
21++++
Warning!!
••••••••••
Bugh.
Bugh.
Arnold menyerang Breslin dengan memb*bi buta, pukulan itu melayang tepat di mata, rahang, dan perutnya. Tak ada satu pun yang terlewatkan. Dia menatap tajam Breslin, sorot mata Arnold sangat mengerikan.
Satu pukulan kembali dilayangkan pada perut Breslin. Napasnya terengah-engah, dia menghentikan pukulan tersebut, kemudian dia menyentak tubuh Breslin hingga terjatuh ke lantai.
Breslin tersungkur di lantai sambil memegang perutnya, tampak darah segar mengalir dari mulut. Dia meludah ke sembarang tempat. Wajahnya sudah dipenuhi dengan luka lebam. Satu matanya menyipit, akibat serangan Arnold tadi.
"Kau, ingin kupecat atau apa, ha?!" murka Arnold sambil menatap tajam Breslin.
Breslin tak menyahut, dia diam tak bersuara. Hanya terdengar suara napasnya yang tercekat, entah apa yang sedang dia pikirkan. Wajah tampan yang terlihat babak belur itu, sama sekali tak berekspresi. Sorot mata Breslin datar.
Arnold mengambil rokok yang berada di atas meja, dia menghidupkan pemantik dengan cepat. Kepulan asap mulai nampak di sekitar.
"Hari ini juga kau bawa Ardella padaku!" seru Arnold dengan lantang.
"Iya, Tuan." Breslin mengangkat tubuhnya tergopoh-gopoh, dia berlalu pergi seraya memegang perutnya. Saat berada di luar pintu matanya tak sengaja menatap istri Arnold, siapa lagi kalau bukan Rissa.
Rissa memutar malas kedua bola matanya, satu senyuman licik terbit.
"Ya ampun, kasihan sekali dirimu Breslin. Apakah sakit?" ejek Rissa seraya memainkan rambut gelombangnya itu.
Breslin tak mengubris pertanyaan Rissa, dia melangkahkan kedua tungkai kaki itu dengan cepat.
"Ck." Rissa berdecak kesal, dia berjalan masuk ke dalam ruangan kerja Arnold.
****
RSU Casablanca.
Di lain tempat, terlihat seorang wanita yang diperban dibagian lehernya, sedang mengendap-endap untuk keluar dari ruangan, yang didominasi berwarna putih itu. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, memastikan apakah ada orang yang melihatnya atau tidak, dia berusaha mencari celah untuk bisa melarikan diri. Rasa sakit pada tubuhnya, sudah tak dihiraukannya lagi. Dia harus segera bertemu Arnold.
Kedua tungkai kaki Ardella dengan lincah melangkah ke luar, ekor matanya tak sengaja melihat jas putih yang berada di troli makan di dekat ruangan. Dia segera mengenakan pakaian tersebut sambil berjalan cepat ke depan.
Di ujung lorong, dua pria berbeda generasi memperhatikan dengan seksama pergerakan Ardella.
"Daddy!" panggil Max dengan kuat, saat melihat Ardella keluar dari ruangan.
Fabio menoleh sekilas.
"Kau ini." Fabio menoyor kening anaknya itu dengan kuat. Dia tak habis pikir, mengapa Maximus tidak melihat situasi. Ardella belum terlalu jauh dari tempat mereka berada sekarang, mereka bisa saja ketahuan.
"Awh sakit, Dad!" sungut Max sambil mengerucutkan bibir dengan tajam.
Fabio menggelengkan kepala dengan pelan. "Ada apa?" tanya Fabio yang jengah dengan tingkah Max.
"Aku bingung, kenapa wanita itu kita biarkan pergi, Dad?" Maximus mengerutkan dahi.
Fabio membuang napas dengan pelan. "Makanya kau gunakan otakmu dengan benar Max," ucap Fabio tegas.
"Aku sudah menggunakan otakku dengan benar Dad," kilah Maximus menampilkan raut wajah polos.
"Kalau benar, kenapa kau masih bertanya ha?"
__ADS_1
Maximus terlihat sedang berpikir sambil kedua matanya menghadap keatas.
"Jika kau ingin menangkap musuh, kau harus memberikan umpan terlebih dahulu," jelas Fabio memberikan pengertian.
"Umpan, memang musuh kita ini ikan ya Dad?"
