
***
Lily mengetatkan rahang dan matanya menyala. Wanita berparasan rupawan itu mengejar mobil pick up sembari memanggil nama Darla.
"Darla!! Lunna!!!"
Lily mempercepat langkah kakinya. Tanpa sengaja ia menabrak pengunjung yang menghalangi jalannya.
"Sorry!" Lily meminta maaf tanpa menghentikan kedua tungkai kaki.
"Damn!!" umpat Lily sambil membuang napas kasar sebab mobil itu sudah semakin menjauh. Lily tidak kehabisan akal.
Ekor mata Lily melihat kuda berwarna hitam yang berada di tepi jalan. Lily meminjam hewan berkaki empat kepada si pemilik, beruntung sekali pria muda itu menerima permintaan Lily.
"Take this!" Lily memberikan lembaran dolar pada si empunya.
"Thank you!" Pria itu tersenyum sumringah melihat lembaran uang yang sangat banyak. Dia menatap lekat wanita di hadapannya. "Beautiful!" Pujinya dalam hati, sesaat dia terbius dengan warna mata Lily yang begitu indah menurutnya.
Lily menganggukkan kepala, dan segera menaiki kuda. Lily memacu kuda dengan sangat cepat. Suara hentakan sepatu kuda terdengar begitu nyaring di sepanjang jalanan.
Lalu lalang manusia yang mengikuti parade sangat menyulitkannya untuk bergerak.
"Minggir!!!" teriak Lily pada manusia di sisi kiri trotoar, agar tidak menutup jalannya.
Sementara itu, Leon, Lexi, dan Rey sudah tertinggal jauh dari Lily.
"King, sebaiknya kita menggunakan mobil saja! Di sini tidak ada kuda! Kita lewat jalan tiikus saja!"
Lexi memberikan saran sebab tidak melihat keberadaan alat transportasi di sekitar mereka.
"Tapi, wanita ku!" Leon memikirkan kekasihnya itu, dia tidak ingin berjauhan dengan Lily. Pria berparas rupawan itu mencemaskan kekasihnya.
__ADS_1
"Ah sudahlah King, Lily pasti tidak kenapa-kenapa! Lihatlah dia seperti wonder woman!"
Rey memuji Lily yang sangat gesit dalam bertindak dan tidak menunggu Leon untuk mengambil keputusan. Sejenak dia mengagumi paras wanita atasannya.
"Kau bilang apa, Rey! Jangan memuji wanita ku! Hanya aku yang boleh!"
Leon menatap tajam kepada Rey, dia bisa melihat pancaran mata anak buahnya yang terlihat kagum terhadap Lily.
Leon tidak suka!
Jika mendengar pujian dari para mulut lelaki mengenai kekasihnya. Hawa panas mulai melingkupi tubuhnya, dia pun bingung dengan dirinya sendiri. Mengapa sikapnya amat berlebihan.
Lily miliknya. TITIK.
Tidak boleh ada memuji Lily, selain dirinya.
Camkan itu!
Rey menelan saliva secara kasar saat Leon menatapnya dengan dingin dan sangat tajam. Aura Leon seperti singa yang ingin menelannya hidup-hidup!
"Mampus aku, kenapa King sangat posesif! Batin Rey bermonolog.
"Tuan sebaiknya kita sekarang ke mobil! Tenanglah Lily pasti baik-baik saja!"
Lexi mencairkan suasana seraya menepuk pundak Leon. Tangan kanan Leon tentu saja sudah terbiasa dengan sikap tuannya yang terlalu posesif, pikirnya.
Leon tidak menjawab, hanya helaan napas yang terdengar. Ia melirik sekilas ke arah Lexi. Kemudian berlalu pergi sembari mendengus kesal.
"Ayo cepat Rey!" ajak Lexi saat melihat Rey masih mematung di tempat.
Ketiga pria bertubuh kekar itu berjalan cepat menuju gang sempit tadi. Iya, Breslin di perintahkan Leon untuk menjaga dua penculik.
__ADS_1
"Di mana mereka?" Breslin mengerutkan dahi sebab tidak melihat keberadaan Darla dan Lunna beserta Lily.
"Lily mengejar mereka menggunakan kuda! Sekarang kita jebak anak buah Pablo di jalan tikus!"
Kedua mata Leon berkilat, rahangnya mengeras menandakan dia sedang menahan gejolak amarah. Leon kembali teringat Darla dan Lunna duduk di atas mobil dengan kepala di tutup.
Di lain tempat, Lily masih menunggangi kudanya dengan lincah.
"Hiyahhh!" Lily menggerakan tali kekangnya agar kuda mempercepat langkah kakinya.
Matahari semakin meninggi di atas langit. Namun tak dapat menghentikan aksi kejar-mengejar antara kendaraan roda empat dan kuda.
Seketika mata Lily terbelalak sebab di depannya, ada anak kecil laki-laki sedang membungkukkan badan, sehingga menutup jalannya.
Secepat kilat Lily menghentakkan tali kekang kuda, sehingga hewan besar itu meringkik nyaring sambil menaikkan kaki depannya ke atas, karena tidak siap dengan perintah si penunggang, yang memintanya untuk berhenti.
Kedua mata Lily melebar sempurna melihat siapa bocah lelaki di hadapannya.
"Samuelllllllll!" teriak Lily nyaring dengan raut wajah tidak bisa terbaca.
.
.
.
.
.
Hari ini author update lebih dari satu bab ya, mumpung hari libur. Karena dari senin-sabtu author sibuk dengan kegiatan real life hehe.
__ADS_1
Nanti siang author setor bab lagi ya.
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, vote dan hadiah.