Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 78. Explosive


__ADS_3

***


"Damn!" umpat Lily sambil melompat tinggi sembari memegang besi di atas ruangan dengan menaikkan kakinya.


Sepatu boots yang di kenakannya terkikis sedikit di bagian ujungnya dan terjatuh di bawah lantai sana.


"Ada apa?" Leon terlihat cemas dengan reaksi sang kekasih.


"Sensornya berubah menjadi laser Honey!" sahut Lily cepat sambil menahan tubuh dan kakinya agar tidak menyentuh titik cahaya.


Wanita itu menghela napas pelan, melihat situasi di sekitarnya.


Sinar laser masih menyala sempurna di dalam ruangan, yang setiap detik berubah-ubah polanya.


"Oh my God!" pekik Yellow di ujung sana, saat mendengar penuturan temannya. Wanita berambut kuning itu sangat cemas, sebab Lily dalam bahaya besar.


Bagaimana tidak, saat ini Lily berjuang antara hidup dan matinya. Jika Lily menyentuh sinar laser sedikit saja akan menyebabkannya kehilangan nyawa dalam sekejap mata.


"Damn!"


"Berhati-hatilah Nyonya."


"Honey!"


Yellow, Lexi, Breslin, dan Leon di landa kepanikan.


Mereka tampak gusar dan berkeringat dingin.


Ha?!


Bagaimana bisa.


Mengapa reaksi mereka lebih terlihat panik saat Lily mengatakan infrared dan sinar laser berada di ruangan?


Bukankah sama?


Sama-sama berwarna merah bukan.


Tidak.


Walaupun warnanya sama.


Sinar laser lebih berbahaya!


Infrared, ialah sistem sensor yang berwarna cahaya merah yang di gunakan untuk mendeteksi adanya tekanan, gaya, ataupun suatu gerakan di dalam bilik.


Biasanya sensor ini di pakai oleh si empunya untuk menaruh barang berharganya. Agar penyusup dapat terluka sebelum mengapai apa yang di inginkannya.


Lalu, dampak dari infrared itu sendiri, salah satunya adalah kulit akan terbakar dan melepuh.


Iya, itu salah satunya, masih banyak lagi efek sampingnya.


Sedangkan, sinar laser dapat memotong benda yang padat dan keras dalam sekali sentuhan.


Kulit, tulang, bahkan organ dalam makhluk hidup dapat teriris secara cepat dan sempurna. Dapat dikatakan jika seorang manusia terkena sinar laser akan meninggal di tempat dan tak bernyawa.


Intermezo.


"Tenanglah, aku pasti bisa melewatinya!"


Lily berusaha menenangkan kekasih dan teman-temannya melalui wireless bluetooth yang terpasang di telinga.


Lily tenang dan tidak panik, dia menelisik keadaan di dalam ruangan untuk mencari celah.


"Honey, aku percaya pada mu! Karena kau adalah ratu ku!" sahut Leon di sebrang sana menyemangati Lily. Walaupun dia tengah gundah dan gusar. Leon merutuki dirinya sendiri, sebab telah membawa Lily ke dalam misinya.


Namun, satu-satunya yang dapat di lakukan Leon sekarang adalah memberikan kekasihnya kekuatan. Karena dia yakin seribu persen bahwa Lily bisa melewati rintangan itu.

__ADS_1


"Thanks Honey!" Lily membalas perkataan Leon sembari mengulum senyum.


Detik kemudian sinar laser hilang tanpa aba-aba.


Ruangan berubah menjadi warna putih terang


Lily mengerutkan dahi.


"Finally!"


Lily menurunkan cepat tubuh rampingnya dan berlari lincah menuju pintu besi tempat penyimpanan barang berharga Pablo.


Tap...tap.. tap.


Lily membuka pintu menggunakan kunci yang di curinya tadi.


Pintu pun terbuka, seketika alarm berbunyi sangat nyaring.


Memekakan indera pendengaran Lily.


"Honey, aku akan melempar granat di bagian selatan. Pastikan Montero harus masuk ke dalam dengan cepat!" perintah Lily sambil menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri melihat titik tumpu yang paling tepat untuk meledakkan ruangan agar tak mengenai benda haram itu.


Bledar.


Boom.


Terdengar suara ledakan di bawah club, membuat lampu disko terguncang sedikit.


Sebagian orang tampak heran.


Gempa kah?


Detik selanjutnya, Swedish berjalan cepat menuju sumber suara sambil memegang senapan berlaras pendek yang bersembunyi di balik bajunya.


...****************...


"Aduhhhhh, jangan dorong-dorong kenapa sih?!"


