Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 38. Bermain Kasar


__ADS_3

Blush.


"Leon!" Panggil Lily dengan intonasi tinggi.


"Ada Lexi di depan, kau tak malu apa?" tanya Lily sambil melototkan mata.


Leon terkekeh pelan melihat gelagat Lily. "Anggap saja dia patung, Honey!"


Lily menggelengkan kepala saat mendengar perkataan kekasihnya itu.


Sedangkan Lexi hanya bisa membatin, " Iya, Tuan anggap saja aku patung bagimu!" jeritnya dalam hati.


"Leon, apakah kau bisa ku percayai?" tanya Lily menatap serius.


Leon menghela napas pelan, dia tahu Lily masih mengalami krisis kepercayaan, dia memakluminya.


"Honey, aku tak ingin membuat janji padamu. Tapi aku akan berusaha membuktikan janjiku. Rasakanlah melalui hatimu, Honey. Ikuti kata hatimu, kau bisa mempercayaiku." Jelas Leon menatap lekat ke dalam netra mata warna biru laut itu.


Lily tersenyum mendengar perkataan Leon, semula dia masih meragu untuk mempercayai tambatan hatinya itu. Akan tetapi dalam beberapa hari ini, dia berusaha menepis pikiran negatifnya.


"Leon, apakah kau tahu jika Arnold sudah bermain api denganku dan juga ayahku. Kemarin aku sudah menyelidiki siapa saja yang terlibat. Aku tak tahu dendam apa yang di miliki Arnold pada Ayahku. Dia menjual data-data perusahaan kepada musuh Ayah. Dan hebatnya dia mempunyai kaki tangan yang memantau aku dan si Kembar." Jelas Lily panjang lebar dengan raut muka kesal.


"Honey, tahukah kau kita memiliki musuh yang sama," ucap Leon dengan tegas.


Lily mengerutkan dahi, "Apa maksud mu Leon?"


"Sudah ku katakan padamu tadi, bahwa aku tahu segalanya," ungkap Leon dengan muka angkuh.


Saat mendengar perkataan Leon, Lily segera mencubit sekilas lengannya.


"Sakit, Honey!" sungut Leon dengan muka memelas.


Lily berdecak kesal, "Kau selalu saja angkuh, Leon!"


Melihat wajah Lily yang terlihat kesal, Leon segera menarik Lily ke dalam pelukkannya. Dia mengelus kepala Lily dengan pelan. " Aku hanya bercanda, mari kita hadapi bersama, Honey!"


Lily dapat merasakan bunyi detak jantung Leon berpacu dengan sangat cepat. Dia tersenyum mendengar perkataan Leon. Harum tubuh Leon menyeruak ke hidung mancungnya itu, wangi khas yang sangat dia sukai akhir-akhir ini.


"Baiklah, tapi aku ingin bermain sendiri dulu Honey. Bolehkan?" ucap Lily dengan muka memelas.


"Hmmm, baiklah. Tapi berhati-hatilah Honey!" ucap Leon sambil mengelus pelan pipinya.


Tak terasa mobil Bentley Bacalar, sudah tiba di apartment mewah Lily. Leon memberikan kode pada Lexi untuk segera keluar.


Lily mengerutkan dahi, saat melihat tingkah kekasih dan tangan kanannya itu.

__ADS_1


"Kenapa kau menyuruh Lexi turun?" tanya Lily.


Leon tak menjawab, lantas dia mengecup pelan kening Lily, selanjutnya mengecup di kedua pipi Lily dan terakhir di labuhkan pada bibir Lily.


Lily seketika memejamkan kedua matanya, merasakan sentuhan yang diberikan oleh Leon.


Semula hanya *******-******* kecil yang diberikan Leon,namun naluri liar Leon berfantasi. Dia menggigit bibir bawah Lily, lidahnya mulai menyesap bermain pelan menyalurkan perasaan hatinya.


Lily memeluk erat Leon dan menikmati apa yang di lakukan kekasihnya itu.


Tit.


Suara klakson berbunyi dari arah belakang mobil Leon.


Seketika Leon melepaskan tautan bibirnya, dia mengulum senyum saat mendengar napas Lily yang terengah-engah. Dia terkekeh pelan sembari mengusap bibir Lily menghapus jejak permainannya tadi.


"Sepertinya itu adalah tanda bahwa aku harus berhenti," ucap Leon sambil mengulum senyum.


Lily terkekeh pelan. Leon pun segera mengantar Lily hingga memasuk ke gedung apartment.


