
"Lex bawakan setelan jas ku ke sini. Aku sudah berada di kantor!" Titah Leon di sebrang sana.
"Baik, Tuan." Lexi menghela napas, syukurlah jika Leon sudah berada di kantor.
"Katakan pada Lunna aku baik-baik saja!" Leon langsung mematikan panggilan secara sepihak.
"Apakah itu Daddy?"
Lunna mendengar pembicaraan Lexi dengan seseorang. Dia yakin itu adalah ayahnya.
"Benar, Nona." Lexi menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Lunna menganggu kecil, "Lexi apakah hali ini kau sudah mengilim bunga pada Mommy." Lunna berbicara dengan suara kecil dan pelan.
"Akan ku kirimkan nanti siang Nona."
.
.
.
Cabang Perusahaan Co Marq.
~
Sir, gobang gosir-sir, gula, gula jawa-wa.
Sir, boleh naksir-sir, kalau abang suka.
Sir, gobang gosir-sir, gula, gula jawa-wa.
Kir, boleh parkir-kir, kalau abang cinta.
"Awhh!" pekik Marimar karena ujung lengannya di cubit Lily.
"Bisakah kau diam Marimar?"
Lily melotot tajam pada Marimar. Dari tadi dia mendengar Marimar bernyanyi dengan mengulang lirik lagu tersebut.
Marimar tertawa terbahak-bahak sambil memegang perut. Dia memang sengaja mengoda Lily. Pasalnya tadi pagi ketika dia baru sampai parkiran kantor. Marimar tak sengaja melihat Lily turun dari mobil yang bukan miliknya. Lantas Marimar bersembunyi di tong sampah dekat tiang listrik.
Dia penasaran siapakah yang mengantar Lily pergi berkerja. Marimar sekarang sudah mengetahui mengenai masa lalu Lily. Dari kejauhan Marimar melihat ada seorang pria yang mengecup kening Lily. Tapi wajah pria itu tidak kelihatan. "Duh noleh ke sini kek. Ngak kelihatan nih!" Gumam Marimar dengan raut wajah kesal.
"Sudah selesai kau tertawa Mar!" seru Melisa yang tiba-tiba datang menghampiri meja kerja Marimar serta membuyarkan lamunannya.
Seketika Marimar menghentikan tawa, raut wajahnya berubah drastis.
"Tentu saja sudah selesai!" Marimar beranjak berdiri sambil melototkan matanya. Cukup! dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Melisa yang semena-mena. Enak saja dia menginjak harga dirinya.
"Kau berani dengan ku?" Bentak Melisa tersenyum sinis sambil menatap tajam.
"Dasar bencong!"
Marimar tampak tersulut emosi, Lily yang berada di samping meja mengelus pelan lengannya. Dia berusaha menenangkan Marimar.
Marimar menoleh sekilas ke arah Lily, mengerti kode tersebut.
Melisa tersenyum sinis dan berlalu pergi.
Marimar menghempaskan pantatnya di kursi kerja. Dia mengelus pelan dadanya sembari menghela napas.
"Mar kau tak apa-apa,?" tanya Lily.
__ADS_1
"Eyke tak apa-apa Babe."
"Syukurlah."
"Eyke sebel sama si Mel. Belagu banget! Dasar pelakor. Coba aja kalau eyke jahat udah eyke aduin ke bini pak Milano. Biar di labrak tuh." Sungut Marimar.
Lily terkekeh pelan, dia jadi teringat dengan mantan suaminya yang juga berselingkuh di belakang. Tapi Lily bersyukur sekarang ada seseorang yang mencintainya.
"Heh. You jangan melamun! Ayo pasti ingat babangnya ya!" Goda Marimar kembali.
Lily tak menyahut namun dia hanya tersenyum sambil tangannya mengetik di keyboard.
Kembali lagi terdengar nyanyian syahdu dari mulut Marimar. Dia bernyanyi dengan lagu yang sama sambil meliuk-liukan tubuhnya.
Lily menggelengkan kepala melihat kelakuan absurd Marimar.
.
.
.
.
Pukul 12 siang Marimar dan Lily tak istirahat bersama.
Siang ini Lily akan makan siang bersama Leon. 5 menit yang lalu Leon mengirim pesan mengajak Lily untuk makan.
"Duh yang lagi bunga-bunga. Kenalin ke eyke ya nanti!" seru Marimar sambil mengedipkan mata.
