
***
Brmmm.
Suara deruan mobil begitu nyaring, membelah jalan raya. Tampak dua buah kendaraan beroda empat, saling mengejar satu sama lain.
"Hei, kita kemana?" tanya seorang pria di kursi kemudi, tanpa melepaskan pandangannya ke depan.
"Lakukan sesuai intruksi, bodoh!" pekik pria yang berada di sebelahnya. Dia mendengus kesal, mengapa temannya itu, tidak mengingat perintah atasannya.
Lily melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia tidak mau kehilangan jejak, saat mobilnya sudah berdekatan dengan mobil si pelaku. Wanita bermanik mata biru itu, segera membenturkan mobil mininya ke samping.
BRAK.
"Hei, kau rasakan ini!" teriak Lily dengan sangat nyaring, kedua matanya berkilat. Dia kembali menabrakkan mobilnya.
BRAKKK.
"Damn!" umpat pria di dalam mobil, sambil mengacungkan jari tengah pada Lily.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya pria yang sedang membungkam mulut Lunna.
"Menurutmu?"
"Ck, dipertigaan kau langsung belok kanan, sekarang!!"
Pria itu menuruti perintah temannya, dia segera memutar setir mobilnya ke samping.
Lily dengan cepat, membanting kemudinya. Saat melihat mobil si pelaku berbelok ke kanan.
Suara decitan mobil sangat memekakkan telinga, bagi siapapun yang mendengar.
Mobil berbeda merk tersebut, kembali saling mengejar.
"Oh My God!"
"Apa lagi?!" tanya pria dengan suara keras.
"Bensinnya mau habis," ucapnya cepat.
"Astaga!" Pria itu menoyor kepala temannya.
"Sakit bodoh!"
"Arghhhh, kalau bukan karena bos, aku tidak akan mau berkerjasama denganmu!"
"Bisakah kalian diam!" teriak Lunna, dia sudah tidak tahan. Bocah kecil itu, dari tadi mendengar perdebatan dua orang pria tersebut.
Kedua pria bertubuh kekar itu, saling pandang satu sama lain. Entah apa yang sedang mereka pikirkan.
Sepuluh menit kemudian, mobil berwarna hitam itu berhenti di suatu tempat.
"Cepat bawa anak ini!" perintah pria bertubuh kekar, kepada temannya, sembari menyodorkan Lunna yang terdiam.
"Kenapa harus aku?" tanya temannya.
"Kau!"
"Oke, oke baiklah." ucap temannya pasrah sambil mengambil bocah perempuan tersebut.
Citttt..
Suara ban mobil berhenti, mengusik interaksi kedua pria tersebut.
"Ayo cepat lari!" ajak temannya.
"Hei, kau berhenti b**gsat!" teriak Lily, ia membuka heelsnya dengan cepat dan melemparnya asal.
Kegelapan menemani aksi kejar-mengejar mereka. Pasir di bawah menyulitkan pergerakan langkah kaki, ketiga orang dewasa tersebut.
"Aduh, aku capek!" gerutu pria yang sedang menggendong Lunna. Ia berhenti sejenak mengatur ritme pernapasannya.
Tiba-tiba, BUGH.
__ADS_1
Lily melayangkan tendangan ke ekor pantat pria tersebut dengan kuat.
"Awhhh!" pekik pria itu, sambil menahan tubuh bocah perempuan agar tak terjatuh. Ia tersungkur ke depan.
Teman pria itu, yang berada 10 langkah didepannya berhenti dan membalikkan badannya ke belakang dengan cepat.
Lily tertegun, ia tidak asing dengan suara tersebut. Wanita berambut panjang itu, berjalan lincah menghampiri pria itu. Dia membuka paksa topeng winnie the pooh.
"Max!" Kedua matanya terbelalak. "Apa yang kau lakukan?" teriaknya nyaring.
Seketika tempat tersebut, dihiasi cahaya lampu yang terang.
"Honey!" panggil seseorang dari arah belakangnya.
Lily memutar tubuhnya ke belakang. Dia terperangah, sambil menutup mulutnya. Kedua matanya memindai kumpulan orang di depannya. Ia tak percaya apa yang sedang dilihatnya. Dekorasi indah terpampang jelas di kedua matanya.
"Will you marry me?" tanya Leon sambil berlutut dihadapannya.
"Yes, i do," ucap Lily pelan, sambil menahan air matanya.
Leon segera menautkan cincin berlian, di jari manis kekasihnya, dia bangkit berdiri dan memeluk cepat wanita yang akan menjadi istrinya kelak.
Lily memeluk erat, lelaki yang berhasil mendesirkan gejolak cinta yang berada di relung hatinya.
"Wow, kami seperti mengontrak saja di bumi," ucap Jonathan menghampiri sepasang sejoli yang sedang di mabuk asmara itu.
"Daddy, bagaimana bisa?" Lily melepaskan pelukannya, dahinya berkerut, dia menatap Jonathan, banyak pertanyaan yang bersarang di otaknya.
