
Selesai membaca, jangan lupa tekan like ya!
Happy reading, salam dari kak Nana.
***
Setelah Lily berhasil dalam menjalankan misinya, perusahaan Co. Marq kembali stabil seperti semula. Berkat kecerdasan yang dia miliki. Wanita berparas menawan itu, juga menciptakan sistem keamanan yang sangat tinggi, pada setiap perangkat lunak di komputer perusahaan. Dia tidak ingin kejadian ini, terulang kembali.
Tampak mansion kediaman Marques, kedatangan tamu yang tak diundang.
Di salah satu ruangan besar dan megah, terdapat kumpulan manusia memenuhi bilik mewah tersebut. Beberapa furniture mahal menghiasi ruangan tamu. Terdapat sofa empuk modern, bergaya Eropa, yang berbentuk U, terletak di tengah ruangan. Interior disusun begitu rapi dan apik oleh si pemilik.
Sesuai janjinya, Leon ingin menemui calon mertuanya, Jonathan. Ia datang bersama putri kecilnya dan tangan kanannya. Dengan tekad yang kuat, dia mau menyampaikan maksud dan tujuannya kepada pria paruh baya tersebut.
Saat ini, Leon dan Lily, duduk dibagian sofa paling tengah.
Sepasang kekasih itu, menatap lurus kedepan.
Tanpa satu katapun yang terucap. Mereka seperti didalam persidangan.
Terlihat Leon secara cepat mengambil, tangan sebelah kiri Lily. Ia menyembunyikan tautan tangan mereka dibelakang tubuhnya.
Dia tahu, jika Lily sedang menyembunyikan kegugupannya, begitu pula dengan dirinya.
Di sisi kanan sofa, Anastasya sedang duduk tenang sembari memoles kuku pendeknya, dengan kutik berwarna emas. Dia berusaha menetralisir rasa mencengkam, yang terdapat didalam ruangan. Di sebelah kiri sofa, Lunna dan si Kembar sedang bermain puzzle, pemberian tuan rumah. Mereka sedang asik dengan dunianya.
Sementara itu, Fabio, Maximus, dan Lexi berada tepat dibelakang tubuh Jonathan. Mereka seperti patung manekin yang tak bernyawa. Keenam mata tersebut, menatap punggung pria yang sudah berkeriput itu.
Jonathan berdiri tegap, dihadapan sepasang kekasih tersebut, sembari kedua tangannya berkacak pinggang. Dia tidak bersuara, sejak Leon masuk kedalam kediamannya. Kedua mata, bermanik biru laut pekat itu, menatap dingin ke arah Leon.
Seketika, kedua tungkai kaki Jonathan, berjalan pelan mengitari sofa. Langkah kaki terdengar menggema didalam ruangan.
Ada satu orang pria, berkulit sawo matang mengekorinya dari belakang, ialah Marco alias Miss Marimar. Kenapa? Marimar bisa berada di mansion, usut punya usut. Sehabis kejadian satu hari yang lalu.
Ketika Lily mengatakan perihal identitas aslinya, Marimar tidak terkejut. Sebab, lelaki gemulai itu sudah menduga dari awal, jika Lily adalah anak dari sahabat papinya. Disinilah Marimar berada, dengan tidak tahu malunya dia bergabung. Jonathan terpaksa senang dengan kehadiran Marimar, anak dari teman bermain catur.
Lily terkesiap mendengar penuturan pria kemayu itu. Ia sangat tidak menyangka, dengan informasi terbaru yang didapatkan dari Marimar. Mengapa dunia sangat sempit, pikirnya.
Suasana didalam ruangan, dilingkupi dengan hawa yang sangat panas. Hanya terdengar helaan napas dan suara perdebatan kecil dari keempat bocah, yang berada di sudut sofa.
Jonathan masih tak bergeming dari posisi semula, ia mengitari sofa dengan perlahan. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Jonathan, sembari memutar tubuhnya kebelakang, menatap jengah pada tingkah Marimar.
__ADS_1
"Emangnya ngak boleh ya, Uncle?" Marimar bertanya balik dengan meliuk-liukan tubuh kekarnya itu.
Jonathan membuang napas dengan kasar. Ia malas berdebat, kembali dia mengalihkan pandangan pada Leon dan Lily.
"Apa yang kau janjikan untuk putriku?" Jonathan bertanya dengan nada dingin, menatap tajam sosok pria yang berani datang ke mansion, bermaksud mengambil putrinya.
"Aku tidak ingin membuat janji, tapi yang pasti, aku akan selalu menjaga dan melindungi putri anda."
Leon menjelaskan secara singkat. Pria itu bersikap tenang, saat hakim cinta bertanya padanya. Dia memang tak mau membuat janji, percuma saja ia berjanji, jika diikemudian hari, dia tidak dapat membuktikannya dengan tindakan.
Jonathan menaikkan sebelah alis matanya, kemudian dia melipat tangannya didada. "Jawaban yang tidak memuaskan!" cetusnya.
Anastasya mengernyitkan dahi, saat Jonathan tidak menyetujui jawaban Leon.
Dia beranjak dari tempat duduknya. Wanita paruh baya yang berpenampilan sederhana, namun anggun itu, menghampiri pujaan hatinya.
