
**
"Keluar kau sialannnnn!" Pria itu mengguncang mobil yang di tumpangi Pablo. Ialah yang menabrak kendaraan milik pemimpin Swedish.
Ia tak terima dengan perbuatan Pablo terhadap Simon, yang pernah membantunya untuk bertahan hidup. Simon memberikan dana dalam nominal yang cukup besar kepada dirinya untuk bertahan hidup secara cuma-cuma. Akibat perbuatan mulia Simon itu. Sebagian besar orang yang pernah di bantu oleh ayah Leon, tentu saja naik pitam saat melihat Simon di perlakukan keji oleh ketua mafia itu.
"Heiiiiii, kau keluar!!!!!" Dia semakin menggerakkan kendaraan Pablo dengan kuat. Ia sudah melemparkan batu atau pun benda berat pada kaca mobil tersebut. Berbagai usaha telah ia lakukan, namun, kaca itu tak jua pecah.
Sementara itu, Pablo menyeringai licik, sebab mobil yang di desain khusus dengan tingkat keamanan tinggi, sehingga kaca tak akan bisa retak. Ia duduk di kursi tengah menatap lurus ke depan, sembari menghirup sepuntung rokok.
"Rodrigo tabrak saja orang di depan itu!" serunya sembari menahan tubuh agar tak terguncang.
"Tidak bisa, Mister! Sepertinya ada sesuatu di bawah yang mengganjal ban!" sahut Rodrigo cepat.
"Apa kau bilang?" Pablo mengerutkan dahi seraya melihat massa di luar sana semakin anarkis.
Kini, kendaraan yang dia tumpangi benar-benar bergoyang dan bisa terbalik kapan saja.
Rodrigo tak menyahut, ia berusaha menginjak pedal gas namun tak bisa sama sekali. Wajahnya mulai terlihat cemas.
Pablo tak sabaran, ia menaruh benda nikotin itu ke asbak khusus.
"Minggir kau! Aku saja yang menyetir!" seru Pablo sembari menyelipkan tubuh di celah tengah mobil, ia hendak duduk di kursi pengemudi.
Mendengar perkataan atasannya, Rodrigo pindah ke bangku sebelah kanan dengan sigap.
Pablo menjatuhkan bokong secepat kilat, kemudian memasukkan gigi dan menginjak pedal.
Sepersekian detik.
"Argghhh!!" jerit seseorang dari arah depan.
**
Berjarak beberapa meter dari kendaraan Pablo.
"Mam, tolong obati Daddy ku?!" pinta Leon kepada suster yang bertugas di tempat kejadian, dengan memapah tubuh Simon, yang terlihat lemah dan tak berdaya.
Suster mengangguk cepat, menyuruh rekan kerjanya mengangkat tubuh Simon ke atas brangkar. Tenaga kesehatan yang berjumlah empat orang itu melakukan tugasnya dengan cepat.
Leon berada di sisi tubuh Simon seraya menggenggam tangan kanannya, ia berusaha memberikan kekuatan pada Daddynya.
Tampak Simon menutup kedua mata, ia kelelahan dengan kejadian hari ini. Kepalanya terasa pusing.
"Leonnnn!" panggil Lily dari arah belakang. Napas wanita itu terengah-engah. Kemungkinan dia baru saja berlari, entah dari mana.
"Kau dari mana, Honey?" tanya Leon sembari menangkup pipi Lily. Ia terlihat khawatir.
"Aku mencari Yellow, dan berusaha mencari polisi yang bersih," ucapnya pelan. Agar aparat keamanan yang berada di sekitar tak mendengar obrolan.
Lily sempat bingung mengapa polisi tak langsung memborgol Leon ataupun Montero, mungkin ada perpecahan di lembaga keamanan itu. Mereka tengah sibuk meredam aksi anarkis dari warga yang memberontak di jalanan.
Tak ada tembakan.
Namun hanya ada adu jotos, antara polisi dan sebagian warga yang tak menurut perintah mereka.
"Di mana Yellow ?" tanya Leon menyelidik.
"Aku tidak tahu dia, tapi aku yakin dia pasti sedang membuat rencana cadangan. Dan sekarang kita harus mengejar Pablo karena dia sepertinya ingin melarikan diri," ucap Lily setengah berbisik, dengan mendekatkan tubuh pada Leon. Ia mendapatkan informasi dari Montero yang melihat pergerakkan Pablo dan anak buahnya. Ada sebuah helikopter berada di atas gedung.
Montero sedang menahan pria itu di ujung sana dengan memprovokasi warga setempat.
"Di mana dia sekarang?"
