
**
Asap mengepul keluar dari balik pintu. Tampak cahaya berwarna merah menyinari ruangan kosong itu. Tak ada tanda-tanda keberadaan manusia, hanya samar-samar terdengar suara dentuman musik mengalun-alun dari dalam bilik.
"Breslin, Lexi, ingat posisi dan tugas kalian masing-masing," ucap Leon pelan.
Leon memperingati anak buahnya. Pria berparas rupawan itu, sudah berubah menjadi pria tua yang di sebelah kanan matanya, di tutupi penutup mata seperti bajak laut.
"Baik, King," sahut Lexi cepat, dia merapikan pakaiannya yang tampak urak-urakkan dan kekurangan bahan itu.
Kaos berwarna hitam yang besar di padukan dengan celana jeans sobek di bagian lutut. Chain berwarna emas yang menjuntai di lehernya mempertegas kesan, gaya hip-hopnya, jangan lupakan topi berwarna merah terpaut di atas kepalanya. Kacamata hitam bertengker di atas hidung mancungnya.
Begitu pula dengan Breslin penampilannya sama seperti Lexi. "Siap, King," ucap Breslin sembari menghela napas. Dia berharap rencana mereka kali ini berhasil.
Pasalnya mereka akan memasuki sarang musuh.
Pablo tiba-tiba memundurkan jadwal pertemuan, entah apa penyebabnya. Setidaknya, saat ini sniper khusus anak buah Leon sudah berada di Club Paradise, tempat pertemuan mereka.
Montero memantau pergerakan Pablo dari luar gedung.
Keempat manusia itu sekarang berada di club milik Pablo Piccaso, Victoria club.
Bukan club yang dijanjikan untuk mereka bertemu! Mereka tengah mengelabui musuh dari dekat. Leon merasa Pablo tidak akan semudah itu membebaskan Darla dan Lunna. Sehingga untuk mengantisipasi hal yang tidak di inginkan dia harus mengambil barang berharga milik Pablo.
Menurut informasi dari Breslin, Pablo menyelundupkan barang haramnya di dalam club, tepatnya di ruang bawah tanah.
Shabu kristal, bukan shabu-shabu makanan jepang ya!
Yang pastinya narkoba yang paling mematikan di dunia.
Seperti, kokain, flakka, heroin.
AH-721, bukan nama pesawat.
Dan terakhir krokodil! Eittzz bukan crocodile, buaya.
Leon tersenyum sinis, saat mengingat masa lalunya kala itu, saat dia berhasil menghancurkan barang haram Pablo di dermaga.
"Honey, berhati-hatilah. Kau sangat seksi Honey," ucap Leon sambil melirik sekilas penampilan Lily yang seperti bad girl.
Malam ini Lily akan berperan sebagai gadis nakal yang akan membeli barang haram. Sejujurnya Leon tidak ingin para mata lelaki memandang tubuh kekasihnya tapi mau bagaimana lagi.
Leon membuang napas dengan kasar.
"Iya Honey, kau juga jaga mata mu, awas saja!" Lily melototkan mata. Sebab di dalam pasti banyak wanita penggoda.
Keempat manusia itu segera mengayunkan kaki ke ruangan. Pintu pun tertutup otomatis saat mereka sudah berada di dalam.
"Ingat selalu aktifkan earpiece kalian." Leon memperingati sambil berjalan ke depan mengikuti pola ruangan yang memanjang lurus.
"Siap, King. Oke, Honey," ucap Lily, Lexi, dan Breslin serempak.
***
"Apa yang kau cari?" tanya seorang pria berkulit hitam di ujung lorong. Dia bertugas sebagai penjaga pintu masuk utama. Pria itu menelisik keempat manusia yang baru saja sampai.
"Kesenangan!" seru Lily sambil menghampirinya dengan melengak-lengokkan tubuh sexinya.
