
Di sisi lain.
Bandara Enterpiece.
"Max, kau yakin Mommy ke bandara ini?" Samuel memicingkan mata, melihat sekitarnya. Mobil mereka baru saja berhenti tepat di pelataran Bandara yang terlihat sepi dan minim pencahayaan.
"Iya." Maximus membuka seatbelt, membuka pintu mobil, mengangkat kaki, dan menutupnya.
Ia mengayunkan kaki dua langkah, membuka pintu belakang kendaraan.
Si Kembar, Darla dan Lunna menyembul keluar bersama Hiro di gendongan Darla.
Marimar melakukan hal yang serupa.
"Hei, kalian apakah kita tidak bertindak terlalu jauh?" Terpatri raut wajah cemasnya.
Marimar inhale, exhale.
Takut jika gajinya akan di babat habis oleh Lily.
"Kalau kau tidak mau ikut, ya sudah lah di mobil saja bersama dia!" seloroh Maximus melirik supir yang tertidur pulas di bagasi, akibat ulah Samuel yang menyerang titik kelemahan pria dewasa itu.
Marimar membuang nafas kasar.
.
.
.
Tampak kelima orang dewasa tengah bersiap sedia hendak memasuki pesawat jet tempur.
Lily merapikan rompi anti peluru. Ia menarik cepat retselting di dada Leon.
"Honey, kau yakin mau ikut? Aku bisa mengejarnya bersama Lexi dan Breslin," ucapnya bernegosiasi.
Sebab ia khawatir dengan kekasihnya, yang belum terlihat pulih.
"Justru aku khawatir jika ia masih berkeliaran bebas di sana. Tenanglah aku ini punya sembilan nyawa," kelakar Leon.
"Aish memangnya kau kucing, apa?" Lily memutar bola mata.
Leon mendekatkan tubuhnya dan menangkup pipi Lily. "Bersama mu, aku selalu kuat."
Mendengar ucapan Leon, ia tersenyum kecil.
Sentuhan jari-jemari itu, menenangkan jiwanya yang di landa rasa gelisah tadi.
Seketika hatinya berdesir.
Tiba-tiba, Leon menarik ikatan rambut Lily. Menyebabkan rambut panjang Lily tergerai acak-acakan.
Lily membelakakan mata. "Kenapa kau lepas ikatan rambut ku?" gerutunya kesal. Rambutnya jadi berantakan.
"Leher mu menaikkan birahi ku, Honey," desisnya di daun telinga Lily.
Reflek wanita itu memukul dada Leon. "Dasar mesum,"
"King, semua sudah siap!"
Di ujung sana, Lexi mengacungkan jari jempolnya mengusik interaksi sepasang kekasih itu.
Leon mengalihkan pandangan dan mengangguk. "Ayo kita tidak punya banyak waktu!" Ia menyambar tangan kanan Lily dan berjalan cepat hendak memasuki pesawat tempur.
"Tunggu!!!" panggil seseorang dari arah belakang.
Leon dan Lily menghentikan langkah, dan membalikkan badan.
Lily melebarkan mata.
Leon memijit pelipisnya.
Maximus menggendong Darla dan Lunna berada di dekapan Marimar. Sedangkan si Kembar berada di tengah kedua pria itu.
"Darla, Lunna, Ken, Nick, Sam, apa yang kalian lakukan di sini? Max, Mar di mana Mommy??"
Mereka tak menjawab namun tanpa ba bi bu berlari lincah seperti cheetah masuk ke dalam pesawat.
Lily kehilangan kata-kata.
Ia mendengus.
"Leonnn!! Kau lihat mereka masuk ke dalam, ayo suruh mereka keluar!" Lily hendak berjalan, Leon menarik tangannya.
"Sudahlah, biarkan saja. Kita harus segera ke sana! Nanti kehilangan jejak!" Leon yakin akan ada drama yang panjang jika menyuruh mereka keluar.
