
***
"Di mana mereka?" tanya Leon menatap serius pada Lexi.
"Mereka ada di bawah, Tuan," jawab Lexi cepat.
"Baiklah, aku akan ke sana 5 menit lagi. Kita akan bergerak sekarang!" Leon memberikan perintah.
Lima menit kemudian.
Lily dan Leon sudah berada di lobi Hotel. Tampak kumpulan pria berkulit putih dan berkulit hitam menatap datar pada Leon, sedari tadi tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir mereka.
Lily mengerutkan dahi, mengapa suasana menjadi canggung, padahal ia mendapatkan informasi dari Lexi bahwa beberapa pria di hadapannya sekarang, adalah anak buah Leon, yang bernama Montero.
"Hmm."
Lexi berdeham memecah keheningan.
Sontak Leon dan Montero serempak mengalihkan pandangan kepada Lexi.
"Hehe, bisakah kita cepat. Aku takut kita kehilangan jejak," ucap Lexi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sorry, King. Kau sudah banyak berubah!" seru pria berkaos oblong, memiliki tato di lengan kanan sambil mengulum senyum. Dia tampak asing dengan perubahan penampilan Leon yang terlihat lebih rapi.
Leon mengangguk dan menaikan sudut bibir.
"Bagaimana pergerakan mereka Rey?" tanyanya, sambil menaikan sebelah alis mata.
"Tadi malam mereka masuk ke salah satu gang kecil, tidak jauh dari sini King. Ada dua anak perempuan yang mereka bawa. Sepertinya itu Lunna dan...."
Rey tidak meneruskan ucapannya. Dia tampak mengingat nama yang di sebutkan oleh Lexi kemarin. Lexi memberikannya perintah untuk mencari keberadaan putri bosnya dan satu anak perempuan yang dia lupa namanya.
"Darla!" Lily meneruskan perkataan Rey.
"Bingo! Ya Darla," sahutnya cepat sambil menjentikkan jari.
"Lalu?" Leon bertanya kembali, dia sangat tidak sabar. Pikirannya melayang pada Darla dan Lunna. Leon berharap kedua bocah itu baik-baik saja.
"Menurut pantauan terakhir Jean tadi malam, mereka baik-baik saja. Kami tak bisa masuk ke dalam, sepertinya mereka menanam bom di sekitaran tempat," jelas Rey.
Lily dan Leon menghela napas, secara bersamaan tanpa sadar.
"Permisi, maaf aku datang terlambat!"
Breslin baru saja tiba di lobi hotel. Dia baru saja membersihkan badannya, terlihat rambut pria itu masih basah.
"Ckkkk, enak sekali kau tidur!" ejek Lexi sambil memutar malas bola matanya. Dia tidak suka dengan kehadiran Breslin. Bisa saja Breslin adalah musuh yang menyamar, pikirnya.
Breslin tidak menyahut, dia tahu diri. Kehadirannya di sini hanya untuk memberitahu lokasi persembunyian Swedish House Mafia.
"Tak apa Breslin," ucap Lily sambil melirik sekilas, saat Breslin terlihat tidak nyaman dengan situasi sekarang.
Breslin mengangguk kecil.
"Baiklah sekarang kita, pecah menjadi 3 kubu. Aku akan pergi bersama mu Rey. Sisanya kalian ke jalan blok A dan Z!" perintah Leon.
"Aku cuma mau mengingatkan pada kalian. Hari ini ada parade di jalanan. Pasang mata kalian benar-benar!" Leon memperingati. Sebab Pablo memiliki mata-mata di setiap sudut kota.
.
.
.
__ADS_1
Di lain tempat.
"Argghhhhh kemana mereka!" jerit pria bertindik di hidung. Napasnya memburu, pasalnya dua bocah yang mereka bawa dari bandara. Tak berada di dalam ruangan. Dia sudah mencari ke semua tempat, namun hasilnya nihil.
"Ini semua salah mu!' teriak pria bertato tengkorak. Dia menyalahkan temannya yang mengajaknya merokok dan berbincang di luar.
Pria bertindik mengetatkan rahang. "Kenapa kau menyalahkan ku!?" Kedua matanya berkilat.
"Ah sudahlah lebih baik kita cek CCTV! Sebelum Mister mengetahui kalau kita kehilangan dua bocah tengil itu!" seru pria bertato tengkorak tiba-tiba.
Dia mengalihkan topik pembicaraan, saat melihat temannya akan meledak seperti bom. Pria itu baru saja ingat jika ada kamera pengintai yang terpasang di luar bangunan.
"What!?" Pria bertindik melototkan mata. "Kenapa kau baru bilang sekarang, bodoh?!" teriaknya frustasi sambil mengacak-acak rambut.
"Hehehe, lupa!" balasnya tanpa rasa bersalah. Pria itu bergegas menuju ruangan kecil yang terdapat di dalam bangunan.
.
.
.
Sementara itu, Darla dan Lunna sedang berusaha untuk turun dari bak sampah. Mereka berdua berada jauh dari tempat persembunyian komplotan Pablo.
Setelah mereka berhasil melompat ke dalam tempat sampah. Darla dan Lunna bersembunyi di balik selimut. Menunggu petugas sampah menderek bak tersebut, dan benar sekali selang tiga menit kemudian. Truk berukuran sedang menderek bak sampah dari belakang. Saat ini, truk berhenti di suatu tempat.
"Dallaa, badan Lunna bau!" seru Lunna sambil melihat gaun putihnya yang terlihat kotor dan kumal. "Huekkk!" Lunna sangat tidak suka dengan aroma tubuhnya.
"Iya, Dalla tahu Lunna. Sekalang kita kelual!"
