Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 49. Today's News


__ADS_3

Keesokan harinya.


Media masa memberitakan, penemuan dua orang mayat wanita tanpa identitas dalam keadaan kondisi tubuh dan wajah yang telah hancur.


Dari informasi yang diperoleh, jasad ditemukan oleh dua orang pemuda yang hendak membersihkan sampah di area Tempat Pembuangan Sampah Bantar, pada hari Minggu kemarin, tepat pukul 16.40 WIB.


Penemuan jasad itu, tentu saja menggemparkan masyarakat di tanah air.


Pihak Kepolisian setempat, belum bisa mengenali jenazah tersebut. Sebab saat dievakuasi, pihaknya tidak menemukan satu pun tanda pengenal diri. Publik dibuat penasaran dengan pemberitaan hangat yang diliput oleh stasiun televisi. Mereka menerka-nerka siapakah pembunuh kejam, yang melenyapkan nyawa kedua wanita tersebut.


**


Perusahaan Co. Marq.


"Eh, bok. You ada nonton berita ngak?" tanya Marimar sambil menatap ke arah Lily.


"Tentu saja ada Mar," jawab Lily cepat, tanpa menatap lawan bicaranya, seraya kedua tangannya dengan lincah tak berhenti mengetik di keyboard.


"Ih serem banget deh, eyke ngak sanggup bok lihat foto di instagram." Marimar bergedik ngeri, saat melihat salah satu foto yang tak sengaja diambil oleh warga ditempat kejadian.


Lily tak menyahut, akan tetapi dia membalas perkataan Marimar dengan menganggukkan kepala. Dia ingin segera menyelesaikan perkerjaannya tepat waktu.


"Terus ya bok, masak matanya sampe keluar gitu. Ih akika ngak bisa tidur nanti malam," jelas Marimar dengan menunjukkan raut wajah yang takut, sembari menepuk pundak Lily.


Lily pun menoleh ke arah Marimar. "Emangnya kau takut kenapa sih Mar?" tanya Lily penasaran.


"Eyke takut hantu," tutur Marimar cepat.


"Oh my God, Mar. Tidak ada hantu, kau terlalu banyak berhalusinasi. Bersihkan pikiranmu Mar." Lily menghembuskan napas dengan kasar, dia mengalihkan pandangan pada layar monitor didepannya.


"Ih, Lily mah." Marimar terlihat kesal saat mendengar perkataan Lily, yang mengatakan bahwa dia terlalu berlebihan dalam berkhayal. Dia melipat kedua tangannya di dada seraya memanyunkan bibir.


Seketika, terlintas satu kejadian beberapa hari yang lalu, dia baru saja teringat. "Lily!" panggil Marimar dengan intonasi sedikit tinggi.


Lily sontak terkejut mendengar panggilan Marimar. Satu tangannya reflek mengusap dadanya dengan pelan.


"Ada apa sih Mar?! Kau selalu saja membuatku jantungan!" balas Lily sembari menatap tajam.


Marimar malah terkekeh pelan saat melihat ekspresi Lily.


"Ck, kau sangat menyebalkan!" Lily berdecak kesal. "Ada apa?" Lily bertanya ketus.


"You ingat ngak pas kita yang beli kopi ada lihat darah di jalan raya. Asal you tahu ya paginya, pas aku chek udah ngak ada, pasti pembunuhnya langsung bersihin gitu ihhh jadi takut." Marimar menebak sembari menggerakkan gestur tubuhnya dengan gemulai.


Lily terdiam berusaha mencerna perkataan Marimar. Dia menghembuskan napas dengan pelan. Ia tak membalas perkataan rekan kerjanya itu.


Tepat jam dua belas siang, karyawan perusahaan Co. Marq berhamburan keluar beristirahat sejenak. Ada yang pergi ke kantin, ada pula yang mencari tempat di luar kantor, untuk mengisi kekosongan lambungnya.


Saat ini, Lily dan Leon berada di cafe Mint.


Tampak mereka menikmati kebersamaan, selagi menunggu makanan tiba. Mereka duduk berdekatan diruangan VIP.


"Honey, kau tahu mengenai berita hari ini?" tanya Lily sambil menatap dalam.


"Tentu saja, Honey." Leon menyelipkan rambut Lily ditelinganya. "Ada apa?" Leon bertanya balik.


Lily menghembuskan napas dengan pelan. "Tidak ada, Leon. Hanya saja aku merasa aneh," ucap Lily sembari merebahkan kepala di pundak Leon.

__ADS_1


Mendengar perkataan Lily, Leon mengerutkan dahi.


"Aneh kenapa, apakah ada sesuatu yang kau risaukan Honey, katakanlah!" seru Leon dengan pelan sambil mengelus kepala Lily.


Lily melirik sekilas ke arah Leon, dia kembali mengalihkan pandangan kedepan.


