Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 70. Dua Bocah Tengil


__ADS_3

***


Langkah kaki Darla dan Lunna terhenti, saat mendengar suara panggilan dari belakang. Reflek keduanya memutar tubuhnya sembari mendongakkan kepala ke atas.


"Oh, astaga aku salah orang!" seru pria bertubuh kekar dan tinggi. Dia mengira bahwa Darla dan Lunna adalah putra kembarnya, pasalnya kostum yang mereka pakai sangat mirip.


"Maaf, baju kalian mirip dengan anak-anak ku!"


Pria itu mengulum senyum melihat kedua bocah perempuan yang tampak menggemaskan.


"Hehe tidak apa-apa Uncle!" celetuk Darla sembari menampakkan lesung pipitnya.


"It's okay, Uncle!" Lunna menimpali.


"Di mana orangtua kalian?"


Ia mengernyitkan dahinya, karena tidak melihat kedua orangtua bocah di hadapannya.


Lunna menjawab, "Olangtua kami di-"


"Daddy kami di sini!" potong putra kembar pria itu, yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang.


Kedua mata pria itu mengalihkan pandangan ke sumber suara. "Kalau begitu aku permisi, jangan jauh-jauh dari orangtua kalian!" ucapnya sambil mengelus pelan kepala Darla dan Lunna secara bergantian.


Darla dan Lunna menatap satu sama lain seraya mengangkat bahunya. Kemudian berjalan cepat memasuki kerumunan orang yang ikut parade di jalan raya.


Darla dan Lunna tampak menikmati parade yang diadakan di pusat Kota. Mereka tersenyum gembira, tanpa ada beban, ataupun tanpa ada rasa cemas.


***


Di lain tempat.


"Come here!" seru Pablo melirik sekilas pada Rodrigo, seraya memegang sepuntung rokok.


"Yes, Mister," ucap Rodrigo.


Lantas Rodrigo berjalan cepat menghampiri Pablo yang duduk di atas sofa. Dia membungkukkan badannya sedikit, dan menghidupkan pemantik tepat di ujung rokok atasannya.


Api kecil memenuhi rokok Pablo. Dia menghisap benda pipih yang mengandung nikotin itu dengan begitu pelan. Merasakan setiap sensasi yang memabukkan, masuk ke dalam hidungnya.


"Bagaimana dua anak bocah itu?" tanyanya tiba-tiba tanpa menatap lawan bicara.


"Ri dan Li menjaga mereka dengan baik Tuan!" jawab Rodrigo cepat. Dia mendapatkan informasi dari anak buah Pablo bahwa Darla dan Lunna di sekap dalam ruangan.


Pablo menghela napas, dia tak membalas perkataan tangan kanannya. Pria itu menatap lurus ke depan seraya menghirup kembali rokoknya.


Suara ketukan pintu, terdengar kuat dari luar, membuat Pablo terusik. Dia sudah bisa menebak siapa yang datang menemuinya.


Pablo menoleh pada pengawal yang memberikan kode untuk membukakan pintu. Dengan cepat pengawal memutar gagang berbentuk emas itu.


"Uncle!" panggil Arnold menyelonong masuk ke dalam ruangan.


"Hmmm." Pablo hanya berdeham. "Ada apa?"


"Benar kata Uncle, mereka sudah berada di sini," ucap Arnold sambil tersenyum sinis. "Bagaimana keadaan anak-anak itu?" tanyanya sambil mendudukkan bokong di sofa.


"Aman!" seru Pablo tanpa menatap lawan bicaranya.


Arnold memicingkan mata. "Tapi mengapa aku mendengar kabar burung bahwa bocah itu kabur!" Arnold ingin memastikan apakah Darla dan Lunna masih berada di bangunan atau tidak. Dia baru saja mendapatkan informasi jika kedua bocah tersebut melarikan diri.


Pablo menoleh ke samping. "Kau mendapatkan informasi dari mana?"


"Tentu saja dari mata-mata mu!" seru Arnold sambil menuangkan champagne ke dalam gelas. Dia segera meneguk hingga tandas.


"Rodrigo!" panggil Pablo.

__ADS_1


"Yes, Mister," jawab Rodrigo cepat.


"Telpon Ri sekarang!" Titahnya tak ingin di bantah.


****


Suara alunan musik hip-hop mengiringi langkah kaki mungil Darla dan Lunna. Mereka mengekori kumpulan manusia yang sedang asik melengak-lengokkan tubuh di hadapannya.


Darla dan Lunna berjalan dengan bergandengan tangan sembari bergoyang-goyang kecil.


Gelak tawa penonton parade, di sisi kanan dan kiri jalan terdengar nyaring, saat melihat Darla dan Lunna menirukan salah satu penari yang berjalan di depan mereka.


Lima menit kemudian.


"Dallaa, Lunna lapall kita cali makan yuk!" ajak Lunna tiba-tiba sambil memegang perut.


"Ayo, Dalla juga sudah lapal!" Darla melirik sekilas pada Lunna.


Keduanya keluar dari area parade, dan menyusuri trotoar di sebelah kanan yang tidak ramai dengan lalu lalang manusia.


"Dalaaa kita cali makanan yang mulah saja yuk!"


"Untuk apa mencali makanan yang mulah, kalau ada yang mahal!" protes Darla sambil menghela napas. Dia menirukan Mommynya yang suka berkata seperti itu kepada Daddy jika mencari makan.


