
***
"Iya nanti Lunna belitahu, tapi singkilkan dulu kaki mu ini!" seru Lunna dengan muka mimik musam masam, sedari tadi dia menunggu pergerakan kaki Darla untuk bergeser.
"Hehehe, soli Lunna." Tanpa rasa bersalah Darla membalas perkataannya, dengan cepat dia mengangkat kakinya.
"Belat ya?" tanya Darla, sembari menampilkan gigi putihnya.
"Tentu saja belat, pake di tanya segala lagi. Huh!" sungut Lunna, sembari memutar bola matanya dengan malas.
Darla kembali terkekeh.
"Ayo kita bangun!" ajak Lunna.
Keduanya pun dengan susah payah, mengangkat tubuh tembamnya. Usaha mereka akhirnya membuahkan hasil.
"Sekalang kita tulun!" Lunna berkata kepada Darla. Namun sebelum turun dari tempat tidur. Mereka merapikan rambut panjangnya yang terlihat acak-acakan.
Keempat pasang mata bulat itu, terbelalak saat melihat ke bawah, seperti tebing yang sangat curam. Darla dan Lunna menatap satu sama lain.
"Dalla kenapa Mommy mu membeli tempat tidul yang sangat tinggi?!" keluh Lunna sambil cemberut.
Darla mengedikkan bahu, karena memang dia tak tahu harus menjawab apa. Pasalnya setiap kali ia mau tidur. Darla selalu di angkat oleh Benjamin untuk naik ke kasur.
Lunna membuang napas dengan kasar.
...****************...
Sementara itu, di taman belakang.
Tampaknya sepasang kekasih itu, masih saling berpelukan satu sama lain.
Leon masih mendengar rintihan tangisan Lily, yang belum juga mereda.
Dia tahu kekasihnya masih mau berada di sini, dan mengingat kenangan indah yang terangkai di benak Lily, pikirnya.
"Aku akan memelukmu di saat kau sedih," ucap Leon tiba-tiba, sambil mengeratkan dekapannya.
"Honey, tatap mata ku." Leon melonggarkan pelukan.
Lily pun menuruti perkataan tambatan hatinya, dia tersenyum getir.
Leon menatap lekat kedua mata Lily, yang terlihat sembab dan memerah.
"Aku akan membawa mu melewati kegelapan. Sampai kita bisa melihat matahari lagi. Jadi istirahatkan pikiranmu dan menangislah." Leon berbisik di telinga kekasihnya dan kembali merengkuhnya.
Leon membiarkan Lily untuk menumpahkan semua perasaannya saat ini.
Lily menutup kelopak matanya. Buliran air matanya mengalir deras, saat mendengar perkataan Leon.
"Ketahuilah bahwa aku bersama denganmu di sini, Saat kau tak bisa mengangkat bebanmu itu. Percayalah padaku, kau pasti bisa! Di saat kau merasa lemah, biarkan aku menjadi satu-satunya andalanmu." Leon melepaskan pelukkan.
"Buka matamu Honey," perintah Leon.
Lily membuka perlahan kelopak matanya, dia merasa tenang. Ketika Leon memberikannya kekuatan. Mereka saling pandang satu sama lain.
"Aku akan mengusap air matamu," ucap Leon sambil mengusap jejak air mata Lily di kedua pipi.
"Aku akan berjalan bersamamu di lautan yang mengamuk, dan aku tak akan pernah meninggalkan mu." Leon mendekatkan bibirnya pada Lily dan mengecup lembut bibir ranum kekasihnya.
Lily memejamkan kembali kelopak matanya dan merasakan sentuhan bibir kekasihnya.
Keduanya menyalurkan perasaannya masing-masing di guyuran hujan yang terlihat mulai mereda.
......................
"Jo, kenapa kau pergi mendahului ku," gumam Anastasya pelan sambil memegang kemeja hitam milik suaminya.
__ADS_1
"Seharusnya kau mengajak ku." Anastasya tersenyum getir dan mengigit bibir bawahnya.
"Kau tak mau melihat cicit mu nanti?" tanyanya menatap pakaian tersebut.
"Kau pasti senang, tidak ada yang mengomeli mu lagi kan?"
"Sekarang kau pasti sudah bersama ibu mu di sana? tanyanya walaupun tak ada orang di ruangan kamarnya.
"Jo, aku merindukan mu." Runtuh sudah air mata Anastasya, tetesan air matanya membasahi kemeja suaminya.
"Tunggu aku ya, di sana. Sekarang aku harus menjaga anak dan cucu-cucu kita." Anastasya merebahkan dirinya di atas kasur sambil memeluk kemeja Jonathan.
......................