Pria itu tersenyum tipis sambil memperhatikan tubuh Lily yang tampak mengiurkan. "Baik, masuklah!" sahutnya dengan meremas kuat bokong Lily.
"Awh! Jangan nakal!" Lily menggoda dengan mengedipkan mata. Kemudian Lily menuruni tangga yang mengarah ke bawah meninggalkan ketiga pria tersebut yang masih di interogasi sang penjaga.
Leon menahan amarahnya saat melihat pria di hadapannya menyentuh tubuh Lily. Hatinya terbakar cemburu!
__ADS_1
"Bedebah! Aku bunuh kau nanti!" Batin Leon berperang, berusaha tetap tenang. Agar si penjaga tidak curiga.
***
Suara musik DJ memekakkan telinga bagi siapapun yang mendengar, kerumuman manusia memenuhi club, menikmati dunia malam. Cahaya lampu warna-warni menghiasi bilik yang luas itu.
"Hei!" Lily memanggil bartender di depannya sembari menjentikkan jari. "Aku mau co-"
"Jangan pesan cocktail Honey, mocktail saja," sela Leon cepat di earpiecenya. Mendengar penuturan kekasihnya, membuat Lily mengulum senyumnya.
Saat ini Leon berjarak tiga meter dari tempat kekasihnya berada.
"Miss?" tanya bartender ketika mendengar wanita di hadapannya tak melanjutkan perkataannya.
"Satu mocktail!" ucap Lily sambil tersenyum.
"Sesuai permintaan mu!" tutur bartender seraya membuat minuman yang di pinta oleh Lily.
"Jangan senyum-senyum!" Leon menahan gejolak cemburu butanya di sebrang sana. Melihat bartender menebar pesonanya pada Lily.
"Oh my God! Kenapa dia posesif sekali!" Batin Lily berdecak kesal di dalam hatinya.
"Queen, arah pukul sepuluh penjaga kuncinya!" sahut Breslin di earpiece. Dia tengah duduk di himpit dua wanita berpakaian terbuka dan sexy. Kedua wanita malam itu tengah mengelus dada dan paha Breslin.
"One mocktail untuk wanita cantik!" sahut bartender dengan menaruh minuman di depan Lily, seraya menebar lesung pipitnya itu.
"Thank you!" Lily segera meneguk minumannya perlahan, dengan melirik sekilas pria yang di maksud oleh Breslin. Kemudian dia memutar kursi putarnya ke belakang.
"Berhati-hatilah Nyonya!" sahut Lexi di sebrang sana, yang tengah berdiri lunglai menghirup kokain.
Lexi sudah membawa penganti serbuk itu dengan barang lain, sehingga aman! Lexi sedang berakting seperti orang sakau dan mabuk.
Lily turun dari kursinya sambil menenteng gelas minumannya, dan berjalan ke depan dengan memperlihatkan lekukan tubuhnya yang aduhai dan menggoda iman.
"Kau akan ku hukum, Honey!" sahut Leon geram di ujung sana.
Bruk.
"Awh, maafkan aku sir!" sahut Lily sambil membersihkan pakaian pria yang menjadi targetnya.
Pria itu terlonjak kaget, sebab bajunya basah oleh tumpahan minuman wanita di hadapannya. Semula ingin marah namun melihat wajah wanita itu yang seksi dan mempesona. Ia mengurungkannya.
"Oh, tidak apa-apa," ucapnya sambil memindai **kit kembar di depan matanya. Sangat pas! Pikirnya.
"Aku sungguh tidak bermaksud, biar aku bersihkan pakaian mu!" Lily mendekatkan tubuhnya sambil mengambil cepat kunci yang berada di kaitan celana pria itu.
"Gotcha!"
Pria itu tak menyadari.
Seperti sengatan listrik rudal pria itu seketika menegang!
"****!" umpatnya dalam hati.
Lily yang paham akan gerak-gerik pria itu tersenyum penuh arti. "Are you okay?" Lily bertanya dengan suaranya yang terdengar sangat seksi.
