
**
"Damn, ada apa dengan senjata ku? Kerasukan atau apa ha?!" Rey kesal. Pistol kesayangannya tertarik ke atas, seperti ada magnet.
Dalam hitungan detik, netra pria itu terbelalak melihat helikopter yang ia kenali, membawa benda panjang berbentuk persegi panjang dan besar.
Menarik semua senjata yang berada di bawah.
Entah dia mau marah atau malah senang.
"Wow! Ini gila!" seloroh seorang anak buah Leon, saat melihat ke atas.
"Yellow!" teriak Lily sembari menekan bluetooth wirelles.
"Kau dari mana?!" Lily menyundulkan kepalanya pada lawan wanitanya, darah segar mengalir di hidung mancungnya.
Ia tak peduli.
Wajah cantiknya sudah tak karuan.
Sebab ia menyukai perkelahian, yang tengah ia lakukan.
"Hehehe, sorry, bahan bakar ku habis dan aku berinisiatif mengambil magnet, agar kalian lebih mudah menghabisi lawan tanpa senjata. Tidak keren, tau! Pakai senjata!" sahutnya di atas sana, tanpa rasa bersalah.
"Ckkk, ckk kau ini selalu saja, semau hati mu!" Lily melayangkan pukulan tepat di ulu hati lawan mainnya.
Wanita itu mengaduh kesakitan dan terkapar di jalanan. Napasnya terengah-engah dengan memegang dadanya.
Dia kalah.
Satu - kosong.
Tanpa melawan kembali.
Lily tersenyum sinis sebab lawan mainnya, petarung sejati, berkelahi tanpa menitiberatkan rasa dendam dari sang pemimpin.
Wanita itu berlalu pergi meninggalkan lawannya, hendak mencari pujaannya.
Ia celingak-celinguk.
Baru sepuluh langkah.
Ayunan kakinya terhenti.
"Honey!!!"
"Kau tak apa-apa?"
"Mana yang sakit?"
"Oh my God, kau berdarah?"
Cecarnya beruntun. Ini yang dia cari, Leon datang seperti hantu, muncul tanpa aba-aba di hadapannya.
Mungkin, karena chemistry, ia langsung terkoneksi seperti colokan listrik yang tersambung.
Lily menarik nafas dan menghembuskan pelan.
"Aku tidak apa-apa, Honey!"
Leon menyentuh pundak wanitanya. Menggerakkan ke kanan dan ke kiri.
"Yakin?" Ia ingin memastikan lebih akurat lagi. Netranya melihat dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Kemudian mengusap tetesan darah di indera penciuman Lily.
Wanita setinggi dagu Leon itu, mengangguk sedikit, berusaha meredakan kecemasan sang kekasih, yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Ini yang pertama dan yang terakhir!" perintah Leon. Kemudian dia merengkuh wanita itu ke dalam tubuhnya.
Reflek Lily menerima pelukkan itu dan membenamkan wajahnya di dada Leon.
Aroma tubuh Leon yang bercampur keringat dan darah membaur menjadi satu.
Namun, wangi khas kekasihnya yang menyeruak ke indera penciumannya.
Ia menghirup sedalam-dalamnya.
Sedalam lautan Samudra Hindia.
Menghela nafas pelan.
Kembali melakukan hal yang sama.
"Heii, bisakah adegan romantisss kalian di tunda dulu, haaaa !!" pekik Yellow dari atas sana. Dengan melontarkan peluru kepada musuh, yang dari tadi hendak menyerang ke arah mereka.
Saat ini, Yellow berperan seperti bodyguard, bagi pasangan yang tidak tahu tempat itu.
Enak saja mereka.
__ADS_1
Seakan dunia milik berdua.
Yang lainnya hanya mengontrak!
Sepasang kekasih itu tersentak mendengar jeritan Yellow.
Keduanya, melonggarkan sedikit pelukkan, bersitatap satu sama lain, di antara Montero dan Swedish, yang tengah adu jotos.
Menatap lekat.
