Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 41. Daddy!


__ADS_3



"Aku di dalam mobil, mau berangkat kekantor, Honey!" jawab Lily cepat seraya tersenyum. Entah mengapa saat mendengar suara Leon membuat hatinya jadi lebih tenang.


"Honey, ini sudah jam 9. Mengapa kau baru berangkat sekarang?" tanya Leon di sebrang sana.


"Ceritanya panjang, aku akan menceritakan padamu nanti."


"Hmm, baiklah," ucap Leon pasrah.


"Leon, bisakah aku minta tolong padamu untuk menjemput si Kembar pulang sekolah nanti siang." Pinta Lily.


"Tentu saja bisa, dengan senang hati, Honey!"


Lily mengulum senyum saat mendengar jawaban Leon, dia harus mendekatkan si Kembar dengan Leon agar mereka dapat saling mengenal satu sama lain.


Pembicaraan sepasang sejoli itu pun berlangsung sekitar 2 menit hingga mereka pun terpaksa mengakhiri panggilan teleponnya.


Tut.


Lily segera menaruh ponselnya ke tempat semula.


5 kemudian.


Mobil mini berwarna silver itu memasuki area parkir perusahaan Co. Marq dengan pelan. Lily segera turun dari dalam mobil, dia berjalan dengan begitu anggun. Dia mengernyitkan dahi, saat melihat di depan gedung terlihat kerumunan orang memadati pintu utama. Lily pun berjalan dengan cepat, ia sangat penasaran ada apakah gerangan?


Lily berusaha menerobos kerumunan tersebut, ekor matanya tak sengaja melihat Marimar berada di situ. Dia pun menghampiri Marimar.


"Mar!" Sentak Lily sambil menepuk pundak Marimar dengan kuat.


"Oh my God. You ya buat eyke jantungan aja." Marimar menggerakan badannya dengan gemulai sambil mengelus dada.


"Sorry, Mar." Lily terkekeh pelan.


"Ada apaan sih, rame-rame dikantor?" tanya Lily, jiwa penasarannya muncul.


"Ih you, makanya jangan datang telat. Jadinya ngak tahu gosip terbaru kan. Itu loh si nenek lampir kena labrak," jelas Marimar.


Lily mengernyitkan dahi, "Nenek lampir?"


"Melisa," ucap Marimar dengan suara kecil sambil mendekatkan mulutnya di daun telinga Lily.


"Terus?" tanya Lily lagi.


Marimar memutar bola matanya. Pasalnya ada beberapa rekan kerja yang menanyakan hal serupa, dari tadi dia sudah seperti informan saja.


"Jadi tuh, tadi bini pak Milano datang ke kantor, ngelabrak Melisa terus dia di siram pake air keras sama bini pak Mil. Ihh sadis banget yey bini pak Mil." Marimar bergedik ngeri, karena tadi dia menyaksikan langsung perkelahian itu terjadi.


Lily tak membalas perkataan Marimar. Dia memahami bagaimana rasanya diposisi istri Milano, sebab dulu ia juga pernah mengalami hal yang sama. Sepintar-pintarnya menyimpan bangkai, suatu saat baunya akan tercium juga, begitupun dengan kebohongan meski disembunyikan serapi mungkin, akan ketahuan juga. Pepatah itulah yang paling tepat untuk Milano, pikir Lily. Dia menghela napas dengan pelan.


**


Jam menunjukkan pukul 1 siang, Lily dan Marimar masih berkutat dengan pekerjaannya. Sepertinya mereka akan lembur hari ini. Kedua tangan Lily mengetik dengan cepat di keyboard, dia sedang memeriksa tabel grafik. Dia harus segera menyelesaikan misinya, dia tak ingin membuang banyak waktu lagi.


Drrt.


Terdengar getaran pesan masuk dari handphone Lily, dia melirik sekilas. Tangan kanannya dengan sigap mengambil benda pipih tersebut. Satu notifikasi whatsap masuk diberandanya, dari Belle, ia pun langsung membaca isi pesan itu. Tempo hari, Lily sudah kapok dimarahi oleh adiknya yang manja itu.


^^^"Kak, aku sama Darla mau nyusul Benjamin ke Australia. Mau aku bawain oleh-oleh apa ni?"^^^


^^^Belle^^^


Lily mengulum senyum, saat membaca isi pesan itu. Dia pun segera membalas pesan tersebut.


