Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 61. Tiga Pukulan Telak


__ADS_3

Tugasku sudah selesai. Pelangi mu sudah tiba, tolong jangan lupakan payung yang melindungimu ketika hujan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Leon menghapus cepat jejak air matanya, dia mengalihkan pandangan pada petugas kesehatan, yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Kedua pasangan yang gagal menikah itu tak bergeming dari posisi semula.


"Iya, kami keluarganya, ada apa?" jawab Fabio cepat.


"Bapak Jonathan sudah sadarkan diri, dia mau bertemu dengan Leon."


Perawat menjelaskan singkat.


"Benarkah? Daddy sudah siuman?"


Mendengar penuturan perawat berperawakan tambun tersebut. Lily seketika melepaskan pelukannya. Dia menatap datar pada lawan bicaranya.


Lily dan Leon beserta keluarga Marques sudah terlebih dahulu menjenguk Jonathan.


Lily terlihat syok saat mendengar penjelasan dokter, yang mengatakan luka di tubuh ayahnya sangat parah sehingga menyebabkan sebagian organ dalamnya terinfeksi. Belum lagi kulit belakang Jonathan yang terkikis.


Perawat membalas pertanyaan Lily, dengan menganggukkan sedikit kepala.


***


Beberapa menit kemudian, keluarga Marques sudah tiba di ambang pintu ruang ICU.


Leon melepaskan genggaman tangannya. " Honey, aku ke dalam dulu." Tampak pria itu sudah mengenakan pakaian khusus berwarna hijau.


Lily menganggukkan kepala perlahan.


Dia berharap semua yang terjadi di hari pernikahan ini, hanyalah mimpi. Rasanya sangat aneh bukan, orang yang selalu berada di sekitar mu, sekarang hilang di telan bumi. Mereka tak berpamitan ataupun menyampaikan satu pesan.


Tanpa aba-aba.


Tanpa izin darinya sama sekali.


Ini pasti hanya mimpi.


Mimpi buruk!


Tanpa terasa, buliran air mata mengalir kembali di pipinya. Dia mengigit bibir bawahnya. Dadanya naik turun lagi, sembari kedua tangannya meremas dengan kuat gaun pengantinnya.


***


Sementara itu, di dalam ruangan.


Leon berjalan pelan menuju tempat tidur Jonathan, pria bermanik warna coklat itu menatap sendu. Saat melihat kondisi calon mertuanya yang mengenaskan.


Terlihat alat medis menempel di sekujur tubuh Jonathan.


Suara mesin peninjau detak jantung, seirama dengan langkah kaki Leon.


Leon mengelus pelan jari-jemari cinta pertama Lily. Dia mengagumi sosok pria tua yang berwibawa dan bijaksana itu.


Dia tak menyangka pria yang memiliki sorot mata tegas kini terbaring lemah, dan tak berdaya. Leon membuang napas pelan.


Jonathan yang merasakan sentuhan, membuka kelopak matanya perlahan. Dia tersenyum getir saat Leon berada di sampingnya. Ia memberikan kode agar menantunya itu untuk lebih mendekat.


Leon yang mengerti dengan bahasa isyarat Jonathan, segera mendekatkan daun telinganya.


"Le-on jag-a sela-lu mer-eka unt-uk k-u..." ucapnya lirih dengan terbata-bata sembari kedua matanya menganak sungai. Jonathan tak mampu lagi melanjutkan perkataannya.


Leon tertegun.


"Dad, tenanglah saja aku akan menjaga mereka."


Leon berkata dengan pelan namun tegas. Dadanya kembali bergemuruh, lagi dan lagi perasaan yang pernah dia rasakan dahulu. Perasaan hancur dan lebur menjadi satu.

__ADS_1


Setelah mendengarkan perkataan Leon. Jonathan menutup perlahan kelopak matanya dan menghembuskan napas terakhirnya, bersamaan layar di monitor menampilkan garis lurus.


Leon menekan tombol khusus di ruangan dengan sigap.


Tenaga medis masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa alat kesehatan.


Pria bermanik warna coklat itu mengayunkan cepat kedua kakinya keluar ruangan.


"Ada apa?" tanya Lily saat ia sudah berada di luar.


Lily mencari jawaban, ia kebingungan mengapa petugas kesehatan masuk ke dalam ruangan. Cairan bening membekas di wajah cantiknya.


Namun Leon tak mengubris pertanyaan Lily. Dia terdiam seribu bahasa.


***


Ceklek


Pintu ruangan terbuka.


"Dok, ada apa?"


Lily menghalang pergerakan kaki dokter berperawakan jangkung di hadapannya. Dokter menghela napas perlahan.


"Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi sepertinya Tuhan lebih menyayangi beliau. Kami turut berduka cita."


Deg.


Wanita bernetra warna biru laut itu menerobos masuk ke dalam ruangan, tanpa membalas perkataan Dokter.


"Daddy! Cepat bangun! Kau pasti sedang berakting kan?"


Lily mengguncang tubuh Jonathan, ia berusaha mengelabui pikirannya bahwa mereka saat ini sedang berakting. Dia yakin sebentar lagi akan kejutan, seperti beberapa hari yang lalu, saat proses Leon melamar dirinya di pantai.


