Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 45. Calon Anak


__ADS_3

****


Setelah membaca tolong tekan like, dan favoritnya ya.


Karena itu lonceng penyemangat author untuk terus update.


.


.


.


"Ada apa Mar?" tanya Lily sembari melirik sekilas.


"Itu ada darah, bok." Marimar menunjuk ke arah jalan raya.


Mendengar perkataan Marimar, seketika Lily mengalihkan pandangan kejalan raya. Kedua matanya dia fokuskan untuk melihat apa yang dimaksud oleh temannya itu. Namun karena cahaya lampu di sekitar jalanan kurang terang, ia pun jadi kesusahan untuk menelisik yang dimaksud oleh Marimar. Lily menghela napas dengan pelan.


"Mungkin salah lihat Mar, udah yuk ke kantor," ucap Lily mengajaknya untuk kembali, karena hari semakin gelap.


"Ih tapi itu kayaknya darah loh, Lily. Jangan-jangan itu orang bawa mayat di mobil. Kita kan ngak tahu," jelas Marimar dengan melototkan mata sedikit.


"Hushh ada-ada saja kau, Mar. Mungkin itu hanya air minuman yang tumpah didalam mobil." Lily memberikan pengertian.


Marimar menghela napas dengan kasar. Dia tak mau berdebat lagi, mungkin dia terlalu berburuk sangka. Keduanya pun memutuskan untuk segera berjalan kembali ke perusahaan. Sesampainya di sana mereka langsung mengerjakan kerjaan yang menumpuk, walaupun tugas itu bukanlah milik mereka melainkan milik Melisa. Yaps Melisa tadi pagi mengalami musibah yang mengakibatkan dia harus segera beristirahat di rumah.


Sungguh malang nasibmu Melisa.


Tapi bohong!


Karma selalu berlaku bagi setiap orang, tanpa terkecuali.


"Tapi ya bok, eyke ngak percaya kalau itu bukan darah. Walaupun cuma setetes gitu. You emang ngak nyium bau amis dari mobil. Eyke pasti ngak salah lihat." Marimar mendudukkan bokong dengan cepat di kursi kerjanya. Dia yakin, sangat yakin ada sesuatu hal yang aneh dari dalam mobil tersebut.


Lily hanya menatap ke arah Marimar, dia tak memberikan tanggapan sama sekali sembari kedua tangannya meletakkan minuman kopi yang sedari tadi mereka beli. Lily duduk di bangku kerja dengan perlahan.


"Besok eyke harus cek ke jalanan, biar eyke tenang tidurnya," ucap Marimar sembari menekan keyboard di atas meja.


"Eh, you katanya janji ya mau bantuin." Marimar menunjukkan muka memelas.


Lily terkekeh pelan, sembari memberikan satu cups coffe pada Marimar.


Marimar menerima minuman itu, dan segera menyeruput cepat air berwarna coklat tersebut.


"Iya, nanti aku bantu. Aku selesain sebentar kerjaanku, Mar," ucap Lily sembari kedua matanya memperhatikan Marimar yang sedang minum kopi.


"Yes, you memang wanita paling cantik." Puji Marimar dengan mengedipkan sebelah mata.


Lily menganggukkan kepala, sembari tersenyum simpul. Dia segera memulai perkerjaan yang tertunda tadi.


***


Si Kembar Triplet saat ini sedang bersama Lunna, di ruangan santai khusus yang disediakan oleh Tuan rumahnya. Tampak Lunna sedang memamerkan mainan terbaru yang dibelikan Leon beberapa hari yang lalu.


Lunna tak menyukai mainan perempuan seperti barbie ataupun boneka-boneka lucu, melainkan mainan laki-laki yang selalu membuat matanya berbinar. Si Kembar mengerutkan dahi saat Lunna memperlihatkan mainannya itu.

__ADS_1


Nickolas dan Samuel terlihat sudah mulai melunak hatinya, mereka dinasehati oleh Lily bahwa mereka tak boleh menaruh rasa kecemburuan pada seseorang tanpa sebab yang jelas.


"Lunna, kok mainannya mobil. Ini kan mainan cowok," ucap Nickolas sembari mengangkat mobil tamiya keluaran terbaru.


"Lunna suka mainan cowok kak Nick. Kalau mainan cewek ngak celu tahu." Celoteh Lunna.


"Boleh minta mobil ini ngak?" Samuel memegang mobil baru kepunyaan Lunna sembari melirik sekilas ke arah Nickolas, mulai deh mode jahilnya.


"Ngak boyeh, ini mobil balu Lunna." Lunna memanyunkan bibirnya sambil melipat kedua tangan didada.


"Masak ngak boleh, kan mobil Lunna banyak tuh." Samuel menunjuk beberapa mobil yang terpampang di lantai.


"Ih Lunna pelit," cetus Nickolas.


Tampak mata Lunna sudah mulai berkaca-kaca. dadanya naik turun.


"Bercanda Lunna." Nickolas terkekeh pelan sambil mengelus kepala Lunna.