"Sayang, jawaban Leon menurutku sudah bagus," tutur Anastasya pelan, sambil memegang kedua pundak suaminya.
"Tapi..." Jonathan menatap lekat, sosok wanita yang menjadi ratu dihatinya.
"Tidak ada, tapi-tapi!" potong Anastasya cepat, menurutnya Jonathan terlalu berlebihan. Padahal dulu saat suaminya mau meminangnya. Mendiang Ayahnya, menanyakan hal yang serupa, dan tentu saja jawaban yang sama, dia lontarkan.
Jonathan menghembuskan napas dengan berat, dia kembali menatap Leon. Kedua matanya kembali menatap tajam, ia melirik sekilas pada putri sulungnya.
"Daddy!" pekik Lily sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya. Dia terkejut dengan perkataan ayahnya. Sedari tadi dia diam, menantikan keputusan dari pria tersebut.
"Interupsi!" ucap Marimar tiba-tiba. Pria gemulai itu heran dengan keputusan Jonathan, sebab alasannya tidak masuk akal.
"Ini bukan sidang, Mar!"protes Jonathan, ia membuang napas dengan kasar, tanpa menatap lawan bicaranya.
"Aku juga interupsi!" Maximus menimpali dari arah belakang tubuh Jonathan, sembari mengangkat satu tangannya.
"Max, apa yang kau lakukan?" tanya Fabio yang berada disampingnya, kedua matanya melebar dengan sempurna.
"Aku...."
"Interupsi!" Lexi ikut menimpali, dia menyela perkataan pria bertampang blasteran tersebut. Dia tak ingin rencananya mencarikan Mommy, untuk Lunna tidak terwujud.
"Kalian diam!" teriak Jonathan menggema diruangan.
Ketika mendengar, suara yang begitu nyaring. Ketujuh orang dewasa tersebut tampak terkejut. Begitu pula dengan keempat bocah kecil yang tengah bermain. Mereka menghentikan aktivitasnya.
"Kami libut ya Opa?" Lunna bertanya sambil berjalan dengan cepat ke arah Jonathan, dia menengadahkan kepalanya ke atas, menatap lekat. Dia tidak mengerti dengan situasi saat ini.
__ADS_1
Jonathan menolehkan matanya kebawah. "Tidak, Opa marah sama mereka. Lunna tidak ribut," ucapnya dengan sorot mata yang begitu hangat, sambil mengusap perlahan kepala bocah perempuan itu.
Lunna membalas perkataan Jonathan dengan mengangguk kecil. "Okey," ucapnya sambil berlari kecil ke arah si Kembar berada.
"Sekarang kalian bubar!" Jonathan berkata, sembari berjalan dengan cepat menuju pintu utama.
"Daddy, tunggu!" seru Lily, ia ingin meminta penjelasan dari ayahnya. Namun, pergerakan langkah kakinya ditahan oleh Leon. Kedua matanya hanya bisa menatap punggung ayahnya, yang menghilang di balik pintu.
"Honey, sudah tidak apa-apa." Pria itu menghela napas, dengan pelan. Dia menatap lekat kekasihnya, berusaha menenangkan kegusaran didalam hatinya.
"Apa yang tidak apa-apa Leon, kau tidak dengar. Ayahku menolak hubungan kita," ucap Lily lesu.
Lily menahan tangisnya, entah mengapa saat Jonathan menolak pinangan pujaan hatinya, dadanya bagai ditancap beribu paku, perih. Padahal tadi malam, dia sudah mengatakan semua, tujuan Leon datang kemari. Namun Ayahnya hanya menanggapi dengan menganggukkan kepala saja.
"Dengar, Honey. Mungkin Daddymu ada alasan tersendiri. Jangan kau risaukan, perjuanganku baru saja dimulai," jelas Leon singkat, sambil menyentuh kedua pipi Lily. Ia berusaha memberikan pengertian kepada kekasihnya itu.
"Maaf, atas sikap suamiku ya Leon." Anastasya menimpali obrolan sepasang sejoli tersebut. Dia juga heran, dengan sikap Jonathan, yang berubah dingin tidak seperti biasanya.
"Tidak apa-apa, Aunty," tutur Leon cepat sambil menatap.
"Jangan panggil aku Aunty, panggil saja Mommy," protesnya.
Wanita paruh baya itu, bisa melihat pancaran cinta dari kedua mata Leon. Naluri ibunya tidak pernah salah dalam menilai, dia yakin sekali. Jika Leon bisa membahagiakan putri sulungnya.
"Baiklah, Mom." Leon tersenyum simpul. Dia mengalihkan pandangan pada wanita disamping, yang terlihat melamun.
"Honey," panggilnya lembut. Dia merengkuh tubuh Lily dan mendekapnya perlahan.
Lily membalas pelukan kekasihnya itu, dan memeluknya dengan sangat erat. Seakan ia tidak ingin berpisah pada lelaki, yang berhasil mencuri hatinya itu, sembari kedua matanya terpejam. Merasakan kehangatan yang menjalar masuk kedalam kulit tubuhnya.
Terpampang senyuman di wajah Anastasya, saat melihat interaksi keduanya. Dia dapat merasakan perbedaan antara Leon dan mantan menantunya. Saat memikirkan pria yang menyakiti putrinya dahulu, dia menjadi kesal sendiri di dalam hatinya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1