Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 16. Salah Sangka


__ADS_3

***


30 menit yang lalu.


Tampak ruangan VIP berukuran besar, dihiasi meja bundar yang berada di tengah. Meja klasik yang berwarna aestetic itu amat elegan. Interior dan hiasan dinding ruangan terpajang lukisan karya Leonardo da Vinci yang begitu klasik.


Perpaduan yang elok antara warna ruangan dan lukisan menyatu dengan indah. Bagi siapapun yang memandang akan memanjakan kedua matanya. Tampak beberapa orang keluar dari ruangan VIP 04. Leon bangkit berdiri dari tempat duduknya, dia berjabatan tangan dengan orang yang berada di depannya.


"Terimakasih pak!" ujar seorang pria berusia 40 tahun.


Leon tak mengubris basa basi yang diberikan oleh rekan kerjanya itu. Sombong sekali kau Leon! Leon hanya menganggukkan kepala.


Pria itu sudah tahu mengenai sikap lawan bicaranya, dia tak mau ambil pusing. Yang terpenting berkat bantuan Leon perusahaannya semakin maju. Dia pun pergi berlalu meninggalkan Leon dan sekretarisnya.


"Pak, untuk jadwal selanjutnya kita ada acara di Hotel Grand Canyon pukul 7 malam nanti," ujar sekretaris itu sembari menggeser layar I-pad.


Leon tak bereaksi sama sekali. Dia tampak sedang berpikir, entah apa yang dia pikirkan hanya author dan dia yang tahu.


Sekretaris yang sudah kurang lebih 1 tahun berkerja dengan Leon, melirik sekilas.


"Ya ampun, bersabarlah!" Batin sekretaris seraya mengusap dada.


"Pak Leon!" panggilnya lagi berusaha menyadarkan Leon.


Seketika Leon menatap tajam pada sekretarisnya. Sekretaris itu bergedik ngeri, tak berani menatap Leon.


"Baiklah. Nanti malam biar aku dan Lexi yang akan menghadiri acara. Kau pulanglah!" Titahnya.


"Baik, pak."


Sekretaris itu pun segera berlalu meninggalkan Leon.


Sepersekian detik suara ketukan pintu terdengar. Leon melirik sejenak ke ambang pintu.


"Masuk!"


Lexi segera masuk, dia berdiri tegak di hadapan Leon. Seketika dia menelan air ludahnya secara kasar. Entah mengapa perasannya menjadi tidak enak. Hawa di dalam ruangan sangatlah panas bagi Lexi, dia pun sejenak melirik ke arah bagian AC, tertera suhu ruangan 16°C.


"Tuhan, tolonglah aku! Aku masih jomblo." Batin Lexi.


"Kenapa kau Lex?" Suara bariton itu membuyarkan lamunan Lexi.


"Tidak, Tuan."


"Aku memanggilmu kemari, ingin membicarakan sesuatu."


"Iya, Tuan."


Lexi menegakkan tubuhnya dan menatap lurus.


"Seberapa dekat Lunna dan Lily?" tanya Leon seraya melirik ke arah Lexi.


"Lumayan dekat, Tuan." Lexi mengernyitkan dahi.


"Kenapa Tuan menanyakan kedekatan Nona dan Nyonya Lily." Batin Lexi bermonolog.


"Hmmm."


Hanya deheman yang terdengar dari mulut Leon. Tak ada lagi pertanyaan selanjutnya apa. Dia menaikkan sebelah alisnya saat melihat gelagat Lexi. Leon sangatlah peka, jadi janganlah heran!

__ADS_1


"Itu saja yang ingin ku tanyakan Lex, kau tak usah takut. Aku tidak akan melarang Lunna untuk menemuinya. Asal Lunna bahagia," ujar Leon mengambil minuman dan meminumnya hingga tandas.


Lexi menganggukkan kepala, keheningan pun tercipta di dalam ruangan. Lexi tetap tak merubah posisi tubuhnya yang seperti patung.


Tuk tuk tuk.


Leon mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada meja bundar yang berada di ruangan. Dia memejamkan mata sejenak, dan mengangkat sedikit dagunya. Satu tangan kanan menyibak rambut hitam itu. Terdengar suara helaan napas yang sangat berat.


Lexi memperhatikan tingkah Leon.


"Kasihan, Tuan. Cepatlah menikah agar ada yang mengurus Nona." Batin Lexi.


"Lex, nanti malam temani aku untuk menghadiri acara di Hotel Grand Canyon kita akan menemui tikus-tikus!" Leon tersenyum sinis sambil menatap lurus.


Lexi bergedik ngeri melihat senyuman Leon, sungguh dia berharap lebih baik Leon diam saja. Tak usah tersenyum atau apa.


"Baik, Tuan."


"Satu lagi jika Lunna mau menemui Lily kau jaga benar-benar. Jangan sampai kejadian kemarin terulang kembali." Titahnya tak ingin di bantah.


"Sekarang jemputlah Lunna."


"Baik, Tuan."


