
Hari pertama Lily berkerja sudah banyak menguras tenaganya. Pasalnya nanti sore akan di adakan pertemuan mendadak dengan kolega antar perusahaan, di salah satu Restaurant ternama di Jakarta.
Mereka di utus oleh Pimpinan di anak perusahaan Marq. Atasannya Milano mengajak Lily dan Melisa untuk menghadiri pertemuan itu. Mau tidak mau Lily pun mengiyakan ajakan Milano.
Sedari tadi Lily sudah tidak fokus berkerja, setelah video viral yang di bicarakan oleh Marimar. Lily tampak gusar.
Lily mengambil handphone di dalam tas dan melihat satu notifikasi whatsapp dari Belle. Lily pun segera membuka isi pesan tersebut. Dia menonton ulang video pertikaian antara dirinya dan Rissa.
"Oh, God. Untung saja wajah ku tak terlihat" batin Lily
Belle sedang mengetik.
"Kak, are you okay?"
"I'm fine dear."
"Belle aku boleh minta tolong untuk menjaga si Kembar. Aku akan pulang malam. Mereka akan tiba di apartment sebentar lagi."
"Okay, kak. Biar aku saja yang ke sana. Darla sudah merindukan si Kembar."
"Baiklah, terimakasih adik ku yang bawel. Berhati-hatilah di jalan." Tidak lupa Lily mengshare location tempat apartmentnya berada.
Lily beralih memencet keyboard di layar. Dia menulis pesan kepada Gissel, mengatakan bahwa dia tak bisa menjemput si Kembar di sekolah, Lily meminta Gissel untuk membawa pulang si Kembar ke apartment menggunakan taxi saja.
Selesai mengirimkan pesan singkat kepada Gissel. Lily menaruh kembali handphone ke dalam tas. Dia segera melanjutkan perkerjaannya sambil mengecek data perusahaan di salah satu file khusus.
••
Lily memijit pelipis kening, entah mengapa ketika melihat beberapa data perusahaan, sangatlah janggal. Lily menebak ada dua pelaku di dalam perusahaan yang memanipulasi data. Ingin rasanya dia langsung menunjuk orang yang sudah dia curigai. Tapi tanpa bukti yang kuat, tidak ada gunanya.
"Bokk!" sentak Marimar dari belakang.
Lily reflek mengelus dada.
"Astaga, Marimar. Kau membuat ku jantungan!"
Marimar tertawa, melihat tingkah Lily.
"Makanya cyin, jangan sering melamun. Entar kesambet eetaaan." Tangan kanan Marimar melambai-lambai.
Lily terkekeh mendengar perkataan Marimar.
"Lily, you yakin mau ikut Pak Milano dan Melisa. Entar you jadi obat nyamuk. Eyke ngerti kok you, sebagai karyawan baru ngak berani nolak. Tapi jangan deh, yang ada takut runyem," jelas Marimar dengan serius.
Lily mengerutkan dahi mendengar perkataan Marimar.
Seakan mengerti dengan raut wajah Lily. Marimar segera mendekatkan tubuh, dia pun berbisik di daun telinga Lily. Entah apa yang di bisikan, "Eyke kasih tahu ya, Pak Mill sama Melisa ....."
Seketika raut muka Lily berubah, sepersekian detik, Lily merubah raut wajahnya.
"Dengar-dengar nanti CEO yang you temuin. Itu duda loh." Marimar mengedipkan mata centil.
Lily terkekeh melihat tingkah absurd Marimar, "Memangnya kenapa kalau duda?"
"Ihh, you kan janda siapa tahu aja cucok meong. Sambil menyelam minum air."
Lily kembali terkekeh.
"No.. no kebahagianku cukup Si Kembar saja," ucapnya sambil mengangkat jari telunjuk.
"Ihhh udah ahh, yang penting akika udah kasi tahu. Pulang duyuuu ya. Bye cantik."
Marimar mengambil tas pinky kesayangannya dan segera pergi berlalu meninggalkan Lily yang masih sibuk menyiapkan presentasi untuk Melisa nantinya.
__ADS_1
•
•
•
Restaurant Burung Tetangga
Lily tak menyangka akan bertemu lagi dengan pria yang sudah membuatnya malu. Jika mengingat pertemuan pertama dia ingin bersembunyi saja kala itu. Bagaimanapun Lily yang bersalah. Karna dia sudah salah sangka terhadap pria tersebut.
Sedari tadi Lily menundukkan kepala saat menyadari rekan kolega perusahaan adalah Ayah Lalunna. Lily tak berani menatap ke depan. Ternyata duda yang di maksud oleh Marimar adalah Leon Andersean, seorang CEO dari perusahaan Lunna. Corp.
"Pantas saja, Lunna menganggapku ibu. Malang sekali nasib mu nak," batin Lily.
Leon mendengarkan penjelasan dari Melisa mengenai kerjasama antar perusahaan. Namun kedua matanya sedari tadi sibuk memandang sosok wanita yang di idamkan Lunna untuk menjadi ibu.
Tatapan penuh arti Leon amat misterius. Sudut bibir Leon naik sedikit melihat gelagat Lily. Secepat kilat Leon merubah ekspresinya.
Lexi yang berada tidak jauh dari Leon, tersenyum simpul melihat tingkah Lily. Ternyata dunia sangatlah sempit.
"Bagaimana cara memulainya ya." Batin Lexi.
Lexi kemarin ingat jika Lunna memintanya untuk menjadi cupid love untuk Leon dan Lily. Sebuah misi rahasia antara dirinya dan Lunna.
