
Tiga hari kemudian.
Di sebuah rumah yang besar dan megah, terdapat kerumunan manusia tengah bersuka ria sebab anak bungsu dari pemilik si empunya telah selesai melangsungkan resepsi pernikahan.
Ruangan keluarga.
"Bocah gendeng! Kenapa muka mu babak belur begitu?" tanya Eko Suprapto pada putra bungsunya, ia tengah duduk di kursi roda berhadapan dengan kedua pengantin baru yang tengah senyam-senyum sedari tadi.
"Itu papi, kemari-"
Sebastian menyela. "Kemarin, dia-"
"Kemarin, Marco tidak sengaja mengintip Yellow mandi paman, jadinya digebukin sama Yellow," potong Lily cepat.
Sebastian berdecak kesal, melihat keberanian teman Yellow, ia menggelengkan kepala perlahan sambil menatap tajam Marco Suprapto, yang malah tak menyadari tatapan intimidasinya.
Sementara Yellow tentu saja salah tingkah, andai mertuanya tahu jika itu semua ulah Daddynya.
"Sorry,uncle," ucap Lily cengengesan menoleh ke arah Daddy Yellow.
Sebastian menghela nafas dengan panjang. Dia senang setidaknya putri semata wayangnya bahagia.
"Honey, nakal sekali ya, tidak ada takut-takutnya," bisik Leon pelan, dia duduk di samping Lily. Membuat wanita blasteran itu hanya mengulum senyumnya.
Mendengar penuturan Lily, Pak Eko akhirnya mengerti tanpa rasa curiga sama sekali. "Oh begitu, yang penting Marco normal!" cetus Papi Marco membuat sebagian orang yang di dalam ruangan tertawa keras, terkecuali Yellow, dan Sebastian.
"Memangnya, Marco kenapa?" tanya Yellow penasaran mengedarkan pandangan pada semua orang.
"Kamu tanya saja sendiri sama Marco, sayang," jawab Mami Marco sambil tersenyum simpul.
Membuat Yellow mengangguk, lalu dia mengalihkan pandangan pada Marco."Babe, bisa jelaskan pada ku?"
"Nanti tunggu di kamar ya," desis Marco pelan sedari tadi dia tak mengalihkan pandangan mata dari istrinya, ya sekarang Yellow adalah miliknya. Walau pun beberapa hari yang lalu, harus menantang maut untuk mendapatkan restu dari Sebastian, Daddy Yellow.
"Kenapa harus di kamar?" tanya Yellow lagi antusias, sambil menatap lekat membuat Marco ingin segera membawanya ke dalam kamar.
"Di kamar biar cepat berkembang biak!" seru Maximus dan Lexi serempak, mereka duduk bersama lima kurcaci siapa lagi kalau bukan si Kembar, Darla dan Lunna.
"Berkembang biak?" tanya lima kurcaci terheran-heran.
Membuat Leon melebarkan mata dengan sempurna ke arah Maximus dan Lexi secara bergantian.
Sementara lain terdiam membisu.
"Permisi!" Breslin hendak bergabung dia baru saja mengantarkan Anastasya pulang ke mansion. Sebab wanita paruh baya itu keletihan sedari pagi mempersiapkan acara pernikahan anak sahabatnya itu.
Kumpulan manusia di dalam bilik menoleh ke sumber suara.
"Mommy masih sakit punggungnya?" tanya Lily pada Breslin.
"Sudah tidak lagi, katanya Nyonya," jawabnya cepat sambil menjatuhkan bokong di samping Darla.
Lily mengangguk.
"Eslin, berkembang biak itu apa?" Darla masih penasaran. Begitu pula dengan empat kurcaci lainnya.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Darla, Breslin mengerutkan dahi. Ia mengedarkan pandangan pada seluruh manusia di ruangan.
Namun tak ada jawaban mereka hanya mengulum senyum sambil memperlihatkan gestur tubuhnya masing-masing seakan tak mau membantu.
