Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 66. Los Angeles


__ADS_3

***


Beberapa jam yang lalu.


Tepat pukul enam pagi, Darla dan Lunna di bangunkan oleh Nanny. Tanpa susah payah kedua bocah itu pun terbangun dari mimpinya.


Kemudian Nanny memandikan dan memberikan mereka makan dengan begitu telaten.


Tampak Darla dan Lunna menikmati bubur yang dibuatkan oleh koki di mansion. Ternyata selera makan mereka kurang lebih sama. Bubur ayam yang di atasnya, sudah di taburi seledri, kerupuk, dan kecap manis menjadi pelengkap sarapan mereka di pagi ini. Mereka makan dengan begitu lahap.


Selesai dengan aktivitasnya, kedua bocah tersebut mengajak Nanny untuk bermain di dalam kamar, mengisi waktu senggangnya.


"Huhh, membocankan!"seru Darla sembari menghentikan pergerakkan tangannya, yang tengah bermain puzzle.


"Dalla lindu Mommy," ucap Darla pelan.


Tanpa terasa air mata mengalir di kedua pipinya. Dia hanya ingin melihat Mommynya. Dia rindu suara Mommynya, dia rindu omelan Mommynya.


Darla rindu semuanya!


"Hikss ... hiks ... hiksss... "


"Dalla, kau kenapa?"


Lunna mengernyitkan dahi, saat mendengar suara tangisan Darla. Bocah tersebut menghampiri dan mengusap jejak tangis Darla.


Bukannya berhenti, Darla malah semakin menangis. Darla pun ikut mengusap air matanya yang menganak sungai.


"Dalla lindu Mommy!"


Dada Darla sakit, sangat sakit! Darla kecil tak mampu berjauhan dengan Mommynya.


Lunna terdiam, sejujurnya dia juga merindukan Mommy. Dia juga dapat merasakan apa yang di rasakan Darla saat ini. Terkadang Lunna menangis dalam tidur, sembari memeluk bantal guling. Dia menganggap bantal guling adalah Mommynya.


"Dalla, kenapa?" tanya Nanny yang baru saja muncul dari toilet. Dia baru saja selesai buang air kecil. Nanny mengerutkan dahi, saat mendengar suara tangisan Darla.


"Darla," ucap Nanny sambil duduk di dekat Darla. Dia mengelus perlahan kepala Darla.


Darla kecil menangis tersedu-sedu. "Dalla lindu Mommy. Nanny, kapan Mommy pulang?" Dada Darla tampak naik turun, dia masih menangis.


Nanny tertegun sejenak.


"Dalla, jangan sedih ya nak. Mommy ngak lama kok." Nanny mengelus punggung Darla.


Nanny merindukan majikannya yang bawel dan cerewet itu. Suasana di mansion terasa sepi tanpa kehadiran mendiang Belle. Nanny berusaha memberikan pengertian pada Darla.


"Dallaa!" panggil Lunna tiba-tiba. "Kita main petak umpet saja yuk!" ajaknya berusaha menghibur, agar Darla tidak terlalu lama menangis seperti dirinya. Terkadang Lunna bisa menangis berjam-jam sehingga menyebabkan ia sakit kepala. Lunna berusaha menguatkan Darla.


Mendengar ajakan Lunna. Darla menghentikan tangisan. Dia jadi teringat, terkadang Belle dan Benjamin mengajaknya bermain petak umpet. Siapa tahu saja, Mommy dan Daddy sedang bersembunyi di suatu tempat, pikirnya.


"Boyeh!" seru Darla dengan suara parau, seraya mengusap cepat jejak air mata di pipi.


"Sudah Darla, jangan sedih lagi ya. Sekarang kita main petak umpet." Nanny mengulum senyum.

__ADS_1


"Yey! Ayo kita main!" Lunna bangkit berdiri.


Darla dan Lunna pun mengajak Nanny untuk bermain petak umpet di dekat taman saja. Nanny pun mengiyakan permintaan kedua bocah itu.


Tak butuh waktu lama, ketiganya berada di taman belakang. Nanny di perintahkan keduanya untuk menangkap mereka. Nanny pun menghitung mundur dari angka 50 sambil menutup mata dan membelakangi keduanya.


"50,49,48....."


"Lunna, kita sembunyi di sana saja yuk."


Darla mengajak Lunna untuk bersembunyi di balik bunga besar.


Lunna mengangguk.


Keduanya pun menuju bunga yang paling tinggi dan besar. Lunna celingukkan memantau Nanny. Sedangkan Darla di belakang tubuh Lunna.


