
Seketika Lily mengingat kejadian semalam. Entah mengapa setiap berdekatan dengan Leon. Membuat jantungnya tak bisa terkontrol.
"Apakah di umurku yang masih muda, aku sudah menderita penyakit jantung?" Gumam Lily pelan.
Lily menggelengkan kepala. Ah tidak mungkin. Ada-ada saja.
Dia terkekeh pelan dengan pemikirannya sendiri.
Lily segera mengirimkan alamat apartment. Dia yakin sekali jika yang mengambil jas Leon adalah Lexi. Dan yang pasti tidak akan malam ini.
Di luar sana terlihat hujan semakin bertambah deras.
Si kembar menginap di rumah kedua orangtua Lily. 5 menit yang lalu dia mendapatkan pesan dari Belle jika mereka ingin di sana saja malam ini.
Krucukkkkkk.
Tiba-tiba suara perut Lily terdengar. Dia lupa jika tadi siang hanya makan sedikit saja.
Lily pun berjalan menuju ke dapur, dia memasak makanan yang mudah. Akhirnya indomie rebus dan telur menjadi pilihan makan malamnya. Lily segera melahap dan menyeruput kuah mie yang begitu enak di lidahnya.
"Ah enaknya," Celetuk Lily tanpa sadar.
30 menit kemudian.
Ting Tong
Suara bel berbunyi.
Lily mengerutkan dahi, siapa yang bertamu malam-malam. Kalau Marimar tidak mungkin setahunya Marimar sedang berkunjung ke rumah papinya. Lalu siapa?
Lily merasa was-was, dia sedang sendirian saat ini. Dia takut saja orang itu ingin berbuat jahat. Lily berinisiatif mengambil botol semprotan pedas yang dia buat sendiri untuk berjaga-jaga. Dia menyelipkan botol itu di antara pakaian tidur.
Ting Tong Ting Tong
Lily berjalan perlahan ke ambang pintu. Dia menarik nafas dan menghembuskan dengan kasar.
Ceklek.
Deg.
Manik kedua mata manusia itu saling bertautan.
"Hmm."
Leon menahan debaran di dada, sungguh berhadapan dengan wanita satu ini membuat perasaannya was-was. Entah mengapa hari ini dia ingin sekali melihat wajah Lily.
Lily segera tersadar, dia tampak salah tingkah untung saja botol pedas yang di pegang, di belakang tubuhnya tidak jadi disemprotkan. Kalau tidak, kejadian beberapa hari yang lalu mungkin akan terulang kembali.
Lily bingung mengapa Leon mengambil jasnya sendirian dan mengapa pula harus malam, ketika di luar sedang hujan deras.
Leon terlihat basah kuyup. Dia lupa menaruh payung di dalam mobil. Alhasil ketika memasuki gedung apartment pakainnya pun basah.
__ADS_1
"Ah bagaimana ini." Batin Lily.
"Apakah seperti ini kau menyambut tamu?" tanya Leon menahan rasa dingin.
"Maaf. Silahkan masuk!"
Lily mempersilahkan Leon untuk duduk di sofa. Dia tampak gelisah, mengapa momentnya sangat tidak pas.
Leon yang sedang duduk di sofa melihat gelagat Lily yang mondar-mandir di depan, mengernyitkan dahi.
"Kenapa kau seperti setrikaan. Tidak bisa kah kau memberikan ku handuk?" pinta Leon dengan tidak tahu malu.
Lily melirik sekilas ke arah Leon, dia segera berjalan cepat menuju dapur. Sesampainya di dapur dia menuangkan air hangat ke dalam wadah baskom. Tidak lupa juga handuk berukuran kecil di siapkan.
Sementara Leon mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan apartment Lily. Mata elang Leon menangkap sesuatu, terlihat beberapa kamera yang tersembunyi yang tersimpan rapi.
"Pintar," ucap Leon sambil tersenyum.
Suara langkah kaki mendekat ke arah Leon.
Lily meletakkan perlahan baskom dan handuk kering di atas meja. Lily pun duduk di sebrang tempat Leon berada.
