
***
Hening!
Tak terdengar suara derapan langkah kaki lagi.
"Sepertinya sudah tidak ada orang," ucap Maximus sembari memberikan kode pada si Kembar dan Marimar agar tak keluar dahulu. Ia berniat memeriksa keadaan di luar sana. Maximus mendorong sedikit penutup bak sampah itu dengan pelan, kemudian menyembulkan sedikit kepala, kedua matanya bergerak ke kanan, dan ke kiri.
Hanya kepulan asap yang terlihat di luar selebihnya, tidak ada.
"Aman!" serunya sambil membuka lebar tutup sampah. "Ayo sekarang, kita harus ke gedung Faust!" ajak Maximus sembari mengangkat tubuh si Kembar satu-persatu keluar. Setelah itu giliran ia yang mengayunkan kedua tungkai kakinya keluar dari dalam bak sampah.
"Mar, kenapa kau tak bergerak? Ayo cepat keluar! Kita tidak punya banyak waktu!" Dahi Maximus berkerut, melihat Marco alias Miss Marimar sedari tadi berdiri mematung.
"Ihh galak amat sih, kaki eyke keram tahu!" ucap Marimar sembari menghentakkan kaki dan mengibas-ngibaskan pakaiannya.
"Bau banget badan akikaaa, nanti mau mandi bunga sepuluh kembang rupaaaa!" Marimar berdecak kesal dengan melangkahkan kaki.
Maximus memutar bola mata malas melihat tingkah Marimar yang suka mengeluh, kemudian dia mengalihkan pandangan kepada si Kembar, yang sibuk memperhatikan keadaan sekitar.
Ia mengulas senyum. Melihat kegigihan dan kecerdasan ketiganya. Walaupun terkadang dua di antaranya menyebalkan.
"Apakah kalian sudah punya rencana?" tanya Maximus sembari menepuk setelan jas yang melekat di tubuhnya, tampak kotor.
"Tentu saja sudah, kak Ken ahlinya!" jawab Samuel dengan tersenyum penuh arti.
Nickolas mengangguk menyetujui perkataan adiknya.
Sementara itu, Kendrick menghela nafas. "Sekarang kita ke sana! Pasang mata dan telinga kita akan ke dalam! Mengerti?"
***
Gedung Faust.
Basement.
Kini, si Kembar dan dua pria dewasa itu sudah tiba di tempat tujuan tanpa hambatan, mereka bersyukur aparat keamanan sibuk meladeni warga yang tengah murka. Kepercayaan warga LA terhadap pemerintah dan polisi sudah tidak ada lagi, semenjak hari ini.
Sebagian warga yang di dominasi gender laki-laki, memecahkan kaca pembatas toko, mereka ikut membaur melawan Swedish dan sebagian polisi yang bermain kotor.
Di balik sikap Simon Andersean yang tidak memperhatikan keluarganya. Ternyata ia banyak berbuat kebaikan di luar sana. Warga setempat yang mencalonkannya menjadi wali kota Los Angeles, tentu saja tidak terima dengan perlakuan para tikus di atas sana terhadap Simon.
"Gilaa banget ya, orang cyin ih!" seloroh Marimar bergedik ngeri, ketika melihat seorang pria menusukkan pisau pada perut polisi tadi.
"Itu belum seberapa!" seru Maximus menanggapi perkataan Marimar, sembari berjalan mencari ruangan yang di sinyalir tempat menyimpan bom. Ia mengarahkan senter ke setiap sudut bilik.
Gotcha!
"Wow!" seru Nickolas dan Samuel serempak berdecak kagum, saat melihat bom yang besar terpampang di kedua mata mereka.
Keren sih tapi bisa menghancurkan tubuh seketika.
"Kalian ini, kok malah kagum sama bom? Aneh?" tanya Marimar mengernyitkan dahi, melihat raut wajah keduanya.
"Memangnya ngak boleh?" protes Nickolas.
"Sudah kalian ini, sekarang kita harus memotong kabel berwarna pink." Kendrick mengamati dan memindai bom rakitan yang menunjukkan timer berjalan mundur.
Beruntung sekali, jenis bom dihadapannya pemicu ledakannya bergantung pada aliran listrik, yang terhubung melalui kabel. Cara yang paling ampuh, tentu saja ia harus memotong aliran itu sehingga tak sampai ke detonator, yang merupakan titik pusat ledakan.
__ADS_1
Kabel berwarna merah ataupun pink yang seharusnya menjadi titik tumpuan pemicu itu, akan tetapi mengapa ada banyak kabel yang di penglihatan Kendrick.
Satu biru, satu hitam dan dua pink.
Kendrick mengerutkan dahi.
Ia mendekatkan cahaya senter pada beberapa kabel, sembari satu tangan kirinya memegang tang khusus.
"Ken, berhati-hatilah!" Maximus memperingati sebab ia keringat dingin melihat waktu semakin mendekati angka nol.
Marimar pun tak berani mendekat. "Ihh udah yuk kita kabur aja, eyke takuttttt!!!"
