
21+++
Warning!
***
Restaurant Mint.
Ruang VIP.
Tok...tok...tok.
Terdengar suara ketukan dari luar pintu, Leon pun melonggarkan sedikit pelukannya dan melepaskan dengan pelan tautan bibirnya. Dia melihat dengan seksama wajah kekasihnya, yang masih memejamkan matanya, dan rona merah menghiasi wajahnya itu. Dia meniup dengan pelan wajah Lily.
Lily merasakan hembusan angin yang segar, menerpa wajahnya itu, wangi mint yang dia sukai akhir-akhir ini. Dia pun membuka dengan perlahan kelopak matanya.
"Honey, kau kepanasan? Lihat wajahmu seperti kepiting rebus," ucap Leon sambil menatap lekat.
Lily reflek menyentuh kedua pipinya, dia meraba dengan pelan.
Leon terkekeh pelan, saat melihat tingkah kekasihnya itu.
"Kenapa kau tertawa Honey?" tanya Lily sambil memanyunkan bibirnya.
Tok..tok...tok.
Bunyi ketukan pintu.
"Astaga, Leon. Kenapa kau tidak membukakan pintu. Kasihan karyawanku!" gerutu Lily sembari beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan cepat menuju ambang pintu, dan memutar gagang dengan begitu sigap.
"Bagaimana, aku mau membukakan pintu jika kita sedang berciuman?" sahut Leon dengan enteng, padahal karyawan sudah masuk ke dalam ruangan.
Lily yang mendengarkan perkataan Leon, seketika melototkan kedua matanya. Dia menatap tajam sambil berjalan perlahan, menuju meja makan, dia berdiri tegap, disamping tambatan hatinya itu.
Namun, Leon tidak takut dengan tatapan mata belahan jiwanya itu, karena baginya apapun yang dilakukan Lily, terlihat menggemaskan dimatanya.
Sementara itu, karyawan yang mendengarkan ucapan absurd dari Leon, tampak mengulum senyumnya. Dia segera meletakkan piring dengan cepat diatas meja.
"Silahkan Nyonya!" ucapnya dengan menundukkan sedikit kepala.
"Baik, terimakasih," balas Lily sembari tersenyum simpul. Dia masih berdiri didekat meja.
"Saya permisi, Nyonya." Karyawan itu pamit undur diri. Dia segera berjalan cepat agar tidak menjadi obat nyamuk diruangan.
"Leon," panggil Lily tiba-tiba, sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Hmmmm," balas Leon sambil mengangkat sudut bibirnya sedikit.
"Kenapa kau berbicara tanpa filter, kau tidak malu dengan karyawan tadi. Dia karyawan ku Leon!" seru Lily masih dengan posisinya tadi.
__ADS_1
"Karyawanmu kan, bukan karyawanku Honey." Leon mengangkat sedikit alisnya.
Lily terlihat kesal dengan tingkah Leon, dia pun langsung memukul lengan Leon.
Leon bangkit berdiri, dan menangkap pergerakan tangan Lily. Seketika dia mengangkat tubuh rampingnya seperti karung beras.
"Leon apa yang kau lakukan!?" pekik Lily sambil memukul punggung Leon. "Honey, turunkan aku. Aku lapar!" pinta Lily, karena memang ia sudah sangat lapar. Cacing didalam perutnya, meronta-ronta untuk diberi makan.
"Aku akan memakanmu dulu, Honey!" Leon tak mengindahkan perkataan Lily, dia berjalan pelan, menuju sofa panjang yang tersedia didalam ruangan.
"Apa maksudmu? Leon turunkan aku!" Tangannya tidak berhenti memukul tubuh Leon.
"Please Honey, aku pusing. Turunkan aku!" ucapnya lagi.
"Tidak," ucap Leon cepat sembari berjalan ke tempat tujuannya.
Dengan dua puluh langkah kaki, Leon sudah berada di sofa panjang. Dia menghempaskan dengan perlahan tubuh kekasihnya itu diatas sofa. Dia segera menggurung Lily dibawah tubuhnya. Dia menatap lekat wanita yang selalu saja, membuatnya ingin menculik dan menyekap Lily didalam kamarnya.
"Leon apa yang kau lakukan? Aku mau ma...."
Leon memotong pembicaraan dengan membungkam bibir Lily dengan begitu rakus. Dia menjamah, menyesap dan terakhir mengigit bibir mungil itu dengan cepat. Dia sudah tidak tahan, ingin memiliki Lily seutuhnya.
Walaupun Leon sudah tahu gua yang bersemayam dibawah perut Lily, telah dimasuki lebih dulu oleh musuhnya. Dia tidak peduli, karena selangkah lagi, Lily akan menjadi miliknya.
Lily terkejut dengan tindakan Leon, dia ingin memberontak namun tubuh dan otaknya tidak terkoneksi dengan baik. Dia mendesah pelan, saat Leon melabuhkan ci_uman dileher jenjangnya. Tanpa terasa Lily mengigit bibir bawahnya, merasakan setiap sentuhan yang diberikan oleh kekasihnya. Dia terbuai didalam nada-nada cinta, yang diberikannya.
