Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 64. Other Side


__ADS_3

***


⚠ Warning


Adegan kekerasan!


Jangan di tiru!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Burung-burung mungil bersenandung kecil. Hewan mungil itu tampak bergembira, sebab hujan deras yang mengguyur tubuh mereka kemarin telah hilang.


Kumpulan binatang unggas yang berwarna-warni, bertengker di dahan pohon. Merasakan hangatnya sinar matahari yang menerpa tubuh kecil mereka.


Hari ini, cuaca di atas pencakar langit, terlihat indah dan cerah.


Hmm indah sekali!


Akan tetapi, berbanding terbalik dengan suasana di mansion utama, milik mendiang Jonathan Marques.


Tampak sunyi senyap, seperti tak berpenghuni. Padahal jam menunjukkan pukul 8 pagi.


Hanya para asisten rumah yang sibuk membersihkan setiap sudut ruangan.


Salah satu asisten sedang mengelap meja, di ruang makan. Kedua matanya menatap tempat duduk yang berada di tengah.


Tampak netranya berkaca-kaca. Ia berusaha menahan cairan bening agar tidak tumpah di kedua pipinya.


"Bernadet!" panggil seseorang dari belakang, sambil menepuk pundak.


"Astaga!" Perempuan berambut pendek itu, terlonjak kaget. Dia membalikkan badan dengan cepat.


"Ada apa, Tuan? Aku kaget," ucap Bernadet, sembari mengelus dada.


"Maaf, aku tak bermaksud." Fabio tak enak hati.


Asisten rumah mengangguk sedikit.


"Begini, apa kau melihat Darla dan Lunna?" Fabio terlihat cemas.


Bernadet mengerutkan dahi. "Loh bukannya mereka ada di kamar ya Tuan, tadi pagi mereka sudah bangun dan sudah di mandikan sama Nanny," jelasnya singkat.


Fabio tertegun.


Dia tahu jika Nanny akan membangunkan Darla tepat pukul 6 pagi dan biasanya bocah kecil itu akan bermain di dalam kamar. Namun, Darla atau pun Lunna tidak berada di dalam ruangan tersebut.


Nanny yang bertugas menjaga mereka pun, juga tidak tahu berada di mana sekarang.


"Baik, terimakasih informasinya," tutur Fabio cepat tanpa mendengar jawaban dari asisten.


Fabio menganyunkan kaki ke bilik khusus, dia mengecek semua CCTV, yang terpasang di setiap sudut ruangan.


Nihil!


Fabio menekan earpiece di telinga kanan.


"Max, kumpulkan semua pengawal di lapangan. Sekarang!" perintah Fabio cepat.


Tak butuh waktu lama.


Pengawal yang berjumlah lima puluh orang, yang bersetelan jas berwarna hitam sudah berbaris rapi. Mereka bingung mengapa di kumpulkan kembali. Pasalnya sekitar jam 5 pagi tadi mereka sudah berkumpul.


Mereka tak berani bersuara. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, batin mereka menerka-nerka.


Fabio berjalan pelan di lapangan khusus. Dia menatap dingin dan tajam pada kumpulan pengawal yang berada di hadapannya.


"Sepertinya kalian bingung, mengapa aku mengumpulkan kalian lagi!" teriak Fabio lantang.


Beberapa pengawal menelan saliva dengan kasar.


Gleg!


"Kau!" Fabio menunjuk seorang pengawal yang berada di baris pertama.


"A-a ku," ucap lelaki bertubuh kekar dan semampai, dengan terbata-bata.


"Iya, kemari kau!"


Lelaki muda itu berjalan gontai ke depan.


"Cari Lunna dan Darla sekarang!" perintah Fabio tak ingin di bantah.


"Baik Tuan!" ucapnya tegas. Kedua tungkai pria itu berjalan cepat.


Fabio mengalihkan pandangan pada kumpulan pengawal.


"Ada apa ini?"


Suara perempuan yang terdengar tak asing di telinga Fabio, mengusik kegiatannya.


"Nyonya."