"Iya Mar." Lily mengulum senyum.
"Udah yuk. Kita ke depan nungguin babang jemput!" Goda Marimar sambil berlari kecil, dia menghindari cubitan dari Lily.
Sambil menunggu jemputan datang. Marimar dan Lily tak sengaja melihat Melisa yang juga pergi entah kemana bersama pak Milano.
"Cih" Marimar berdecak dengan kesal saat melihat tingkah Melisa masuk ke dalam mobil.
"Lihat deh. Mobil baru lagi aneh banget. Padahal gaji pak Milano ngak gede-gede amat. Eyke curiga pak Milano korupsi deh!" jelas Marimar dengan tegas namun gemulai.
Lily tak menyahut perkataan Marimar. Tapi memang benar harga mobil yang di gunakan Milano sangat mewah tak sesuai dengan pendapatannya.
Suara klakson berbunyi.
Mobil mewah berhenti tepat di depan Lily dan Marimar. Lily memberikan kode untuk berpamitan.
"Bye!" seru Marimar dengan raut wajah senang.
Mobil itu pun melesat perlahan meninggalkan pelataran perusahaan.
"Tadi siapa,?" tanya Leon memecah keheningan.
"Teman ku." Lily tersenyum.
"Jangan dekat dengannya Honey. Aku tak suka!" Leon menunjukkan wajah cemberut.
Lily terkekeh pelan.
"Astaga, ternyata kau bisa cemburu juga ya."
Leon menoleh sekilas ke arah Lily.
"Leon dia cuma teman ku tidak lebih. Lagian kau lihat saja tingkahnya. Dia lelaki gemulai," jelas Lily dengan pelan sambil menatap dalam.
__ADS_1
"Baiklah aku percaya pada mu. Awas saja dia macam-macam," ucap Leon dengan nada tegas.
"Honey, kau ingin makan siang di mana,?" tanyanya lagi satu tangan Leon mengusap kepala Lily.
"Kau suka makanan jepang?" tanya Lily balik.
"Lumayan suka. Kau ingin makanan jepang?"
Lily menggangukkan kepala.
Leon membawa Lily ke salah satu restaurant Jepang yang terkenal di kota Jakarta.
Restaurant Burung Lepas.
Sesampainya di sana. Leon segera menggandeng tangan Lily saat masuk ke dalam restaurant. Lily tersipu malu dengan perlakuan Leon. Dulu di depan umum Arnold tak pernah memperlakukan Lily seperti itu.
Leon mengulum senyum saat melihat rona merah di pipi kekasihnya. Dua sejoli itu menjadi pusat perhatian. Mereka memiliki tubuh yang proposi yang pas, tampak serasi.
Leon memilih ruang VIP dia ingin lebih leluasa berbicara dengan Lily. Sesampainya di ruang VIP Leon langsung memeluk erat Lily.
"Aku merindukan mu!" ucap Leon
Lily terkekeh pelan. Dia membalas pelukan Leon.
"Bukannya tadi pagi kita sudah bertemu," ucap Lily dengan suara yang pelan.
"Bisakah kita menikah sekarang,?" tanya Leon dengan wajah serius.
Lily tertawa terbahak-bahak.
"Astaga, kenapa dia seperti baru pertama kali di mabuk cinta" Gumam Lily dalam hati.
"Aku serius honey!"
"Leon hubungan kita baru seumur jagung. Kau tahu kan aku pernah gagal dalam pernikahan. Aku tak ingin salah memlilih. Aku ingin bukti bukan janji," ucap Lily pelan memberikan pengertian pada Leon.
Lily memegang kedua pipi Leon, dia menatap dalam.
"Sebelum kita ke jenjang pernikahan aku harus menyelesaikan dulu tugasku Honey."
Leon membelalakan mata. Tadi dia tidak salah dengar kan Lily memanggilnya "Honey".
"Coba ucapkan ulang kata terakhir mu Honey."
Lily mengerutkan dahi, "Honey" ucap Lily sembari terkekeh.
Cup
Satu kecupan meluncur di bibir Lily.
"Manis," ucap Leon sambil tersenyum.
"Kau nakal Leon." Lily membenamkan kepalanya di dada Leon.
"Honey kalau boleh tahu tugas apa yang harus kau selesaikan,?" umpan Leon, sebenarnya dia sudah tahu mengapa Lily berkerja di cabang perusahaan ayahnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.