Leon mengeksplor tubuh kekasihnya itu, pakaian atasan Lily sudah tak beraturan lagi. Dia menelan salivanya dengan susah payah. Saat melihat sesuatu dibalik pakaian tersebut, ingin menyembul keluar.
Oh My God. Umpat Leon didalam hatinya.
Leon segera menutup bagian atas tubuh Lily dengan jasnya. Dia pun bangkit berdiri, sambil menatap wanitanya yang berada dibawah.
Sementara, Lily yang masih memejamkan kedua matanya, mengernyitkan dahi, ketika merasakan sesuatu menutupi bagian dadanya. Dia semakin bertambah bingung, mengapa ia tidak dapat lagi merasakan sentuhan kekasihnya itu. Lantas dia pun segera membuka kelopak matanya dengan cepat. Dia melihat keatas.
"Leon kenapa kau berhenti?" ucap Lily tanpa sadar. Dia menutup mulutnya dengan cepat. Alam bawah sadarnya, menginginkan lebih dari itu.
Leon tersenyum mendengar perkataan kekasihnya itu. "Aku tidak mau melakukan lebih dari itu. Jika kita sudah menikah, jangan harap kau bisa merangkak dari tempat tidurmu, Honey!" seru Leon sambil menatap lapar pada mangsanya.
Lily mengulum senyumnya. Dia bangkit berdiri dari sofa dan mendekat pada Leon. Dia mengalungkan kedua tangannya dileher Leon.
"Honey, terimakasih," ucap Lily menatap lekat. Dia kagum dengan pemikiran Leon, yang memegang kuat prinsipnya. Padahal kalau Leon mau, dia bisa menyentuh tubuhnya ini.
Leon menyentuh pinggang Lily, dia menatap lekat, makhluk Tuhan yang paling seksi menurutnya. Matanya tak berkedip melihat kecantikan alami kekasihnya itu.
Kurang lebih lima menit lamanya, mereka menatap satu sama lain. Tanpa mengucapkan satu katapun.
"Honey, aku ingin bertemu dengan ayahmu?" ucap Leon memecah keheningan.
Lily mengernyitkan dahi. "Untuk apa?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Tentu saja, aku ingin melamar dirimu!" seru Leon tanpa melepaskan pandangannya.
Lily menghembuskan napas dengan pelan. "Baiklah, setelah misiku selesai, aku akan mengenalkanmu padanya," ucap Lily sambil mengulum senyum.
Leon membalas perkataan Lily, dengan menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
Sepasang kekasih itu pun, memutuskan untuk segera menyantap hidangan yang telah mereka tinggalkan sejenak tadi. Selesai dengan kegiatannya, mereka terpaksa mengakhiri pertemuan rindu tersebut. Karena mereka harus kembali berkerja.
Perusahaan Co. Marq.
"Lilyyyyyyyyyyyyy!" teriak Marimar dengan sangat nyaring sembari masuk kedalam ruangan.
Beberapa rekan kerjanya, reflek menutup kedua telinga mereka. Mereka sudah paham betul dengan sikap Marimar.
"Ada apa Mar?" tanya Lily sambil menghentikan aktivitasnya dan mengalihkan pandangan kepada Marimar. Dia menatap jengah temannya itu.
"You tahu ngak, nenek lampir udah dipecat bok," cetus Marimar dengan raut wajah senang.
"Oh," Lily hanya mengucapkan satu kata pendek.
"Hanya oh, saja. Astaga, Lily!" Marimar mengerutkan dahi saat melihat ekspresi Lily. Susah sekali untuk mengajak rekannya itu bergosip ria. Padahal, mulutnya sudah gatal dari beberapa jam yang lalu.
"Lalu aku harus bereaksi seperti apa Mar?" tanya Lily sambil memutar bola matanya dengan malas.
"You menyebalkan!" seru Marimar, dengan melipat kedua tangannya didada, sembari melengos pergi keluar ruangan.
Lily menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Marimar. Dia segera melanjutkan perkerjaannya yang tertunda.
Namun belum sampai dua menit, Marimar kembali masuk kedalam ruangan, dia berjalan dengan gontai ke arah meja kerjanya.
"Cepat banget!" sahut Lily tanpa menatap lawan bicaranya.
"Nyebelin banget sih! Eyke cuma mau kasi tahu besok kita ada rapat dadakan cyin," jelas Marimar singkat, sambil meliuk-liukan badannya. Dia pun duduk dikursi kerjanya dan segera menyelesaikan laporannya, yang sebentar lagi akan selesai.
"Baiklah," jawab Lily cepat.
Drrrt.
Terdengar suara getaran diatas meja kerja Lily, tampak satu notifikasi pesan masuk diponselnya. Dia pun segera mengambil benda mini itu dan membaca isi pesan tersebut.
[Siapakah tulang igamu itu?]
Belle.
Seketika, Lily tersenyum saat membaca pesan singkat dari adiknya itu. Dia pun membalas dengan cepat. Beberapa hari yang lalu, Lily mengatakan pada adiknya bahwa dia sedang dekat dengan seseorang.
.
.
__ADS_1
.
Berikan dukungannya dengan tekan like, vote dan komentarnya, guys.