
***
Dor.
Suara tembakan kembali menukik ke arah mobil Leon. Namun Leon dengan gesit mengemudikan kendaraannya sehingga Lily ataupun dirinya tidak terkena timah panas itu.
"Damn!" umpat Leon saat melihat dua mobil Swedish masih mengikuti mereka. "Kau meremehkan ku, bedebah!?" Pria itu tersenyum licik dan melemparkan granat ke dalam mobil Swedish yang sekarang berada di samping kendaraannya.
Bledar.
Satu buah mobil meledak.
"Sekarang giliran aku melemparkan granat, Honey!" sahut Lily sedari tadi dia menembakkan peluru pada musuh yang berada di samping kanan mobilnya.
"Boleh! Tapi kau harus cium aku dulu!" Leon tersenyum licik, dia butuh vitamin agar semakin bersemangat untuk melancarkan aksinya.
"Oh my God! Kita dalam keadaan genting! Kau masih sempat-sempatnya mesum! Tidak bisakah nanti saja!" Lily mendengus kesal mendengar permintaan sang kekasih.
"Now!!! Aku tidak mau tahu!!" seru Leon. Pria itu tak peduli dengan situasi di sekitarnya. Dari tadi dia tak bisa menahan hasratnya saat melihat leher jenjang Lily, yang menggoda jiwa laki-lakinya. Pasalnya Lily mengikat rambutnya ke atas sehingga menampakkan ceruk lehernya yang begitu mulus.
"Cih!! Kau ini sangat menyebalkan!" Kesal Lily seraya menggelengkan kepala sebab Leon benar-benar mesum dan tidak tahu tempat.
__ADS_1
"Menyebalkan begini pun, jodohmu!" seru Leon dengan tersenyum penuh arti karena senang melihat kekesalan Lily.
"Terserah! Aku tidak akan memberikan mu jatah di malam pertama nanti!" Ancam Lily, ia tidak terima untuk kalah. Wanita itu tak habis pikir dengan permintaan Leon di saat mereka tengah bertarung melawan musuh yang semakin bertambah banyak mengikuti kendaraan mereka.
"What?! Oke fine! Selesai menghabisi musuh di belakang, kita ke hotel!" Gertak Leon tersenyum licik, sembari melihat mobil Swedish di sampingnya melalui kaca spion. Kemudian dia menembakkan peluru tepat di bagian depan ban musuhnya.
"Kau melanggar prinsip mu?!" seru Lily tegas dengan melirik ke samping seraya melototkan matanya pada Leon.
"Hanya dengan mu, aku melanggarnya!" balas Leon dengan membelokkan mobil ke kiri.
Lily tak mengubris permintaan kekasihnya. "Honey mana granatnya?" Wanita itu menengadahkan tangannya pada Leon.
Leon menaikkan sebelah alis matanya. "Tidak akan ku berikan sebelum kau menuruti permintaan ku!" ucapnya tegas sambil mengulum senyum.
"Di bibir ku!" ucap Leon tanpa menatap lawan bicaranya. Sebab kedua matanya fokus ke depan jalan raya.
Lily menghela napas dengan kasar.
"Awas saja setelah menikah nanti, aku akan menghukum mu!"
"Ayo cepat Honey!" Leon mendengar samar-samar bunyi sirine polisi mendekat. Kemudian dia berbelok kanan masuk ke jalan pusat kota.
__ADS_1
"Bagaimana caranya aku berciuman dengan kau, Honey!?" Lily mengerutkan dahi.
"Kemarilah!" Leon menekan satu tombol khusus di dashboard mobil, dan menarik tubuh Lily agar lebih mendekat. Kemudian dia mengecup dan melum_at bibir kekasihnya dengan begitu rakus.
Lily tersentak seketika aliran listrik, menjalar di sekujur tubuhnya, permainan lidah Leon benar-benar memabukkannya.
"Wow, kau menikmatinya juga!" cetus Leon setelah melepaskan tautan bibirnya. Ia kembali memegang setir kemudinya.
Lily tak menjawab, dia segera memalingkan wajahnya ke jendela, menyembunyikan semburat warna merah di pipinya.
'Damn! Mengapa aku jadi menginginkan lebih. Hey, sadarlah Lily. Kau jangan ketularan mesumnya! Ini semua karena ulah Leon!'
"Honey, mana granatnya?!" Lily bertanya lagi sambil menembakkan kembali timah panas pada kendaraan musuh.
"Di saku celana ku, ambil saja!" Leon tersenyum penuh arti.
Lily menghela napas kasar dan memutar bola matanya dengan malas.
.
.
__ADS_1
.
.