Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 110. I Was Made For Loving You


__ADS_3

***


Mansion Utama Simon Andersean.


Paviliun.


"Hei, Mar!" Sentak Maximus dari belakang sembari menepuk pundaknya.


Marimar alias Marco hanya berdeham. "Hmmm!" Ia tak memutar badannya ke belakang, ia tengah berdiri tegap menghadap jendela, di luar ada beberapa orang yang lalu lalang.


Pria gemulai yang sudah bertobat itu mengenakan stelan jas berwarna hitam mengkilap, senada dengan sepatu pantofelnya, ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Kedua mata Marco menatap keluar sana.


Entah, apa yang tengah diperhatikannya.


Maximus mengernyitkan dahi melihat gelagat Marco yang lebih banyak terdiam setelah pulang dari penthouse milik Yellow.


"Kau ini kenapa sih? Ayo kita ke depan, Tuan Leon memanggil kita. Satu jam lagi acara pemberkatan akan di mulai." Maximus memperingati sembari melirik jam tangan yang bertengker dipergelangan tangan.


"Aku akan menyusul," sahutnya tak bergeming dari posisi semula.


"Oke, jangan lama-lama!" pungkas Maximus sambil berlalu pergi, menemui Leon bersiap-siap untuk acara pernikahan Leon dan Lily.


Yaps, setelah dua hari yang lalu, kepulangan mereka dari sebuah pulau tanpa nama. Leon meminta restu pada kedua orangtuanya. Simon pun memberikan restu dengan sebuah syarat pernikahan harus di laksanakan di Los Angeles. Leon pun akhirnya setuju.


Setelah berumbuk dengan Anastasya yang kebetulan berada di mansion Simon. Wanita itu menyetujui keputusan Leon.


Insiden menghilangnya Leon dan Lily, membuat Anastasya dan Fabio berkunjung ke benua Amerika Serikat.


Di sini lah mereka berada. Sibuk dengan urusannya masing-masing, mempersiapkan acara pernikahan Leon dan Lily.


Leon dan Lily masih memilih konsep outdoor, dengan latar belakang taman mansion yang dihiasi bunga-bunga.


Semula, Simon meminta putranya untuk mengadakan pernikahan di dalam gedung yang besar dan megah. Namun, setelah berdebat panjang lebar dengan Leon, ia akhirnya mengalah.


"Di mana Marco?" tanya Leon melihat Maximus yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.


"Dia akan menyusul," ucap Maximus sambil berdiri tegap di samping Lexi dan Breslin.


Mereka berada sekitar dua meter dari Leon.


Leon bangkit berdiri dari sofa, ia berjalan menuju kaca besar, lalu merapikan stelan jas berwarna biru dongkernya dan dasi yang menjuntai di lehernya.


Dia memutar badan ke belakang. "Bagaimana penampilan ku?" tanya Leon meminta pendapat seraya menaikkan sebelah alis matanya.


"Perfect!" jawab ketiga pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam itu.


Leon mengangkat sudut bibirnya sedikit.


Ceklek.


Terdengar suara pintu terbuka.


Marco hendak berjalan masuk ke dalam bilik. Ia pun menutup pintu dengan pelan.


"Dari mana saja kau?" Leon memicingkan mata.


"Aku dari paviliun, Tuan," jawabnya menunduk hormat, sembari melangkah mendekati Lexi, Breslin dan Maximus.


"Hmm, ingat jangan sampai ada gangguan apa pun di hari bahagia ku!" serunya memperingati.


Keempat pria itu mengangguk paham.


Walaupun Pablo dan Arnold sudah tiada, ia tidak mau bertindak gegabah. Kemarin, berita Pablo Piccaso meninggal menjadi trending topik di dunia maya, setelah tim FBI mengkonfirmasi hasil temuan potongan daging di tempat titik jatuhnya pesawat tempo lalu. Leon merasa tenang karena berhasil melenyapkan musuh. Begitu pula dengan berita Arnold yang bunuh diri setelah mendengar kebenaran tentang dirinya, ia pun memotong urat nadinya di rumah sakit.