"Aku baik-baik saja, kau ingin menemani ku?" ajak pria kekar itu dan penuh tato di sekujur tubuhnya.
Pria itu menatap Lily dengan tatapan lapar dan haus, seakan Lily adalah seonggok makanan yang harus disantapnya.
"Dengan senang hati, tapi aku juga ingin membeli heroin di tempatnya langsung, sambil bermain!" Lily berkata di daun telinga pria itu, sambil mengedipkan sebelah matanya dengan centil.
"Baiklah, ayo!" sahutnya seraya menggandeng tangan Lily.
__ADS_1
Di ujung sana Leon menahan gejolak amarahnya, yang akan meledak seperti bom Hiroshima!
Pria itu menuntun Lily menjauh dari tempat keramaian seraya berjalan cepat. Dia sudah sangat tidak tahan. Wanita itu benar-benar membuat darahnya berdesir naik.
Lily yang berada di belakangnya menatap datar punggung pria itu.
Sepersekian detik.
BUGH.
Lily memukul titik lemah pria itu, seketika dia pingsan di tempat. Dia menekan earpiecenya. "Aku akan masuk!"
Lily memapah pria di hadapannya dan membuka kelopak matanya, untuk memindai retina matanya sebagai pembuka pintu utama.
Kemudian Lily mendudukkan pria itu di kursi depan pintu dan memakaikannya kaca mata hitam, seolah-olah dia sedang tertidur.
"Yellow, sadap CCTV di belakang ku!" sahut Lily dengan menekan kembali alat di telinganya.
Push.
Pintu terbuka.
Lily mengayunkan kaki ke dalam ruangan yang bernuansa serba hitam itu.
Dinding dan lantai berwarna gelap menghiasi bilik tersebut. Ruangan itu terhubung dengan ruangan lain yang memanjang lurus ke depan.
Lily baru saja berjalan enam langkah. Tiba-tiba cahaya berwarna merah menghiasi ruangan.
"Damn!" Umpat Lily sembari mendengus kesal.
"Ada apa?" sahut Leon, Lexi, Breslin dan Yellow di sebrang sana. Mereka mulai terlihat cemas dengan reaksi Lily.
"Breslin kau tidak bilang di sini ada sensor merah?" tanya Lily cepat.
"What!? Sungguh aku tidak tahu Nyonya! kilah Breslin terkejut.
"Honey, keluar saja!" Leon tampak khawatir mendengar penuturan Lily.
"Tidak, aku akan menyelesaikannya, Honey, kau perintahkan anak buahmu untuk siap sedia. Aku akan berusaha melewatinya. Tunggu kode dari ku! Kalian lakukan dengan cepat! Okey?" tanya Lily meminta persetujuan.
Keempat orang di sebrang sana menganggukkan kepala, menyetujui. Namun Lily tak dapat melihat pergerakkan mereka.
Dahi Lily berkerut. "Hey, kenapa kalian tidak menjawab?"
"Maaf, iya. Iya. Maaf Lily!" jawab Breslin, Lexi dan Yellow serempak.
"Sorry, Honey. Berhati-hatilah!" sahut Leon pasrah. Dia ingin sekali membantu kekasihnya namun dia tak mau melakukan tindakan ceroboh dan membahayakan kekasih dan anak buahnya.
Wanita bermanik warna biru itu tak menyahut. Kedua mata Lily sedang memindai pola red light dengan cepat. Kemudian dia merendahkan tubuhnya melewati dua garis di hadapannya, Detik kemudian pola tersebut tiba-tiba berubah.
Deg.
.
.
.
.
Hai kakak-kakak, setelah baca jangan lupa tekan likenya ya, vote ataupun hadiah. Karena itu lonceng penyemangat author. Jangan diam-diam ya bacanya hehe.
Ket :
__ADS_1
Sniper : penembak jitu.
Chain : kalung emas yang besar.