"Lexi, apakah mau membantu Lunna." Wajah mode on puppy eyes Lunna di hidupkannya. Kedua bola mata bulat mungil itu begitu menghipnotis Lexi.
"Membantu. Katakan saja nona?" Lexi mengerutkan dahi.
"Bisakah Lexi menjadi "Cupid Love" untuk Mommy Lily dan Daddy?" Lunna masih mengaktifkan wajah puppy eyes.
Lexi terkejut dari mana Lunna mendengar kata "Cupid Love". Sejenak Lexi menghela napas.
"Darimana Nona mendengar kata cupid love,?" tanyanya pelan.
Begitulah permintaan Lunna kala itu, Lexi semula menolak. Namun demi Lunna, dia akan mewujudkan keinginannya.
"Berjuanglah, Lex!" Batin Lexi tanpa sadar tangannya terkepal seperti memberikan semangat pada diri sendiri.
Sekelabat ide muncul di kepala Lexi. Satu senyuman merekah di bibirnya.
"Lex!" panggil Leon secara tiba-tiba.
Lexi terkejut mendengar panggilan Leon.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada, tuan!" Gestur tubuh Lexi tak sesuai dengan perkataannya. Dasar Lexi udah tahu Leon bisa membaca pikiran orang.
45 menit kemudian.
Setelah selesai dengan pertemuan antar kolega perusahaan. Ketiga utusan cabang perusahaan Marq. Pamit undur diri. Namun belum sampai Lily melangkahkan kaki keluar dari ruangan. Lexi menghentikan langkah kaki Lily.
"Nyonya Lily!" panggil Lexi dari arah belakang.
Lily reflek memutar tubuh. Dia tampak heran.
"Iya, ada apa?"
"Tuan ingin berbicara dengan anda." Lexi melirik sekilas ke arah Leon.
Lily mengernyitkan dahi, mengapa Leon ingin berbicara dengannya. Dia pun menoleh ke arah Leon sejena, mencoba membaca isi pikiran pria tersebut.
"Baiklah."
__ADS_1
Lily segera duduk kembali ke tempat semula.
"Apa yang ingin Tuan bicarakan?"
"Kenapa kau berkerja di cabang perusahaan ayah mu,?" tanya Leon to the point.
Deg.
Lily terkejut dengan pertanyaan Leon, mengapa pria yang baru saja di kenalnya. Bisa mengetahui latar belakang keluarganya, Lily hanya bisa menerka-nerka.
Leon melihat dengan intens raut wajah Lily.
"Bukannya aku ikut campur. Lunna sangat dekat dengan mu. Tidak salah kan aku sebagai seorang ayah ingin mengetahui seseorang yang baru di kenalnya. Kau tahu sendirikan Lunna kemarin baru saja di culik." ucap Leon dengan ekspresi datar.
Lily mulai paham dengan perkataan Leon. Lily menghela napas.
"Jika aku berkata jujur. Apa keuntungan yang anda dapat?"
Leon tersenyum sinis mendengar pertanyaan Lily.
Lily kembali melanjutkan "Tidak ada kan keuntungan yang anda dapatkan?"
Leon tak menyahut pertanyaan dari wanita yang mengusik pikirannya beberapa hari ini. Kedua matanya tak bergeming entah apa yang di perhatikan.
"Jika tidak ada lagi yang di bicarakan. Aku pemisi." seraya Lily bangkit berdiri dari kursi.
"Tunggu!" seru Leon sambil berdiri.
Pergerakan Lily pun terhenti, dia bingung dengan sikap Leon. Terlihat Leon melangkahkan kaki ke arah Lily, entah mengapa degup jantung Lily saat ini berdetak sangat cepat.
Suara sepatu pantofel itu menggema di dalam ruangan. Leon berjalan cepat, aroma tubuh Leon yang maskulin menyeruak ke indera penciuman Lily.
Seketika Leon mengangkat satu tangan.
Lily reflek menutup kedua matanya.
"Ada bulu mata mu yang jatuh."
Leon mengambil bulu mata di pipi Lily dengan pelan. Dia dengan jelas melihat ekspresi Lily seperti orang ketakutan. Leon segera menyembunyikan ekspresinya.
Kedua mata Lily pun terbuka. Manik mata kedua manusia itu bertabrakan. Suara hembusan nafas Leon terdengar di telinga Lily. Secepat mungkin Lily memalingkan wajah.
Rona merah tampak di kedua pipi Lily. Lagi dan lagi pria ini selalu saja membuatnya salah tingkah.
"Terimakasih Tuan. Aku permisi." Lily segera keluar dari dalam ruangan. Dia sangat malu.
Leon mematung dengan aksinya. Dia melihat Lily berlalu pergi.
Lexi yang berada di ruangan melihat dengan jelas interaksi antara Leon dan Lily. Lexi menggembangkan senyuman.
Leon tak pernah memperlakukan wanita seperti itu. Leon terkesan cuek, namun pada hari ini, detik ini sebuah sikap yang di tunjukan seorang Leon Andersean kepada seorang wanita sangatlah berbeda.
"Sepertinya Tuan menyukai Nyonya Lily. Hanya saja dia belum menyadarinya. Nona sebentar lagi akan mempunyai seorang Ibu. Rupanya tugas ku sangat banyak sebagai Cupid Love. Tidak apa-apa! Semangat Lexiiiii." Batin Lexi menyemangati dirinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.