Lega.


Hanya perasaan itu yang dapat Leon rasakan, saat ini ia akan meminang Lily agar menjadi miliknya, tanpa gangguan dari musuh-musuhnya.


Hari ini adalah moment yang paling dia tunggu.


.


.


.


Di ruangan lain.


"Oh my God, kau sangat cantik, dear!" seru Elizabet menyelonong masuk ke kamar, Anastasya mengekorinya dari belakang.


"Leon tidak salah memilih mu!" Elizabet memujinya dengan menggebu-gebu. "Kau adalah wanita yang paling cantik yang pernah aku lihat. Aku sangat tidak sabaran bagaimana rupa anak kalian nanti," ucap Elizabet lagi sembari membayangkan cucunya nanti.


Perpaduan yang sangat sempurna, pikirnya.


Lily menoleh sejenak, lalu memberikan senyum manisnya, ia tengah mematut dirinya di depan cermin. Lily memperhatikan penampilannya.


Lily menghela nafas, entah mengapa dia menjadi gugup sendiri.


Lalu membalikkan badan.


"Minumlah air ini nak," ucap Anastasya sambil menyodorkan minuman yang barusan dia ambil di atas nakas. Ia dapat melihat raut wajah putrinya yang gusar.


Lily menyambar gelas itu dan meneguknya perlahan.


"Santai saja, dear. Ambil nafas, inhale dan exhale," ucap Elizabet sembari mengerakkan gestur tangan ke atas dan ke bawah.


Lily terkekeh pelan. "Thanks, Mom," ucap Lily sembari mendekati kedua wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Wow, siapa yang meriasmu, nak? Cantik sekali!" Kedua mata Elizabet enggan berkedip menatap wanita di depannya.


"Aku sendiri, Mom," jawab Lily cepat.


"Really?" Elizabet terperangah, seakan tak percaya jika calon menantunya memoles wajahnya seorang diri.


.


.


.


Tepat pukul sembilan pagi.


Tampak belakang taman mansion sudah di sulap dengan begitu indah dan menakjubkan, oleh wedding organizer.


Beberapa bunga berwarna biru dan putih bertengker di sudut-sudut taman. Tamu undangan berdecak kagum dengan pemandangan di sekitar mereka.


Leon sudah berada di depan altar bersama keempat pria berstelan jas serba hitam di sisi kanannya.


Siapa lagi, kalau bukan Lexi, Breslin, Maximus dan Marco, yang bertugas sebagai pendamping pria.


Leon menarik nafasnya berusaha menetralisir rasa gugup, yang tiba-tiba membuncah dihatinya.


Ia melirik sekilas pada labirin di ujung sana.



Lalu dia beralih memandangi Elizabet, Anastasya, dan Fabio yang duduk di kursi paling depan. Terdapat tiga bangku kosong di sebelah Anastasya, di peruntukkan khusus untuk mendiang Jonathan, Belle dan Benjamin. Terlihat tiga tangkai bunga di letakkan, di kursi itu.


"Daddy Jo, aku akan menjaga dan menyayangi putri mu. Hari ini kami akan menikah, Dad. Restui lah kami di atas sana."


Batin Leon bermonolog teringat dengan janjinya kepada Jonathan kala itu.


"Mempelai wanita akan masuk!" seru salah satu bodyguard di depan labirin.


Seketika alunan musik klasik menggema di sudut sana, mengiringi proses pernikahan.


Para tamu undangan berdiri memusatkan perhatian ke labirin.


Seekor anjing munggil keluar, ia mengenakan dasi kupu-kupu kecil. Hiro tengah membawa satu kotak cincin di mulutnya. Ia berjalan pelan di tengah pelataran taman. Hiro mengibas-ngibaskan ekor ke segala arah sembari menunjukkan wajah imutnya. Hal itu membuat tamu undangan terkekeh pelan.