Fabio menepuk kening dengan cepat, dia tak habis pikir dengan pertanyaan anaknya itu. Dia malas berdebat dengan Max, dia tampak berpikir mengidam apakah istrinya dulu saat Maximus berada di dalam perut, mengapa anaknya ini sangat polos dan bodoh.
***
Sebuah mobil Roll Royce, melesat dengan laju ke tempat tujuan. Saat ini Breslin dan Ardella berada di dalam mobil. Beberapa menit yang lalu, Breslin tak sengaja melihat Ardella keluar dari rumah sakit yang ingin dia datangi. Dia memang sudah mengetahui bahwa kekasih gelap atasannya itu, di serang oleh mantan istri Arnold. Saat ini banyak pertanyaan yang bersarang di dalam otaknya.
Breslin bingung dengan pemikiran Arnold, biasanya mereka bertemu di apartment. Namun hari ini Arnold ingin bertemu Ardella di mansion. Dia menghela napasnya dengan pelan.
"Breslin, ada apa dengan wajahmu?" Ardella memperhatikan dengan seksama wajah Breslin.
"Menurutmu?" Breslin bertanya balik.
"Apakah Arnold memukulmu lagi?" Ardella menebak.
Breslin membuang napas dengan kasar, dia tak menjawab pertanyaan dari Ardella. Kedua netra berwarna hitam legam itu sedang asik memperhatikan jalan raya di depan.
Ardella tak bertanya lagi, dia terdiam. Dia sudah sering melihat Breslin diperlakukan semena-mena oleh Arnold. Saat ini pikirannya sedang berkecamuk, dia tak mau ambil pusing.
25 menit kemudian.
Mobil itu memasuki pekarangan mansion mewah dengan pelan, terlihat beberapa pelayan melakukan tugasnya. Ada yang menyapu, mengepel, menyiram tanaman dan sebagainya.
Breslin mengerem pelan mobil tersebut. Ardella pun dengan cepat membuka pintu mobil, dia berlari menuju mansion sambil memanggil nama kekasihnya.
"Arnold!" Ardella mengedarkan pandangan, menelisik keberadaan Arnold.
"Iya." Arnold menapaki tangga panjang di ruang tamu, dia berjalan dengan pelan turun kebawah.
Arnold tersenyum penuh arti. Dia tak membalas perkataannya. Dia mendekat ke arah Ardella dan menarik tubuhnya ke dalam pelukan. Ardella pun membalas pelukan tersebut, dia sangat senang diperlakukan seperti itu.
Arnold mengajak Ardella untuk naik ke lantai 2 sekedar melepas rindu. Di lantai atas terdapat ruangan besar tanpa sekat, yang di batasi dengan pagar besi berwarna emas di bagian depan.
Di ruangan tersebut juga dilengkapi dengan beberapa furniture, seperti sofa, meja, lemari buffet dan sebagainya.
Arnold menuntun dengan pelan kekasihnya untuk duduk di sofa yang berada di ruang tengah, dekat dengan pagar. Dia mengecup dengan rakus bibir Ardella, tak peduli di ruangan terbuka mereka melakukan perbuatan tak senonoh tersebut.
Suara ecapan terdengar nyaring, diiringi dengan suara napas yang memburu. Arnold dengan cepat membuka resleting celananya. Dia segera memasuki ke lembah surgawi dengan begitu cepat, Ardella menikmati apa yang di lakukan tambatan hatinya. Suara nan syahdu pun terdengar dari bibir Ardella, bagi siapapun yang mendengar pasti akan merinding disko.
Sepasang telinga pelayan pria yang sedang membersihkan gorden di lantai atas, bersebelahan dengan ruangan tengah. Tak sengaja menangkap suara merdu tersebut, dia menelan salivanya dengan begitu kasar.
Dia sudah terbiasa mendengar suara itu, namun entah mengapa kali ini suara itu terdengar begitu nyaring. Belalai mungil yang semulanya tertunduk menjadi tegap seperti paku. Dia berusaha menahan hasrat yang sudah dipuncak ubun-ubun, sembari kedua tangan tak berhenti melakukan tugasnya.
Lantas dimanakah Rissa berada saat ini, 10 menit yang lalu dia sedang pergi keluar bertemu dengan teman sosialitanya. Namun siapa sangka, saat ini Rissa sedang berjalan dengan cepat memasuki mansion.
