simpul dan kembali mema gut bibir Yellow.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2