Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 91. Gedung Faust


__ADS_3

***


Tampak satu buah helikopter berwarna hitam pekat terbang di atas rooftop Ninety Tower. Seorang wanita berambut warna kuning duduk tenang sembari melontarkan timah panas bertubi-tubi ke bawah sana. Ia membabat habis musuhnya, tak peduli suara peringatan aparat keamanan untuk menghentikan serangan yang ia lancarkan.


Sorotan lampu dari bawah dan atas mengerubungi pesawat tempurnya itu.


Ia tak peduli.


Seringai licik terpatri di wajah ovalnya itu.


Sedari tadi Yellow menunggu perintah dari Lily di suatu tempat. Mendengar dan menyimak obrolan di ujung sana.


Ia sangat geram dengan perlakuan Pablo terhadap sahabatnya itu, ingin sekali ia menghunuskan pedang dan mencongkel jantung musuhnya. Namun ia tak boleh gegabah.


Tak boleh menganggu rencana Lily yang sudah di susunnya.


Yellow bangga dengan kemampuan Lily dalam menelaah dan menebak isi pikiran musuhnya. Benar dugaan temannya itu, Pablo benar-benar licik.


Lunna dan Darla tak kelihatan batang hidungnya sampai sekarang.


Yellow menerka-nerka.


Kalau pun Lunna dan Darla tak berada di atas gedung.


Lantas di mana kah Pablo menyembunyikan mereka?


Begitulah isi pikiran Yellow, sembari menembak anak buah Pablo satu-persatu tanpa jeda dan beringas.


Rambut model bob itu, meliuk-liuk terkena terpaan angin malam. Raut wajahnya tegas terpampang sangat jelas.


Kedua mata berwarna hazel itu, menelisik keberadaan pemimpin Swedish yang tak tahu berada di mana.


Ia menajamkan penglihatan.


Asap yang mengepul di atas gedung sangat menyulitkannya, melihat keadaan di bawah sana.


"Damn!" umpat Yellow kesal saat ia tak dapat melihat keberadaan Pablo.


Ia memberikan kode pada pilot untuk lebih mendekat ke arah rooftop.


Sementara itu, di bawah sana.


Swedish, dan Montero tak henti-hentinya menembakkan peluru satu sama lain.


Swedish tampak kelelahan, walaupun jumlah mereka lebih banyak. Namun teknik kemampuan pertarungan dan bidikan Montero benar-benar membuat mereka kelimpungan.


Breslin, Rey, dan Lexi melindungi Leon dan Lily yang berada di belakang tubuh mereka. Sepasang kekasih itu tengah bersama kedua bocah yang menjadi korban kebengisan Pablo.


Ketiga lelaki itu seperti tameng sembari membidik lawan tanpa ampun.


Suara tembakan terdengar melengking di atas dan di bawah gedung.


Montero, Swedish dan aparat keamanan membaur di bawah sana. Menjadi satu.


Montero merutuki sikap aparat keamanan yang malah ikut menyerang mereka.


"Leon, kita harus membawa anak ini ke bawah! Detak jantungnya mulai lemah!!" seru Lily sambil menggendong bocah laki-laki yang tergolek tak berdaya. Tampak wajahnya pucat dan berkeringat dingin. Satu anak laki-laki lagi,dia menangis tersedu-sedu di sebelah tubuh Lily dengan menutup kedua telinganya, seraya memanggil nama kakaknya.


"Hikksss, hikkss, kak Justin!" ucap anak itu dengan air bening menganak sungai di pelupuk matanya.


Leon mengangguk seraya melontarkan timah panas kepada satu orang pria yang hendak menembak Lexi.

__ADS_1


"Rey, kita harus ke bawah! Antar anak ini ke ambulance. Kondisinya kritis!" seru Leon nyaring. Ia menelisik rupa bocah di depan matanya.


"Yes, King!" seru Rey tanpa menghentikan pergerakkan tangan.


Leon menatap sendu kedua bocah itu secara bergantian. Ia berharap anak laki-laki yang berada di pangkuan Lily dapat tertolongkan.


Wajah mereka nampak tak asing. Ia mengerutkan dahi.


Saat ini pikiran Leon berkecamuk.


Ia mencoba menerka-nerka apa isi pikiran Pablo.


Apakah ini tak tik baru Pablo.


"Sial!"


Apakah dia harus melenyapkan narkoba musuhnya sekarang?


"Argghh!" pekik Leon dalam hati.


Leon dilema.