^^^"Tidak usah dek, berhati-hatilah disana. Salam pada Benjamin, "^^^


****

__ADS_1


Sementara itu, terlihat si Kembar dan gurunya sedang duduk di bangku khusus, menunggu jemputan. Tadi siang, wali kelasnya memberitahu mereka jika, yang menjemput adalah teman ibunya. Si Kembar pun memahami keadaan Lily, yang mungkin sedang sibuk sekarang dengan perkerjaannya.


"Kak, kok lama banget ya?" tanya Samuel seraya memanyunkan bibir.


"Mungkin sebentar lagi," jawab Kendrick singkat, dan padat.


"Aku sudah lapar kak!" Samuel berdecak kesal sambil menyilangkan kedua tangan didada.


"Anak-anak sabar ya, pasti sebentar lagi datang," ucap guru itu, memberikan pengertian.


Tit.


Suara klakson berbunyi.


Seketika mereka memusatkan perhatian pada sebuah mobil mewah yang baru saja memasuki pekarangan sekolah. Si Kembar saling pandang satu sama lain, mereka penasaran dengan teman ibunya.


Leon segera turun dari mobil, dia berjalan dengan pelan. Wajah rupawannya benar-benar menarik perhatian. Beberapa pasang mata mencuri pandang ke arah Leon. Namun Leon acuh tak acuh, dia tak peduli, dia sudah terbiasa dengan tatapan itu. Dia segera menghampiri si Kembar yang sedang duduk di bangku.


Si Kembar mengernyitkan dahi, saat melihat yang turun dari mobil adalah Leon, ayah Lunna.


"Hai, boys. Maaf aku terlambat menjemput kalian," sapa Leon dengan ramah.


"Tidak apa-apa Uncle," jawab Samuel cepat.


Sedangkan Kendrick dan Nickolas tidak membalas sapaan Leon, mereka diam tampak sedang berpikir.


Leon menghela napas dengan pelan, melihat reaksi yang berbeda dari ketiganya.


"Sepertinya perjuanganku meluluhkan hati mereka sangat sulit." Gumam Leon dalam hati.


Leon pun pamit undur diri kepada wali kelas, dia segera mengajak si Kembar untuk segera masuk ke dalam mobil.


Suasana didalam mobil sangatlah canggung, Samuel duduk di kursi depan menemani Leon. Sementara Kendrick dan Nickolas duduk di kursi tengah.


"Uncle, Sam lapar!" ucap Samuel dengan muka polosnya.


"Baiklah, Sam mau makan apa?" tanya Leon sambil melirik sekilas.


Leon mengulum senyum saat melihat gelagat Samuel.


"Ken, dan Nick mau makan apa?" tanya Leon, dia berinisiatif bertanya pada calon anaknya itu.


"Aku ingin makan Western food, Uncle!" ucap Nickolas cepat.


Leon menganggukkan kepala.


"Kalau Kendrick mau makan apa?" tanya Leon lagi, kedua matanya melirik sekilas di kaca depan.


Tampak Kendrick menghela napasnya sejenak.


"Terserah!" ucap Kendrick dingin.


"Baiklah," Leon memaklumi reaksi yang berbeda dari anak Lily. Perjuanganya untuk mendapatkan restu dari ketiganya baru saja dimulai.


***


Restaurant Belalai Gajah.


Leon menuntun si Kembar untuk masuk kedalam restaurant. Terlihat beberapa orang sudah siap di ambang pintu, mereka akan menyambut pemilik restaurant tersebut. Siapa lagi kalau bukan Leon, mereka baru saja diberitahui 5 menit yang lalu, akan kedatangan bos mereka.


Si Kembar mengerutkan dahi, saat melihat pelayan berdiri di ambang pintu.


"Uncle kok mereka berdiri di depan pintu, emangnya ada orang penting ya?" tanya Samuel penasaran sambil menarik celana Leon.


"Iya, ada orang penting. Ayo kita masuk, Sam sudah lapar kan?" tanya Leon.


"Yes, Sam sudah lapar sekali Uncle!"


Leon terkekeh pelan melihat tingkah Samuel.

