
****
Drtttt.
Bunyi getaran di atas nakas mengusik mimpi manis Lily. Ia pun melenguh dan menggeliat sejenak. Tanpa membuka kelopak matanya, wanita berparas rupawan itu, menggapai benda pipih yang berada di meja bulat.
Hallo, sapanya.
Honey, kau baru bangun? tanya seseorang di sebrang sana, dengan suara khas baritonnya.
Seketika wanita bermanik mata biru itu, membuka kelopak matanya dengan cepat.
Leon, kenapa kau baru menelpon ku sekarang? Apa kau tidak kangen denganku? Apa kau menyerah?
Tanyanya beruntun tanpa memberikan jeda pada si penelepon.
Leon terkekeh pelan.
Tentu saja, aku merindukan mu. Hanya saja sekarang aku sibuk dalam beberapa hari ini, jadi tidak bisa mengabari mu. Maafkan aku, Honey. Aku tidak menyerah, pulang dari San Fransisco, aku akan datang ke mansion.
Kau bilang apa barusan, kau mau ke San Fransisco?
Dahi Lily berkerut. Ia sangat tidak menyangka, mengapa dalam tiga hari ini, kekasihnya amat sulit dihubungi. Belum lagi, sikap Ayahnya yang berubah dingin terhadap dirinya. Iya, saat ini Lily berada di mansion utama.
Jonathan memaksanya untuk tinggal di mansion. Ia pun terpaksa menuruti perkataan Ayahnya. Selama tiga hari ini pula, dia sibuk mengurus bisnis Cafe dan Restaurant Mintnya. Namun, entah mengapa dia tidak ada gairah ataupun semangat, dalam menjalankan aktivitasnya.
Iya, Honey. Aku akan ke sana, balas Leon.
Apakah lama?
Tidak, hanya sebentar saja.
Hmmmm, jangan lama-lama.
Pria bermanik mata coklat itu, kembali terkekeh.
Aku janji tidak akan lama!
Iya, jawab Lily pasrah.
Perbincangan sepasang kekasih tersebut, berlangsung sekitar lima menit lamanya.
***
"Hei bok, baru bangun?" tanya Marimar, saat berpapasan dengan Lily di luar kamar.
Lily membalas dengan menganggukkan kepala sedikit, dia sedang tidak ada mood untuk berbicara. Marimar mengerutkan dahi, saat melihat gelagat temannya, tidak bersemangat sama sekali.
"Cyin, kenapa sih?"
Lily mengedikkan bahu, acuh tak acuh. Ia pun melangkah pergi dari hadapan Marimar, yang masih mematung di tempatnya. Pria gemulai itu tampak sedang berpikir.
__ADS_1
"Mar, kenapa kau melamun?" sapa Kendrick dari belakang tubuhnya.
"Tidak apa-apa, Mommy mu itu aneh."
"Aneh?" Kendrick mengerutkan dahi.
"Ah, sudahlah apakah kalian sudah bersiap-siap?"
Marimar mengalihkan topik obrolan. Pria gemulai ini, sekarang berkerja menjadi baby sitter si Kembar. Dia memaksa Jonathan dan Anastasya untuk menuruti keinginannya. Semula kedua orangtua Lily menolak. Namun Marimar tak kehabisan akal, dia membuat keributan di mansion utama. Mau tidak mau mereka pun menyetujui permintaan lelaki setengah wanita tersebut.
"Sudah, Nick dan Sam sedang bersiap-siap," jawab Kendrick datar.
Tak butuh waktu lama, semua anggota keluarga Marques sudah berkumpul di ruang makan. Mereka menyantap sarapan dengan tenang. Anastasya mengernyitkan dahi, saat melihat putri sulungnya melamun, dan hanya mengaduk bubur di dalam mangkok.
***
Restaurant Mint.
[Ruang Kerja Lily]
"Nyonya!" panggil salah satu karyawan, sambil menepuk pundak Lily.
"Kau mengagetkan ku!" seru Lily sembari mengelus dada.
"Maaf, dari tadi saya memanggil Nyonya." Karyawan itu langsung menundukkan kepala. Dia tidak enak hati, karena sudah lancang memangil atasannya, dengan suara agak nyaring.
Lily menghela napas dengan kasar, dia menyadari kesalahannya. Dari pagi hingga siang ini, pikirannya melayang pada Leon. Tadi pagi sebelum dia menutup telepon, telinganya tak sengaja menangkap samar-samar suara wanita. Lily tentu saja merasa resah dan gelisah, ia sudah menghubungi Leon berulang kali, namun tidak pula di angkat.
"Kau tidak salah, aku yang minta maaf. Karena aku melamun dari tadi," jelas Lily pelan, "Ada apa?" tanyanya.