Breslin yang berada dibawah kelimpungan, dia tak tahu harus berbuat apa. Dia berusaha menahan Rissa untuk tidak naik ke lantai 2 sambil mendekat padanya.
"Nyonya, ada perlu apa?" Breslin menatap datar, menyembunyikan kegusaran di dalam pikirannya.
Rissa mengernyitkan dahi. "Kenapa kau bertanya?"
Pasalnya Breslin terkesan cuek selama ini dengan dirinya. Rissa memutar kedua bola mata, dia ingin segera ke lantai dua, untuk mengambil tas mewah yang tertinggal.
Namun Breslin menghalangi pergerakan kakinya, dia sangat kesal.
Breslin tak menjawab, dia bingung harus berkata apa.
__ADS_1
"Minggir aku mau ke atas!"
Rissa mendorong tubuh Breslin dengan kasar.
Breslin yang sedang melamun tak siap dengan serangan tersebut, dia pun terhuyung ke belakang. Dia menghela napas dengan kasar.
"Cih."
Rissa berdecak, dia segera berjalan cepat menaiki tangga. Samar-samar ia mendengar suara aneh dari atas. Perasaannya sudah tak enak saja, dia mempercepat langkah kakinya.
Sesampainya di atas, seketika kedua bola mata Rissa terbelalak dengan pemandangan di depan matanya. Sakit, amat sakit! napasnya memburu. Dia marah, amat marah.
"Arnold!" teriak Rissa menghentikan aktivitas panas sepasang kekasih gelap itu.
Mendengar teriakan itu, Arnold dan Ardella menghentikan aktivitas naik turun gunung tersebut. Kepala mereka menoleh ke asal suara.
Rissa berjalan cepat ke arah mereka. Satu tangannya dengan cepat menarik rambut Ardella yang berada diatas pangkuan Arnold, dia mencakar wajah wanita itu tanpa ampun.
Ardella yang tak siap dengan serangan itu, hanya bisa meringis kesakitan. Belum sembuh luka serangan Lily, dia harus mendapatkan luka baru dari istri kekasihnya itu. Ardella tak mau kalah, dengan cepat dia memukul dada Rissa.
Rissa terkejut dengan serangan Ardella, namun dia tetap tak menyerah dan mulai menyerang balik wanita itu. Perkelahian pun terjadi.
Sementara, Arnold hanya terdiam melihat perkelahian istri dan kekasih gelapnya itu. Dia menutup resleting celananya dengan cepat. Dia tak melerai sama sekali, dia sangat menikmati aksi baku hantam tersebut.
Arnold mengambil sepuntung rokok yang berada tak jauh darinya, dan menghidupkan pemantik berlapis emas itu. Dia menghirup dengan pelan benda pipih yang mengandung nikotin itu. Perlahan dia membuang kepulan asap ke udara. Arnold duduk tenang seraya kedua matanya mengarah ke depan. Satu seringai licik terbit di bibirnya.
Rissa dan Ardella tak ada yang mau mengalah, mereka sudah terlihat acak-acakan.
Ardella dengan cepat mendorong tubuh Rissa hingga mendekat ke arah pagar dan mencekik kuat lehernya.
Saat ini keduanya berada di tepi pagar, Rissa juga mencekik leher Ardella. Mereka mencekik satu sama lain, tak ada yang mau mengalah. Tiba-tiba pagar besi itu berbunyi.
Sepersekian detik, terdengar suara dentuman dengan begitu nyaring di lantai bawah.
Brakkkkk.
Beberapa pelayan yang berada di lantai 1, mengalihkan pandangan ke sumber suara. Saat melihat pemandangan di depan mata. Mereka segera berhamburan keluar ke arah pintu.
"Hoek!" Pelayan bertubuh kurus itu memuntahkan isi makanannya tadi pagi.
Dia mual, dia sungguh tak tahan!
Tubuhnya gemetar ketakutan.
Sementara itu, Breslin pun terkesiap dengan kejadian di depannya. Secepat kilat, dia mendongakkan kepala keatas, dia melihat Arnold sedang tertawa nyaring. Dia bergedik ngeri mendengar suara tawa Arnold.
"Gila!" Batin Breslin sembari menutup mulutnya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.