"What? Kau sombong sekali Dalla, kita halus belhemat!" Lunna tidak menyetujui perkataan Darla.


"Tenanglah Lunna, uang kita masih banyak. Lihatlah!" kilah Darla sambil membuka sedikit dompet si penculik yang dia ambil tadi.


Kedua mata Lunna terbelalak saat melihat lembaran uang yang lumayan banyak. Sepersekian detik, Lunna merubah raut wajahnya.


"Tapi Dalla kita-"


"Tidak ada, tapi-tapi!" sela Darla cepat, membuat Lunna mengerucutkan bibirnya dengan tajam.


Selang beberapa menit, Darla dan Lunna sudah selesai mengisi kampung tengahnya.


"Dalla pengen es klim!"


"Iya, Lunna juga mau es klim. Kita cali yuk!"


Darla mengangguk sedikit.


****


"Kemana dua bocah tengil itu pergi?" tanya Ri kepada Li sembari memicingkan mata.


Kedua penculik itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Menelisik keberadaan Darla dan Lunna di tengah keramaian parade di pusat kota. Dari pantauan kamera pengintai yang terekam di luar bangunan.


Ri dan Li dapat melacak dengan cepat kemana bak sampah tersebut berhenti. Seingat mereka, kedua bocah tengil itu mengenakan gaun berwarna pink dan putih. Ri dan Li sangat frustrasi mengapa sampai saat ini, tidak bisa menemukan Darla dan Lunna.


Ri tampak gusar!


"Ri kita ke arah sana!" Li menepuk pundak Ri dengan cepat. Dia dapat melihat kegelisahan temannya itu.


Ri mengangguk setuju.


Dua kaki tangan Pablo itu pun berjalan cepat menyusuri trotoar sembari menggerakan kepalanya ke sembarang arah. Tak lupa mereka juga masuk ke dalam toko pakaian ataupun toko mainan yang berjejer di pusat kota.


Keempat tungkai itu berhenti sejenak, tepat di depan toko cupcake.


"Arghhh kemana mereka?!" sungut Ri sambil mengacak-acak rambutnya, dia memutar tubuhnya ke belakang.


Li pun melakukan hal yang sama. Dia membalikkan badan sambil berkacak pinggang.


Bola mata mereka menelisik kerumunan orang yang ada di jalanan. Siapa tahu saja dua bocah sialan itu ada di situ, pikirnya.

__ADS_1


1,5 meter dari Ri dan Li berada, ternyata Darla dan Lunna berdiri membelakangi mereka.


Kedua bocah itu, sedang menatap penuh kagum pada kue cupcake berukuran besar, yang terpajang di etalase toko. Darla dan Lunna menempelkan bibirnya di kaca bening, pembatas toko. Mata mereka enggan berkedip sedikitpun. Tampak air liur Darla dan Lunna menetes.


Beberapa menit yang lalu, mereka tidak sengaja melihat toko cupcake saat mencari es krim.


Darla dan Lunna di terpa dilema, apakah harus membeli cupcake atau es krim?


Saat ini, posisi dua penculik dan dua bocah perempuan itu saling membelakangi.


Sementara itu, Ri dan Li masih asik menajamkan penglihatannya. Keduanya ketakutan jika sampai Pablo mengetahui kebohongan mereka.


Pasalnya tadi Pablo menghubungi Ri menanyakan keberadaan Darla dan Lunna. Mau tidak mau Ri pun berkilah mengatakan bahwa mereka ada di dalam ruangan.


"Di mana bocah tengil itu!?" Gumam Ri dengan geram.


Di tengah-tengah keempat orang berbeda generasi tersebut, lalu lalang manusia mulai renggang.


"Dalla, makan es klim saja yuk. Sepeltinya itu mahal," ucap Lunna pelan sambil menoleh ke samping.


"Tidak mau! Dalla mau cupcake saja!"


"Tapi Lunna mau es klim!"


"Cupcake!"


"Es klim!"


"Cupcake!!"


"Es klim!!!!"


Darla dan Lunna saling bersahut-sahut tidak ada yang mau mengalah.


Samar-samar Li mendengar suara bocah perempuan yang tidak asing di telinganya. Dengan cepat Li membalikkan badannya. Dia menepuk cepat pundak Ri.


Kedua mata Ri terbelalak sembari tersenyum sinis.


"Kalian!" seru Ri sambil mengepalkan satu tangan.


Darla dan Lunna tersentak dengan menoleh ke sumber suara.


"Laliiiiii Lunnaaaaaa!" teriak Darla seraya mengayunkan kaki mungilnya, begitu pula dengan Lunna.


Kedua penculik berlari cepat dan menangkap Darla dan Lunna. Mereka mencengkram bagian belakang pakaian dua bocah tersebut.


"Kena kalian! Hahaha!" Ri tertawa puas sambil mengangkat Darla.


"Mau lari kemana kalian?!" seru Li dengan menyeringai licik.


Darla dan Lunna meronta-ronta sambil menendang-nendang Li dan Ri. Namun, sayang seribu sayang kaki mungil mereka tak sampai.


Ri dan Li tertawa terbahak-bahak, karena berhasil menangkap dua bocah yang ingin bermain dengan mereka.


"Lepaskan merekaaaaaa!" jerit seorang pria dari belakang.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2