Marimar mengaduh sebab pria blasteran itu mendorong tubuhnya condong ke depan membuatnya merasakan kesakitan di bagian dada.


"Dasar lelaki lemah!" sahut Maximus cepat, menyeringai licik.


Pria itu kembali menekan tubuh Marimar sehingga menghimpit dinding di hadapannya.


Membuat Marimar berdecak kesal dan hendak melayangkan tas pinky kesayangannya ke belakang.


"Kalian bisa diam tidak, nanti kita ketahuan!"


Sedari tadi, Samuel jengah dengan tingkah laku kedua pria dewasa di depannya.


Mendengar hardikkan Samuel. Marimar menurunkan tasnya secepat kilat.


"Sorry!" seru Marimar dan Maximus serempak tanpa menatap lawan bicaranya. Sebab mereka tengah melihat ke depan menelisik keberadaan mobil Leon dan Lily.


Samuel mendengus kesal. "Kalian yakin tadi mobil Daddy masuk ke gang itu?" tanyanya menyelidik.


Samuel mulai ragu sebab tidak melihat tanda-tanda adanya kendaraan yang di tumpangi Mommy dan Daddynya.


Saat ini mereka tengah bersembunyi di balik dinding yang berjarak tak jauh dari dalam gang. Entah bagaimana caranya mereka berhasil kabur dari pengawasan Montero.


Otak licik Samuel lah yang menjadi dalang di balik itu semua.


"Yakin!" seru Marimar dan Maximus menjawab keraguan Samuel.


"Aku tidak yakin, Sam," kilah Nickolas melirik sekilas pada adiknya.


Samuel menyetujui perkataan Nickolas dengan mengangguk.

__ADS_1


"Hei, kenapa orang ramai sekali keluar dari gang itu?" tanya Kendrick. Ia memicingkan mata, memastikan apakah penglihatannya salah atau tidak.


Lantas, Marimar, Maximus dan dua saudara kembarnya, semakin melebarkan retinanya, memastikan perkataan Kendrick.


Kerumunan manusia berlari cepat keluar gang. Tampak sebagian dari mereka di penuhi darah di sekujur tubuhnya.


Kelima manusia di balik tembok amat penasaran dengan apa yang terjadi. Cahaya lampu temaram membuat mereka sulit untuk melihat keadaan.


'Aduh, eyke ngak kelihatan bok. Rame banget sih, kayak ada hajatan aja?


Marimar memanyunkan bibirnya. Pria gemulai itu tentu saja kepo.


"Di luar negeri, ngak ada yang namanya hajatan!" protes Maximus saat mendengar ucapan pria setengah alien yang membelakangi dirinya.


Secepat kilat Marimar membalikkan badannya dan menatap tajam Maximus.


"You ada masalah apa sih sama eyke?!" tanya Marimar tegas sembari menunjuk dada Maximus. Dia bingung dengan pria di hadapannya yang selalu saja merusak suasana hatinya.


"Ngak ada masalah apa-apa," jawab Maximus cepat dengan memutar bola matanya malas.


Marimar hendak mencekik leher Maximus. Namun Maximus menangkis serangan mendadak pria gemulai itu dengan cepat.


"Ngak kena!" Maximus menjulurkan lidahnya sedikit seraya melototkan matanya pada Marimar.


"Diam!"sentak Kendrick tiba-tiba dengan auranya yang mencekam.


Kendrick sudah habis kesabaran dengan kelakuan dua pria bertubuh lumayan kekar itu.


Marimar dan Maximus.


Seperti anjing dan kucing saja!


Kendrick kehilangan fokusnya saat mendengar perdebatan unfaedah mereka. Kedua mata Kendrick berkilat menyala. Dia ingin secepatnya pulang namun ada tanggung jawab yang di pikulnya membuatnya untuk tidak egois.


Kendrick memikirkan Darla dan Lunna yang jua belum ketemu.


Sungguh kepalanya serasa ingin pecah. Seandainya dia mempunyai kekuatan super untuk bisa mendeteksi di mana keberadaan Darl dan Lunna.


Seketika Marimar dan Maximus terdiam.


Dor.


Suara tembakan menggema.


"Eh ayam ayam ayam!"


Marimar latah sambil mengelus dada dan membuang napas kasar.


Nickolas dan Samuel terkekeh pelan mendengar latahan baby sitternya.


Sepersekian detik terdengar suara deruan beberapa mobil begitu kencang.


.


"Loh kak itu mobil Daddy!"


Nickolas dan Samuel menunjuk kendaraan mewah milik Leon berwarna hitam pekat yang baru saja keluar dari dalam gang.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2