Lexi segera berlalu pergi dari hadapan Leon dan berjalan ke ruangan Lunna berada.


*********


Lunna dan Lexi keluar dari ruangan Lily.


Lunna mengikuti langkah kaki Lexi sembari menggandeng erat tangannya. Wajah sedih terpampang jelas di raut wajah Lunna. Seketika Lexi menghentikan langkah, dia mensejajarkan tubuhnya pada Lunna. Dia memegang kedua pundak Lunna yang mungil itu.


Seketika wajah Lunna tampak berbinar.


"Benalllkah?" Lunna menatap balik.


"Iya, Nona."


"Yesss, Oh ya. Lunna pengen Mommy Lily. Gimana ya calanya jadi Mommynya Lunna," tanya Lunna sambil mengedipkan kedua mata bulat.


"Ohh itu mudah saja Nona. Nona tinggal meminta Tuan untuk menikahi Nyonya Lily," jawab Lexi tanpa sadar seraya menutup mulut.


"Eh, Astaga apa yang kukatakan. Ya ampun. Ada apa dengan diriku. Semoga saja Nona hanya menjadikan omonganku angin lalu. Bodoh kau Lexi!" Batin Lexi berteriak.


Mendengar ucapan Lexi wajah Lunna tampak ceria, Lunna tersenyum penuh arti.


Lexi yang menatap Lunna, berharap dia lupa dengan apa yang dikatakannya tadi. "Semoga saja Lunna tidak mengingat apa yang kukatakan. Argggghhhh!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di Lobi Restaurant


Lexi dan Lunna mengedarkan pandangan mencari sosok Leon yang sedang menatap lukisan di ruangan itu. Lunna pun segera menghampiri ayahnya.


"Daddy!" panggil Lunna.


"Yes, darling." Leon mengelus pelan kepala Lunna.


"Ayo, kita pulang ya." ajak Leon sambil menggandeng tangan Lunna, berjalan ke arah pintu.

__ADS_1


"Tuan!" Lexi menghentikan langkah kaki Leon dan Lunna.


Mendengar panggilan tersebut lantas mereka berdua pun memutar tubuh.


"Ada apa?"


"Tuan, aku permisi ke toilet sebentar." Lexi tak enak hati.


Leon pun menganggukkan kepala dan segera berlalu pergi dari Restaurant bersama Lunna.


...****************...


Masa sekarang.


BUUGHHHHH.


"Daddyyyyyyyy!" teriak Lunna saat melihat ayahnya jatuh tersungkur ke depan.


Lily membelalakan matanya, ketika mendengar panggilan itu. Dia terdiam mencoba mencerna, apa yang diucapkan oleh Lunna tadi. Dia tidak salah dengarkan?


Reflek Lunna bergegas menghampiri ayahnya dan mencoba membantunya untuk berdiri. Tangan mungil itu menggapai tubuh Leon memastikan bahwa ayahnya baik-baik saja.


Leon menepuk-nepuk jas yang terkena debu di jalanan. Dia melihat ke arah Lunna yang tampak mengkhawatirkan dirinya. Leon mengusap perlahan kepala Lunna berusaha menenangkan sang putri.


Secepat kilat kedua mata Leon mencari siapa pelaku yang berani menendangnya. Sosok wanita yang menolong Lunna berada tepat di depannya. Lily Marques. Leon menatap tajam pada Lily. Lily tak menyadari tatapan yang diberikan padanya.


Sedari tadi Lily tak berani menatap Leon, dia langsung menundukkan kepala. Lily merasa bersalah. Dia malu, sangat amat malu!


Lily terlihat salah tingkah, si Kembar yang menyaksikan film action berdurasi singkat itu, tampak terkejut dengan tindakan ibunya.


Lily pun segera mendekat ke arah Leon, dia melirik sekilas.


"Astaga, dingin sekali ayahnya Lunna." Batin Lily bermonolog.


"Mommy, kenapa tendang Daddy?" cetus Lunna sedari tadi dia melihat tingkah kedua orang dewasa itu.


"Ini Daddynya Lunna?" tanya Lily memastikan.


"Yes, Mommy." Lunna mengedipkan kedua mata bulatnya.


Lily merasa malu, wajahnya tampak memerah. Dia menyangka bahwa pria yang dihadapannya sekarang adalah seorang penculik anak.


Leon yang melihat gelagat Lily, seperti sedang menahan malu. Sepersekian detik Leon menaikkan sudut bibir sedikit. Tiba-tiba raut wajah itu hilang seketika. Tak ada satupun yang menyadari perubahan raut wajah Leon.


"Ada yang mau kau katakan Nyonya?" Leon berusaha membuatnya semakin merasa bersalah.


Suara khas bariton pria yang di panggil "Daddy" oleh Lunna, membuyarkan lamunan Lily.


"Maaf, Tuan. Aku tidak sengaja. Aku pikir Tuan adalah penculik," ujar Lily seraya menundukkan kepala, terlihat semburat berwarna merah muncul di kedua pipi mulus Lily.


Leon pun tersenyum penuh arti.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2