Darla meletakkan bangku yang di bawanya tadi. Dia berjinjit dan berhasil keluar dari bak sampah. Napas Darla tampak terengah-engah.
"Ayo Lunna, cepat!" perintah Darla sambil membantu Lunna.
"Kita ke sana!" Tunjuk Darla di luar gang. Dia melihat kumpulan orang berkostum aneh.
Lunna menyetujui ajakan Darla.
Keduanya berlari lincah sembari bergandengan tangan.
"Wah Dalla sepeltinya ada palade!" seru Lunna saat mereka sudah di luar gang.
"Iya, seluuuu! Wahh lihat itu ada spongebob!" Tunjuk Darla melihat boneka spongebob berjalan menyusuri jalan raya.
"Dallaa, Lunna mau mandi. Bau!" ucap Lunna, dia tidak tahan dengan aroma tubuhnya yang menyeruak ke indera penciumannya.
"Kita cali tempat pemandian dulu!" ajak Darla sambil berjalan ke depan.
"Tunggu, kita kan tidak punya duit!" seru Lunna menghentikan langkah kaki Darla.
"Tenang saja, hehe!" ucap Darla tersenyum sinis, dengan cepat dia mengeluarkan dompet yang di selipkan di pakaiannya.
Lunna menggelengkan kepala. "Kau benal-benal gila! Itu namanya menculi!"
Darla mengerutkan dahi. "Menculi, tapi aku seling melihat Mommy mengambil duit di dompet Daddy!" protesnya cepat.
"Ah telselah kau! Ayo cepat Dalla, aku tak mampu mencium bau badan ku!"
Lunna segera menggandeng Darla. Keduanya berlari kecil di tengah kerumunan manusia. Mereka menerobos dengan begitu lincah tanpa hambatan.
Beberapa pasang mata yang berada di kerumuman menahan senyumnya. Saat melihat tingkah kedua bocah itu. Bagaimana tidak, di seluruh gaun mini Darla dan Lunna terdapat bercak hitam.
Beruntung sekali, di daerah tempat mereka berada sekarang, tersedia tempat pemandian umum. Darla dan Lunna menghentikan langkah kakinya, saat sudah berada di ambang pintu masuk.
__ADS_1
"Dalaa kita tidak ada baju ganti!" Lunna baru saja teringat, percuma saja mandi jika pakaian tidak di ganti.
Darla tampak berpikir sambil menoleh ke kanan dan kiri. Kedua matanya berbinar, ketika melihat kostum anak kecil terpampang di etalase toko.
Tanpa pikir panjang, mereka berjalan menuju toko. Pelayan mengernyitkan dahi, melihat dua bocah yang tampak kumal masuk ke dalam toko.
"Hai little girls, apa yang kalian butuh kan?" tanya pelayan dengan ramah, sambil membungkukkan sedikit badan.
"Kami mau kostum itu!" jawab Darla cepat sembari menunjuk pakaian yang di inginkannya.
"Boleh, tapi di mana orangtua kalian?" tanyanya lagi.
Darla tidak kehabisan akal, kedua matanya menoleh ke sembarang arah hendak mencari ide. Entah suatu kebetulan atau apa. Sepasang kekasih melihat ke arah Darla dari luar kaca toko. Mereka tersenyum kepadanya.
"Itu Mommy ku!" ujar Darla cepat sembari menunjuk.
Pelayan mengalihkan pandangan dan tersenyum kepada orangtua Darla dan Lunna, pikirnya.
Dan anehnya lagi sepasang kekasih itu membalas senyuman pelayan. Tentu saja, pelayan percaya.
"Baiklah. Pilihlah yang kalian mau!" ucap pelayan sambil menuntun keduanya berjalan, melihat-lihat pakaian.
Tak butuh waktu lama, Darla dan Lunna sudah selesai berbelanja kebutuhan mereka.
Keduanya bergegas menuju tempat pemandian umum. Lagi-lagi ide cemerlang dari otak Darla, dapat membuat mereka masuk ke dalam.
Tampak Darla dan Lunna sudah terlihat bersih dan menggemaskan dengan kostum yang dibelinya tadi.
"Dalaa sekalang kita ke mana?" tanya Lunna saat sudah berada di luar pintu.
"Kita ikut palade yuk!" ajak Darla sambil merapikan topi kostumnya yang terlalu besar di kepala.
"Tapi Dalaaa bukankah sehalusnya kita ke kantol polisi! Mom Lily dan Daddy pasti mencemaskan kita."
Lunna tentu saja tahu, saat ini mereka tak berada di Indonesia. Melainkan di luar negeri tapi Lunna tidak tahu nama kota tempat mereka berada sekarang. Dia berpikir jika lebih baik meminta bantuan kepada polisi.
"Tenanglah Lunna. Dalla yakin Onty sudah belada di sini."
Darla sangat yakin, keluarganya akan menemukan keberadaan mereka. Darla ingin berpetualang sejenak, kapan lagi coba!
"Ih kau ni, bagaimana kalau penculik menemukan kita lagi," protes Lunna cepat, bocah berambut panjang itu tidak setuju dengan pemikiran Darla. Bisa saja penculik saat ini sedang mencari mereka.
"Makanya, kita halus menjadi tidak terlihat. Be invisible!"
Darla meliuk-liukan jari jemari mungilnya.
Lunna membuang napas. Dia sudah pasrah. Lunna malas berdebat dengan Darla.
"Sekalang kita ke sana!" ajak Darla sembari menggandeng tangan Lunna dan mengayunkan kaki.
"Heiiiii kaliannnn tunggu!" jerit seseorang dari arah belakang.
.
.
.
.
.
__ADS_1