Menyelami pancaran mata yang tersirat.
Rasa rindu, rasa khawatir, dan rasa takut, melebur menjadi satu.
Sejenak, jam berhenti berdenting.
Berbicara melalui mata ke mata, dalam diam. Seulas senyuman terpatri di wajah sejola itu.
Mereka tak memberikan tanggapan sama sekali dengan sindiran Yellow. Sibuk dengan dunianya.
"Cihhhhhhh!" desis wanita berambut kuning itu, matanya mendelik.
Jengah.
Melihat adegan di bawah sana, seperti Romeo dan Juliet yang tengah berperang, namun dalam versi yang berbeda.
Kini, Montero dan Swedish saling berkelahi, satu sama lain, bertarung tanpa senjata satu pun.
Hantaman, bogeman, bertubi-tubi terdengar di sudut blok Q.
Semua seperti film action, sutradaranya tentu saja Leon dan Pablo.
Terpampang tetesan darah, luka lebam, di masing-masing tubuh mereka.
Walaupun sakit, tapi mereka menikmatinya.
Mungkin jiwa psyco sudah mendarah daging di jiwa mereka.
"Pabloooooo!" teriak Leon berlari cepat dan melayangkan pukulan ke arah perutnya.
Pablo tersentak, darah menyembur keluar.
Ia mengusap cepat mulutnya, menyeringai licik, dan menatap remeh.
Lelaki tua itu, membalas balik sang lawan.
Pemimpin kedua kubu bertarung sengit.
Walaupun, Pablo sudah tua, akan tetapi gerakan, serangan yang ia lakukan sangat cepat dan mengesankan.
Tanpa perhitungan...
Membabi buta.
Lain halnya dengan Leon, ia terlebih dahulu membaca gerakan musuhnya dengan intens.
Menangkis, dan kemudian menyerang dalam sekali hentakan.
"Awhhhhhh!" desis seorang pria.
Lily mengernyitkan dahi, menangkap suara seseorang yang ia kenali, walaupun ia tengah bertarung.
Indera pendengarannya tentu saja cepat tanggap.
Ia menendang pria di hadapan tepat di area privat, mau tak mau, ia harus segera mengakhiri.
Walaupun terkesan curang, akan tetapi, mau bagaimana lagi.
Suara yang tadi, mengusik pikirannya.
Selesai menghabisi lawan, ia membalikkan badan dan berjalan cepat.
Melirik.
Menelisik.
Mengamati.
Dan..
"Ihhh eyke pengen boker deh!!"
"Marcoooooooo!!" Kedua mata Lily terbelalak, melihat Marco alias Marimar berada di sini.
Sekelabat pertanyaan muncul di benak Lily.
Marimar tersentak kaget, ia tengah berjongkok di samping mobil polisi. Sembari mendekap tas pinkynya.
__ADS_1
Lebih tepatnya bersembunyi. Ia bangkit berdiri.
Tampak salah tingkah dengan menggerakan gestur kemayunya.
Ia melebarkan senyuman, selebar mungkin. Hingga menampakkan gigi putihnya.
"Hehe." Kata itu saja yang terucap dari bibir tebalnya.
Lily mendengus dan menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Di mana si Kembar? Di mana Maximus? Bagaimana kalian bisa di sini, ha?!" tanya Lily menggebu-gebu. Ia marah, kesal, dan tentu saja terkejut.
Marimar menelan salivanya dengan kasar melihat tatapan Lily bagaikan Dewi Kematian. Aura hitam nampak di sekitar tubuh wanita itu.
Ia tak langsung menjawab, otaknya tengah berkerja. Memilah-milah kalimat yang pas untuk membuat alasan.
Lily melipat tangannya di dada, menunggu jawaban. Ia menahan geram, mengintimidasi lawan bicaranya. Ia menyipitkan mata.
Bibir Marimar mulai terbuka. "Begi...."