Ekor mata Darla tak sengaja menangkap sosok perempuan yang berambut blonde seperti Mommnya berada di luar pagar. Dia pun mempertajam penglihatan.


"Mommy," gumam Darla pelan. Darla berjalan cepat mendekati pagar. Entah suatu kebetulan atau apa, pagar itu tampak rusak, dia pun menerobos keluar. Dia berlari mengejar wanita yang mirip Mommynya.


"Dallaa, sepertinya Nanny tidak bisa menemukan kita," ucap Lunna tanpa melihat ke belakang. Namun dia tidak mendapatkan balasan dari Darla.


Lunna memutar tubuhnya ke belakang. Dia terkejut tidak melihat keberadaan Darla.


"Dallaaaaaa!"


Lunna terlihat cemas, dia melihat lubang yang cukup besar di dekat pagar. Dia pun keluar melalui lubang tersebut, kedua matanya memicing. Saat melihat Darla tengah mengejar sebuah mobil di depannya. Tiba-tiba mobil itu berhenti.


Netra Lunna terbelalak, saat melihat Darla di angkat oleh seorang pria bertubuh tegap.


Seketika kendaraan roda empat itu berhenti. Pintu samping di buka oleh orang di dalam mobil.


Lunna pun berjalan cepat, mendekat.


"Dalaaaaaaa!" teriak Lunna saat melihat Darla tengah duduk di pangkuan seorang wanita.


"Masukkan anak itu ke mobil juga!" titah seseorang.


Pria yang bertubuh tegap tadi keluar dari mobil dan langsung mengangkat paksa Lunna.


"Tolong! To..." teriak Lunna namun mulutnya langsung di bungkam oleh pria tersebut.


Sementara itu, Nanny tengah kebingungan sebab Darla dan Lunna tidak tahu berada di mana. Nanny mencari ke sana kemari.


Bugh.


Tiba-tiba ada seseorang yang memukul tengkuk lehernya, sehingga menyebabkan Nanny pingsan seketika di tempat.


Pengawal yang menyamar di mansion, menyeret Nanny dan menyembunyikan Nanny di semak-semak.


"Sudah terlaksana," ucap pengawal kepada seseorang di sebrang sana. Dia menutup sambungan telepon, sambil kedua matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, memastikan keadaan aman.


Pengawal segera memperbaiki pagar yang sengaja di rusaknya tadi. Kemudian dia berjalan menuju ruang CCTV, untuk menghapus beberapa tangkapan yang terekam di kamera pengintai.

__ADS_1


Flashback Off.


...----------------...


Di sinilah, Darla dan Lunna berada di Los Angeles. Sedari tadi mereka masih di dalam mobil.


"Lunna, Dalla lapalllll," ucap Darla tiba-tiba.


Lunna tidak membalas perkataan Darla, dia hanya memutar bola mata dengan malas.


"Ih Lunna nyebelin, Dalla lapal tahu! Biasa aja kali matanya wekkk!" Darla menjulurkan lidah.


"Oh My God!" Lunna menepuk kening.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bandara Menembus Kabut.


Sementara itu, Lily dan Leon baru saja keluar dari mobil bersama Breslin dan Lexi. Mereka berjalan cepat masuk ke pelataran Bandara.


Setelah pulang dari Markas Q, Lily segera memberitahu Leon perihal penculikan Darla dan Lunna.


Sontak Leon naik pitam, dia pun mengajak Lily untuk pergi ke Los Angeles. Lily pun mengiyakan ajakan kekasihnya. Sebelum pergi dia menitipkan pesan kepada Fabio dan Maximus untuk menjaga Mommynya dan si Kembar.


Lily juga mengajak Breslin pergi bersama mereka. Karena Breslin mengetahui keberadaan Darla dan Lunna.


"Honey, apakah sudah makan?" tanya Leon sambil menggenggam erat tangan Lily. Keduanya berjalan beriringan.


Lily tersenyum simpul. "Sudah, Honey."


"Semakin bertambah cantik saja." Leon mengecup singkat bibir Lily.


Semburat warna merah terpampang jelas di pipi Lily.


Lily sekarang sudah terbiasa dengan sikap Leon. Kekasihnya memang tidak mengenal tempat, mungkin budaya luar negeri masih melekat pada dirinya.


"Tuan, pesawat sudah siap!" seru Lexi dari belakang, sedari tadi dia dan Breslin mengekori sejoli itu.


Leon menoleh ke belakang dan mengangguk sedikit.


"Honey, kau sudah siap?" Leon menarik pinggang Lily untuk lebih dekat lagi.


Lily mengangguk sedikit.


.


.


.


.


Ket :

__ADS_1


Nanny : Pengasuh Anak.


__ADS_2