__ADS_1


"Uncle kita duduk di luar saja ya, Nicko mau melihat akuarium itu?" Tunjuk Nickolas, saat sudah berada di dalam restaurant, ekor matanya tak sengaja melihat akuarium ikan. Dia amat menyukai makhluk air tersebut.


"Hmm, baiklah!"


Leon dan si Kembar pun mencari tempat duduk yang nyaman, dekat dengan akuarium. Leon mengintruksi kepada pelayan untuk menghidangkan makanan yang paling enak.


15 menit kemudian.


Makanan Western sudah tersedia di meja makan, terlihat spaghetti, burger dan lain-lainnya memenuhi meja tersebut. Samuel yang memang sedari tadi menahan laparnya, dia segera menyantap makanan itu dengan lahap. Kendrick dan Nickolas pun melakukan hal yang serupa. Leon mengulum senyumnya melihat tingkah si Kembar.


Tak selang berapa menit, Samuel sudah selesai dengan aktivitas makannya.


"Uncle, Sam mau ke toilet sebentar ya, mau pipis!" ucap Samuel malu-malu.


"Baiklah, Uncle antar ya."


"No, Sam bisa pergi sendiri," ucap Samuel dengan cepat.


Leon menganggukkan kepala.


Samuel segera berlari ke arah toilet, selesai buang air kecil. Dia pun berjalan pelan ke arah Leon dan saudaranya berada. Namun ekor matanya tak sengaja melihat sosok yang dia rindukan selama ini, dia menghentikan langkahnya.


Secepat kilat dia berlari mencoba mengejar sosok itu.


"Daddy!" panggil Samuel.


Mendengar suara yang tak asing di telinganya, sosok tersebut menghentikan langkah kaki. Dia menoleh ke sumber suara.


"Daddy, is that you?" Samuel menengadahkan kepala ke atas dan menatap pria itu dengan sejuta tatapan rindu.


"Ck, apa maumu!?" ucap Arnold dengan mata dingin.


Deg.


Samuel terkejut dengan reaksi Arnold, dia merasakan rasa sakit didadanya.


"I want you Dad!" Kedua mata Samuel sudah mulai berkaca-kaca.


"Daddy, Sam pengen peluk." Ucap Samuel lagi, sambil menatap dalam Arnold, tanpa terasa air mata Samuel berderai dikedua pipinya. Dia sangat rindu ayahnya, setiap kali ia bertanya pada Lily dimana ayahnya, Lily selalu mengalihkan topik pembicaraan. Dia tahu dari Kendrick bahwa kedua orangtuanya sudah tak bersama lagi, akan tetapi anak kecil seperti dirinya belum mengerti dengan masalah orang dewasa.


Samuel hanya ingin kehangatan dari ayahnya, dia ingin main bersama ayahnya. Terkadang ketika di sekolah, dia selalu cemburu jika teman-temannya selalu membicarakan ayahnya. Samuel ingin seperti teman-temannya yang lain. Salahkah dia ingin dipeluk oleh ayahnya, walaupun hanya sebentar saja.


"Minggir kau!" sentak Arnold yang sudah jengah dengan air mata Samuel.


Kedua matanya tak sengaja melihat anak buah Jonathan, tim Wolfi yang memantau pergerakkannya dari dekat. Ia tidak boleh bertindak gegabah.


Samuel menahan kedua kaki Arnold dengan menarik-narik celananya.


"Jangan pergi, Daddy! Ikut Sam ke rumah yuk. Sam rindu Daddy!" Samuel tak menyerah, dia ingin memperlihatkan sebuah lukisan yang dia buat untuk ayahnya.


Arnold naik pitam, dia sedang banyak masalah saat ini di tambah lagi dengan pertemuannya dengan anak yang tak diinginkannya, membuatnya semakin kesal saja. Dia segera menangkis tangan Samuel dengan kasar.


Sudah habis kesabarannya, pers*tan dengan tim Wolfi yang hendak berlari ke arahnya.


"Enyah kau!"


Samuel pun terjatuh kelantai, namun dia berlari lagi ke arah Ayahnya dan menarik celana Arnold.


Arnold menatap tajam Samuel, dia mengangkat satu tangannya ke atas.


Sepersekian detik, Leon melayangkan pukulan diperut Arnold.


Bugh.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2