Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 65. Di mana Mereka?


__ADS_3

***


Lily mengayunkan kedua tungkainya dengan begitu anggun. Wanita bermanik biru laut itu menatap lurus ke depan.


Seketika langkah kaki Lily terhenti.


"Max!" panggil Lily tanpa memutar tubuhnya.


"Iya Nyonya."


Sedari tadi, Maximus mengekori dari belakang. Langkah kakinya pun ikut berhenti. Dia mengernyitkan dahi dengan pergerakan Lily.


"Di mana ruangan Breslin?" tanya Lily tanpa menatap lawan bicara.


"Ada di ujung lorong, Nyonya," tutur Maximus sembari mendekatkan tubuh ke samping Lily.


"An...."


"Nyonya!" Fabio memotong pembicaraan Lily dan Maximus.


Lantas Lily membalikkan badan ke belakang. Dia menatap datar Fabio, yang saat ini tengah berjalan cepat menghampirinya.


"Nyonya tidak apa-apa, kan?"


Fabio menelisik tubuh Lily. Dia terlihat cemas.


"Dad, aku baik-baik saja." Lily terkekeh pelan dengan kekhawatiran Fabio.


"Mulai dari sekarang jangan pernah memanggil ku dengan sebutan Nyonya!" ucap Lily tegas.


Fabio mengerutkan dahi. "Kenapa tidak boleh?"


"Aku tidak suka dengan panggilan itu, panggil aku Lily saja Dad," jelas Lily singkat sembari tersenyum simpul.


Fabio mengulum senyum. "Baiklah."


"Daddy, bisakah antarkan aku ke ruangan Breslin. Aku mau berbicara dengannya."


Fabio tak langsung menyahut. Dia mulai terlihat cemas.


"Dad, aku tahu siapa pelaku yang membunuh Ayah ku. Arnold kan?"


Deg.


Fabio mematung, lidahnya kelu.


Lily membuang napas saat melihat ekspresi pria di hadapannya.


"Dad, aku punya insting yang kuat. Mau kau berbohong sekali pun. Aku pasti akan tahu. Sekarang Darla dan Lunna sedang dalam bahaya. Aku tidak tahu mereka berada di mana sekarang," tutur Lily cepat dengan menunjukkan raut wajah sedih.


Mendengar penuturan Lily, Fabio menghela napas. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Dia menyadari kesalahannya, Lily bukanlah wanita yang mudah di bohongi.


"Maafkan aku, Lily. Aku hanya tidak mau kau ikut terjatuh ke dalam rantai balas dendam. Arnold berkerjasama dengan Pablo. Pablo Picasso adalah sahabat yang berubah menjadi musuh Daddy mu dahulu. Dia selalu membuat Daddy mu menderita. Padahal kami sudah menjelaskan bahwa itu hanyalah kesalahpahaman. Tapi dia tidak mau mendengarkan kami sama sekali," jelas Fabio singkat.


Lily mangut-mangut mendengarkan penjelasan Fabio.


"Kalau boleh tahu kesalahan apa yang telah di lakukan oleh Daddy ku dahulu?"


Fabio menarik napas dengan kasar, kemudian dia menceritakan dengan singkat, kesalahpahaman yang terjadi di antara kedua orang sahabat tersebut.


Lily tertegun, saat mendengar penuturan dari Fabio.

__ADS_1


Tanpa sadar Fabio, Lily dan Maximus menghela napas berat. Mereka tidak habis pikir mengapa pikiran Pablo sangat dangkal.


Namun, ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Lily saat ini. Tapi dia hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati.


"Lalu, kenapa Arnold sebegitu bencinya dengan Daddy? Kenapa dia mem...."


Lily tidak dapat melanjutkan ucapannya. Saat mengingat perkataan dari polisi tempo lalu, yang menjelaskan keadaan di tempat kejadian. Seketika matanya berkilat, dan rahang Lily menegang.


Fabio yang melihat ekspresi Lily memaklumi. Dia berharap, Lily tidak terlalu jatuh ke dalam lembah balas dendam.


"Nak," tegur Fabio sambil menepuk pundak Lily.


"Maaf, Dad. Aku melamun." Lily segera tersadar. Detik kemudian dia menatap kembali Fabio.


"Apakah jadi ke ruangan Breslin?" Maximus menginterupsi, sedari tadi dia tidak menimpali obrolan Lily dan Fabio. Namun dia baru saja sadar, tadi Lily memintanya untuk bertemu dengan Breslin.


"Astaga, aku sampai lupa. Ayo Dad, waktu kita tidak banyak!" ajak Lily.


Fabio mengangguk sedikit.


......................


Ceklek.


Suara derap langkah kaki, mengusik indera pendengaran Breslin. Pria itu, duduk di bangku dengan kedua tangannya terikat ke belakang. Dia mendongakkan wajahnya. Breslin membuka kelopak mata perlahan. .