Namun Lunna tak mengindahkan perkataan Nickolas, seketika air matanya mengalir di pipi bulatnya itu.


Nickolas dan Samuel kelimpungan dengan reaksi Lunna, mereka mengelus kepala dan punggungnya dengan perlahan.


Sedari tadi Kendrick hanya terdiam, memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh saudara kembarnya itu. Dia menghela napas dengan pelan, selalu saja membuat ulah.


Tap.. Tap.. Tap.


Suara derap langkah kaki, mengusik telinga mereka yang berada di ruangan. Seketika mereka mengerakkan kepalanya ke sumber suara.


Leon mengulum senyum saat melihat, keempat bocah kecil sedang bermain di dalam ruangan sambil menunggunya membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.


Leon mendekat ke arah mereka berada. "Ada apa?"


"Tadi kak Nick bilang Lunna pelit, gala-gala Lunna engak mau kasi meleka mobil." Lunna mengadu dengan raut wajah sedih.


"Lunna jangan sedih ya, kak Nick dan Sam cuma bercanda." Leon memberikan pengertian. Lunna pun menganggukkan kepala, berusaha memahami penjelasan dari Ayahnya.


Leon segera mengalihkan pandangan ke arah Nickolas dan Samuel.


"Kalian mau mobil?" tanya Leon.


"Kita cuma bercanda kok Uncle." Nickolas menggaruk kepalanya yang terasa tak gatal.


Leon tersenyum simpul. "Nanti Uncle belikan ya!" Dia mengelus pelan kepala Nickolas.


"Benarkah?" tanya Nickolas dan Samuel secara bersamaan.


Leon menganggukkan kepala dengan cepat.


"Uncle!" panggil Kendrick tiba-tiba.


"Iya." Leon menoleh.


"Ken, mau ngomong sama Uncle. Tapi cuma berdua." ucap Kendrick dengan raut wajah serius.


"Baiklah, Lunna main dulu ya sama kak Nick dan kak Sam. Nanti Daddy kesini lagi." Leon mengalihkan pandangan pada Lunna.

__ADS_1



Leon menuntun Kendrick untuk keluar dari dalam ruangan, perbedaan tinggi badan mereka sangatlah mencolok. Seperti kacang panjang dan kacang pendek saja, mereka berjalan dengan pelan. Beberapa pelayan yang berpapasan dengan Leon menundukkan kepala.


"Ken, mau bicara dimana?" tanya Leon memecah kecanggungan diantara mereka.


"Terserah Uncle saja," ucap Kendrick sembari menatap lurus kedepan.


"Baiklah, kita ke perpustakaan saja," ajak Leon.


Sesampainya di perpustakaan, kedua mata Kendrick seketika berbinar. Perpustakaan besar yang disusun begitu rapi, memanjakan matanya. Dia tak mengira Leon memiliki banyak buku, ekor matanya melihat beberapa buku musik berjejer rapi di salah satu rak tinggi yang berwarna coklat itu. Terdapat beberapa lukisan terpajang rapi di setiap dinding.


Leon mengulum senyum melihat tingkah Kendrick. Dia mempersilahkan Kendrick untuk duduk di sofa yang tersedia di dalam perpustakaan. Mereka duduk berhadapan.


"Kau suka membaca buku Ken?"


"Suka sekali!" jawab Kendrick cepat dengan raut wajah senang. Seketika dia sadar dengan tingkah lakunya, dia tampak salah tingkah.


Leon terkekeh pelan. "Ken, didepanku bersikaplah apa adanya."


Kendrick tak menyahut, dia menundukkan kepala.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan Ken?" Leon memulai obrolan.


Kendrick mengangkat kepala, dia langsung menatap lekat pada Leon. "Apakah Uncle mencintai Mommyku?"


"Iya, Uncle sangat mencintainya," ucap Leon cepat.


"Baiklah, apakah Uncle akan mencintai kami juga. Apakah nanti Uncle akan memberikan kasih sayang pada kami walaupun kami bukan darah daging Uncle?" Cecar Kendrick beruntun. Dia tak mau suatu saat nanti, ayah sambungnya membedakan kasih sayang antara anak kandungnya dan anak tirinya.


Leon menghela napas dengan pelan.


"Uncle akan memberikan kasih sayang pada kalian tanpa membedakan satu sama lain, walaupun kalian bukan anak kandung Uncle, sama seperti Lunna."


Kendrick mengerutkan dahi. " Maksud Uncle?"


Leon tak menanggapi pertanyaan pria kecil didepannya itu.


Jedar.


Tiba-tiba terdengar bunyi petir yang menggelegar di luar sana.


Sepersekian detik, Kendrick berlari cepat menuju Leon berada, dia langsung membenamkan kepalanya didada Leon.


Leon terkejut, dia memeluk erat tubuh Kendrick dengan sigap. Dia dapat merasakan tubuh kecil Kendrick gemetar. Leon mengelus pelan punggungnya.


"Tenanglah Ken." Bisik Leon di telinga Kendrick.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2