"Om Lilin?" Kali ini Lunna yang bersuara.
Breslin menoleh ke arah Leon.
"Kalian bertiga punya tugas penting, setelah sampai ke mansion jelaskan pada mereka apa itu berkembang biak." Leon melirik sekilas Lexi, Breslin dan Maximus.
Mereka tersenyum kecut.
Tepat pukul sepuluh malam, satu-persatu keluarga inti dan sanak saudara, Marco pulang ke rumah masing-masing. Tak ketinggalan pula kelima kurcaci sudah pulang juga bersama Lexi, Breslin dan Maximus.
Kini, di dalam ruangan hanya ada, Sebastian, Yellow, Marco, Leon dan Lily. Mami dan Papi izin beristirahat.
"Marco, aku titipkan anak ku padamu. Jika kau melukainya, akan ku bunuh kau!" seru Sebastian.
"Tenang lah Dad. Putrimu tidak akan ku lukai. Dia akan aman bersamaku." Marco mengucapkan dengan tegas dan mantap sambil menggengam jari-jemari Yellow.
Membuat Sebastian, menghela nafas lega.
Yellow tersenyum sumringah, akhirnya dia memiliki seorang pria yang menyayangi dan mencintainya. Yellow sangat kagum dengan kegigihan Marco dalam menghadapi Daddynya itu.
"Baiklah, Daddy harus kembali ke Moskow." Sebastian mendekati Yellow, lalu mengecup sekilas kening putrinya. "Jadilah ibu yang baik, istri yang baik juga, Daddy akan merindukan mu, mainlah ke Moskow, dear," ucap Sebastian sambil memeluk erat Yellow.
"Iya, Daddy, maafkan aku yang selalu membangkang. Aku pasti akan ke sana." Yellow menggurai pelukkannya.
**
"Yellow, kau berhutang banyak penjelasan dengan ku!" seru Lily sambil beranjak berdiri lalu menghampiri Yellow.
"Aku pinjam Yellow, dulu," ucap Lily kepada Marco sambil menarik tangan Yellow, membuat Yellow bangkit berdiri.
"Jangan lama-lama, aku ingin berkembang biak," tutur Marco sambil memutar bola mata dengan malas.
"Cih, dasar mesum!" Lily berlalu pergi bersama Yellow meninggalkan Marco dan Leon.
Kedua wanita itu memutuskan pergi ke taman belakang, duduk di bangku panjang yang tersedia di situ.
"Yellow, kalian berdua benar-benar membuat ku jantungan. Tadi malam, saat Marco mengatakan padaku akan menikah denganmu di Indonesia, kami langsung terbang ke sini. Aku sampai tidak mandi, asal kau tahu saja. Jadi, jelaskan pada ku semuanya? Bagaimana Daddy mu bisa merestui hubungan kalian?" tanya Lily tidak sabaran. Dia tentu saja butuh penjelasan mengenai perjalanan cinta Yellow yang tidak diketahuinya sama sekali.
Dua hari yang lalu, memang benar Marco menghubungi Leon dan Lily bahwa dia berada di Moskow dan mengatakan dia baik-baik saja. Setelah mengatakan hal tersebut, Marco langsung mematikan sambungan telepon dan mengirim pesan kepada Lily. Untuk tidak mencampuri urusan percintaannya. Dia akan menyelesaikannya sendiri, dia juga meminta Lily berbohong pada kedua orangtuanya bahwa handphonenya rusak sehingga nomornya tidak aktif. Lily pun terpaksa mengiyakan.
"Oh my God! Pantasan kau bau!"