"Awasss! Nyonyaaaaa!" Maximus menabrak punggung belakang Lily, membuatnya terdorong sedikit ke depan. Wanita itu menahan beban tubuhnya sebisa mungkin dengan kaki kanannya.
"You ngak apa-apa Lily?" tanya Marimar lebih mendekat, dan menyentuh punggung tangan kanan Lily.
"Tidak usah kau, berkilah?!" Lily mengibas tangan Marimar, kemudian melirik Maximus sejenak, sibuk berkelahi. "Maximus di sini! Lalu si Kembar?"
"Aku kecewa pada mu, Mar!" Lily tak menatap Marimar, ia melangkahkan kaki, setengah berlari menuju tempat keberadaan ketiga anaknya.
Marimar berada di sampingnya, beriringan. Ia terdiam membisu.
Ia salah.
Lalai dalam tugasnya.
"Ken, Sam, Nick!" panggil Lily sambil mensejajarkan tubuhnya dan menelisik tubuh mereka. Apakah terluka atau tidak.
Semula ia ingin marah tapi seketika sirna. Saat melihat wajah Samuel yang memelas seperti kucing.
"Maafkan kami, Mom! Kami salah," ucap Samuel masih menunjukkan ekspresi wajah tadi.
Kemungkinan ia berakting, mengelabui, agar terhindar dari amukan Mommynya.
Lily menghela nafas.
"Kalian membuat Mommy khawatir. Ini bukan tempat bermain! Jangan seperti ini lagi, kalian sangat mengecewakan Mommy." Ia memeluk anaknya bergantian. Samuel, Nickolas dan terakhir Kendrick.
"Maaf, Mom!" Kendrick tertunduk. Ia mengetahui kesalahannya sebagai anak pertama, tak mengindahkan perkataan Ibunya. Seorang ibu yang bertaruh nyawa melahirkannya ke dunia fana ini.
"Sudahlah, sekarang kalian di sini, jangan ke mana-mana! Paham!" ucap Lily tegas agar si Kembar menurut.
Si kembar mengangguk.
Lalu Lily bangkit berdiri. "Dan kau Marimar, jagalah mereka selayaknya baby sitter. Jika mereka sampai terluka! Gaji mu, ku potong 80%!" gertak Lily, menatap tajam, dan menghunus kedalam pupil Marimar.
"Tapi,..."
"Tidak ada, negosiasi!" potong Lily. Ia mengelus cepat kepala si Kembar bergantian, kemudian berlalu pergi.
Tepat pukul 1 dini hari,
Pertarungan masih terjadi.
Tak ada rasa letih sama sekali.
Kerumunan massa semakin bertambah.
Montero dan Swedish baru keluar dari sarang.
"Honey, kau haus?" Leon menyodorkan botol minuman sehabis menghabisi lawan. Tadi ia sempat mengobrak-abrik vending machine.
Vending machine : kulkas minuman otomatis.
Daerah Blok Q di tutup paksa oleh sang pemilik pusat perbelanjaan, maupun cafe ataupun restaurant dari dalam.
Wanita itu mengangguk dan menyambar cepat, kemudian meneguknya hingga tandas.
"Di mana Pablo?" Lily mencari sosok pria itu.
"Tadi bersama ku, tapi akal bulusnya memang licik. Ia berlari begitu aku lengah. Sekarang aku akan mencarinya lagi!"
"Bagaimana akses ke gedung?" Lily menatap bangunan yang menjulang paling tinggi yang berjarak beberapa meter darinya. Sebagai tempat lokasi Pablo hendak kabur. Di atas sana terdapat sebuah helikopter.
"Montero sudah menutup semuanya! Jadi dia tidak akan bisa ke mana- mana!" Leon menyeringai.
Wanita itu mencibir.
Kemudian sepasang kekasih itu, memutuskan berpencar mencari si dalang, di balik kerusuhan di blok Q.
__ADS_1
"Berhentiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!" teriak seseorang, melengking naik, tinggi dan nyaring dari balik speaker superbass.
Memekakkan telinga bagi siapa saja yang mendengar.