Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 104. Terdampar di Pulau Antah Berantah


__ADS_3

Suara hempasan air terdengar halus di ujung sana. Bunyi kicauan burung-burung saling bersahut-sahut, satu sama lain.


Cuit..cuit.... Cuit...


Kurr..kurr...


Tidak hanya dua melainkan empat kicauan, masuk ke dalam gendang telinganya, mengalun indah seperti sebuah irama musik yang menenangkan jiwa dan batinnya.


Udara di sekitar ia tarik perlahan, kemudian ia hembuskan.


Ulangi lagi.


Begitu seterusnya.


Hembusan angin menerpa kulitnya. Menggeliat sejenak..


Sejuk...


Reflek ia bersedekap, berusaha menghangatkan tubuhnya.


Gesekkan di belakang punggungnya terasa halus.


Seperti butiran pasir.


"Gukk...gukk..!"


Gongonggan anjing?


Dahinya berkerut.


Perlahan dia membuka kelopak matanya.


Silau..


Ia mengangkat satu tangan ke atas dengan cepat, berusaha menghalangi masuknya pancaran cahaya ke dalam iris bola mata biru itu.


Kedua matanya mengerjap-ngerjap sejenak.


Kemudian memicing.


Langit berwarna biru dan cerah. Awan pun bergerak lambat di atas sana. Terlihat kumpulan burung mengepak-ngepakkan sayapnya.


Hmmm, lima burung berwarna-warni terbang beriringan, entah ke mana tujuannya.


"Apakah kita di surga?" tanya seseorang.


Lily menoleh ke sumber suara, di sisi kirinya.


Suara yang ia kenal.


Kendrick.


Ia mengulum senyum tak membalas, putra pertamanya yang asik memandang ke atas sana.


Menatap penuh kagum.


"Iya, kita di surga!" sahut Samuel di atas tubuh Lexi.


"Hmm, ini indah!!" Lexi menimpali.


Mereka asik sendiri...


Enggan mengedipkan mata sembari mengangkat satu tangannya ke atas.


Seulas senyuman muncul di bibir Lily.


Kemudian ia menggerakkan kepala ke kanan.


Ia tertegun melihat Leon masih menutup matanya sambil memeluk Lunna di dekapannya


"Tidur saja, tampan." Ia terkekeh di dalam hati mengangumi wajah pemilik hatinya.


Wanita itu mengangkat sudut bibirnya, saat rambut Lunna beterbangan ke segala arah.


Ia merapikan rambut bocah itu agar tak berantakan.


Deg..


"Tunggu dulu, Di mana Darla?"


Ia duduk dengan sigap.


Matanya langsung bersitatap dengan Darla di hadapannay, yang sedang berdiri menggendong Hiro.


"Sejak kapan anjing itu bersama kami?"


"Hehehe, hai aunty!" sapa Darla tersenyum geli saat Hiro menji_lat di area wajahnya. "Geli Hiro!" ucapnya.


"Hai!" Lily tersenyum kemudian mengedarkan pandangan disekitarnya.

__ADS_1


Marimar, Maximus, Breslin, Nickolas, Leon, dan Lunna masih memejamkan mata.


Kemudian ia mengerakkan kepala.


Ke segala arah.


Kedua matanya terbelalak.


Ia bangkit berdiri.


"Oh my God!" teriak Lily.


Mendengar jeritan Lily, mengusik tidur keenam orang tadi. Begitu pula dengan Lexi, Samuel dan Kendrick.


Mereka segera tersadar dan terkejut.


"Damnnnnn!!!" umpat Lily.


"Di mana kita?" tanya Maximus dan Marimar serempak sembari berdiri.


Begitu pula dengan Leon, Lunna, Nickolas dan Breslin. Mereka tergopoh-gopoh mengangkat badannya.


Melihat pemandangan nan indah di sekitar. Yang memanjakan mata mereka.


Terpampang gunung yang lumayan besar di sisi kanan, mungkin jaraknya sekitar beberapa meter dari mereka. Terdapat pohon kelapa berjejer rapi di ujung sana.


Di belakang mereka semuanya hutan belantara.


Mereka di tengah lautan.


Tak terlihat tanda-tanda kehidupan sama sekali di sini.


Di depan sana hanya lah hamparan lautan yang nampak.


Biru bening, terlihat lumba-lumba melompat ke permukaan air, dan menyembul keluar.


Saat ini, mereka berada di sebuah pulau antah berantah.


"Honey!" Leon mendekat sembari menurunkan Lunna.


Lily panik. "Leon kita terdampar!"


Leon tak membalas berusaha menenangkan Lily. "Tenanglah, aku sudah memberikan kode pada Rey sebelum kita terjun!"


"Ini semua salah ku!" Lily mengigit bibir bawahnya. Ia gelisah.


"Honey. Tenanglah. Aku yakin Rey akan menemukan kita," ucapnya sambil menyentuh pipi Lily.


"Shfttt!" Leon meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Lily. "Tenanglah!" Ia menempelkan keningnya pada dahi kekasihnya.


Lily menatap lekat, berusaha tenang. Hembusan nafas Leon menerpa wajahnya. "Bagaimana kalau-"


"Tenanglah, mereka bisa menemukan kita, percayalah pada ku," sela Leon, memahami kegundahan sang kekasih.


"Hmmm, semoga saja," ucap Lily memanyunkan bibir.


Cup..


Leon melabuhkan kec_upan sekilas di bibir Lily. "Aku bangga pada mu." Ia melengkungkan senyuman. Sesaat teringat dengan aksi Lily menghancurkan pesawat Pablo.


Tampak rona merah di pipi Lily.


Kemudian Leon merengkuh tubuh Lily dan mendekapnya erat. Berusaha memberikan ketenangan untuknya.