Fabio tertegun melihat penampilan Lily sudah lebih membaik.

__ADS_1


Lily menghampiri Fabio. "Ada apa, Dad?" Lily bertanya kembali.


Fabio menelan saliva dengan kasar.


"Darla dan Lunna tidak tahu berada di mana," jelas Fabio pelan.


Dahi Lily berkerut. "Apa maksud mu?"


Fabio pun menjelaskan kronologi tentang keberadaan Darla dan Lunna secara singkat dan jelas.


Lily terdiam, tampak sedang berpikir.


"Tuan!" panggil pengawal yang tadi di perintahkan untuk mencari Darla dan Lunna.


Lily dan Fabio mengalihkan pandangan ke sumber suara.


Pengawal sedang memapah Nanny Darla yang pelipisnya terlihat berdarah.


Melihat pemandangan tersebut, Lily merasakan sesuatu yang tidak nyaman merasuki batinnya.


"Dad, perintahkan semua pengawal untuk menutup gerbang. Jangan ada yang keluar jika belum ku beri perintah. Periksa semua CCTV tanpa terkecuali!" Titah Lily cepat.


Fabio mengangguk.


Sementara Lily segera berjalan cepat masuk ke mansion.


"Kau bawa dia ke ruang kesehatan!" Fabio memberi perintah.


"Kalian semua tutup semua gerbang! Jangan ada yang keluar sama sekali! Tim A dan tim B ikut aku!"


"Baik, Tuan!" jawab mereka serempak.


***


Ruang Kesehatan.


"Kau tadi bersama mereka di mana? Apa yang kalian lakukan? Kau bukan mata-mata kan?!"


Lily bertanya tanpa jeda, tanpa berkedip, dan tanpa membuang napas.


Lily menatap tajam pada sosok Nanny yang sudah lama berkerja di mansion. Dia tak peduli jika di katakan jahat oleh Nanny tersebut.


"Maaf Nyonya. Saya yang salah seharusnya, saya lengah," jawab Nanny dengan gemetar.


"Kau tak menjawab pertanyaan ku dengan benar!?"


Lily mengintimidasi lawan bicara.


"Saya tadi bermain petak umpet bersama mereka, Nyonya. Lalu saya tiba-tiba pingsan di ruangan bermain," jelas Nanny singkat, kedua matanya sudah berkaca-kaca.


"Nyonya!" panggil Maximus yang baru saja masuk ke ruangan. Maximus terlihat cemas.


"Ada apa?" Lily mengalihkan pandangan pada Maximus.


"Darla dan Lunna di culik, Daddy sudah menemukan siapa pelakunya, tapi itu cuma kaki tangannya."


"Di mana pelaku itu sekarang?" Sorot mata Lily mengerikan.


"Tadi di bawa langsung ke markas Q," jawab Maximus.


"Kita ke sana!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Markas Q.


Wanita berparas rupawan turun dari mobil. Lily mengenakan pakaian casual yang memperlihatkan lekukan tubuh indahnya.


Jaket bomber berwarna navy, kaos ketat berwarna putih, celana jeans kurang bahan, yang berwarna biru dongker, dan sepatu boots pendek berwarna hitam, menghiasi tubuh tersebut.


Tim Wolfi memberi hormat, saat melihat putri mendiang Jonathan pertama kali mengunjungi markas. Mereka tak menyangka jika di lihat lebih dekat, Lily benar-benar cantik dan mempesona.


"Max di mana ruangannya?" tanya Lily kepada Maximus yang baru saja keluar dari balik pintu.


"Mari ikut saya, Nyonya." Maximus menuntun Lily berjalan menuju ruangan khusus.


"Nyonya, maaf jika agak bau," tutur Maximus, dia tak enak jka ruangan yang akan mereka kunjungi bau amis darah.


Lily tak menyahut. Dia mengikuti langkah kaki Maximus.


Ceklek.


"Max kenapa kau baru tiba sek ...."


Fabio tak melanjutkan perkataannya saat melihat Lily berada di markas.


"Nyonya! Kenapa kau di sini?"


