
Suara alarm handphone membuat tidur Lily terusik, dengan mata yang masih tertutup sempurna. Lily reflek menggerakan satu tangannya mencari handphone, yang tak tahu entah berada di mana. Dia masih malas membuka matanya, tangan kanan Lily masih aktif meraba di sekitar tempat tidur namun tak juga dapat, Lily menggerutu di dalam hati.
Bunyi alarm semakin bertambah nyaring saja, terpaksa Lily membuka perlahan kelopak matanya. Cahaya lampu kamar, sangat menyilaukan mata Lily.
“Astaga, sepertinya aku lupa mematikan lampu kamar,”batin Lily sambil menyipitkan mata.
Lily segera mendudukan tubuh di atas kasur empuk itu. Dia mencari sumber bunyi tersebut, ternyata handphone Lily tepat berada di samping tubuhnya. Dia segera mengambil handphone dan mematikan alarm.
Terlihat jam menunjukkan pukul 4 subuh, Lily menghela napas. Sebelum pulang ke rumah kemarin Lily memang sengaja menyetel alarm karena ada hal penting yang harus di kerjakan.
"Tunggu dulu bukankah tadi malam aku sedang berteleponan dengan Leon, sepertinya aku ketiduran," gumam Lily pelan yang baru saja sadar dengan kegiatan semalam.
Lily memeriksa panggilan masuk di handphone, dia yakin jika tadi malam mereka tertidur tanpa mematikan sambungan karena asik bercerita, tertera satu notifikasi pesan masuk di beranda. Lily pun membuka pesan tersebut.
“Selamat tidur honey, salam rindu dariku” Leon.
Lily tersenyum saat membaca pesan whatsapp dari kekasihnya, dia meletakkan handphone di atas nakas dan segera beranjak dari tempat tidur. Lily berjalan cepat menuju toilet.
Dia mencuci muka dan mengosok gigi, selesai membersihkan wajah.
Lily mengambil laptop yang di taruhnya di dalam laci khusus. Dia meletakan pelan benda persegi itu di atas meja kerja yang berada di dalam kamar. Lily menekan tombol on pada laptop.
Kemarin Lily tak sengaja melihat flashdisk terjatuh dari tubuh Melisa. Saat Marimar dan Melisa sedang berkelahi di kantor.
Sebenarnya rasa curiga Lily kepada Milano dan Melisa hanya tebakan saja, namun siapa sangka kecurigaannya benar, selama berkerja hampir 1 bulan ini, Lily memperhatikan dengan seksama tingkah laku mereka.
Lily juga mendapatkan sedikit informasi dari Marimar mengenai pengelolaan data. Semula Lily mencurigai Marimar, bukan hanya Marimar namun semua orang yang berada di kantor bagian finance adalah pelaku.
Tetapi beberapa hari yang lalu, rasa curiga Lily terhadap Marimar memudar. Marimar hanyalah karyawan biasa yang berkerja di perusahaan tak ada motif khusus jika dia ingin berbuat curang, di tambah lagi latar belakang Marimar yang membuat Lily menepis semua pikiran buruknya mengenai Marimar.
Milano dan Melisa tidak hanya berkerja sendirian, namun berkerjasama dengan rival perusahaan Co.Marq yaitu perusahaan KNS. Group. Pemilik perusahaan tersebut adalah Arnold, mantan suami Lily.
Lily ingat dengan kejadian beberapa hari yang lalu, dia tak sengaja melihat Milano bertemu dengan Arnold di sebuah Restaurant dengan gelagat yang mencurigakan.
Tentu saja Lily penasaran!
Lantas Lily menyuruh orang kepercayaan untuk mencari informasi.
Namun bukti yang di dapat tidak kuat!
Jika bukti tidak kuat hal itu bisa merugikan perusahaan.
__ADS_1
Bulan lalu perusahaan sudah mengantisipasi dengan memutuskan koneksi peretas software namun muncul kembali. Memang benar adanya orang dalam yang sedang bermain dengan perusahaan Co. Marq.
Layar laptop pun menyala, Lily segera mengambil flashdisk yang berada di dalam tas. Dia memasukan benda kecil tersebut ke dalam lubang khusus yang berada di samping laptop.
Tak butuh waktu lama flashdisk terhubung dengan laptop. Jari Lily mulai menggeser tanda panah dan membuka isi flashdisk tersebut. Namun ketika di buka, harus memerlukan kata sandi.
“Sial,” batin Lily.
