Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 71. Gangsta Paradise


__ADS_3

***


Ri dan Li reflek memutar tubuhnya ke belakang, dengan tertawa puas tanpa melepaskan Darla dan Lunna.


Seketika keempat mata berwarna grey itu terbelalak, dan menghentikan tawanya. Saat melihat tanda berbentuk segitiga kecil terukir di sisi kanan wajah, para pria di depannya.


Kumpulan pria berkulit hitam yang menjulang tinggi dan kekar berjumlah lima orang, menatap tajam dan dingin, seakan ingin menguliti Ri dan Li hidup-hidup.


Ri dan Li menelan ludah dengan kasar.


Gleg!


"Aku bilang turunkan mereka!" teriak pria yang berada paling depan. Suara bariton itu sangat nyaring dan tegas.


Seketika Ri dan Li menurunkan Darla dan Lunna dengan cepat.


Darla dan Lunna menghela napas lega sembari merapikan kostum yang mereka kenakan.


"Menyebalkan sekali!" gerutu Lunna dengan memanyunkan bibir. Begitu pula Darla bersungut-sungut dan berceloteh kecil.


Pemandangan itu tidak terlepas dari penglihatan lima orang pria. Mereka menunjukkan ekspresi wajah datar dan tidak bisa terbaca.


Li mendekati Ri dan mulai berbisik.


"Ri, kau lihat tanda di wajahnya. Ini pasti Gangsta Paradise. Bagaimana ini? Tuan Pablo mengatakan kita jangan pernah berurusan dengan mereka," ucap Li pelan di daun telinga temannya, membuat Ri melirik sekilas.


Ri ingat betul pesan Pablo Piccaso, sebelum masuk ke dalam Swedish House Mafia untuk jangan berurusan dengan orang yang memiliki ukiran segitiga di wajahnya, yang merupakan tanda Gangsta Paradise.


"Kenapa kalian berbisik-bisik?!" tanyanya lagi dengan tegas.


Ri dan Li terlihat salah tingkah, mengapa nyali mereka seketika menciut. Aura kelima pria itu sangat menyeramkan dan menakutkan. Lagi-lagi keduanya menelan saliva secara kasar, mereka bingung ingin menjawab apa.


"Sepertinya mereka bisu!" seru salah satu pria tersenyum remeh. Kemudian dia mengalihkan pandangan pada dua bocah perempuan yang sedang asik menyaksikan parade di jalanan.


"Hai, anak kecil, orang tua kalian di mana?" tanyanya tiba-tiba.


Darla dan Lunna mendongakkan kepala ke atas secara bersamaan. "Olang tua ku di sulga!" seru Darla cepat.


Kelima orang pria itu saling pandang satu sama lain. Entah apa yang mereka pikirkan.


"Dua pria ini siapa?" tanyanya lagi sambil melirik sekilas pada Ri dan Li secara bergantian.


"Meleka penculik!" Lunna menatap tajam dua pria bersetelan jas hitam tersebut.


"X, bereskan!" perintah seorang pria yang sepertinya pemimpin mereka.


...****************...


Sementara itu.


Leon, Lily, Lexi dan Breslin baru saja tiba di bangunan tua, yang sebagai tempat anak buah Pablo, untuk menyekap Darla dan Lunna. Mereka tidak menemukan keberadaan kedua bocah perempuan itu sama sekali.


Bangunan itu tampak senyap, seperti tak berpenghuni.


"Di mana mereka?" Leon menendang pintu ruangan di lantai lima. Dia mengetatkan rahangnya saat melihat kalung Lunna tergeletak di atas lantai.

__ADS_1


Lily tampak gusar sembari memijit pangkal hidungnya.


"Leon! Kita harus berpencar lagi! Hari sudah semakin siang!"


Lily membuang napas kasar.


Leon tidak menyahut. Pria bermanik warna coklat itu tampak berpikir.


"King!" seru Rey menyelonong masuk ke dalam ruangan.


"Ada apa?" tanya Leon melirik sekilas pada Rey.


"Aku baru saja mendapatkan informasi dari Montero kalau anak buah Pablo sedang mencari Darla dan Lunna!" jawab Rey cepat.


Leon mengerutkan dahi. "Maksud mu?"


"Darla dan Lunna kabur, King!"


"Benarkah?" Lily menimpali, perasaannya saat ini antara gusar dan lega.


Rey menganggukkan kepala.


"Di mana mereka sekarang?" tanya Leon dan Lily serempak tanpa sadar.


"Menurut pantuan Montero mereka di pusat kota!"


"Itukan sangat jauh dari sini, bagaimana mereka bisa berada di sana?" Lily kebingungan sebab jarak tempuh ke pusat kota sangatlah jauh. Lantas mengapa Darla dan Lunna bisa tiba di sana.


"Mereka menggunakan bak sampah sebagai alat transportasi!" seru Rey semangat, entah mengapa dia menyukai kepintaran Darla dan Lunna.


"What!" Lily sontak terkejut dan tak habis pikir.


