
Aku mencintaimu' berarti aku akan mencintai mu dan berdiri di sisi mu bahkan melalui saat-saat terburuk.
~ Two L
***
"Rey, kalian di mana?" tanya Leon sembari menekan benda kecil yang berada di dalam telinganya.
"Kami sudah masuk kawasan Ninety Tower, King!" sahut Rey di sebrang sana. Terdengar bunyi tembakan, ledakan, dan sirine polisi memekakkan telinga Leon.
"Bagaimana keadaan di sana?" Saat ini Leon memasuki pelataran jalan utama tujuan mereka.
"Kacau King! Swedish memenuhi tempat Ninety tower. Di tambah lagi ada tank militer sepuluh meter dari ku!"
Terdengar helaan nafas kasar dari Rey.
"Lalu?" Leon tidak sabaran. Ia mengamati sisi kiri dan kanan ruas jalan yang di penuhi Montero.
Anak buah Leon mengemudikan kendaraan roda empat dan roda dua, di sepanjang jalan. Montero menembakkan timah panas dan granat melawan aparat keamanan.
Seakan melindungi Leon yang berada di tengah untuk masuk ke Ninety Tower.
Dengan ketrampilan dan kegesitan Montero, perlahan tapi pasti musuh satu-persatu mulai tumbang. Namun, polisi dan tentara angkatan darat ikut melawan balik Montero.
Mereka salah sasaran.
Mungkin permainan Pablo.
Aparat keamanan mengira Montero lah yang memulai pertempuran.
Padahal Swedish yang terlebih dahulu menyalakan sumbu api.
"Apa kau melihat Pablo?" tanya Leon menyelidik.
"Sniper Montero melaporkan pada ku tadi. Dia berada di atas gedung King."
Dor....dor...dor...dor.
Rey menjawab sembari membidik musuh di depan matanya.
"Baiklah, aku akan sampai sebentar lagi! Kerahkan semua Montero untuk keluar dari sarang. Kita bertempur malam ini sampai pagi!!" jawab Leon cepat dengan menembakkan peluru mengarah ke salah satu polisi, yang hendak melemparkan granat asap pada Swedish di sisi kiri.
Boom.
"Menyusahkan sekali!" cetus Lily. Sedari tadi dia ikut membantu Montero membidik aparat keamanan yang semakin bertambah banyak.
"Ya begitulah mereka!" seru Leon mengomentari penegak hukum yang selalu salah kaprah dalam mengambil tindakan.
Permainan Pablo benar-benar licik dan picik.
Leon amat penasaran dengan orang di balik semua ini.
Pasalnya aparat keamanan lebih banyak melawan balik Montero daripada Swedish.
"Haruskah kita memborbardir mereka?!"
"Setelah kita membunuh mereka semua. Kita akan menjadi buronan tingkat satu, Honey!" seloroh Leon mengulum senyum.
Lily terkekeh pelan. Ia merutuki kebodohannya sendiri.
"Benar juga! Kalau begitu kita harus bermain cantik!" seru Lily seraya melirik sekilas pujaan hatinya.
"Bingo, pintar. Aku sudah menyiapkan semuanya. Tinggal waktu yang tepat. Kita akan menjebak Pablo dan sekutunya!" Sorot mata Leon dingin dan tajam, kala ia mengingat masa lalunya mengenai Leticya dan Marvin.
Yang tidak mendapatkan keadilan sama sekali dari penegak hukum.
Dahulu Leon tak bisa berbuat banyak sebab kepergian orang yang terpenting di dalam hidupnya, membuatnya menjadi lemah.
__ADS_1
Dia benar-benar mengutuk siapa saja yang terlibat di dalam insiden beberapa tahun silam.
"Honey, aku mendukung mu!"
Lily yang sudah mengetahui semua latar belakang Lunna ia pun begitu terenyuh. Sungguh ia tak menduga masa lalu Leon meninggalkan rasa dendam di sanubarinya, namun pria di sampingnya memilih untuk meredam semua apa yang telah terjadi.
Ia amat memahami perasaan Leon saat kehilangan orang yang sangat ia cintai dan ia sayangi.
Seketika remuk dan hancur berkeping-keping.
Terlintas memori di benak Lily wajah mendiang ayah dan adiknya. Ia menghela nafas sejenak.
Kemudian merubah cepat raut wajahnya yang sendu itu.
Leon membalas perkataan Lily dengan mengulas senyum. Ia dapat melihat ekpresi kekasihnya, walaupun hanya sekilas.
"Terimakasih, aku tidak akan mengobarkan api jika mereka tidak menyiram bensin," ucapnya cepat.
Lily mengangguk mengerti.
"Kita akan bersama-sama menuntaskan semuanya Honey!" balas Lily sembari menyentuh pundak Leon.
Seketika rasa hangat menjalar di relung hati Leon. Ketika Lily memegang bahunya.
