Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 35. Pesta


__ADS_3

...Bahasa Rusia terjemahan di ambil dari Mbah Gulu Gulu....


.


.


.


.


как твои дела?


"Bagaimana kabarmu?"


очень хороший!


"Sangat baik!"


Terdengar suara helaan napas seorang wanita, di sebrang sana.


Вы принимали лекарства?


"Kau sudah minum obat?" Tanyanya lagi.


кажется уже


"Sepertinya sudah." Terkekeh pelan.


"Ckk." Wanita itu berdecih kesal.


Ты отстой, я серьезно!


"Kau menyebalkan, aku serius!"


Dirinya kembali terkekeh, dia membayangkan raut wajah temannya yang sedang kesal.


"Мне лень с тобой спорить, передай привет двойняшкам"


"Aku malas berdebat denganmu, sampaikan salamku pada si Kembar!" Wanita itu menutup panggilan telepon dengan sepihak.


Tut.


Lily menaruh smartphone miliknya di atas nakas, mendengar suara temannya di belahan dunia, membuatnya merindu. Lily menghempas bokong sintalnya itu dengan kasar di atas kasur empuk. Perlahan dia membaringkan diri di sana, menikmati kasur yang terasa seperti di hamparan awan, sembari merentangkan kedua tangannya. Lily menarik napas dengan kasar, dengan cepat dia beranjak dari tempat tidurnya.


Lily berjalan cepat ke arah lemari khususnya berada, dia menekan sidik jari di lemari itu, dengan satu sentuhan lemari besi yang berwarna gelap itu pun terbuka otomatis. Lily mengedarkan pandangan, dia mengambil remote control yang terpaut di satu kotak, secepat kilat Lily menekan angka satu.


10 Layar monitor berukuran sedang, seketika muncul menghiasi tembok berwarna biru dongker itu. Lily menajamkan matanya, dia melihat dengan seksama pergerakan manusia yang tertangkap di setiap sudut ruangan apartmentnya.


Raut wajah Lily datar, tak berekspresi. Kedua matanya menyapa monitor 1, yang memantau aktivitas di luar pintu. Mata Lily bergerak satu-persatu pada monitor lainnya. Seketika bola matanya terhenti di monitor 6, terlihat si Kembar sedang bermain satu sama lain, satu senyuman tipis terukir di wajahnya. Kembali dua bola mata Lily bergerak lincah, memeriksa setiap monitor tersebut tanpa terlewat satu pun.

__ADS_1


Seketika Lily menekan kembali angka 1 lagi, monitor itu otomatis padam dan menghilang di balik tembok.


Sepersekian detik, terdengar bunyi alarm melalui handphonenya, dengan tergesa-gesa Lily mematikan alarm.


Lily melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam kamar mandi. Lily melepaskan kain yang melekat di tubuhnya satu-persatu. Dia memasukkan kedua kaki rampingnya dengan pelan ke dalam bathtub yang sudah terisi dengan bunga dan wewangian sabun.


Lily mendudukkan tubuhnya perlahan, kedua tangannya menyangga pada tepian bathtub. Lily menghela napas dengan kasar, dia menengadahkan kepalanya ke atas. Lily menatap langit-langit, entah apa yang sedang di pikirkannya, tatapan matanya datar. Lily memejamkan matanya sesaat, perlahan tubuh Lily merosot ke dalam bathtub bersamaan dengan kepalanya ikut menghilang. Gemercik air bertumpah ruah dari bathtub itu.


5 detik, 20 detik, 45 detik, 60 detik.


Byurr.


"Cukup!" Raung Lily tiba-tiba, saat kepalanya menyembul cepat ke udara, sorot mata Lily begitu dingin dan tajam dengan napas memburu, Lily memandang lurus ke depan.


.


.


.


.


.


.


Hotel Emperor.


Pejabat-pejabat tanah air memamerkan pakaian mewahnya sambil menampilkan senyum palsu ke awak media yang meliput acara resepsi pernikahan si empunya acara.


Di ambang pintu masuk berhenti sebuah mobil Bentley Bacalar, satu pria tampan bertubuh kekar keluar, di balik pintu depan, dia mengitari mobil itu dengan lincah. Tangan kokohnya membukakan pintu utama mobil tersebut.