Samar-samar dia melihat tiga orang masuk ke dalam ruangan. Aroma parfum perempuan yang lembut, menyeruak ke dalam indera penciumannya. Breslin mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha mempertajam penglihatannya.


"Hmmm."


Lily berdeham saat sudah berada di hadapan Breslin, dia melihat intens sekujur tubuh dan wajah Breslin yang sudah penuh dengan luka lebam.


"Ke mana Arnold, membawa Darla dan Lunna?" tanya Lily dengan sorot mata dingin dan tajam.


Bugh.


Satu bogeman mengarah tepat di wajah Breslin. Lily melayangkan pukulan dengan sigap.


"Apa alibi mu saat kau menolong Darla? Apa kau mata-mata yang berusaha mendekati musuh dari dekat?" cecar Lily beruntun.


"Alibi ku hanya satu, aku teringat dengan adik ku di kampung. Apa salah ku membantu anak kecil yang tidak tahu menahu, mereka makhluk mungil yang harus di jaga."


"Cihh." Lily menyeringai.


"Lalu mengapa kau tidak ikut andil dalam kejadian kemarin?"


"Aku bukan iblis Nyonya! Aku sudah melihat Arnold membunuh istrinya sendiri!"


Deg.


Lily tertegun.


"Rissa dan Ardella, di bunuh Arnold di mansion. Dia mendorong mereka berdua dari lantai dua. Aku juga yang telah membuang mayat mereka ke tempat sampah, dengan terpaksa! Aku muak dengan Arnold! Dia sudah sering melakukan perbuatan keji! Dia juga pernah menculik Lunna anak dari Tuan Leon Andersean, dan aku pula yang membantu Lunna untuk kabur. Kalau bukan hutang balas budi keluarga ku, aku tidak akan mau berkerja dengannya," jelas Breslin singkat.


Lily, Fabio dan Maximus saling pandang satu sama lain, saat mendengar penuturan Breslin.


Hening sejenak!


"Baiklah, alibi mu di terima," ucap Lily memecahkan keheningan.


"Kau kenal dengan Pablo Piccaso?"

__ADS_1


"Iya, aku kenal. Aku pernah bertemu dengannya. Mister Pablo berkerjasama dengan Arnold."


"Kau benar-benar tidak tahu, ke mana Darla dan Lunna di bawa?"


Breslin tidak langsung menyahut, dia tampak sedang berpikir.


"Los Angeles!"


Keempat orang di dalam ruangan saling menatap satu sama lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di benua lain.


"Wow bagus sekali!" cetus Darla sambil menyembulkan kepala mungilnya keluar jendela mobil. Kedua mata Darla menatap kagum gemerlap Kota Metropolitan itu. Walaupun dia sudah sering ke luar negeri, namun tempat ini sangatlah keren di mata bocah tersebut.


"Dalla, ayo duduk!" Lunna menarik pergelangan tangan Darla.


"Ih menganggu kesenangan olang saja," sungut Darla dengan mimik muka masam.


Lantas Darla pun duduk kembali ke tempat semula.


"Dalla, kita ini di culik. Kenapa kau malah senang?" Lunna berbisik sambil melototkan bola mata.


"Memangnya culik itu apa?" Darla pun ikut berbisik.


Keduanya pun berbisik-bisik namun mereka tak menyadari jika obrolan mereka, dapat di dengar oleh keempat orang pria di dalam mobil.


Supir yang berada di depan, menahan senyumnya. Saat mendengarkan perbincangan tidak jelas dari kedua bocah tersebut.


Lain halnya dengan satu orang pria di samping si pengemudi dan dua orang pria yang berada di kursi paling belakang. Mereka menatap lurus ke depan dan tidak menghiraukan celotehan Darla dan Lunna.


"Ihh Dalla, kenapa kau tak mengelti kita sedang dalam bahaya."


"Memangnya kita mau di apakan sama meleka?"


Darla menggerakan kepala ke depan dan ke belakang, mencari jawaban atas kebingungannya. Maklum saja dia pernah menonton film Baby's Day Out. Anak bayi yang di culik tapi berpetualang di Kota. Bukankah itu seru, pikirnya.


"Nanti kita di pukul-pukul," jelas Lunna memberikan pengertian sambil menatap jengah Darla.


"Kalau begitu kita pukul balik, seperti di film-film!" Darla melayangkan pukulan ke depan.


Kali ini Darla mengingat film Kungfu Panda. Belle pernah berkata kepadanya. Jika seseorang memukul mu, lawan balik. Jangan diam!


"Oh My God! Coba tadi aku tidak ikut dengan mu!" Lunna berdecak kesal sembari melipat kedua tangan di dada.


Flashback.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak.


√ Like


√ Vote

__ADS_1


√ Hadiah


√ Komentar


__ADS_2