Tapi Lily tak menyerah begitu saja, dia memasukkan kata sandi yang ada di dalam pikirannya. Jari lincah Lily mengutak-atik keyboard di laptop. Dia tak menyerah!
Lily masih berusaha menebak kata sandi yang biasa digunakan oleh seorang cyber crime, dengan kemampuan yang dia miliki. Akhirnya kata sandi tersebut berhasil, Lily terkekeh pelan saat mengetahui kata sandi untuk membuka isi flashdisk adalah “Cacing Besar Alaska”.
Kedua mata Lily melihat satu file khusus, dia mengklik file itu. Namun tiba-tiba file itu hilang, Lily mengernyitkan dahi. Dia berusaha mengutak-atik kembali isi flashdisk, tapi semua data flashdisk tidak ada sama sekali.
Lily berusaha mencabut flashdisk dan memasukkan kembali, tapi benda mungil itu tak terhubung seperti tadi.
“What!” gumam Lily pelan sambil memijat pelipis.
Sepertinya Arnold dan Milano tak berkerja sendirian. Ada orang luar yang membantu mereka tapi tak tahu siapa. Pasti bukan orang sembarangan, pikir Lily.
Lily menutup perlahan laptop yang berwarna silver itu, dia segera beranjak dari kursi. Dia menghela napas, padahal sedikit lagi. Tapi setidaknya ada petunjuk yang mengarah pada Milano dan Melisa, apakah dia harus menggunakan cara kasar.
“Ah, tidak jangan sampai aku ceroboh."
Tepat pukul 6.30, Lily dan si Kembar sudah berada di meja makan. Mereka sedang menyantap sarapan dengan begitu lahap. Selesai sarapan si Kembar sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah lengkap dengan tas ransel di punggungnya.
Lily mengernyitkan dahi mengapa Gissel belum datang juga.
Dia pun menghubungi Gissel namun nomor tersebut tidak aktif.
“Ah, biarlah,” gumam Lily dengan muka masam seraya meletakkan kembali handphone ke dalam tas.
“Mom!” panggil Kendrick saat melihat Lily seperti kesal.
Lily yang di panggil pun menolehkan mata, “iya sayang.”
“Mom, Nanny tak ke sini ya?” tanya Kendrick, dia pun juga binggung mengapa Gissel tak kunjung datang.
Lily tersenyum pada Kendrick.
"Nak, hari ini Mommy yang akan mengantar kalian ya. Kalau sudah pulang sekolah, tunggu Mommy sebentar di sana."
__ADS_1
Nickolas dan Samuel yang mendengar perkataan Lily tampak kegirangan.
Mereka tak peduli Gissel yang datang atau tidak, bila perlu tidak usaha datang sama sekali!
Sementara Kendrick biasa saja, namun dia kasihan dengan Lily yang sibuk mengurus mereka.
“Apakah Mom hari ini tidak sibuk?” tanya Kendrick.
“Tidak sayang, ayo kita harus berangkat sekarang,!” ucap Lily sambil mengelus pelan kepala si Kembar.
“Yes, Mom!” ucap mereka serampak.
****
Lily mengemudikan pelan mobil mini itu meninggalkan gedung apartment yang mereka tinggali. Sesampainya di Sekolah, Lily menuntun ketiga anaknya untuk masuk ke dalam kelas.
Tidak lupa juga dia berkunjung sebentar ke kantor guru, Lily meminta tolong pada wali kelas si Kembar untuk menemani mereka jika dia terlambat menjemput. Beruntung wanita bertubuh tambun itu mengiyakan permintaan Lily, wanita itu tampak senang dengan kehadiran si Kembar di kelas, Lily pun pamit undur diri untuk pergi berkerja.
10 menit kemudian.
Lily telah sampai di perusahaan, perlahan dia memarkirkan mobil itu di area parkir. Dia bangkit dari kursi mobil dan segera turun.
Lily menyipitkan mata saat melihat sosok pria sedang berdiri membelakangi dirinya di depan pintu utama perusahaan. Pria itu memutar tubuhnya, seketika Lily tersenyum melihat sosok tersebut adalah Leon.
Lily berjalan cepat menghampiri Leon.
“Kau sangat cantik, honey,” puji Leon yang tak melepaskan pandangan pada Lily sedari tadi.
Blush.
“Ternyata kau pintar sekali menggombal Mr. Andersean,” ucapnya pelan dengan rona merah menghiasi wajah Lily.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.