***


Senyuman terukir di wajah Lily. Dia dapat merasakan detak jantungnya masih berdebar. Reflek dia memegang dadanya. Tiba-tiba Lily menghentikan langkah. Dia berhenti tepat di ambang pintu Marimar, dia segera memencet bell.


"Hai, bok. Udah selesai kencannya?" tanya Marimar penasaran.


Lily menggelengkan kepala, "Itu bukan kencan, Mar."


"Sama saja itu kencan, kan sambil menyelam minum air," protes Marimar.


"Ah, sudahlah. Mana si Kembar?"


"Sebentar bok." Marimar masuk ke dalam apartmentnya, memanggil si Kembar.


Terlihat si Kembar masih dengan pakaian tidurnya dengan wajah yang sudah mulai mengantuk. Nickolas dan Samuel sedang membawa pedang di tangannya masing-masing, sementara Kendrick membawa satu buku di tangan kanannya. Lily tersenyum melihat tingkah si Kembar. Lily segera pamit undur diri pada Marimar. Tidak lupa dia mengucapkan terimakasih pada tetangga sekaligus teman kantornya itu.


Mereka segera masuk ke dalam apartement. Lily segera mengantar si Kembar ke ruang kamar. Dia membacakan dongeng pengantar tidur. Tak selang beberapa menit mereka sudah tertidur pulas. Lily berjalan ke ambang pintu kamar dan menutup dengan pelan pintu yang berwarna putih itu.


Lily segera masuk ke dalam kamar utamanya. Dia tak langsung melepaskan gaun yang masih bertengker di tubuh rampingnya. Dia segera berjalan cepat menuju ke lemari khusus berwarna hitam. Setiap malam Lily tak lupa dengan aktivitasnya, dia selalu memeriksa dan mengecek pergerakan musuh. Selesai memeriksa monitor tersebut dia segera melepas gaun yang melekat di tubuh dengan pelan, dan menaruh gaun tersebut di tempat cucian kotor.


Lily membersihkan make up pada wajahnya. Kemudian dia membasuh wajahnya dan menggosok gigi. Setelah itu dia mengenakan pakaian tidur yang berwarna brown. Lily berjalan cepat ke arah tempat tidur,dia merebahkan tubuhnya pelan dan mulai memasuki ruang mimpi.


****


Pada pukul 5 pagi Lily sudah sibuk dengan aktivitas rutinnya dia membuat sarapan untuk si Kembar dan tentu saja bekal yang selalu mereka bawa. Selesai dengan aktivitasnya, tepat pukul 6 pagi, mereka sedang menyantap sarapan bersama-sama. Suara tawa di pagi hari menghiasi meja makan tersebut.

__ADS_1


"Mom, apakah nanti Nick akan punya Daddy baru?" tanya Nickolas tiba-tiba.


Lily mengerutkan dahi, dia tak langsung menjawab pertanyaan anaknya. Mereka saling pandang satu sama lain.


"Mom, tadi malam Marco mengatakan bahwa Mommy akan segera menikah dan kami akan punya Daddy baru." jelas Kendrick.


Lily tersenyum mendengar perkataan Kendrick.


"Nak, semua tergantung kalian apakah kalian akan menerima Daddy baru itu?" tanya Lily sambil menatap satu- persatu si Kembar.


"Kalau Mommy bahagia, kami pasti akan menerimanya Mom," ucap Kendrick.


Lily menghela napas dengan pelan, dia tak ingin mengambil keputusan sepihak. Baginya si Kembarlah yang terpenting saat ini. Dia tak ingin salah langkah.


"Mom, memangnya siapa yang akan menjadi Daddy Sam?" tanya Samuel menimpali obrolan kedua saudara kembarnya.


"Daddy Lunna," jawab Lily cepat.


"What!" Nickolas dan Samuel terkesiap.


Sementara Kendrick datar tak berekspresi, dia sedang sibuk memakan omelet yang berada di depan matanya.


"Berarti nanti kami akan menjadi saudara Lunna ya, Mom?" tanya Nickolas sambil memanyunkan bibir.


Lily menganggukkan kepala, dia tampak mengulum senyum melihat gelagat kedua anak kembaarnya itu. Lily tahu mereka masih cemburu.


5 menit kemudian, Liy dan si Kembar sudah selesai dengan sarapannya, mereka segera bersiap-siap untuk berangkat ke Sekolah.


Ting Tong Ting Tong.


Suara bunyi bell.


Si Kembar menatap satu sama lain, siapa yang datang pagi-pagi. Lain halnya dengan Lily wajahnya dingin, dia sudah tahu siapa yang datang.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2