
***
"Kau kenapa?" Dahi Lily berkerut. Wanita berparas rupawan itu memperhatikan dengan intens wajah Breslin, yang tampak membiru. Lily sangat yakin ada sesuatu yang tidak beres.
Breslin tidak langsung menjawab. Dia tengah mengatur ritme pernapasannya. Sepertinya lelaki itu berlari untuk menemui Lily.
"Astaga, Lunna! Darla!" Lily tiba-tiba teringat keponakan dan calon anaknya. Kedua matanya beralih memandang ke depan. Mobil pick up sudah tidak terlihat lagi.
Lily gelisah.
"Nyonya! Tuan Leon mengatakan kita kembali saja dulu ke hotel. Tadi Pablo menelponnya." Breslin menjelaskan dengan napas yang tersengal-sengal.
"Benarkah? Lalu? Apa kata bedebah itu?!" Lily tidak sabaran, pikirannya bercabang-cabang. Belum lagi kedatangan si Kembar yang membuat kepalanya serasa mau meledak.
"Hey bok!" sela Marimar yang baru saja tiba, menghampirinya. Pria gemulai itu membawa beberapa kantong belanjaan yang tidak tahu berisi apa di dalamnya. Marimar tersenyum sumringah.
Tidak ketinggalan pula Kendrick dan Nickolas mengekori Marimar dari belakang.
"Mommy!" panggil Kendrick dan Nickolas serempak. Nickolas menebarkan senyum pepsodentnya. Sementara, Kendrick menatap datar tanpa ekspresi.
Seketika kedua mata Lily melebar sempurna. Dia sudah kehabisan kata-kata. Banyak pertanyaan yang bersarang di otaknya saat ini. Lily tidak menjawab sapaan Marimar dan anaknya. Wanita berambut panjang itu membuang napas dengan kasar.
"Baiklah, sekarang kita ke hotel!" ajak Lily sambil menuntun si Kembar. "Kau belum menjawab pertanyaan ku!" Lily meminta penjelasan luka lebam yang terdapat di wajah Breslin.
"Aku berkelahi dengan Lexi, Nyonya," ucap Breslin pelan tanpa menatap lawan bicara. Dia memalingkan wajah.
"Ckk, kalian seperti anak kecil saja!" Lily mengayunkan kaki sembari menggandeng tangan buah hatinya.
***
Tidak butuh waktu lama.
Lily sudah berada di hotel dan segera mencari kamar untuk si Kembar beristirahat.
"Mom!" panggil Kendrick seraya mendudukkan bokong di tepi tempat tidur.
"Iya, ada apa?" Lily sibuk menaruh pakaian anak-anaknya di dalam lemari khusus.
"Mom, tadi kami di bandara bertemu Aunty Yellow."
Ketika di bagian di pemeriksaan, Kendrick tak sengaja bertemu dengan teman Lily saat ia tinggal di Moskow, Rusia. Wanita berambut kuning yang menghalangi jalan Marimar adalah Yellow.
"Yellow ke Los Angeles? Hmmm." Lily bertanya dengan dirinya sendiri. Ada urusan apa temannya itu ke LA. Bukankah temannya itu sibuk dengan pemotretan di Moskow, Lily hanya bisa menerka-nerka.
Suara ketukan pintu kamar, mengusik obrolan Lily dan Kendrick.
Lantas Lily segera berjalan cepat menuju ambang pintu.
"Honey, kau tidak apa-apa?" Leon menelisik tubuh Lily, dari atas hingga bawah. Raut wajahnya terlihat cemas.
"Aku tidak apa-apa, lihatlah aku masih hidup!" jawab Lily cepat.
Leon segera menarik pinggang Lily dan mengecup bibir ranum kekasihnya.
Kendrick segera memalingkan muka, saat melihat kemesraan Mommy dan calon Daddynya.
"Leon!" ucap Lily tegas setelah Leon melepaskan tautan bibirnya. "Ada, Kendrick!"
"Sorry, Honey, bibirmu terlalu candu bagi ku!" kelakar Leon sambil mengusap jejak ciumannya.
__ADS_1
"Maafkan Daddy, Ken." Leon mengalihkan pandangan pada Kendrick, yang sedari tadi mencari objek di depan agar tidak melihat adegan dewasa itu.
Kendrick mengangguk sedikit.
"Honey, kita harus berkumpul!" Leon menatap Lily dengan raut wajah yang serius.
"Baiklah, tunggu sebentar, Honey!"