"Tunggu sebentar!" seloroh si Kembar serampak, mereka sibuk memperhatikan peledak.
"Oh my GODDDDDD! Akika pengen pipissss!! Cepatan!!"
"Jadi kau takut karena kencing di celana atau takut dengan bom?" tanya Maximus jengah.
"Hehe, dua-duanya!" Marimar memegang area buyung sembari mengapitkan kedua pahanya.
"Haishhhhh!" Maximus membuang nafas, ia kembali mengalihkan pandangan pada bom. "Bagaimana Ken?"
"Salah satu kabel di warnai mereka dengan cat pink," jawab Kendrick cepat tanpa menatap lawan bicara. Sebab ada dua kabel berwarna merah muda yang sama persis.
"Ha, maksudnya?!" Maximus melongo.
"Kabel berwarna pink itu adalah pemicu yang berfungsi untuk meledakan bom. Nah, seharusnya hanya satu kabel tapi mereka mengecat kabel yang lainnya, jadi sekarang ada dua kabel berwarna pink. Salah satunya palsu!" jelas Nickolas cepat.
Maximus mematung melihat angka semakin mundur. Ia tak menyahut, hanya menelan saliva dengan kasar.
"Aduhhhhhhhh duu ayo kita keluar aja yuk!" Marimar menarik jas Maximus.
"Kak, bagaimana ini?" tanya Samuel berusaha tenang sebab dia yakin kakaknya bisa menjinakkan bom itu.
Kendrick tak menyahut, ia memicingkan mata melihat beberapa kabel yang terselip di dalam peledak.
"Ya uda sinik eyke aja yang potong!!!!" Marimar mengambil alih tang secara paksa dan hendak memutus kabel berwarna pink yang satunya.
"Jangannnnnnnnnnnnnn!!!!!"
**
Rooftop Gedung Faust.
"Di mana Darla dan Lunna?" tanya Leon tenang namun kedua matanya menatap tajam.
"Di suatu tempat!" Ia mengulas senyum sembari meraba hidungnya.
"Jangan bilang kalau mereka dari awal memang tidak bersama dengan kau!?" Desis Leon kesal sebab melihat gerakan tangan Pablo, seperti orang berbohong.
"Hahaha, kau pintar tapi juga bodoh!?" seru Pablo menyeringai. Ia membenarkan praduga Leon.
"Bedebah kau!!!!!!!!" Leon menembakkan senapannya ke atas.
Dor..
"Hahaha, aku tak menyangka, ternyata kau masuk ke dalam permainan ku?!" Pablo berlari cepat ke tepian rooftop. Kemudian dia menekan tombol berwarna merah itu.
Satu detik
__ADS_1
Dua detik
Tiga detik.
Dor.... Dorr.. Dorr..
Serdadu Pablo menembakan timah panas pada Breslin dan Montero, berusaha melindungi pemimpin Swedish.
Pablo mengerutkan dahi, berulang kali ia menekan tombol itu.
"Kenapa tidak berfungsi?!" Pablo kebingungan, kenapa tak meledak. Ia melempar asal benda mini tersebut.
Leon yang melihat gelagat Pablo segera berlari menuju musuhnya dan mendorong Pablo dari atas gedung.
Pria tua itu melayang di udara terjun ke bawah dengan cepat.
"Ahhh, sial kau!" Pablo menembakkan timah panas tepat di tubuh Leon, akan tetapi peluru itu hanya menembus baju anti peluru pria itu.
Secepat kilat Pablo menarik parasut yang telah di persiapkannya di balik stelan jas. Pria tua itu mendarat sempurna di bawah sana dan segera masuk ke dalam mobil bersama Rodrigo.
Polisi hanya diam tak bergerak.
Leon mundur beberapa langkah kemudian menelisik keberadaan Daddynya yang tampak terjatuh ke bawah bersama kursinya. Ia berlari menghampiri Simon.
Kemudian membuka cepat lakban dan ikatan talinya.
"Dad, di mana Mommy?" tanya Leon sembari memapah Simon.
"Daddy tidak tahu," ucap Simon pelan. Ia menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Tidak tahu?" Dahi Leon berkerut.
"Hmmm," ucap Simon lemah. Tidak mungkin ia mengatakan jika Elizabet pergi dari mansion sebab sedari tadi ia mencari istrinya yang pergi entah kemana. Dan akhirnya ia pun culik oleh Swedish di suatu tempat.
Leon tak kembali bertanya, ia menuntun ayahnya keluar dari rooftop.
Breslin dan Montero berhasil menembak musuh hingga tumbang kemudian mereka mengikuti langkah kaki Leon.
"King! Biarkan aku yang memapahnya!" seru Breslin menawarkan diri.
"Tidak usah biar aku saja!"
Simon menatap datar anaknya. Ia tersenyum getir namun senyuman itu tak dapat di lihat oleh Leon.
'Suruh Montero yang lain, mengejar mobil Pablo!"
Breslin mengangguk paham.
**
Brakk.....
"Keluar kau bedebah!!!!!!!" pekik seorang pria.
.
.
.
__ADS_1
.