Leon mengambil sigap tangan Lily dan mengayunkan kaki dengan cepat keluar ruangan.


Sedari tadi Breslin dan Lexi tidak menimpali obrolan. Mereka hanya mendengarkan seksama. Keduanya pun berjalan mengikuti langkah kaki pasangan kekasih tersebut.


Menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di area parkiran yang tak jauh dari pusat kota.


Kerumunan manusia memenuhi jalanan dan trotoar. Tampak beberapa orang menaiki kuda berwarna coklat maupun putih. Mereka berjalan di tengah jalanan ikut meramaikan parade yang telah di adakan.


"Leon, sebaiknya kita berpencar saja!" Lily memberikan saran agar lebih cepat bergerak.


Leon mengangguk setuju.


"Leon kita berpencar!"


"Iya, aku tahu!"


"Tapi bisakah kau melepaskan tangan mu, Leon!" seru Lily menatap tajam, sedari tadi kekasihnya itu tak sedikitpun melepaskan tautan tangan mereka. Padahal dia tidak ke mana-mana. Lily benar-benar bingung dengan gelagat Leon. Sebenarnya dia tidak risih, hanya saja situasi saat ini sangatlah tidak mendukung mereka untuk bermesraan.


Leon melihat tautan tangannya sembari mengulum senyum.


"Honey! Kita harus selalu bersama!" seru Leon dengan enteng.


"Leon!" Lily memutar bola matanya dengan malas.

__ADS_1


"Lex, ternyata King budak cinta!" seru Rey kepada Lexi.


"Kau tidak tahu Rey, aku setiap hari melihat kebucinan bos! Mata ku perih dan hati ku sakit!" jawab Lexi di dalam hatinya. Tentu saja dia tak berani berkata jujur. Bisa-bisanya nanti gajinya di potong kembali. Seperti tempo lalu Leon sangat marah ketika mengetahui Lexi yang memberikan bunga pada Lily. Membuat Leon salah paham dan memotong gaji Lexi, karena telah lancang mengirimkan bunga pada kekasih hatinya. Padahal Lexi sudah menjelaskan semuanya namun Leon tidak peduli!


"Rey apakah matamu ingin ku congkel?" tanya Leon sambil menatap dingin saat mendengar perkataan anak buahnya itu.


"Hehe, tidak King, aku hanya bercanda!" seloroh Rey sambil mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sudah, ayo kita cari mereka!" Lerai Lily saat mendengar perdebatan bos dan anak buahnya.


...----------------...


Kelima orang itu mencari Darla dan Lunna secara berpencar.


Tidak ketinggalan Montero juga ikut menyusuri kawasan tersebut. Mereka masuk satu-persatu ke dalam toko pakaian maupun toko mainan.


Leon dan Lily mendapatkan satu informasi penting bahwa ada sepasang bocah kecil membeli kostum monster inc di salah satu toko baju. Siapa lagi kalau bukan Darla dan Lunna, dengan menunjukkan foto di galeri ponsel Lily, dapat di pastikan itu benar mereka.


Leon dan Lily kembali mencari di sekitaran tempat. Begitu pula dengan Lexi dan Rey, sedangkan Breslin mencari di gang sempit di kawasan tersebut.


Kedua mata Breslin memicing saat melihat ada dua orang pria yang babak belur tergeletak di dekat bak sampah.


Breslin merasa janggal, instingnya mengatakan bahwa mereka penculik Darla dan Lunna. Dia menelpon Leon segera memberitahukan keberadaan dirinya sekarang.


"Hei, kalian bangun!" Breslin menendang kaki dua pria itu secara bergantian.


Satu pria segera tersadar dan mengerjapkan matanya.


"Siapa kau?" tanya pria bertindik.


Breslin tidak menjawab, dengan cepat ia memperlihatkan foto Darla dan Lunna kepadanya.


"Kau kenal mereka?" tanya Breslin sembari melihat reaksi pria di hadapannya.


Pria itu mengetatkan rahangnya tampak menahan amarah. "Bedebah! Bocah tengil!"


Mendengar perkataan pria itu, Breslin langsung melayangkan pukulan tepat di rahangnya.


"Kenapa kau memukul ku, ba**sat!"


Breslin mencengkram leher pria itu sambil bangkit berdiri.


"Breslin!" panggil Lily dari arah samping. Dia baru saja tiba bersama Leon, Lexi dan Rey.


"Nyonya, dia penculik Darla dan Lunna!" seru Breslin tanpa melepaskan tangannya.


"Di mana mereka?!" tanya Lily dengan sorot mata tajam pada pria bertindik itu.


"Aku ti-" Pria bertindik tidak melanjutkan perkataannya. Kedua matanya menyipit. "Itu!" ucapnya seraya menunjuk ke luar gang.


Lily membalikkan badannya, matanya memicing. "Darla! Lunna!" teriak Lily berlari cepat keluar gang. Saat melihat dua bocah berpakaian monster inc, duduk di atas mobil pick up dengan kepalanya di tutup kain hitam, bersama dua orang pria.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2