Lily berjalan cepat menghampiri Kendrick, dan berjongkok di hadapannya. "Ken, tunggulah di sini. Ada yang harus Mommy kerjakan, tidur siang lah menyusul adik-adikmu," ucap Lily sembari melirik sejenak Nickolas dan Samuel yang sudah terkapar di tempat tidur.
"Iya, Mommy." Kendrick tersenyum simpul.
Lily mengecup sekilas kening Kendrick. "Ruangan AC sudah Mommy atur, jika masih kurang dingin, remote control ada di situ ya," ucap Lily dengan menoleh ke nakas kecil yang berada di samping bed. "Bye, dear."
Lily menganyunkan kaki ke ambang pintu. "Nanti Mommy akan menyuruh Marco ke sini ya, jika butuh sesuatu mintalah padanya."
"Iya, Mom. Bye." Kendrick mengangguk paham.
"Bye, Ken!" Leon melambaikan tangan.
"Bye, Da-d." Kendrick masih kaku saat mengucapkan panggilan Daddy kepada Leon. Dia masih beradaptasi.
Kedua pasangan yang gagal menikah itu mengulum senyum, saat mendengar panggilan Kendrick yang terbata-bata. Setidaknya Kendrick sudah berusaha. Mengingat putra sulungnya merupakan tipe anak yang dingin dan pendiam.
...****************...
"Jadi Leon, apa kata Pablo? Apakah Lunna dan Darla baik-baik saja?" Cecar Lily beruntun. Sedari tadi dia penasaran mengapa Leon menghentikan pencarian Darla dan Lunna.
Saat ini Lily, Leon, Rey, Maximus, Lexi dan Breslin tengah berkumpul di satu bilik yang disiapkan si pemilik hotel.
Leon menghela napas. "Pablo menghubungi ku jika ingin mengambil Darla dan Lunna harus menunggu persetujuannya. Jika tidak, dia akan...."
"Cukup Leon!" sela Lily sambil berkacak pinggang, dia mengusap kasar wajah cantiknya itu. "Kenapa harus menunggu komando darinya, apa yang dia inginkan Leon? Dia itu gila atau apa! Daddy, Belle, dan Benjamin, semua dia ambil dari hidup ku!" Dada Lily mulai naik turun.
"Honey." Leon merengkuh kekasihnya dan mendekapnya erat. Lily adalah seorang wanita yang rapuh. Walaupun dari luar dia terlihat kuat dan tegar. "Aku berjanji akan menjaga kalian, sekarang kita harus mengatur strategi ya," ucap Leon pelan sambil mengusap punggung Lily.
Lily pun membalas pelukkan Leon. Dia menumpahkan semua luapan emosinya.
Lily lelah dengan semua rentetan yang terjadi di dalam hidupnya!
Leon melabuhan kecupan di kening Lily dengan begitu lembut, memberikannya ketenangan.
Sementara beberapa pasang mata yang melihat interaksi pasangan itu hanya bisa membatin. Entah apa yang sedang mereka pikirkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lain tempat.
Pablo tengah menyenderkan kepala di sofa empuk, kedua matanya terpejam sembari menghirup barang haram. Benda yang berbentuk serbuk itu selalu membuat dirinya melambung tinggi hingga ke puncak nirwana.
"Mister!" Rodrigo menghampiri dengan membungkukan sedikit badannya.
"Hmmm," ucap Pablo tanpa membuka mata.
"Menurut pantuan Swedish, Ri dan Li di sekap oleh Montero." Rodrigo mendapatkan perintah dari Pablo untuk mencari tahu informasi mengenai kabar burung Lunna dan Darla yang kabur. Yaps, Pablo tidak serta merta mempercayai anak buahnya. Benar dugaannya, kedua bocah itu kabur dan tidak tahu berada di mana sekarang. Dengan sigap Pablo menyuruh anak buahnya mencari dua anak kecil yang mirip Darla dan Lunna. Dia pun bermain dengan Lily dan Leon tadi siang.
"Good!" Pablo membuka matanya perlahan dan menatap langit-langit ruangan. "Permainan akan di mulai." Seringai licik terbit di wajahnya.
"Mister!" Rodrigo tak bergeming di posisi semula. "Tuan Harlow sudah tiba," ucapnya pelan sembari menengakkan tubuh.
__ADS_1
Pablo melirik sekilas. "Suruh dia masuk!" Dia mengubah posisi badannya.
