
***
Pablo terkekeh pelan saat melihat ekspresi wajah Leon yang mengeras.
"Haha!" Pablo menyeringai licik sembari menodongkan pistol ke arah Leon. Satu tangannya menggenggam alat kecil yang di tengahnya berbentuk bulat dan berwarna merah.
Tampak seorang pria tua kaki dan tangannya terikat, dengan mulutnya di tutup rapat menggunakan lakban hitam, ia duduk di kursi. Ia berusaha memberontak dengan menggerakan tubuhnya. Terdengar gumamam kecil di balik perekat itu. Ia melototkan mata ke arah Pablo, kedua matanya menyala.
Siaran masih berlangsung di stasiun televisi, warga yang menyaksikan kejadian di depan mata terperangah kaget.
Ketika melihat sandera baru yang berada di atas gedung itu.
Mereka tentu saja mengenali siapa pria itu. Calon kandidat wali kota yang dikabarkan akan menang di periode selanjutnya. Simon Andersean ialah seorang pengusaha yang terkaya dan tersohor di tanah air. Di balik sikap ketegasan dan kewibawaan lelaki itu, ia memiliki hati yang mulia sebab setiap tahunnya melontarkan donasi ke setiap instansi maupun yayasan di Los Angeles. Citranya di publik sangat bersih dan baik.
"Sudah ku duga! Ini pasti permainan politik, orang licik. Cih!"
"Damn, dia pernah menyumbang ke salah satu yayasan ku. Oh my God, selamatkan lah dia."
"Pemerintah benar-benar gila!"
"Licikkkk!"
"Biadabbb!!"
Komentar sebagian penduduk di antaranya.
Suasana semakin tegang, melihat bom yang terpampang di dada Simon.
"Oh my God!" pekik Lily setelah menuntun kedua bocah ke dalam ambulance agar di berikan pertolongan pertama oleh tenaga medis. Ia melihat layar besar yang terpampang di etalase pusat perbelanjaan, pupil matanya melebar dengan sempurna. Melihat orang yang sangat berarti di hidup Leon menjadi sandera Pablo.
Lily tentu saja mengetahui siapa pria yang berada di samping tubuh pemimpin Swedish. Sebelum pernikahan berlangsung tempo lalu, Leon memperlihatkan sebuah foto kedua orang tuanya.
"Yeloww, kau di mana?" Lily berbicara dengan intonasi kecil. Kini ia bersama aparat keamanan yang sedari tadi berbicara pada Lexi. Netra Lily memperhatikan keadaan sekitar. Temannya tak tahu berada di mana, kemungkinan ia bersembunyi. Begitulah Yellow, akan muncul di waktu yang tepat. Namun tak ada sahutan dari sebrang sana, biasanya ia akan memberikan kode.
Lily mencoba untuk tenang seraya menggerakan kepala ke kanan dan kiri, melihat situasi.
***
"Daddyyy!" jerit Leon sembari melangkahkan kaki ke depan.
"Jangan bergerak!" Pablo tersenyum licik memandang pria di hadapannya.
"Apa mau mu bedebahhhhhh!??!!!!!" sahut Leon murka. Matanya menyala dan berkilat merah. Kedua tangannya terkepal sempurna. Giginya bergesekan satu sama lain menandakan kemarahan yang dahsyat seperti bom waktu yang bersiap meledak, seakan bisa meluluh lantahkan tempat tersebut.
Pablo tertawa keras. "Haruskah aku menjawabnya?!"
"Cepat katakan apa mau muuuuuuuu????!!!!" pekik Leon kembali, napasnya memburu. Dadanya naik turun.
"Kembalikan narkoba ku dan berikan wanita kesayanganmu pada ku!" pinta Pablo cepat.
Leon tak langsung menjawab. Ia mendengus kesal.
"Cihhhhhh!" Pria itu berdecih, menatap tajam dan dingin.
"Kau pikir aku bodoh?!" cetus Leon sembari menaikan sebelah alis mata.
"Fine, kalau begitu aku akan menekan tombol merah ini!" Pablo hendak menyentuh benda yang di tangan kirinya.
__ADS_1
"Dan aku akan memberikan perintah kepada Montero di sana untuk meledakkan barang haram mu!!!" Leon menggertak. Sudut bibirnya terangkat sedikit namun dia tengah menahan diri untuk salah langkah dalam mengambil keputusan.
"Arghhhhhhhhh!" Pablo menahan geram mendengar penuturan Leon.
Satu sama.
1-1
Leon mengalihkan pandangan kepada Simon, Daddynya. Seseorang yang ia rindukan sejak lama, namun karena gengsinya Leon meredam perasaan itu. Simon tak pernah meluangkan waktu untuk dirinya atau pun sekedar bercengkarama, ia sibuk dengan dunianya sendiri.
Walau, bagaimana pun pria yang tengah di soroti lampu itu adalah sosok pria yang memiliki hubungan darah dengan dirinya.