"Tapi Le-" Lily tak percaya mendengar penuturan Leon barusan. Pasalnya mereka akan berhadapan dengan musuh. Ia takut anak dan keponakannya terluka.
"Sudahlah, Honey!" pungkas Leon sembari menggengam tangan Lily dan berjalan masuk.
,
"Jangan membuat ulah!" Lily menatap tajam Marimar.
Marimar menundukkan kepala.
"Mami, papiiiiiiii!" teriaknya dalam hati.
"Gaji mu ku potong 90%!"
Ia masih melayangkan tatapan tajam dan dingin seakan mau memakan mangsa di hadapannya.
"Ha?!" Marimar mengangkat kepala.
__ADS_1
Gleg!
Ia menelan saliva melihat tatapan Lily, mengurungkan niat untuk membuka mulutnya.
"Mom, apakah marah sama kami?" tanya Samuel.
"Mom, maafkan kami. Kami hanya tak mau Mommy dan Daddy kenapa-kenapa?"
"Kami hendak membantu Daddy dan Mommy!"
"Kami hanya ikut-ikutan Mom, hehe!"
Darla mengangguk sembari memegang tas ranselnya.
Di cecar pertanyaan dari sang anak, ia mengalihkan pandangan pada Leon yang berdiri di samping tubuhnya.
Keduanya menghela nafas.
"Sudahlah, kalian pasang sabuk pengaman dan headphone di telinga. Duduk tenang di situ!" perintah Leon seraya menunjuk bangku yang memanjang.
(Keadaan bangku di dalam pesawat jet tempur, seperti kursi angkot. Dua bangku panjang saling berhadapan.)
Mereka mengangguk patuh.
Lily segera mengambil rompi kecil dan headphone.
"Maafkan, aku Mom!" Kendrick menjatuhkan bokongnya dan mengambil posisi senyaman mungkin.
"Sudahlah, mau bagaimana lagi. Ini salah Mommy juga," ucapnya sambil memakaikan rompi pada Kendrick, menaruh headphone di telinga dan memasang seatbelt.
.
.
.
"Yellow, kami sudah siap!" Lily duduk di kursi pilot , ia menekan tombol di depannya.
"Good, posisi terakhir dia ke arah Selatan!"
"Arah Selatan?" Ia menekan tombol di atasnya, memeriksa navigasi dan semua mesin, serta melihat situasi di sekitarnya apakah sudah aman untuk lepas landas.
"Iya, Lily. Cepatlah waktu mu tidak banyak!" seloroh Yellow, memantau di Air Traffic Control, melihat radar pergerakkan pesawat Pablo.
"Oke!"
"Honey, aku tidak tahu kalau kau bisa menerbangkan pesawat!" Ia baru saja selesai memeriksa rute penerbangan dan mengutak-atik benda di depannya.
Lily memintanya untuk menjadi co-pilot saja, mengingat kondisi kekasihnya masih lemah. Walapun harus berdebat sejenak tadi, akhirnya Leon pun mengalah, mau tidak mau.
Ia lagi lagi terkejut dengan kemampuan Lily.
Berdecak kagum.
Leon mengangguk setuju.
"Aku sangat beruntung memiliki mu!" ucapnya sambil menyembunyikan rasa perih yang menjalar di perutnya.
"Leon kau tak apa-apa?" Lily cemas melihat bibir Leon semakin pucat.
Ia menaikkan tuas saat mendengar Yellow memberi aba-aba padanya.
Leon menggelengkan kepala, mengatakan ia baik-baik saja.
.
.
.
Di atas pencakar langit, nampak pesawat tempur terbang gesit.
"Lily, Pablo berada 300 meter di hadapannya mu, ada pesawat jet tempur lain yang berada di dekatnya! Mereka juga mengejar Pablo, dan sekutunya. Jadi jumlahnya ada empat pesawat di udara saat ini. Mereka sedang duel udara, ini sangat seru Lily."
Oceh Yellow panjang lebar menjelaskan keadaan di sana di depan sana. Yang tak bisa di lihat oleh Lily.