"Ih kau ini, dari banyaknya pertanyaan kau hanya menanggapi perkataan ku yang itu. Cepat katakan Yellow." Lily mendelikkan matanya.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya Marco meminta restu dari Daddy, tapi yang aku tahu Marco sangatlah pemberani, dia tidak ada rasa takut sama sekali. Daddy hampir saja membunuh Marco dengan senapannya, dan ajaibnya Marco dapat menghindar. Kau tahu sendiri kan, belum pernah ada seorang pun yang dapat mengelak tembakan Daddy!"
Lily hanya mengangguk cepat, dia memberikan ruang untuk Yellow bercerita.
"Dan malam itu, sewaktu aku di kurung Daddy di kamar. Marco mendobrak paksa pintu kamarku, dia berhasil kabur dari ruang bawah tanah. Padahal dia waktu itu babak belur dan terluka parah. Oh my God, dia benar-benar pria sejati, aku semakin mencintainya!" jelas Yellow mengebu-gebu, pancaran matanya menyiratkan kekaguman pada suaminya.
"Dasar bucin," desis Lily lalu terkekeh pelan. Bagaimana reaksi Yellow jika mengetahui bahwa Marco dulu adalah pria gemulai, pikir Lily.
__ADS_1
"Kau juga bucin!"
"Hmm, tapi kalau boleh tahu kalian tertangkap di mana waktu itu?' tanya Lily penasaran sebab terakhir kali ia melihat Yellow dan Marco tepat di hari pernikahannya.
Yellow tampak salah tingkah, ia tak langsung menjawab.
"Yellow!" Lily menatap tajam.
"Emm, di hotel," desis Yellow pelan.
"Oh my God, jadi ucapan Marco yang mengajakmu ke hotel waktu itu memang benar, kau benar-benar nakal Yellow!"
Yellow mengangguk.
"Kalian sudah?" Lily menebak jika di hotel Yellow dan Marco berhubungan badan. Bisa saja itu pemicu luka babak belur di wajah Marco.
Lagi, lagi Yellow mengangguk, tampak rona merah di kedua pipinya.
Lily menarik nafasnya dengan sangat panjang. Lalu ikut tersenyum bersama Yellow.
"Honey, ayo kita pulang, sudah malam!" Leon dan Marco berada sekitar beberapa langkah dari kedua wanita itu, mengusik obrolan hangat mereka.
Lily dan Yellow menoleh.
"Iya Honey." Lalu ia mengalihkan pandangan pada Yellow. "Yellow aku pulang dulu, kita bisa melanjutkan obrolan kita di lain waktu!" Lily bangkit berdiri begitu pula dengan Yellow, keduanya memeluk sejenak.
**
"Kemari kau!" seru Marco sambil menarik tubuh Yellow saat istrinya itu baru saja selesai membersihkan badan.
Yellow tersentak namun merasa bahagia. Saat Marco mengangkat tubuhnya ala bridal style. Lalu merebahkannya perlahan di tempat tidur.
"Kalau di dalam kamar, jangan pakai apa pun," ucap Marco sambil menarik lilitan handuk Yellow. Sekarang dia dapat melihat tubuh istrinya tanpa selembar kain satu pun.
Yellow tersipu malu, dia hanya tersenyum simpul mendengar perkataan suaminya.
Sedangkan Marco langsung membuka cepat bajunya lalu menindih tubuh Yellow.
"Sudah siap, sampai pagi ya," ucap Marco sebelum menyusuri tubuh istrinya.
"Ha?" Yellow melonggo, namun tiba-tiba mende sah pelan saat Marco mulai menjamah tubuhnya tanpa aba-aba.
"Marco..."
Pergulatan panas di malam pengantin itu pun terjadi, terdengar suara rintihan kenikmatan memenuhi ruangan kamar Marco yang berada di lantai tiga.
Begitu pula dengan Leon dan Lily, keduanya saling menggelorakan cinta mereka melalui sentuhan tubuh, entah sudah berapa ronde dan berapa posisi yang keduanya lakukan. Lily memanggil nama suaminya berkali-kali hingga menjelang pagi.
The End.
.
.
.
__ADS_1