"Darla dan Lunna di mana kalian?


Leon melihat keadaan di sekitarnya yang telah hancur parah.


Belum lagi anak buahnya beberapa tewas di tempat karena pertikaian. Ia menghela nafas melihat keadaan Montero.


"Lex, di mana Pablo?" Leon menghampiri tangan kanannya.


"Tadi aku lihat dia masuk ke gedung Faust bersama serdadunya. Kita kurang gesit, sepertinya orang yang melindungi Pablo bukan lah Swedish melainkan orang terlatih!!"


Lexi melirik sekilas sembari membidik lawan di hadapannya.


"Tapi, bagaimana dengan Pablo?" Lexi mengerutkan dahi. Karena Pablo melarikan diri, ia ingin membunuh bedebah itu yang telah berhasil mempermainkan King.


"Tenanglah aku akan ke gedung sebelah," ucap Leon singkat sembari mengamati situasi di sekitar yang tampak tenang dan tak terdengar suara tembakan lagi.


"Sekarang antarkan Lily ke bawah!!" perintahnya.


Lexi mengangguk dan berjalan mendekati Lily. Segera menggendong bocah yang sedari tadi menangis.


"Leonn! Berhati-hatilah!!" seru Lily berjalan sembari mengecup pipi Leon secepat kilat.


Leon mengangguk.


***


Gedung Faust.


Lantai paling atas.


"Kemana bedebah itu?!" Leon menelisik keberadaan Pablo bersama Montero di gedung yang terhubung langsung dengan Ninety Tower.


"Yellow di mana Pablo?" Leon menekan benda kecil yang berada di dalam telinga. Ia mengernyitkan dahi saat tak mendengar sahutan dari wanita itu.


"King, sepertinya gedung ini di sadap. Sehingga kita tidak bisa menghubungi Yellow!" Breslin menebak sembari mengangkat senjata berlaras pendek.


"Damn!" umpat Leon kesal.


"King!" panggil Montero yang baru saja tiba. Napasnya tersengal-sengal. Tampak darah menghiasi lengan pria berotot itu.

__ADS_1


"Iya ada apa?" Leon menoleh.


"Tadi aku menginterogasi Swedish yang belum mati di gedung sebelah. Ia mengatakan pada ku bahwa Pablo menyekap seorang pria tua di gedung ini!'


"Haa?! Kau jangan bercanda, kita ini sedang mencari dua bocah," protes Leon sambil menatap dingin.


"Tapi...."


"Leonnnnnnnn!" panggil seseorang nyaring dari luar gedung. Ia memotong obrolan Leon dan Montero.


Leon bereaksi kemudian reflek berlari ke asal sumber suara yang dia kenal.


Tentu saja, suara Pablo.


"Pablooo bedebah!" Leon mengumpat dalam hati sembari mengayunkan kaki.


Montero dan Breslin mengekori dari belakang.


Leon mendobrak paksa pintu rooftop dan berjalan cepat keluar.


"Kau kenal siapa dia?!" Pablo membuka penutup kain dengan cepat.


Deg.


.


.


.


.


Di lain tempat.


"Ih jangan dekat-dekat kenapa sih, badan eyke kegencet nih!" sungut Marimar sebab Maximus menekan tubuhnya hingga menempel ke dinding seperti cicak.


"Kau ini bisa diam tidak, nanti kita ketahuan," ucap Maximus pelan tanpa mengurangi kekuatan kedua tangannya.


"Shfftty cepat sembunyi. Ada orang yang mau lewat!" sahut Kendrick ketika mendengar suara derap langkah kaki mendekat.


"Aduh sembunyi kemanaaa coba kita kelesss!" Marimar membalikkan badan sembari meliuk-liukkan tubuh dengan gemulai.


Ia gusar.


"Ke situ saja!" seloroh Nickolas mulai terlihat cemas sembari menunjuk.


"Ha, itu tempat sampah! Iyuhh." Marimar menjepit ujung hidung.


"Ah sudahlah, ayolah cepat." Maximus menyetujui saran Nickolas seraya menuntun si Kembar berjalan menuju bak sampah. Kemudian mengangkat tubuh ketiganya satu-persatu ke dalam.


"Marimar ayo cepat," ucapnya pelan menahan geram. Melihat Marimar tak bergeming dari posisi semula.


Lantas Marimar mau tak mau berlari lincah mendekati bak sampah.


"Masuk sekarang," perintah Maximus seraya melebarkan mata.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2