"Mobilnya ke Blok Q. Sebaiknya kita kejar dia sekarang!" Lily mencuri pandang pada Simon yang tengah berbaring di brangkar.
Leon mengangguk.
"Honey, Daddy baik-baik saja kan?" tanya Lily melirik sekilas pada calon mertuanya.
"Iya, ku harap begitu!" Leon melihat suster membalutkan luka di wajah Simon dengan kasa.
"Honey, bersabarlah. Aku yakin Daddy baik-baik saja!" seru Lily cepat, menenangkan Leon. "Darla dan Lunna tidak bersama Pa...."
__ADS_1
"Aku tahu!" sela Leon cepat. "Sekarang kita harus memikirkan cara agar bisa tembus dari aparat keamanan." Ia menggenggam tangan Lily.
Pria itu, menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri.
Lily mengangguk paham.
"Lalu bagaimana dengan Daddy?" tanya Lily sebab takut Simon terluka kembali mengingat di sekitar mereka sebagian orang bersembunyi di balik topeng.
Leon pun di ambang dilema. Breslin, Lexi dan Rey di perintahkannya untuk membaur di tengah Montero yang terlihat terluka parah. Ia akan memberikan aba-aba hingga waktunya tiba.
Mata elang Leon dari kejauhan melihat tubuh Mommynya. Ia semakin menajamkan penglihatan.
"Mommy," desisnya pelan.
Mendengar ucapan Leon, Lily mengalihkan pandangan mengikuti arah mata kekasihnya.
"Simonn! Where are you?" jerit Elizabet sembari menggerakkan kepala, menelisik keberadaan suaminya.
Sungguh ia tak menyangka akibat perbuatan dirinya yang kabur dari mansion, membuat Simon di culik oleh Swedish. Ia masih marah dengan sikap Simon yang memaksanya untuk tak boleh datang ke Indonesia, menghadiri pernikahan putra satu-satunya.
Alhasil Elizabet pun memberikan hukuman pada Simon dengan melarikan diri, namun ia hanya memberikan efek jera pada sang suami hingga malam nanti.
Wanita paruh baya itu, sibuk berbelanja melepas kegusaran hatinya. Ia pergi ke toko pakaian yang lumayan jauh dari pusat kota. Akan tetapi, ketika berada di toko ia terlonjak kaget, melihat tayangan di televisi menampilkan Leon, berserta wanita yang di duga adalah calon menantunya, dan tambah mengejutkan lagi Simon di sandera.
What?!
Tentu saja ia jadi gusar, dan gundah gulana.
Ia akhirnya, pergi ke tempat kejadian namun polisi benar-benar menyulitkannya.
Berkat kegigihan Elizabet, ia berhasil menerobos aparat keamanan untuk masuk ke kawasan pusat kota.
"Simonnn! Leonnnnn!" teriak Elizabet.
Wanita paruh baya itu tak sengaja menabrak tubuh seorang pria. Netra berwarna coklat itu terbelalak, keduanya bersitatap satu sama lain. Kemudian Elizabet memutus pandangan cepat. "Minggir kau!!" Ia tahu betul siapa lelaki di hadapannya. Jeff Harlow, teman kuliahnya dahulu yang suka membuli dirinya. Ia melongos pergi, sebelum pria itu, mengucapkan satu atau dua buah kata.
Jeff mematung di tempat. Ia pula tengah mencari seseorang.
"Simonnnnnnnnn!" panggil Elizabet lagi di tengah kerumuman.
Seketika langkah kaki Elizabet terhenti mendengar suara yang tak asing. Dia mencari asal sumber suara. Pupil matanya melebar, reflek ia berlari lincah menghampiri anaknya.
"Leon anak ku!" Elizabet segera merentangkan kedua tangan dan memeluk erat putra kesayangannya dan menghujaninya dengan kecupan ciuman di dahi, pipi kanan, pipi kiri, kemudian mencubit gemes hidung mancung Leon.
"Awh sakit Mommm!" cetus Leon mengaduh kesakitan.
Elizabet tak menjawab, ia kemudian mengalihkan pandangan pada Simon yang tengah memperhatikan dirinya.
"Aku cemburu," ucap Simon tiba-tiba, menunjukkan muka, memelas agar Elizabet melakukan hal yang serupa kepadanya.
"Cih, ternyata kau masih hidup?!" seru Elizabet berpura-pura. Padahal dia tengah menahan diri untuk tak menangis dan memeluk sang suami saat melihat keadaan wajah dan tubuhnya.
Ia gengsi.
"Mommmmm!" seru Leon sembari menggelengkan kepala.