Fabio membuang napas. Kemudian beralih menatap dingin Maximus. Anaknya terlihat salah tingkah.


"Menurut mu? Aku juga mau bersenang-senang Dad," jawab Lily cepat.


Fabio tidak mampu berkata-kata lagi.

__ADS_1


Mengapa Lily berbeda?


Mengapa dia tak terkejut?


Kenapa pula dia tampak biasa saja dengan keadaan di dalam ruangan!


Maximus dengan cepat mengambil kursi kayu untuk Lily duduk.


"Terimakasih," tutur Lily saat Maximus meletakan kursi di dekatnya. Lily mendudukkan bokong dengan pelan.


"Jadi, dia pelakunya?"


"Iya Nyonya." Bukan Fabio yang menjawab, melainkan Maximus. Sebab pria tua sedang melamun.


Lily bangkit berdiri, dia mendekati pria yang sudah tampak babak belur itu.


Kepala pria itu tertunduk, darah segar menetes di hidung dan jidatnya. Pria itu duduk di bangku dengan tangan terikat ke belakang.


Lily mengitari perlahan sosok di hadapannya. Kemudian berhenti tepat di depan si pelaku.


Satu tangan Lily menarik rambut dengan kasar. Sehingga menyebabkan wajah pelaku mendongak ke atas.


"Punya nyali juga kau!?" Lily menghentak kasar.


"Siapa bos mu?" tanya Lily sambil menatap tajam.


"Dari tadi dia tidak mau berbicara," jelas Fabio cepat.


Fabio dapat melihat dengan jelas sisi lain dari Lily. Pria tua itu sedari tadi, memperhatikan gerak-gerak putri Jonathan. Sorot mata Lily sangat mirip dengan Jonathan, ketika mendiang sahabatnya masih muda dahulu.


Entahlah, apakah Fabio harus senang atau tidak.


Fabio dilema.


"Benarkah?" Lily tersenyum sinis. "Ambilkan aku tang!"


Kedua mata Fabio terbelalak. "Untuk apa Nyonya?"


Lily melirik ke samping tubuh. "Menurut mu Dad?" Seringai licik terbit di wajah cantik Lily.


Maximus mengambil tang yang berada di kotak khusus. Dia menyodorkan benda keras dan berlancip tersebut pada Lily.


"Mari kita lihat, apa kau tetap tak mau berbicara!"


Pria itu tak menyahut. Sepertinya dia kehabisan tenaga, karena dari tadi sudah di berikan pelajaran oleh Fabio.


Yang pastinya bukan pelajaran matematika.


"Sekali lagi ku tanya, siapa bos mu?!" teriakan Lily menggema di ruangan.


Pria itu tak menjawab, hanya hembusan napas yang terdengar.


"Max angkat kepalanya!"


Maximus menuruti perkataan Lily.


"Buka mulutnya!" perintah Lily lagi.


Maximus menyuruh satu pengawal untuk membuka paksa mulut pria tersebut.


Lily langsung memasukan tang pada mulutnya dan memotong cepat indera pengecapan.


"Arggghhh!" Suara rintihan terdengar nyaring, di iringi darah segar menetes dari mulut.


"Cepat katakan siapa bos mu?!" Lily mengambil lidah pria tersebut dan melempar asal.


"Pa ... b..." Pria itu menahan rasa sakit.


"Katakan lebih jelas, bodoh!"


"Pab..."


Pria itu tak mampu melanjutkan.


"Pablo Piccaso?" tebak Lily, sorot matanya sangat tajam dan menghunus.


Pria di hadapan mengangguk.


Lily tersenyum sinis. Tanpa aba-aba dia menancapkan ujung tang di kepala pria itu.


TAKKKK.


Kaki tangan Pablo seketika meninggal di tempat.


"Nyonya!" teriak Fabio, dia terlonjak kaget dengan tindakan Lily.


Sementara itu, Lily terdiam sejenak. Wanita berparas rupawan itu mengusap percikan darah di wajahnya. Kemudian dia melirik sekilas pada Fabio dan berjalan perlahan keluar ruangan.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2