Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 86. Jebakan


__ADS_3

***


Di lain tempat.


"Kau tidak membawa granat atau peledak lainnya?"


Leon berdiri di dekat pintu sembari menyandarkan kepalanya ke dinding dengan melipat kedua tangan di dada.


Ia menatap penuh harap pada Lexi. Sebab pintu yang berada di dalam ruangan hanya bisa di buka dari luar.


Satu-satunya jalan terakhir adalah meledakkan pintu itu.


Ia menghela napas sejenak.


Lexi menggelengkan kepala menandakan, ia tidak membawa benda yang di maksud oleh Tuannya. Anggap saja dia bodoh. Karena tak membawa peledak.


"Aku tidak bisa membantu King!" Lexi merutuki dirinya sendiri.


Ia pasrah kemudian merosot ke bawah, dan memposisikan badan berjongkok sembari memegang pistolnya.


Leon tak membalas ucapan tangan kanannya.


Dia terdiam nampak sedang berpikir. Matanya sibuk memperhatikan sekitarnya.


Ada satu jendela kecil di sisi kanan, yang telah di gembok kuat dari luar.


Di sisi kiri, terdapat rak bertingkat enam berwarna putih yang diisi dengan beberapa barang kebutuhan rumah tangga seperti, bayclin, rinso cair, cat, dan....


Seketika netra Leon memicing, ia berjalan cepat menuju rak. Kemudian mengambil benda yang mencuri perhatiannya.


Sudut bibirnya terangkat.


"Lex!" panggilnya tanpa menatap lawan bicara.


Lexi menoleh ke arah Leon. "Iya, King!" jawabnya cepat.


Leon membalikkan badan. "Kita akan membuat TNT!"


Ia mengulas senyum.


Lexi bangkit berdiri sembari bertatapan pada Leon.


Keduanya tersenyum penuh arti.


.


.


.


Sementara itu.


Ruangan lain.


Indera pendengaran Lily samar-samar mendengar suara orang berbicara satu sama lain. Saat ini ia duduk di sebuah bangku dengan tangan yang terikat ke belakang.


"Bagaimana keadaan Arnold?" tanya seseorang dari arah depan.


"Baik, namun bagian bawahnya di amputasi Mister. Takut terinfeksi," sahut seorang pria.


"Cihhh, Arnold benar-benar bodoh! Selalu saja semau hatinya."


"Bagaimana keadaan Leon dan tangan kanannya?" tanyanya.


"Mereka masih di dalam Mister!"


"Lalu Montero yang di luar?"


Pria yang selalu menjawab pertanyaan itu, menghela nafas sejenak.


"Mereka menembak habis, sebagian Swedish, Mister!"


"Apa kata mu?!"


Terdengar suara gesekan bangku.


"Iya, Mister!"


"Memangnya mereka ada berapa orang hah?!"


"Sepuluh orang, dua di antaranya sangat gesit dan lihai menembak, Mister."


"Aku tidak mau tahu, jangan sampai mereka masuk ke sini! Pahammm?!"


"Baik, Mister!"


Suara kumpulan pria menggema di ruangan.


"Ini pasti Pablo si jelek itu, baik sudah cukup," ucap Lily di dalam hati.


Ia menebak jika pria yang berada di hadapannya adalah Pablo Piccaso. Lily merasakan ikatan di tangannya sangat kencang.


Perlahan wanita itu membuka kelopak mata dan mengerjap-ngerjapkan perlahan netranya. Ia mengedarkan pandangan.


Tiga belas pria berkulit hitam dan putih mengelilinginya di setiap sudut ruangan.

__ADS_1


Dua lemari besi di sudut kiri yang tak jauh dari tempatnya berada.


Satu lemari di depan matanya membelakangi Pablo.


Dua jendela besar terletak di sisi kanan tubuhnya.


"Wow, kau sudah bangun rupanya?" tanya Pablo seraya mengayunkan kaki ke depan, mendekati Lily.


Lily tak menyahut, ia menatap datar pria tua itu.


"Kau sangat cantik!" Pablo mencengkram dagu Lily sembari menjilati bibirnya sendiri.


Wanita itu tetap tak membuka suara. Ia mendongakkan kepalanya ke atas. Hanya tatapan datar yang di layangkan kepada Pablo.


Pablo terkekeh melihat respon Lily.


Namun dia heran mengapa Lily tidak takut kepadanya.


Terkesan menantang.


"Rasanya aku dejavu, dulu kau juga seperti ini. Hanya diam saja, berbicara lah." Pablo memandang penuh nafsu sambil mengelus pipi Lily.


Lily mengelak dengan menggerakkan kepala ke kanan sembari mendengus kasar. Ia melihat tembok di depannya.


Benar kata Leon.


"Pablo sangat jelek, mata ku sakit. Kau baik-baik saja di sana Honey. Tunggu aku!"


"Kenapa, kau memalingkan wajah cantik mu ini ha?!" Pablo menyeringai sembari memegang dagu Lily agar menghadap padanya. Ia mensejajarkan tubuh.