Ia menatap sendu sang ayah. Ketika melihat keadaan wajah dan tubuhnya terlihat miris dan kacau.Di bagian kening terdapat luka sobekan kecil serta luka lebam yang membiru. Hidung mancung pria tua itu sepertinya patah.
Ayah dan anak itu bersitatap satu sama lain, menyelami isi pikiran mereka masing-masing melalui kontak mata dan batin.
Kemudian tanpa aba-aba keduanya mengalihkan pandangan, dan menatap tajam dan dingin ke arah Pablo.
"Reuni lah dulu, sebelum ajal mu mendekat!" seloroh Pablo, saat melihat gelagat keduanya.
Leon dan Simon tak membalas ucapan Pablo, entah apa yang sedang dua pria itu, pikirkan.
Montero dan Breslin berada di belakang Leon, beerjumlah dua orang, mengacung senjata api pada musuh di hadapannya, yang berjumlah sepuluh orang.
Mereka siap menunggu perintah dari pemimpin masing-masing.
Sungguh tak seimbang, pikir Breslin.
Sedari tadi, suara peringatan polisi menemani perbincangan mereka.
Tidak ada action sama sekali dari aparat keamanan.
Yang benar saja.
Di bawah sana, warga yang berada di pusat toko ataupun bar, maupun cafe serta restaurant berniat membantu, dengan membuka paksa pintu dari dalam. Namun polisi menahan dari luar, perintah dari atasan mereka.
Sebagian polisi yang bersih, di ambang dilema.
Warga jengah.
Cukup sudah!
"Yellow, kau di mana?" tanya Lily lagi sembari menggerakkan kepalanya agar tak ketahuan dari aparat keamanan tengah sibuk menahan penduduk yang memberontak.
"Damn!" umpat Lily di dalam hati.
Saat ini, ia berada di dekat ambulance seraya melihat kedua bocah yang di jadikan sandera tadi tengah tertidur pulas. Beruntung saja, timah panas yang di lontarkan tak menembus kulit anak laki-laki itu. Sebab kalung besi menjadi penghalang peluru untuk masuk. Lily bersyukur sejenak, sembari mengusap kepala kedua anak kembar laki-laki itu bergantian. Iya, jadi teringat dengan ketiga buah hatinya yang berada di dalam hotel.
Kemudian ia jadi teringat dengan Darla dan Lunna.
"Di mana mereka?!"
Ia teringat sesuatu.
"Apa jangan-jangan mereka memang tidak bersama Pablo?!"
"Jadi?" Lily beralih menatap layar besar di dalam etalase toko yang berjarak lima meter dari tempatnya berada.
__ADS_1
"Kurang ajar kau, Pablo?!"
Lily menebak jika Darla dan Lunna belum di temukan oleh Pablo, ia teringat dengan kejadian tadi siang saat Rey mengatakan mereka telah kabur.
Sehingga Pablo membuat rencana cadangan dengan menyandera calon mertuanya.
Lantas di mana kah mereka berada sekarang?
**
Di lain tempat.
"Bisakah kau geser sedikit," ucap Marimar sembari menggerakan badan.
"Tidak bisa bodoh, ini sempit kau pikir kita sedang ada di pantai," cetus Maximus dengan nada suara kecil. Ia membungkukkan tubuh agar tak ketahuan dari para serdadu.
Saat ini, si Kembar, Maximus masih berada di bak sampah bersembunyi dari kumpulan orang yang di sinyalir aparat keamanan. Tebak mereka.
Si Kembar tengah duduk berjongkok berhimpitan satu sama lain, sama halnya dengan Maximus dan Marimar.
"Shfftt diam,' sahut Kendrick sembari meletakkan jari telunjuk di ujung bibir. Membuat Maximus dan Marimar seketika terdiam.
Samar-samar ia mendengar suara perdebatan di ujung sana. Ia semakin menajamkan indera pendengaran.
Bunyi tembakan terdengar.
Dor.. dor... dor.
Tapp... Tap... Tapp...
Suara langkah kaki, terdengar mendekati bak sampah.
"Bagaimana bom nya?" tanya seseorang.
"Aman, tinggal eksekusi, tapi mengapa bom di letakkan di basement. Bukannya Simon juga terpasang bom?!
"Bom yang berada di tubuh Simon, hanya kamuflase!"
"Oh, aku baru mengerti hehe."
"Good! Ayo kita ke sana. Kau menaruhnya di ruangan yang dekat toilet kan?"
"Iya, sesuai perintah mu!"
"Simon dan Leon sasarannya jangan sampai lengah!"
Mendengar nama Daddynya di sebut, Samuel mengepalkan kedua tangan. Ia ingin keluar dari dalam namun Kendrick menahan pergerakkan adiknya.
"Tapi kak, mereka ingin melukai Daddy." Tampak kedua mata Samuel mulai berkaca-kaca.
"Bom itu tidak akan meledak. Kita akan menjinakkannya. Okey? Jangan menangis," ucap Kendrick pelan, seraya mengelus punggung tangan, berusaha menenangkan adiknya.
.
.
.
__ADS_1
.