"Daddy, sebentar lagi aku menikah! Kau tak mau melihat ku menikah! Ayo cepat antar aku ke altar Dad!!!" raung Lily dengan derasnya air mata, yang mengalir di kedua pipi.


Suara tangis Lily semakin pecah. Wanita itu memukul dadanya kembali.


"Dad...."


Lily tak mampu melanjutkan perkataannya lagi. Kedua tungkai kakinya lemah. Detik kemudian hanya rasa pusing dan gelap yang dapat di rasakannya.


***


Keesokan harinya.


Suasana di kediaman Marques tengah ramai, bukan ramai karna pesta ataupun hajatan. Melainkan karena kepulangan Jonathan, Belle, dan Benjamin pada Sang Pencipta.


Keluarga inti, sanak saudara Anastasya, dan teman bisnis berkumpul di ruangan khusus. Sementara itu, pihak dari keluarga Jonathan, hanyalah Fabio dan istrinya.


Jonathan dari kecil hanya tinggal bersama mendiang ibunya saja. Sedangkan ayahnya sudah lama berpulang pada Sang Pencipta. Dia tidak mempunyai saudara ataupun sepupu.


Suara tangisan terdengar dari bibir Anastasya, cinta pertamanya telah pergi mendahuluinya. Begitu pula dengan anak bungsu dan menantu kesayangannya.


Sepupu Anastasya memeluk erat tubuh wanita berambut pendek itu, dan memberikannya kekuatan.


Lily yang berada tak jauh dari ibunya, sedang duduk bersila, sambil menatap datar sosok ayahnya yang berada di dalam peti.


Tak ada suara tangisan yang terdengar, ia hanya terdiam membisu. Tampak kedua matanya sembab, dia membuang napas perlahan.


Di sampingnya Leon mengusap pelan punggung Lily, ia berusaha memberikan kekuatan untuk kekasihnya.


***


Lantai dua


[Kamar Belle dan Benjamin]

__ADS_1


Ceklek.


Pintu terbuka.


Darla kecil menyelonong masuk ke dalam kamar kedua orangtuanya. Dia menelisik keberadaan Mommynya. Tubuh mungilnya berlari ke sana kemari, dari balkon, toilet dan bahkan walk in colset ia datangi.


Terakhir Darla menyibak gorden jendela. Dia ingat terkadang Belle dan Benjamin bersembunyi di balik tirai saat mereka bermain petak umpet.


Dia menyerah. Kemudian Darla menaiki tempat tidur yang berukuran besar dan tinggi itu, dengan susah payah ia mengangkat tubuh tembamnya.


"Huhh!" celetuknya Darla telah berhasil naik ke tempat tidur.


Ia pun duduk di tepian tempat tidur sambil menatap lurus ke luar jendela kamar. Kedua kaki mungilnya berayun-ayun.


"Mommy kok lama ya di sulga." Gumamnya pelan sembari membuang napas.


"Dallaaa!" teriak seseorang nyaring dari luar.


Lantas Darla memutar kepalanya ke belakang.


"Masuk!"


"Hai Dalla, kenapa kau di sini?" tanya Lunna yang baru saja masuk ke dalam kamar.


Darla tak menjawab, ia kembali mengalihkan pandangan pada jendela kamar.


Lunna mengernyitkan dahi, dia menutup kembali pintu kamar dan berjalan pelan mendekati Darla.


"Kenapa kau melamun?" Lunna mulai menaiki tempat tidur, dengan susah payah pula ia mengangkat tubuhnya sama seperti Darla. "Susah sekali!" sungut Lunna sambil kakinya berjinjit.


Darla tak membalas perkataan Lunna, dia tampak berpikir.


"Dalla, kata Daddy ngak boyeh banyak melamun. Nanti kesambet etan!" seru Lunna. Dia duduk di samping Darla.


"Ada apa?" tanyanya lagi sambil menepuk pundak Darla.


Karena Darla tak merespon ucapannya dan tak bergeming dari posisi semula.


......................


Jika keluarga Marques sedang mengalami kesedihan atas kepergian tiga orang sekaligus. Namun lainnya hal dengan Arnold. Dia tersenyum bahagia karena telah membunuh Jonathan. Entah dendam apa yang di miliki Arnold terhadap mantan mertuanya itu.


Saat ini, Arnold yang sedang bersembunyi dari kejaran polisi. Akan tetapi dengan kelicikannya, ia dapat melarikan diri.


Arnold menaruh asal pakaian dan dokumen penting ke dalam koper. Kemudian dia mengambil cepat ponsel yang berada di atas meja.


Siapkan pesawat untuk ku Uncle. Aku akan ke Los Angeles sekarang! tutur Arnold cepat kepada seseorang di sebrang sana.


Baiklah, sebelum kau ke sini. Siapkan misi selanjutnya!


Iya, Arnold menyeringai tipis.


.


.


.


.


Ket :


ICU : Intensive Care Unit


Brangkar : Tempat Tidur Rumah Sakit.


Jangan lupa tinggalkan jejak.

__ADS_1


__ADS_2