"Biarkan saja, ini salah Daddy," ucap Simon pasrah. Dia tahu watak sang istri yang keras kepala.
"Leon, ini istri mu?" Elizabet baru saja tersadar dengan kehadiran seorang wanita yang berada di samping Leon.
Sedari tadi, Lily terdiam memperhatikan interaksi Leon dan kedua orangtuanya. Ia menikmati pemandangan di depan. Seketika rasa rindu membuncah, saat mengingat sebagian keluarganya yang telah berpulang, dan Mommynya yang berada nun jauh di sana.
Lily mengulas senyum.
"Cantik sekali, kau tidak salah pilih nak. Kenapa kalian bisa ada di sini? Apakah ingin bertemu dengan kami?" tanya Elizabet sembari melirik sekilas, pada Simon yang tergolek di brangkar.
Leon menghela nafas, tak membalas ucapan wanita berambut pendek itu. "Mom, Lunna di culik dan...."
"Haa! Apa kau bilanggggg?!" sela Elizabet. "Lalu di mana cucu ku!?" Terpatri ekpresi panik di wajah keriput wanita itu.
"Satu-satu Mom." Leon kembali membuang nafas.
Kemudian dia menceritakan kronologinya secara singkat, padat dan jelas.
__ADS_1
"Whatss?! Benar-benar pria tua jelek itu harus Mommy lemparkan ke sungai amazon!" seru Elizabet berapi-api setelah mendengar penjelasan dari anaknya. "Kenapa kalian tidak mengejarnya sekarang? Nanti dia kabur?!"
"Mom, kami memang ingin mengejarnya. Tapi Daddy tidak ada yang menjaganya. Mommy tahu sendiri kan, di sini tidak ada yang bisa kita percayai. Kami juga sedang menunggu waktu yang tepat untuk mencari celah ke sana," ucap Leon cepat.
"Jadi itu?" Elizabet mengalihkan pandangan. "Titipkan saja pak tua ini pada Mommy!!" Tunjuk Elizabet ke arah Simon, sedari tadi pria tua itu, mendengarkan perbincangan ketiga orang di hadapannya dengan seksama. Ia menatap penuh rindu pada sang istri, namun Elizabet memalingkan wajah.
"Maafkan aku Simon, kau harus di berikan pelajaran, sampai aku benar-benar puas!"
"Lily, kau bisa berkelahi?" tanya Elizabet tiba-tiba.
"Bisa, Mom!" Leon yang menjawab, bukan Lily.
"Ckkkk, kau ini. Mommy bertanya pada Lily bukan pada mu anak nakal!"
Leon menatap datar, mengapa Mommynya semakin cerewet saja.
"Aku bisa, Aunty," sahut Lily mengulum senyum.
"Bagus, sekarang kita harus berpura-pura berkelahi, mengalihkan aparat keamanan agar kalian bisa mengejar pria tua itu," cetus Elizabet mengutarakan ide gilanya, agar dapat berhasil menangkap si Pablo.
"Ha?!"
"Ide bagus, Aunty!"
Sepasang kekasih itu, menanggapi perkataan Elizabet bersamaan. Leon melebarkan kedua mata mendengar penuturan wanita yang telah melahirkannya. Sedangkan Lily menyetujui saran calon mertuanya.
"Good, mulai dari sekarang. Panggil aku Mommy!" Elizabet mendekat dan mengelus pipi Lily.
"Tapiii, Mom!" Leon protes cepat.
"Shfttt, diam!" Elizabet melototkan mata, membuat Leon pasrah dengan kemauan Mommynya.
**
"Leonnn! Awas!" Lily menembakkan timah panas pada seorang pria yang hendak membidik kekasihnya.
Wanita itu reflek melontarkan peluru.
Dorr.
Suara tembakan menggema keluar dari kawasan Ninety Tower.
Tampak, rambut Lily berantakan sebab beberapa menit yang lalu ia sedang melakoni drama bersama calon ibu mertua, menggelabui aparat keamanan.
Dan berhasil.
"Kau tak apa-apa Honey?!" Leon mengemudikan kendaraan polisi dengan cepat.
Lily mengangguk, sembari memasang seatbelt.
Dorr...
"Awhh!!"
"Lilyyyy!!"
.
.
.
.
.
Readers tenang, konflik tidak akan berkepanjangan.
Harap bersabar ya. Setelah tamat akan ada giveaway kecil-kecilan.
Terimakasih sudah setia membaca tulisan ku yang masih jauh dari kata sempurna.
Giveaway akan di berikan kepada satu orang pemenang.
__ADS_1
Jangan lupa like, dan sesajennya.