Seorang pria dan wanita berparas elok menyembul keluar dari dalam mobil, pria tampan yang memiliki manik mata coklat itu menatap lurus ke depan tanpa ekspresi, dia mengenakan setelan jas berwarna biru dongker senada dengan sepatu pantofelnya. Dia melirik sekilas ke arah Lily, senyuman tipis terukir di wajahnya saat melihat kekasihnya kesusahan untuk mengangkat gaun yang di kenakan malam ini.


Leon mengulurkan tangannya berniat membantu pujaan hatinya, Lily dengan sigap menerima uluran tangan Leon.


Lily mengenakan gaun yang berwarna biru laut dengan sedikit belahan di samping tubuhnya itu mengekspos lekukan pundak dan leher jenjangnya yang amat elok.


Penampilan Lily malam ini dengan riasan natural di wajahnya terlihat menawan. Hidung mancung, bulu mata lentik, dan bibir tipis berwarna pink menjadi perpaduan yang sempurna.


Leon melirik sekilas ke arah Lily. Dia mendekatkan tubuh kekarnya itu pada tambatan hatinya. Leon menyengol sedikit lengan Lily, Leon sudah dengan posisi tangan yang membentuk setengah bulatan di samping tubuhnya.


Lily mengulum senyum melihat tingkah Leon, dengan sigap Lily menautkan satu tangan kirinya bertengker pada tangan Leon. Mereka berjalan perlahan ke dalam Ballroom hotel.


Lexi mengekori dari belakang sambil mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Sorot matanya sangat dingin saat melihat sekumpulan bodyguard berjejer di setiap pintu masuk. Satu senyuman remeh terbit di wajahnya.


Ballroom.


"Honey, kau siap?" tanya Leon lembut, menatap lekat pada sosok wanitanya. Ingin sekali dia memeluk Lily saat ini. Ah dia selalu rindu dengan Lily, setiap saat, setiap detik,dan setia menit.

__ADS_1


"Tentu saja, aku siap!" jawab Lily sigap.


Leon tersenyum mendengar perkataan Lily, dia mendekatkan bibirnya ke daun telinga Lily.


"Kenapa kau sangat cantik, Honey!" Puji Leon sambil mengedipkan sebelah mata.


Blush.


"Cih." Lily berdecak kesal sambil menyenggol lengan kekasihnya itu.


"Ternyata kau genit ya, Mr. Andersean!" Lily pura-pura kesal.


Leon terkekeh pelan, dengan sigap mengecup pipi Lily.


Lily terkejut, " Leon!"


"Kau sudah gila apa, hari ini kau sudah mencium ku sebanyak 5 kali. Kau tak malu di depan banyak orang, Leon!" Sahut Lily sambil melototkan mata dan menyilangkan kedua tangan di dada.


"Itu masih kurang, Honey. Aku tak peduli!"


.


.


.


7 meter dari tempat kedua insan yang sedang di mabuk cinta berada.


Arnold dan Rissa sedang sibuk dengan tamu undangan, terkadang mereka duduk dan terkadang berdiri, ahh sungguh melelahkan! Senyum sumringah terukir di pasangan pengantin baru itu, Rissa tak henti-hentinya tersenyum angkuh, saat mengingat bahwa sekarang dia sudah menjadi Nyonya Kardo. Dia sungguh tak sabar ingin pulang ke Mansion milik Arnold. Rissa tak sabar ingin membeli tas mewah impiannya, dan memamerkan tas itu pada teman perkumpulan sosialitanya.


Arnold tersenyum saat beberapa koleganya datang menghampiri dan memberikan ucapan selamat. Seketika kedua bola matanya terusik dengan kehadiran sepasang kekasih yang mendekat pelan ke arah mereka. Rissa yang berada di sampingnya, mengerutkan dahi ketika melihat sosok yang dia benci berada di pesta pernikahannya.


"Arnold, bukankah itu Lily?" tanya Rissa dengan muka masam.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Tinggalkan jejak, like, komentar, vote!!!


__ADS_2