Dia melihat Leon ingin membuka jas, semula dia tak merasa heran. Namun seketika mata Lily terbelalak saat Leon ingin membuka dalaman kemeja.
"Apa yang kau lakukan Tuan?" tanya Lily dengan intonasi nada yang sedikit tinggi, sambil bangkit berdiri.
"Tentu saja aku ingin membuka kemeja ku," ucap Leon dengan enteng.
Lily pun mengarahkan Leon ke toilet yang berada di dekat dapur. Leon pun mengekori dari belakang.
Lily segera berlalu pergi ke kamar mengambilkan baju ganti untuk Leon. Dia mencari kaos yang pas dengan tubuh Leon. Akhirnya kaos berwarna hitam menjadi pilihan Lily. Dia keluar dari kamar dan berjalan cepat ke arah dapur.
Belum sampai tiba di area dapur. Seketika lampu apartment padam, di iringi suara guntur menggelegar.
"Ah!" pekik Lily sambil menutup telinga. Dia amat terkejut dengan suara guntur yang datang secara tiba-tiba.
"Duh kenapa sih pakai acara mati lampu segala. Gimana ni!" sungut Lily.
Saat ini hanya kegelapan yang di lihat oleh Lily. Dia mencoba berjalan ke depan berusaha menggapai tembok.
"Tuan!" panggil Lily dengan tangan yang gemetar. Sepertinya trauma yang di miliki Lily belum sepenuhnya hilang.
"Leon!" teriaknya lagi dengan memanggil nama.
Lily berjalan perlahan ke depan tanpa tahu di depan ada siapa.
Dugh.
"Awh!" pekik Lily menabrak seseorang hingga membuatnya jatuh terpleset ke lantai.
Lampu pun menyala kembali.
__ADS_1
Deg.
Wajah Lily dan Leon saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, mata mereka pun saling menatap satu sama lain. Saat ini posisi Leon berada di atas Lily.
"Oh God. Ini sungguh memalukan!" umpat Lily dalam hati.
"Leon bisa kah kau menyingkir. Tubuh ku sakit!"
Wajah Lily tampak memerah. Bagaimana tidak saat ini tubuh bagian atas Leon tidak memakai baju sama sekali. Dia melirik sekilas perut Leon memiliki enam cetakan roti sobek terbentuk dengan sempurna. Lily dapat merasakan sesuatu di bawah sana ada yang hidup.
Namun Leon tak mendengar perkataan Lily. Matanya sibuk melihat bibir Lily yang tampak menggoda iman. Dia penasaran dengan bibir mungil Lily yang terlihat sexy.
"Le..."
Belum selesai Lily memanggil nama Leon.
Leon segera menangkup kedua pipi Lily dan membukam bibir Lily. Leon me****t b**ir Lily dengan rakus. Dia tak memberi cela pada Lily untuk bernafas sejenak.
Lily tak bisa berkutik. Dia terkejut Leon men****nya tiba-tiba. Semula Lily memberontak namun sepertinya otak dan tubuhnya tak bisa di ajak berkerjasama. Dia menutup kedua matanya perlahan menikmati sentuhan ***ir Leon.
Suara guntur tak lagi di hiraukan.
Kec**an-keca**n terdengar. Leon menyalurkan perasaannya saat ini, dia memainkan li**h dengan begitu lihai. Lily tak mampu mengimbangi. Dia sudah kehabisan napas. Lily menepuk punggung Leon dengan cepat bermaksud memintanya untuk melepaskan ci**an.
Leon seketika menghentikan ci**an dan menatap Lily yang berada di bawahnya. Napas Lily terengah-engah, terlihat dadanya naik turun.
Gleg.
Dengan susah payah Leon menelan salivanya saat melihat 2 g***ng kembar yang di tutupi pakaian berwarna putih itu terpampang di depan mata.
"Sial!" Umpat Leon dalam hati.
"Bukalah mata mu," ucap Leon dengan suara serak.
Lily membuka perlahan matanya. Dia segera memalingkan wajah ke samping.
Leon melihat wajah Lily yang tampak memerah terkekeh pelan.
"Kau tak bisa lari dari ku Lily. Kita harus cepat menikah!" ucap Leon dengan nada tegas.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.