Lily tak membalas, menghela nafas. Ia teringat kelima bocah kecil di belakang sana.
"Kita harus berkerjasama Yellow, hubungi pesawat pemerintah agar tak menyerang ku. Aku berpihak pada mereka!"
"Oke, 100 meter di depan mu! Bersiaplah!"
"Roger!" (di terima) sahut Lily.
Ia melirik Leon sejenak, keduanya mengangguk sedikit
Mereka bersiap sedia menghadapi segala sesuatu yang tak terduga nantinya.
.
.
Suara pesawat jet tempur menukik tajam di ujung sana.
Berputar-putar.
Menukik.
Dan menyerang satu sama lain.
.
.
__ADS_1
.
.
Radar di layar kecil di hadapan Lily menampilkan empat buah pesawat saling beradu di udara.
Musuh terdeteksi
"Alpha 1, meminta izin untuk menembak?" sahut Lily cepat.
"Tunggu! bergerak lah dulu ke zona A4. Posisi awal! Kau masih berada di wilayah sipil!" protes Yellow.
"Roger!!" sahut Lily pasrah.
"Yellow, dua pesawat hitam itu kelimpungan. Aku harus membantu?!" Kedua mata elangnya menangkap di ujung sana pergerakkan pesawat.
Yellow tak menyahut, dia memperhatikan situasi di udara di Tower ATC bersama Staff penerbangan.
Sepersekian detik
Dor...dorr..dorr....ddoorr..
Sebuah pesawat jet yang di yakini sekutu Pablo hendak mengecatkan peluru pada sayap kanan pesawat Lily.
"Damn!!" Lily melakukan manuver menukik untuk menghindar dari serangan tersebut.
Hampir saja!
Lily pun masih menghindar, dengan meningkatkan kecepatan.
Menukik tajam dan lincah.
Kini, pesawatnya berada di depan musuh.
"Alpha 1, izin untuk menembak??!!!!" seru Leon cepat, ia geram sebab musuh mulai bertindak.
"Alphaaaaa 1, situasi darurat di belakang musuh !!!" Leon berkerjasama dengan Lily menaikkan tuas.
Tak ada sahutan.
"Si_allll!" umpat Leon. "Alphaaaa 1, izin menembak?!"
"Jangan bertindak, kau berada di wilayah sipil!" sahut seorang pria di radio.
Keduanya mengeryitkan dahi.
"Di mana Yellow?!"
"Pancing musuh untuk keluar dari area perkotaan!" sahut pria itu memberikan perintah.
"Roger!" (di terima)
Mereka tak mau ambil pusing saat Yellow mulai menghilang kembali seperti jelangkung.
Lily menukik tajam, menerbangkan pesawat jet mengikuti perintah staff penerbangan.
Tiba-tiba
BOOM.
Suara ledakan di atas sungai East memekakan telinga.
"Oh My God! Bedebah itu menyerang pesawat pemerintah!" sahut Lily berbicara dengan Leon.
Lily melihat gencatan senjata dari pesawat Pablo yang berada tak jauh darinya.
Hingga satu pesawat pemerintah hancur dan jatuh ke bawah sana.
Kini di atas langit gelap.
Dua pesawat Pablo
Satu pesawat pemerintah.
Dan satu pesawat milik Lily.
Melayang-layang di udara.
"Alpha 1, izin menembak?" sahut Leon saat memastikan mereka sudah di wilayah yang aman dari warga sipil.
Staff penerbangan mengiyakan permintaan.
Dor...dor...dorr..
Doorr.. Dorr..
Leon melontarkan peluru pada pesawat Pablo namun sepertinya pilot benar-benar terlatih sehingga serangan terelakkan.
Pesawat musuh menukik ke atas dan hendak menyerang balik pesawat Lily.
Dengan melontarkan rudal.
Namun pesawat pemerintah melindungi pesawat Lily dengan cepat.
Alhasil pesawat itu pun hancur seketika.
Situasi memanas.
2 lawan 1?
.
.
__ADS_1
.