Lily pun membenamkan wajahnya di dada Leon. Menikmati desiran hangat yang menjalar di relung hatinya.


Suara detak jantung mereka beradu cepat.


Keduanya memejamkan mata.


Hanyut dalam dunia cintanya.


Dan tak menghiraukan tatapan dari kumpulan pasang mata, yang tengah memperhatikan mereka.


"Enak yaaa! Kita di acuhin aja, kayak ngak ada orang!" Marimar memutar bola mata, melihat interaksi sepasang kekasih itu.


"Makanya, cari pacar gih sana!" Maximus menimpali.


"Bilang saja kau iri!" seloroh Nickolas dan Samuel mengompori.


"Mommy dan Daddy kan mau nikah, jadi wajar!" Darla dan Lunna berkacak pinggang, seraya menahan senyum, melihat kekesalan Marimar.


Ternyata seru juga....


"Gukk, gukk, gukk!" Hiro seakan ikut menimpali menatap ke arah Marimar.


"Hei, sudahlah kasihan dia!" Lerai Breslin berusaha memberikan dukungan pada Marimar sebab tak ada yang membelanya.


"Oh my God, you're my hero, Eslin!" cetus Marimar sembari menghampiri.

__ADS_1


"Eslin? Jangan panggil dia, Eslin?! Hanya aku yang boleh!" sahut Darla dengan menarik kaki Marimar agar tak mendekati Breslin.


"Ihh apa sihhh, ngak ada larangan kan. Hehe, ya kan Eslin?" tanya Marimar seraya mengibaskan tangan Darla.


Sementara Kendrick menghela nafas, acuh tak acuh.


Ia berjalan pelan ke depan.


Kendrick melihat lumba-lumba masih melompat-lompat di ujung sana. Seakan mencari perhatian, suara hewan air itu melengking nyaring.


Seketika ia mengembangkan senyuman.


.


.


.


Di lain tempat.


Rey hendak membaca kode singkat dari Leon. Ia baru saja menyelesaikan perintah sang pemimpin, sesuai dengan rencana mereka, sebelum perkelahian di blok Q terjadi.


Leon memberikan perintah agar memastikan Swedish House Mafia benar-benar mendekam di penjara. Dan memberitahukan kebenaran kepada Arnold yang berada di rumah sakit, mengenai siapa ayahnya.


Saat Rey menjelaskan kepadanya, pria itu hanya terdiam dengan sorotan mata yang kosong.


Rey tak mau ambil pusing, yang terpenting tugasnya sudah selesai. Namun baru beberapa langkah keluar dari ambang pintu kamar Arnold.


Petugas kesehatan masuk tergesa-gesa ke dalam ruangan dengan membawa peralatan medis.


Entahlah... Rey tidak perduli.


Kini, Rey tertegun setelah mengerti dengan kode itu. Ia menyambar cepat gawainya.


"Yellow, kau di mana?" tanyanya.


"Aku di penthouse. Daddy ku datang kemari..." ucap Yellow lirih.


"Hmm, kau tahu pesawat Leon dan Pablo hancur!"


"Iya, aku tahu, staff penerbangan menghubungi ku. Tenanglah aku yakin Lily pintar, ia pasti terjun ke bawah ataupun terdampar di suatu tempat." Tebak Yellow.


"Iya, aku akan menghubungi kedua orangtua Leon dan Lily. Kau selesaikan dulu urusan mu. Setelah itu kita harus mencari mereka. Ingat, jangan hilang lagi, seperti hantu saja kau!"


Yellow terkikik."Iya maaf!"


"Hmm!"


Rey memutus sambungan telepon dan menaruh ponsel ke dalam saku celananya.


"Sekarang aku harus menghubungi Tuan Simon, siapa tahu, dia mengetahui nomor handphone keluarga Lily," gumamnya pelan.


.


.


.


Indonesia.


Kediaman Marques.


"Fabio!!" jerit Anastasya setelah menaruh gagang telepon. Terpatri wajah panik. Ia uring-uringan.


Suara derapan langkah kaki mendekat cepat.


"Iya, Nyonya. Anda memanggil saya." Fabio menguap sejenak. "Ada apa, Nyonya?"


"Leon dan Lily hilang!"


"Ha?? Maksudnya Nyonya?" Fabio mengerutkan dahi.


"Kau tidak usah berkilah, aku tahu semuanya. Kau bohong kan pada ku, kalau mereka liburan. Cih! Nyatanya anak ku, cucu-cucu ku di sana, Marimar, dan Maximus juga ada di sana!' Anastasya melebarkan matanya. Ia menatap tajam dan dingin.


Fabio tampak salah tingkah, ia menelan saliva dengan kasar.


"Maafkan saya, Nyonya."


"Sudahlah, sekarang kita harus ke LA. Hubungi mami dan papi Marimar. Sekaligus aku akan bertemu calon besan ku."


"Nyonya, kenapa harus ke sana?"


Anastasya menarik nafas kasar. "Kau benar-benar, tidak tahu? Atau apa ha?! Tidak usah berakting!" Wanita paruh baya itu, memicingkan mata.


"Saya benar-benar tidak tahu, Nyonya."


"Nanti akan ku jelaskan. Waktu kita tidak lah banyak, cepat hubungi orangtua Marimar. Aku akan bersiap-siap," ucap Anastasya sambil menaiki tangga untuk menuju kamarnya di atas.


Tiba-tiba kakinya terhenti di tangga kelima, ia membalikkan badan. "Dan siapkan pesawat secepat mungkin. Paham!"

__ADS_1


"Baik, Nyonya." Tanpa ba bi bu eo, Fabio segera melakukan perintah majikannya walaupun ia masih keheranan dengan permintaan Anastasya, di tengah malam seperti ini.


__ADS_2