"Honey, tadi aku tak sengaja melihat foto mayat dari salah satu korban. Ada satu tanda yang tak asing di tubuh korban."


"Tanda apa, Honey?"


"Ada satu tato yang tidak asing dimataku, jika tak salah dulu Rissa memiliki tato yang berbentuk kupu-kupu di tangan kanannya dan dibawahnya ada ukiran inisial nama kami, R dan L," tutur Lily dengan pelan.


"Kau yakin Honey? Mungkin kau salah lihat?"


"Aku sangat yakin Honey!" jawab Lily dengan penuh keyakinan sembari merubah posisi kepalanya menjadi semula dengan cepat.


Leon tak membalas perkataan Lily, dia menatap lekat.


"Lalu, kau merisaukan apa Honey, kalau memang dia adalah Rissa?" tanya Leon berusaha menyelami isi pikiran Lily.


"Aku hanya kasihan pada wanita malang itu, jika itu memang benar Rissa," jawab Lily tanpa ragu.


"Kasihan? Apakah kau sudah memaafkan kesalahannya?"


"Aku belum memaafkannya, 100 persen!"


Lily melipat kedua tangannya di dada.


Leon terkekeh pelan melihat gelagat kekasihnya.


Leon segera menarik tubuh ramping Lily dan mendekapnya dengan erat. Dia melabuhkan kecupan sekilas di kening kekasihnya.


Lily menikmati perlakukan dari kekasihnya itu, seketika darahnya berdesir. Leon selalu saja membuat jantungnya berkerja dengan cepat.


"Honey, dimataku kau tidak jahat. Malah aku juga berterimakasih padanya. Kalau dia tidak berselingkuh dengan mantan suamimu. Aku mungkin tidak akan bisa memilikimu," ucap Leon sembari melepaskan pelukan dengan pelan.


Lily tersenyum simpul. Kedua matanya tak bergeming menatap makhluk ciptaan Tuhan yang begitu sempurna dihadapannya. Dia bersyukur dipertemukan dengan Leon.


"Iya, kita harus berterimakasih pada Rissa. Jika bukan karena dia aku mungkin tak akan berpisah dengan Arnold," ucap Lily rona merah terukir di pipinya.


"Kalaupun kau tidak berpisah dengan Arnold, aku akan menculikmu!" seru Leon sembari memberikan seringai kecil di wajahnya.


"Kau mulai bertingkah Leon," ucap Lily sambil memutar malas kedua bola matanya.


"Itu memang faktanya, Honey. Aku akan melakukan segala cara agar kau bisa menjadi milikku!" seru Leon.


Lily menghembuskan napas dengan pelan sembari memanyunkan bibirnya.


Leon melihat tingkah Lily yang terlihat menggemaskan dimatanya. "Honey, jangan menggodaku."


Lily mengerutkan dahi. "Apa maksudmu Leon, aku tidak... "


Seketika Leon merengkuh kembali tubuh Lily. Dia men**um dengan cepat bibir seksi Lily. Sedari tadi dia sudah tidak tahan ingin menyentuh benda mungil itu, yang selalu mencuri perhatiannya.


Leon ******* pelan sembari men**git bibir bawah Lily. Dia menyesap cepat benda mungil tersebut, semakin lama napasnya keduanya semakin memburu.


Naluri Leon tak mau melepaskan tautan, dia memegang tengkuk Lily dan memperdalam lagi permainannya. Keduanya memejamkan mata, menikmati desiran ombak cinta yang menjalar direlung hati.

__ADS_1


***


Tampak seorang pria kekar sedang menyesap benda pipih yang mengandung nikotin, asap mengepul didalam ruangan. Dia duduk dengan tenang sembari menatap lurus kedepan, satu hembusan asap dia keluarkan dari bibirnya yang berwarna pink itu.


Drrtttt.


Terdengar getaran dari smartphone miliknya yang berada di saku celana. Dia segera mengambil dan mengusap layar benda tersebut.


^^^Where are you?^^^


^^^[Dimana kau?]^^^


Definitely, i'm home. Why you asking?


[Tentu saja aku dirumah. Kenapa kau bertanya?]


^^^Listen to me, we need plan B^^^


^^^[Dengarkan aku, kita perlu rencana B]^^^


Are you sure?


[Kau yakin?]


^^^Ck, Just do it like a said.^^^


^^^[Ck, lakukan seperti yang aku katakan]^^^


Fine.


[Baiklah]


Tut.


Satu seringai licik terbit di wajahnya.


"Breslin!" teriak Arnold dengan nyaring.


"Iya Tuan," jawab Breslin cepat, dia segera menghampiri Arnold. Sedari tadi dia juga berada di dalam ruangan dengan jarak sekitar 5 meter dari tempat Arnold berada.


"Jalankan rencana B," ucapnya dengan sorot mata yang tajam dan dingin.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2