Jonathan terkekeh pelan. "Kau tanyakan saja pada Leon."
"Apakah Daddy merestui kami?" tanya Lily.
"Tentu saja, Daddy merestui hubungan kalian," ucap Jonathan dengan bibir melengkung, membentuk senyuman.
"Mommy, baru saja diberitahu oleh Daddymu, tadi siang nak," Anastasya menimpali sambil mengulum senyum.
"Iya, eyke pusiang sama drama calon suami mu!" seru Marimar.
"Aku juga pusing gara-gara Maximus yang bodoh karena tidak mengisi bensin," protes Lexi.
"Yes, Mommy bentar lagi jadi Mommynya Lunna," Celoteh Lunna sambil melompat-lompat.
"Kau tidak apa-apa Lunna?" tanya Kendrick tiba-tiba.
Lunna menggelengkan kepala.
"Tentu saja, dia tidak apa-apa kak. Lihat badannya itu seperti gentong, jadi kalau jatuh, tidak mungkin terluka," Nickolas berkata dengan nada mengejek.
"Lebih tepatnya seperti gajah kak!" seru Samuel ikut memanasi.
"Kalian!" jerit Lunna sambil mengepalkan kedua tangannya.
Jonathan menghentikan perdebatan.
"Sudah, sudah jangan berkelahi bukankah ini hari bahagia Lily. Lebih baik kita makan dulu di sana." Pria paruh baya itu menunjuk kapal yang berada di tepi pantai.
Mereka pun mengikuti perintah Jonathan.
"Honey, kau banyak berhutang penjelasan denganku," ucap Lily bergelayut manja sambil berjalan beriringan dengan kekasihnya itu.
Leon tersenyum simpul, dan mengusap pelan pipi Lily.
Tak butuh waktu lama, keluarga Jonathan sudah berkumpul di kapal mewah. Canda tawa terdengar di dalam kapal. Mereka menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh koki.
"Selamat, Nak. Sebentar lagi kau akan berganti status," ucap Fabio, dengan menatap lekat wanita dihadapannya.
"Terimakasih, Dad."
"Jagalah Lily dengan baik, Leon," ucap Fabio mengalihkan pandangan pada pria di samping Lily.
"Aku akan menjaganya dengan baik."
"Jadi, kapan kalian akan menikah yey?" tanya Marimar tiba-tiba, sambil memakan keripik pedas.
__ADS_1
"Minggu depan," jawab Leon cepat.
"What? Kenapa cepat sekali?" tanya Lily melirik ke samping.
"Lebih cepat, lebih baik."
"Daddy, apa...." Lily mengalihkan pandangan pada Jonathan.
"Ya minggu depan, nak. Daddy setuju," jelas Jonathan singkat. "Dulu Daddy juga langsung melamar ibu mu, tidak perlu lama berpacaran." Jonathan mengedipkan satu matanya pada Anastasya.
Wanita paruh baya itu tersipu malu, dan memukul kecil lengan pria yang hidup satu atap dengannya.
"Ya ampun, nasib jomblo," ucap Lexi, saat melihat interaksi keempat pasangan tersebut.
"Aku juga jomblo." Maximus berkata kepada Lexi.
"Ah, sudahlah sesama jomblo diam saja!" seru Marimar.
Begitulah obrolan hangat di atas kapal tersebut, hingga jam menunjukkan pukul 10 malam. Mereka bergegas pulang ke mansion masing-masing.
****
Lily merebahkan badannya di atas kasur, dia memandang langit-langit kamarnya. Rona merah diwajahnya masih terlihat jelas. Dia menyambar ponsel di atas nakas.
Hallo.
Hallo, ini siapa?
Astaga, Belle. Ini kakak!
Mmm, kenapa kau menelpon ku malam-malam kak?
Aku cuma mau memberitahu mu, minggu depan. Aku akan menikah.
Ha, kau bilang apa menikah? Dengan siapa?
Tentu saja dengan Leon, kau ini.
Kemarin kakak galau, sekarang tiba-tiba menikah. Siapa tahu saja dengan orang lain, aku kan tidak tahu.
Ih, dengarkan aku mau bercerita.
Tidak mau! Besok saja.
Sekarang!
Tidak!
Baiklah, kalau begitu kau tak ku undang.
What! Kau jahat sekali kak. Aku adikmu, tentu saja aku harus datang.
Lily mengulum senyumnya. Mau tidak mau Belle pun, mendengarkan curahan panjang dari kakaknya itu.
***
Los Angeles.
"Mister, ada telepon dari Arnold," ucap pria berkulit hitam, sambil menyodorkan ponsel mahal.
Pria paruh baya, yang bertato laba-laba di wajahnya, mengambil cepat benda mini tersebut.
Mister rencana sudah tersusun dengan bagus, tinggal menunggu eksekusi, pria di sebrang sana berkata cepat.
Baiklah, lakukan dengan cepat, pria itu tersenyum sinis.
.
.
.
.
__ADS_1
.