Ia nyaman dan tenang jika bersama kekasihnya.
"I love you!" ucap Leon tiba-tiba dengan melirik sekilas.
Hanya kata itu yang terlintas di benaknya.
"I love you more, Honey," balas Lily dengan melengkungkan bibir membentuk senyuman.
***
Ninety Tower.
Tampak Swedish di atas gedung berdiri tegap dan berjejer rapi di lengkapi dengan senjata api berlaras panjang dan pendek. Mereka melindungi pemimpinnya yang berada di tengah rooftop.
"Di mana mereka lama sekali?!" tanya Pablo dengan menghirup pelan sepuntung rokok.
Pria tua itu duduk di bangku sembari menikmati pemandangan di bawah sana yang nampak indah di matanya.
Montero dan Swedish saling menyerang satu sama lain.
Tanpa ampun.
Tanpa jeda.
Montero ingin menerobos masuk ke dalam Ninety Tower. Namun berkat kelicikkan Pablo.
Anak buah Leon kesusahan sebab Montero melawan dua kubu sekaligus.
Aparat keamanan dan Swedish House Mafia.
"Sepertinya sebentar lagi Mister!" seru Rodrigo yang berada di belakang tubuh atasannya. Ia berdiri tegap menatap lurus ke depan.
'Ckk, benar-benar membuang waktu saja!" Pablo sangat kesal. Ia ingin cepat menjalankan rencananya.
Rodrigo enggan membalas ucapan Pablo. Ia membuang nafas pelan sembari mengamati pertikaian Montero dan Swedish.
"Rodrigo keluarkan dua bocah itu!' perintah Pablo saat kedua matanya tak sengaja menangkap sosok yang ia tunggu. Sudut bibirnya naik sedikit.
Siapa lagi kalau bukan pemimpin Montero, Leon.
"Baik, Mister!"
Rodrigo mengayunkan kaki dengan cepat menuju ruangan khusus. Kemudian dia menyuruh Swedish untuk membawa dua bocah yang di atas kepalanya di tutup kain hitam. Mereka masih mengenakan kostum Monster inc. Kedua kaki dan tangannya terikat sangat kencang.
__ADS_1
Kedua anak kecil itu menggerakkan tubuhnya berusaha memberontak. Swedish segera mengangkat mereka seperti karung beras.
Kini, Pablo di temani dua anak kecil di samping tubuhnya.
Mereka duduk di bangku dengan posisi tangan terikat di belakang. Samar-samar terdengar suara gumaman kecil keluar dari bibir mereka. Sepertinya mulut mereka di tutup lakban.
Kameraman yang berada di dalam helikopter, meliput kejadian berlangsung di atas pencakar gedung itu.
Cahaya lampu menyoroti dua bocah itu secara bergantian.
Warga setempat menyaksikan di televisi. Begitu tegang dan sangat geram dengan sikap aparat keamanan.
Yang bodoh.
Mengapa polisi tidak menembak Pablo Piccaso?
Sebagian penduduk tentu saja mengetahui latar belakang Pablo.
Mereka yakin ada permainan politik di dalam insiden kali ini.
"Oh my God, ku harap ini segera berakhir."
"Damn, aku mau pulang!"
"Crazy people. Mereka hanya lah anak-anak yang tidak tahu apa-apa!"
Begitulah batin sebagian warga.
"Pabloooooo!" teriak Leon sesampainya di atas. Ia berhasil menerobos masuk ke dalam gedung walaupun harus berolahraga sejenak melawan Swedish dan polisi.
Pablo menoleh ke asal sumber suara. Ia menyeringai licik.
"Kena kau!"
"Lepaskan anak ku!" Leon menatap tajam dan dingin pada musuhnya yang berjarak sepuluh meter.
Pablo tertawa keras sejenak. "Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanyanya menantang.
"Dan aku akan melenyapkan narkoba mu semuanya!" jawab Leon mengintimidasi Pablo.
"Bedebahhhhhhhh!" jerit Pablo seraya mengangkat pistol mengarah ke Leon.
Reflek Lily mengangkat senjata apinya. Ia melakukan hal yang serupa. Ia mengetatkan rahang, sorot matanya tajam dan menghunus lawan. Wanita itu siap membidik Pablo.
Begitu pula dengan Breslin, Lexi dan Rey.
Montero dan Swedish pun mengikuti gerakan dua pemimpin mereka.
"Bagaimana jika kau serahkan dulu narkoba ku?" Pablo hendak membuat kesepakatan.
Leon tak langsung menjawab, ia tengah berpikir. Ia tak melepaskan pandangan matanya dari pria tua di hadapannya.
"Tidak akan!"
DOR.
"Darlaaaaaaaa! Lunnnnaaaa!" jerit Lily histeris.
.
.
.
.
.
__ADS_1