"Yey! Kita berhasil!" sorak Darla dan Lunna bersamaan karena telah berhasil turun dari tempat tidur.
"Ayo cepatan Lunna, Dalla pengen ketemu Mommy," pinta Darla.
"Oke, sekalang kita ke balkon!" ajak Lunna.
"Kenapa ke balkon?" tanyanya bingung.
"Tentu saja mau bertemu dengan Mommy mu."
"Ha?!" Darla menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tapi kan...."
"Ih sudahlah, ayo cepat!" sela Lunna sambi menggandeng tangan Darla.
Kaki mungil mereka berjalan menuju balkon kamar pasutri tersebut.
"Hati-hati licin!" peringat Lunna. Ia menuntun Darla berdiri agak jauh dari pagar pembatas. Untung saja hujan telah reda.
"Lalu?" Darla tampak bingung.
Darla menuruti perkataan gadis belia yang berlesung pipit itu.
"Mommy kita selalu ada di atas langit Dalla. Meleka selalu melihat kita, hanya saja kita yang tidak bisa melihat meleka," jelas Lunna singkat, sebab Darla keheranan saat dia menyuruhnya untuk menengadahkan kepala ke atas.
"Benalkah? Tapi kita bisa bicala sama meleka kan?"
"Bisa! Dala bicala saja, sambil lihat ke atas."
"Kalau begitu Dalla mau bicala sama Mommy ah!" serunya dengan raut muka senang.
Lunna mengangguk.
"Mommyy, Dalla lindu Mommy. Mommy kapan ke cini, jangan lama-lama ya Mommy. Nanti Dalla ngambek loh!" Darla melipat kedua tangannya di dada.
"Lunna juga lindu Mom, Lunna ngak tahu wajah Mommy gimana. Tapi pasti Mommy cantik cekali. Sama kayak Lunna yang cantik ini kan?"
Mendengar perkataan Lunna, Darla mengalihkan pandangannya pada Lunna.
"Pede cekali!" sergahnya sambil menggelengkan kepala.
"Itu memang faktanya Dalla!" protes Lunna sambil mengerlingkan matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Los Angeles.
Di lain tempat.
Tampak seorang pria bertubuh kekar baru saja turun dari pesawat. Dia mengayunkan kedua tungkainya, menuju mobil mewah merk limosin berwarna hitam pekat.
"Di mana Uncle?" tanyanya kepada supir di depan, saat sudah masuk ke dalam kendaraan.
__ADS_1
"Mister berada di diskotik," jawab supir cepat.
"Antarkan aku ke sana!" perintahnya.
"Baik Tuan."
Kurang lebih lima belas menit mobil tersebut memasuki pelataran diskotik.
Arnold melangkah ke ambang pintu masuk. Namun dua orang bertubuh tinggi, dan tegap menghalangi jalannya. Mereka menyeringai.
"Password!" ucap salah satu pengawal bertindik di hidungnya.
Arnold menghela napas. "Are you kidding me!?"
Satu pengawal bertato di seluruh tubuhnya mengangkat alis matanya. Mereka tak membalas perkataan pria di hadapannya.
"Picasso!" seru Arnold sambil menatap tajam.
Reflek mereka menggeser tubuhnya.
Arnold pun segera melangkah cepat kedalam, sambil berdecak kesal.
"Cihhh!!"
Suara musik menggema di dalam diskotik, bau alkohol menyeruak ke indera penciumannya. Asap mengepul memenuhi ruangan tersebut. Arnold tentu saja menyukainya.
Kerumuman manusia berlengak-lengok menikmati dunia malam yang memabukkan. Mereka menghentakkan kakinya seirama dengan alunan musik DJ.
Arnold menelisik keberadaan seseorang. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Sir Arnold!" panggil seseorang dari arah belakang.
Lantas Arnold memutar tubuhnya.
"Yes!"
"Mister menunggu anda di ruangan. Mari!" ucap seorang pria berkulit hitam.
Arnold mengangguk, kemudian mengikuti langkah kaki pria di hadapannya.
"Silahkan!" Pria berkulit hitam itu membuka tirai berwarna merah dan mempersilahkannya untuk masuk.
"Uncle!" panggil Arnold saat sudah di dalam ruangan.
Seorang pria tua yang memiliki tato di wajahnya duduk dengan begitu angkuh dan di apit dua orang wanita berpakaian bikini.
Pablo bangkit berdiri, dia menatap tajam pada Arnold. Dia mendekati Arnold.
Bugh.
Pablo melayangkan pukulan pada perut Arnold.
"Uncle apa salah ku?" tanyanya sambil menahan sakit.
"Kau masih bertanya?!" murka Pablo dengan sorot mata dingin dan tajam.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.