"Lucunya."


"Mom, aku mau anjing itu."


Komentar sebagian tamu.


Lalu Lunna dan Darla menyembul dari balik labirin. Mereka mengenakan dress berwarna putih yang mengembang di bagian bawah. Lunna dan Darla tak kalah cantiknya, mereka tampak menggemaskan.


Keduanya menabur bunga di sekitar pelataran.


Setelah sampai di dekat altar Hiro, menyerahkan kotak cincin kepada Leon. Lalu dia duduk di samping pendamping pria.


Sedangkan kelima bocah tadi mengambil posisi masing-masing di sisi kiri Lily.


Tamu undangan, lagi, lagi terkesima dengan pemandangan dihadapan mereka.


Musik berganti. Gesekan bunyi biola pun di mulai, lagu Tina Arena ft Marc Anthony - I want to spend my lifetime loving you, bersenandung syahdu di telinga.


Tamu undangan kembali mengalihkan pandangan ke labirin.


Celingak-celinguk.


Penasaran.


Ini lah dia, mempelai wanita menyembul keluar dari balik labirin bersama Simon yang menjadi pendampingnya mengantikan Daddy Jonathan.


Lily mengenakan gown putih panjang yang sederhana namun terlihat elegan. Riasan wajahnya pun terlihat natural, namun menawan. Rambut panjangnya ia gulung ke belakang, terpaut bunga kecil berwarna biru di atas kepalanya menempel di sela-sela rambut.


Kalung berlian kecil menjuntai di leher jenjangnya dan anting mungil berbentuk bulat menempel di telinganya.


Warna lipstik berwarna pink nude, blush on dan eyeshadow yang berwarna natural pula.


Satu kata.


Sempurna.


Ia berjalan pelan menatap ke depan sembari menautkan tangan pada tangan Simon.


"Pantas saja anak ku jatuh hati pada mu. Jika Leon macam-macam. Katakan saja pada ku," ucap Simon menatap lurus, ia melihat Leon yang tak berkedip memandang Lily.


Pria paruh baya itu, mengulum senyumnya. Dia tak menyangka. Ternyata besannya adalah rivalnya dulu. Namun ia berusaha menekan egonya dan merestui Lily untuk menjadi menantunya.


"Thanks, Dad," ucap Lily, tangan kanannya memegang sebuket bunga.


"Wow, ada bidadari jatuh!"


"Cantik dan menawan, apakah dia model, lumayan tinggi."


"Bagus sekali warna matanya!"


Decak kagum para tamu undangan.


I want to spend my life time loving you.


(Aku ingin menghabiskan hidupku untuk mencintaimu)

__ADS_1


If that is all, in life i ever do.


(Jika itu satu-satunya, yang bisa ku lakukan dalam hidupku)


Lantunan suara si penyanyi mengiringi langah kaki Lily dan Simon.


Lily menatap Leon dengan melengkungkan bibir, membentuk senyuman. Begitu pula Leon, ia tak mengalihkan pandangan sedetik pun dari Lily.


"Daddy, dia lah pria yang akan menemani ku nantinya. Aku merindukan mu Daddy, ku harap kau melihat ku bersama Belle dan Benjamin di atas sana."


"Lihat lah putri mu, Daddy Jo. Bukan kah aku beruntung memilikinya."


Ucap mereka dalam hati tanpa sadar.


I will want nothing else, too see me through.


(Aku tak menginginkan yang lain hingga akhir waktu)


Sang penyanyi pun terpana dengan pengantin wanita sembari melantunkan lagu indahnya.


"Dia lah yang pertama dan terakhir di dalam hidup ku. Aku cinta kamu, Lily."


"Aku pilih dia menjadi yang terakhir di hati ku. Aku cinta kamu, Leon."


If i can spend, my lifetime loving you.