"Ada perlu apa kau memanggil ku kemari." Pria yang baru saja masuk ke ruangan ialah Jeff Harlow, pemimpin Gangsta Paradise dahulu. Sekarang dia sudah tidak aktif lagi dalam kelompoknya. Sebab Jeff ingin fokus membina keluarga kecilnya. Jef bukanlah musuh ataupun teman Pablo. Akan tetapi Pablo membutuhkan Jeff di dalam bisnisnya. Jeff bersikap netral, yang terpenting bisnis yang di kembangkan Pablo menguntungkannya juga.
"Duduklah dulu!" Pablo mempersilahkan Jeff untuk duduk di sofa depannya.
Jef menjatuhkan bokong di sofa berwarna hitam pekat itu. "Langsung saja, aku tidak punya banyak waktu."
Pablo tersenyum kecil. "Kau tahu Jonathan sudah mati!"
Jef tidak langsung menjawab, raut wajahnya tidak bisa terbaca. "Lalu kau senang? Sampai kapan kau bersikap seperti anak kecil?" Jeff bertanya dengan ekpresi datar.
"Tentu saja aku senang, dan sekarang aku sedang bermain dengan anaknya. Putri sulungnya sangat lah cantik!"
"Biar ku tebak, apa warna matanya mirip Kateryn." Jeff ingat betul dengan balas dendam Pablo di karenakan adik angkatnya.
Pablo tak menyahut, dia mengalihkan pandangan ke luar jendela.
"Mau sampai kapan Pablo, itu semua kesalahan adik mu. Dia yang mengakhiri hidupnya demi Jonathan yang tidak pernah membalas cintanya. Jangan kau salahkan Jonathan, yang kau jadikan tempat pelampiasan mu. Karena kau mencintai Kateryn kan?" Jeff menaikan sebelah alis matanya.
"Apa maksud mu?" Pablo mulai bereaksi, dia menatap tajam lawan bicara.
"Hahaha, kau pikir aku tidak tahu. Kau yang memperkosa Kateryn pada malam itu kan? Dengan mengkambing hitamkan Jonathan. Apakah Arnold tahu kalau kau adalah ayah biologisnya?"
Jef mengintimidasi Pablo. Sebab Kateryn kabur ke Indonesia mencari Jonathan namun tidak ketemu hingga ia pun bunuh diri setelah melahirkan Arnold.
"Cukup!" Pablo bangkit berdiri.
"Pablo, sebenarnya apa mau mu? Tidak bisakah kau berdamai dengan masa lalu mu? Apa yang kau cari? Kau iri kan pada Jonathan sebab dia mendapatkan cinta dari mendiang adikmu, sementara kau tidak!" Jeff mengelengkan kepala.
"Aku bilang diam!" Pablo berucap dengan tegas.
"Tunggu dulu, apakah sekarang kau terobsesi dengan putrinya?" Jeff menebak karena ekor matanya tak sengaja melihat foto yang tergeletak di atas meja.
Pablo terdiam tidak membalas perkataan Jeff.
"Kau gila Pablo! Dia tak sebanding dengan mu! Kau ingin apakan dia mengurungnya? Atau menjadikannya istri? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mu! Dia cocok sebagai anakmu!" Jeff bangkit bediri.
"Satu hal yang harus kau tahu Pablo, kau tidak selama hidup di dunia ini. Bertobatlah seperti mendiang Jonathan, dia memilih jalannya sendiri! Dan sekarang dia sudah tenang berada di sana! Jangan menganggu kehidupan putrinya!" pungkas Jeff, dia mengayunkan tungkai kaki menuju ambang pintu.
"Haha!" Pablo tertawa sejenak, membuat Jeff menghentikan pergerakkan tangannya untuk membuka gagang pintu.
"Jangan kau ceramahi aku! Bagaimana dengan istri dan putra kembar mu? Apakah sehat?" Pablo menyeringai licik.
"Selalu sehat! Kau jangan mengertak ku Pablo. Jangan lupakan aku adalah pemimpin Gangsta Paradise, walaupun aku vakum, dengan satu kali perintah, bisnis mu akan hancur. Tanpa ku kau bukan lah apa-apa! Ingat, di atas langit masih ada langit!"
Jeff membalas tanpa menatap lawan bicaranya. Dia membuka pintu dan berjalan cepat keluar ruangan.
Pablo mengepalkan kedua tangan. "Rodrigo!" panggilnya.
Rodrigo berjalan tergesa-gesa menghampiri atasannya.
Kedua mata Pablo menyala. Aura yang mengerikan dan mencekam menyelimuti ruangan. "Jalankan rencana!"
.
.
.
__ADS_1
.
.