"Baiklah, terimakasih."
Wanita bermanik mata biru itu, segera mengecek laporan keuangan restaurant dengan begitu teliti. Tanpa terasa hari sudah semakin gelap, ia pun bergegas untuk pulang.
Namun belum sampai di parkiran, suara handphone Lily menghentikan langkahnya. Ia menyambar benda pipih didalam tasnya.
Hallo, ada apa Lex?
Apakah Lunna bersama Nyonya sekarang?
Lily mengerutkan dahi.
Tidak ada, Lex. Memangnya Lunna kemana?
Tadi jam delapan lewat, Lunna ku antar ke restaurant mint. Dia mau bertemu dengan anda, aku sudah menyuruh salah satu karyawan untuk membawa Lunna ke dalam ruangan Nyonya.
Kau jangan bercanda, Lex!
Aku tidak bercanda, Nyonya.
Baiklah, aku cek CCTV dulu untuk memastikan.
__ADS_1
Lily segera masuk ke dalam restaurant, dan mengecek CCTV. Layar di monitor menampilkan, Lunna memang masuk ke dalam bersama satu karyawannya.
Namun tiba-tiba dia melepaskan genggaman tangan anak buahnya dan keluar cepat ke arah pintu.
Lily mengerutkan dahi.
Karyawan hanya mematung di tempat dan tak menyusul Lunna. Wajah wanita itu sangat lah asing.
Namun sepersekian detik, raut wajahnya berubah. Dia membelalakan kedua matanya. Saat melihat Lunna di angkat paksa oleh dua orang pria bertubuh kekar, mereka membawa bocah itu ke dalam mobil dan melesat laju meninggalkan pelataran restaurant.
Lily bergegas pergi keluar dan mengikuti arah mobil. Dia yakin sekali keberadaan mobil tersebut belum terlalu jauh, sebab kejadian berlangsung di layar monitor, sekitar 10 menit yang lalu.
Ia semakin melajukan mobil mininya, benar sekali dugaan Lily, mobil berwarna hitam itu sekarang berada tepat di depan mobilnya. Wanita bermanik mata biru itu, menyalip dengan cepat.
"Hei, kau berhenti!" teriak Lily, saat kendaraan roda empatnya berdekatan dengan mobil pelaku.
"Mommy, tolong Lunna!" teriak Lunna di dalam mobil.
"Turun kau b*jingan!"
Lily tidak dapat melihat jelas rupa si pelaku, sebab dua orang pria tersebut menggunakan topeng winnie the pooh. Ia mengetatkan rahangnya, saat melihat satu orang pria membungkam mulut mungil Lunna. Napasnya memburu.
****
Di belahan bumi lain.
Mobil limosin panjang berwarna hitam, berhenti tepat di depan Cafe Paradise. Satu orang pria yang memiliki garis keriput diwajahnya, menyembul keluar dari mobil. Setelan jas yang dikenakannya sangatlah mahal, sepatu pantofel berwarna hitam, seirama dengan warna pakaiannya. Dia berjalan pelan.
Di sisi kanan dan kiri, pengawal yang berjumlah delapan orang berjejer rapi di ambang pintu. Mereka menundukkan kepalanya sedikit.
"Welcome, Sir," sapa pelayan yang berdiri di ambang pintu masuk, sembari membukakan pintu.
"Hmm." Pria itu hanya berdeham.
Pria paruh baya dan memiliki tato di wajahnya, berjalan cepat ke dalam cafe. Kedelapan pengawal pun mengikutinya dari belakang. Derap langkah kaki mereka, menarik perhatian pengunjung. Seketika kepala mereka tertunduk, saat melihat siapa yang datang.
Pria yang mempunyai tato laba-laba di sisi kanan, berhenti sejenak. Ia mengedarkan pandangannya dan menyeringai licik. Kemudian dia melangkah kembali. Pelayan berkulit putih itu, menuntunnya masuk kedalam ruangan khusus VIP Luxury.
Ceklek.
Kumpulan pengawal segera mengambil posisinya masing-masing. Mereka berdiri tegap seperti patung dan menatap lurus ke depan.
"Rodrigo!" panggil pria tua itu dengan nyaring, sambil menghempaskan bokong di atas sofa.
"Apakah kau sudah mengatur rencana yang ku pinta?" tanyanya, sembari membuka kaca mata hitamnya.
"Sudah, Mister."
"Ingat jika gagal, keluarga mu akan mati!" Pria itu menatap tajam dan dingin, pada lawan bicaranya.
"Baik, Mister," jawabnya cepat, sembari menundukkan sedikit kepala.
__ADS_1
.
restaurant