(Jika aku bisa menghabiskan hidup ku untuk mencintaimu).


Suara penyanyi berhenti sebab sang mempelai sudah tiba di depan altar.


Tamu undangan duduk kembali.


Simon memindahkan tangan Lily kepada Leon. "Jika kau menyakitinya. Kau akan benar-benar ku cap sebagai anak durhaka." Ancam Simon sembari melebarkan mata.


Romo yang mendengarkan terkekeh pelan.


"Iya, Daddy!" ucap Leon sembari mengenggam erat tangan Lily.


Pemberkatan pun di mulai. Romo mengucapkan doa dan sepasang pengantin itu mengucapkan janji suci pernikahan. Lalu moment pemasangan cincin.


"Baiklah, mempelai pria boleh tabrakan bibir!" ucap Romo dengan terkekeh pelan. Ia sengaja menggoda pengantin baru, membuat semua orang yang mendengarkan tertawa pelan.


Leon segera mendekat, mengangkat bride slayer (tudung nikah), tanpa aba-aba menarik pinggang Lily, dan menge_cup dan me_***** bibir ranum istrinya dengan rakus.


Lily pasrah dengan kelakuan suaminya.


Elizabet dan Anastasya melototkan mata seraya bangkit berdiri. "Oh My God! Tutup mata kalian bocah kecil!" seru keduanya sembari menunjuk si Kembar, Darla dan Lunna.


Kelima bocah menuruti kedua wanita paruh baya itu, sembari mengintip sedikit di sela-sela jari munggil mereka.


Para tamu undangan terkikik.


"Agresif sekali dia itu!" ucap Simon sambil menghela nafas.


"Dulu juga Leon bersikap seperti itu Tuan." Fabio menimpali.


"Benar kah?"


Fabio mengangguk.


Sepersekian detik.


"Hei, kau!!!!" teriak seorang wanita memasuki pelataran acara.


Membuat para tamu undangan memusatkan perhatian ke arah wanita itu.


Begitu pula dengan Leon dan Lily mereka terkejut dan melepaskan tautan bibirnya.


Lily mengerutkan dahi, melihat siapa yang tiba. Begitu juga dengan Leon.


"Ini semua karena mu!" seru wanita itu sambil berjalan cepat menuju ke depan. Kedua matanya berkilat menyala.


Tiba-tiba.


Plakkkkk.


Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kanan Marco, Membuat pria itu terkejut. Marco mengusap pipinya perlahan, kemudian menatap penuh arti pada wanita itu.


Semua orang terperangah, kebingungan dan bertanya-tanya.


Lily menautkan alis mata dan menghampirinya. "Yellow, ada apa dengan mu? Apa salah Marco?"


Wanita itu adalah Yellow, teman Lily. Yellow susah sekali dihubungi dalam dua hari ini. Akan tetapi, di pagi ini dia malah datang tiba-tiba seperti jelangkung. Ia terlihat sangat kacau.


"Jangan, ikut campur urusan ku Lily!" Yellow menggertak tanpa mengalihkan pandangan dari Marco.


"Honey, biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya," ucap Leon sambil menarik pinggang Lily.


Mendengar penuturan suaminya, Lily membuang nafas dengan pelan.


"Kemari kau!" Tampak kedua mata Yellow mulai berkaca-kaca. "Aku membenci mu. Aku sangat membenci mu!!" Ia memukul dada bidang Marco bertubi-tubi. Marco segera menangkis serangan lalu menyambar tangan Yellow. Ia menatap penuh arti pada sosok wanita dihadapannya.


Yellow meracau sendiri, dengan deraian air mata yang sudah menganak sungai. Sembari meronta-ronta meminta untuk dilepaskan tangannya.


"Tuan, maafkan keributan ini. Aku permisi sebentar!" ucap Marco sembari menarik tangan Yellow. "Ayo kita ke hotel!" seru Marco menatap Yellow.


.

__ADS_1


.


__ADS_2