"Hei, berbicara lah!" perintah Pablo. Kedua matanya di selimuti hawa nafsu. Melihat kemolekan leher dan wajah Lily yang sangat membakar jiwanya.


"Cihhh!"


Lily berdecih melihat pancaran mata Pablo.


"Hahaha! Akhirnya kau membuka suara!"


"Di mana Darla dan Lunna?" tanya Lily tiba-tiba.


"Harus kah aku menjawab sekarang?" Ia mengangkat sudut bibir.


"Menurut mu?" Lily bertanya balik.


Pablo terkekeh. "Jika kau mau tahu di mana mereka, puaskan aku dulu!"


"Lebih baik aku mati daripada harus memuaskan diri mu!"


Wanita itu menatap hina pria tua di depannya.


Namun Lily menghantamkan keningnya pada Pablo dengan sangat kuat.


BUGH.


"Arrghhh, sial!"


Plakkk.


Tamparan keras di sebelah kanan pipi Lily.


"Kau berani dengan ku ya!" seru Pablo sembari mencengkram dagu wanita itu.


Cuihhh.


Lily meludah tepat di wajah Pablo.


"Bedebahhhh!" Kedua mata Pablo berkilat menyala. Dia mengusap cepat air yang berada di wajahnya.


"Kemari kau! Jangan bermain dengan ku!" Pablo hendak memegang bu_kit Lily.


Namun, tiba-tiba.


Lily bangkit.


Secepat kilat, ia mundur ke belakang dan menghantam bangku kayu dengan sangat kencang hingga hancur.


Tak tersisa.


Sedari tadi dia berusaha memotong ikatan tali.


Ia melemparkan pisau kecil tepat di paha bagian atas Pablo.


"Damn!" umpat Pablo kesal seraya mencabut benda tajam yang menusuk kulitnya.


Sepersekian detik.


Dor.


Dor.


Dor.


Dor.


Dor.

__ADS_1


"Mister awas!" seru Rodrigo berlari mendekati Pablo.


Ketika melihat Lily membidik Swedish yang berada di ruangan.


Dengan lincah.


Dan tanpa ampun.


"Hei kau lindungi Mister!" seru Rodrigo pada dua orang pria yang berlindung di lemari.


Ia mengangguk segera menuruti perintah.


"Yellow sekarang!" perintah Lily dengan menekan benda kecil di telinga seraya mengarahkan senjata berlaras panjang pada Swedish.


Terdengar suara tembakan menggema di ruangan yang besar itu.


Sniper yang berada di luar gedung membantu Lily membidik Swedish. Dari tadi mereka menunggu perintah.


Iya, Yellow bersama Montero bersembunyi di atas gedung. Memantau dan bersiap sedia membidik musuh.


"Lemparkan bom asap!" Titah Pablo saat melihat beberapa anak buahnya tewas di tempat. Ia berlindung di balik tubuh Swedish yang menjulang tinggi itu.


"Lily, awas. Mereka mau melempar granat asap!" Yellow berteriak di ujung sana. Ia melihat melalui drone yang di terbangkannya di dekat jendela. Swedish hendak melemparkan peledak.


"Damn!" Lily bersembunyi di balik lemari besi.


BOOM.


Kepulan asap menyelimuti ruangan.


Hukkk.. hukk... huk..


Lily terbatuk-batuk. Ia mengibaskan udara di sekitarnya.


Sepersekian detik terdengar bunyi dentuman di ruangan lain.


"Lily kau tak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja, di mana mereka?"


"Mereka turun ke bawah, Pablo sudah masuk ke dalam mobil. Kami berusaha membidik. Swedish menghalangi kami Lily."


"Damn!"


Lily segera berjalan sembari mengibas-ngibaskan asap yang masih mengepul. Ia mencari anak buah Pablo yang tergeletak di lantai.


Kedua matanya memicing. Melihat pergerakkan seorang pria yang ternyata belum sekarat.


"Hei, kau kemana Tuan mu itu?!" Lily bertanya sembari menodongkan pistol.


"Aku tidak ta-hu," jawabnya terbata-bata.


Dor.


Lily menembak paha sebelah kirinya.


"Argghh!" jeritnya meringis kesakitan


"Cepat jawabb!?"


"Ninety tower!"


Wanita itu menyeringai licik.


Detik kemudian.


Dor.


Lily membidik anak buah Pablo tepat di kening.


"Honey!!" panggil seseorang yang baru saja masuk ke ruangan.


Lily membalikkan badan. "Leon! Kau tak apa-apa?" Ia menelisik tubuh kekasihnya.


Terlihat cemas.


"Aku baik-baik saja, di mana bajingan itu? Di mana Darla dan Lunna?"


"Dia tak memberitahu ku tadi Honey. Pablo melarikan diri, tapi tadi anak buahnya mengatakan ia pergi ke Ninety Tower," jawab Lily cepat.


"Baik, ayo kita ke sana sekarang!" ajak Leon sambil menyambar tangan Lily dan segera mengayunkan kaki dengan cepat.


"Lex perintahkan sebagian Montero untuk ke Ninety Tower!"


Lexi mengangguk paham.


***


Terdengar bunyi sirine polisi memenuhi ruas jalan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2